
Taksi yang di tumpangi Ana berhenti di lobby utama rumah sakit Onse pusat. Setelah membayar taksi, Ana keluar dari taksi itu dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Pandangannya menyapu seluruh area ruang tunggu, mencari Rachel, tapi wanita yang dicarinya sepertinya belum datang.
Ana mengambil ponselnya untuk menghubungi Rachel, saat itu juga ia melihat ada pemberitahuan pesan masuk dari Ray. Gadis itu tersenyum dan membuka pesannya.
Kabari aku, jika kau sudah sampai tujuan~
Ana semakin melebarkan senyumannya ketika membaca pesan itu, lalu ia mulai menggerakkan tangannya untuk mengirimkan pesan balasan kepada Ray.
"Code blue. Code blue. ICU Code blue."
Pemberitahuan untuk tim kode blue itu menggema di penjuru rumah sakit, semua orang yang ada di bagian UGD pun juga ikut terfokus pada pemberitahuan kode blue response team itu, termasuk Ana yang sempat menghentikan tangannya untuk mengirim pesan.
Saat Ana kembali fokus pada ponselnya, beberapa orang tampak berdesakan untuk memberi jalan pada pasien kode blue yang sedang di bawa menggunakan brankar dorong rumah sakit.
Sifat naluriah manusia yang penasaran, membuat beberapa orang yang ada di belakang Ana mendesak-desak untuk melihat apa yang terjadi.
Tindakan dari orang-orang yang penasaran itu membuat tubuh Ana terdorong ke depan, hingga dirinya tidak sengaja bertabrakan dengan salah satu tim kode blue yang membawa defibrillator.
Dan lebih parahnya lagi, karena yang menabraknya sedang dalam keadaan terburu-buru dan berlari, hal itu membuat mereka bertabrakan cukup keras.
Ana terjatuh ke belakang, kepala bagian belakangnya terbentur lantai rumah sakit, benturannya tidak cukup keras. Tapi, setelah benturan itu, otaknya seperti memberikan sinyal pada ingatannya yang telah lama hilang.
Tubuhnya yang terdorong lalu benturan di kepalanya dan kerumunan orang-orang yang menghampirinya, semua kejadian yang ia alami saat ini sepertinya pernah ia alami sebelumnya.
Ana seperti mengalami de javu.
Dalam ingatan kilas baliknya, seseorang tiba-tiba mendorongnya, membuat Ana terjatuh ke belakang, lalu kepalanya terbentur aspal jalan raya. Dan ketika dirinya mencoba bangkit, sebuah mobil dari arah kanan jalan menabraknya, setelah itu semuanya gelap, ia hanya bisa mendengarkan suara orang-orang yang berlarian kearahnya, sama seperti sekarang ini.
Ana dapat mendengar tapi matanya tak dapat ia buka.
"Kak Ana!"
Suara itu, Ana ingin menyahuti suara Rachel, ia ingin mengatakan jika nafasnya sesak dan dadanya terasa nyeri. Tapi, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Lalu, perlahan-lahan kegelapan pun menyelimuti Ana, membuatnya tidak sadarkan diri sepenuhnya.
"Kak Ana!" Rachel terlihat mengguncang tubuh Ana sembari menangis histeris.
Tak lama kemudian, tim medis datang, lalu membawa Ana ke bagian UGD.
Dokter dan para perawat mulai melakukan pertolongan pertama pada Ana. Sedangkan Rachel masih terlihat histeris dengan apa yang kemungkinan terjadi pada kakak tirinya itu.
Beberapa menit s**ebelumnya~
Rachel baru saja masuk kedalam rumah sakit, ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Ana, tapi gadis itu tidak mengangkatnya, sampai akhirnya ia melihat kerumunan di dekat ruang tunggu, Rachel pun mendekat dengan ponsel yang masih menghubungi Ana, saat itulah ia melihat sebuah ponsel tergeletak dilantai dekat kerumunan itu, layar ponsel itu menyala, terlihat namanya tertera diponsel itu, saat itu juga, ia langsung tahu jika itu ponsel milik Ana.
Seketika tubuh Rachel terasa lemas, ia menerobos kerumunan itu dan melihat Ana disana, kakak tirinya itu tidak sadarkan diri.
Melihat Ana yang tidak sadarkan diri di lantai rumah sakit, pikiran awal yang terlintas di kepala Rachel adalah tension ptx.
"Tidak, ini tidak mungkin! Kakak! Kak Ana." Rachel terus menangis meraung-raung, beberapa perawat yang membantunya menenangkan diri pun terlihat kewalahan menghadapi wanita hamil itu.
"Dokter Brian." Gumam Rachel, ia baru teringat, ia harus memberitahu dokter Brian tentang keadaan Ana saat ini.
"Apa maksud anda dengan dokter Brian nona?" Tanya salah satu perawat yang sedang membantunya memenangkan diri.
"Ptx, dia menderita ptx." Ucap Rachel dengan suara tersedu-sedu.
Perawat itu pun membelalakkan matanya, ia langsung berlari ke bilik tempat Ana sedang ditangani. Perawat itu sepertinya memberitahukan keadaan Ana pada dokter yang menangani gadis itu.
Rachel yang merasa tak bisa diam saja, ia pun berlari menuju ruangan dokter Brian, tidak peduli dengan kandungannya, ia terus berlari.
Hanya dokter Brian yang tahu kondisi Ana sepenuhnya, jadi dokter Brian lah yang mungkin bisa dengan cepat menangani kondisi Ana saat ini, itu yang Rachel pikirkan.
Rachel langsung masuk ke ruangan dokter Brian tanpa mengetuk pintunya, tanpa pikir panjang, ia langsung menarik dokter paruh baya itu menuju bagian UGD.
"Ada apa ini? Tunggu, bukankah kau adik tiri Ana?" Tanya dokter Brian.
"Kak Ana, dia— dokter saya mohon, cepat pergi ke bagian UGD, kak Ana— dia tidak sadarkan diri!" Ujar Rachel dengan nafas yang terengah-engah.
Tanpa menunggu lama lagi, dokter Brian pun langsung berlari cepat ke bagian UGD, sampai disana ia langsung mengambil alih penanganan, ia memberi penjelasan kepada dokter UGD dengan tangan yang sibuk memeriksa Ana.
Sesaat dokter Brian bernapas lega, tapi kepanikan masih menyelimuti dirinya, ia mengambil ponselnya dan menghubungi bagian ICU untuk menyiapkan tempat.
"Bawa dia ke bagian ICU." Perintah dokter Brian pada para tim medis yang ikut menangani Ana.
"Gunakan kantong ambu untuk membantu pernapasannya." Ujarnya lagi, perawat yang mengambil bagian itu pun mengangguk.
Brankar rumah sakit yang Ana gunakan pun didorong menuju bagian ICU, Rachel yang belum mengetahui kondisi pasti Ana semakin panik. Wanita hamil itu menghampiri dokter Brian untuk menanyakan apa yang terjadi pada Ana.
"Dokter." Panggil Rachel.
Dokter Brian menoleh dan berhenti sejenak, ia menatap Rachel sendu.
"Bukan tension ptx, aku sangat bersyukur. Tapi, mendengar penjelasan dari tim medis yang menanganinya tadi— mereka bilang, Ana tidak sadarkan diri karena bertabrakan dengan salah satu tim kode blue. Kabar buruknya, sepertinya rongga dadanya terbentuk defibrillator yang di bawa oleh tim kode blue itu, kepalanya juga mengalami cedera, tapi untunglah itu cedera ringan, bukan masalah besar." Ujar dokter Brian.
Rachel mengehembuskan nafasnya, ia sedikit lega mendengar itu.
"Tapi, dia akan baik-baik saja kan?" Tanya Rachel lagi.
"Aku tidak dapat mengatakannya secara pasti, saat ini ia membutuhkan perawatan intensif, pihak medis akan memeriksa kondisinya terlebih dahulu, jika memungkinkan, akan langsung dilakukan operasi."
Rachel menitikkan matanya kembali, ia menutup mulutnya tak percaya.
"Aku sarankan kau hubungi keluarga Ana, setidaknya beritahu suaminya, aku tau Ana sudah menikah, bukankah itu lebih baik jika suaminya mengetahui keadaannya saat ini. Kau juga tidak bisa terus disamping Ana, karena kau sedang hamil seperti ini, jika kau yang mengurusnya, itu bisa membahayakan bayimu juga. Ana pasti juga tidak mau kalau sesuatu terjadi pada bayimu karena dirinya." Ujar dokter Brian, ia menepuk bahu Rachel sekilas, lalu kemudian pergi menuju ruang ICU.