
Rintikan hujan disiang hari membuat aktivitas terganggu. Beberapa orang tampak berlarian mencari tempat untuk berteduh.
Terasa tubuh semakin menggigil saat angin berhembus kencang, menerpa siapapun yang menghalanginya.
Rachel mengeratkan dekapannya pada Nana, berusaha melindungi anak berusia tiga tahun lebih itu dari jangkauan angin ataupun air hujan.
"Ibu, ibu—Nana kedinginan." Ucap anak perempuan itu.
"Iya sayang, maafkan ibu. Seharusnya tadi ibu menerima tawaran bibimu Ana untuk mengantar kita pulang." Ujar Rachel semakin mengeratkan pelukannya.
Kedua ibu dan anak itu berdiri menumpang berteduh di salah satu ruko pertokoan. Beberapa kali mereka di usir karena keadaan Rachel yang basah kuyup dan juga terlihat berantakan, membuat orang-orang mengira jika mereka adalah orang terlantar yang mengemis meminta uang.
Disaat seperti ini, Rachel rasanya ingin menangis meratapi nasibnya. Sedih melihat anaknya yang harus kedinginan dan juga kelaparan karena belum makan siang. Bukan karena ia tak punya uang, tapi karena tak ada tempatnya bertumpu untuk meminta bantuan saat keduanya terjebak badai hujan.
Rachel bisa saja meminta bantuan Ana, kakak tirinya itu pasti akan menolongnya. Tapi, mengingat ia banyak merepotkan Ana. Tentu, Rachel tidak akan mau meminta bantuan Ana lagi. Dalam keadaan seperti ini, Rachel berpikir, mungkinkah akan lebih baik jika dirinya mempunyai pendamping hidup yang akan membantunya merawat Nana?
"Ibu—"
"Diamlah Nana, ibu tahu kau kedinginan dan lapar. Tolong jangan katakan itu, mendengarnya membuat ibu sedih." Ucap Rachel dengan nada terisak.
Perempuan itu kembali mendekap anaknya, mengelus rambut putrinya itu dengan kasih sayang.
Pandangannya terus mengarah pada jalan raya, berharap ada taksi yang lewat. Jika harus mengandalkan bus, itu tidak akan mungkin. Halte bus masih cukup jauh, dan lagi, mungkin sekarang dirinya dan Nana sudah tertinggal bus terakhir yang menuju ke rumahnya.
Suara klakson mobil dari arah jalan raya terdengar memecah suara derasnya hujan.
"Rachel!" Panggil seseorang yang menyebut namanya.
Rachel menyipitkan matanya, menajamkan penglihatannya dari celah-celah air hujan yang masih turun deras.
"Rachel!" Suara itu terdengar semakin dekat, dari arah kanannya terlihat Yohan berjalan dengan payung ditangan. Pria itu tampak berlari kecil untuk segera menghampiri Rachel dan Nana yang sudah menggigil kedinginan.
"Kak Yohan." Ucap Rachel dengan nada gemetar karena hawa dingin yang menusuk.
"Kenapa tidak meminta tolong orang lain untuk menjemput mu disaat seperti ini? Jika nyonya Ana tidak mengatakan padaku kalau kau keras kepala untuk memilih pulang sendiri di saat-saat mendung tadi, aku mungkin tidak akan ada disini." Kata Yohan.
"Maaf, aku hanya tidak ingin—"
"Sudahlah, ayo cepat masuk ke mobil. Biar aku yang membawa Nana." Ujar Yohan menyela perkataan Rachel.
Rachel mengangguk menuruti perkataan Yohan, ia segera berlari kecil menuju mobil Yohan yang terparkir di pinggir jalan raya.
Mereka masuk kedalam mobil itu. Rachel duduk di bagian tengah mobil bersama Nana. Perempuan itu masih mendekap anaknya, memberikan kehangatan pada gadis kecil itu.
"Pakaikan ini untuknya." Ucap Yohan, ia melepas mantel tebalnya dan memberikannya kepada Rachel untuk menyelimutkan mantel itu pada Nana yang terlihat menggigil dan pucat.
"Terimakasih." Gumam Rachel, masih dapat di dengar oleh telinga Yohan.
•••
Yohan membawa Rachel dan Nana ke apartemennya. Sengaja ia membawa keduanya karena lokasi apartemennya lebih dekat daripada rumah keluarga Rachel.
Lagipula, setelah ibu Yohan meninggal satu setengah tahun yang lalu, ia merasa sepi dan jarang pulang ke apartemen ini. Jadi, membawa kedua perempuan yang sangat disayanginya ini, mungkin bisa membawa warna cerah kembali di dalam apartemennya yang gelap dan suram itu.
"Minumlah." Pria itu memberikan cokelat hangat untuk Rachel yang telah berganti pakaian. Rachel menggunakan pakaian milik mendiang ibu Yohan.
"Terimakasih, oh iya dimana Nana?" Tanya Rachel, saat masuk ke apartemen tadi, Yohan langsung menyuruh Rachel untuk mandi air hangat dan berganti pakaian di kamar bekas mendiang ibunya dulu. Sedangkan Yohan, ia yang membantu Nana untuk menghangatkan diri. Untungnya gadis kecil itu tidak basah sama sekali.
"Ada di kamarku. Setelah makan roti isi dan segelas susu, dia tertidur pulas." Jawab Yohan.
Pria itu menatap Rachel yang mengenakan pakaian mendiang ibunya itu.
"Sepertinya ibuku dulu kurus ya, bajunya melekat sempurna di tubuhmu." Ucap Yohan sedih mengingat ibunya yang telah tiada.
Rachel meletakkan gelas yang berisi cokelat panas itu ke atas meja, kemudian ia memegang tangan pria itu, memberikan dukungan pada Yohan yang terlihat lebih pendiam setelah ibunya meninggal.
"Setiap orang pasti akan mati jika tuhan sudah menghendakinya. Jadi, jangan larut dalam duka mu. Aku memang belum pernah berada di posisi mu, tapi bukan berarti aku tidak tahu bagaimana perasaanmu." Ujar Rachel.
Yohan tersenyum menatapnya, ia mengangguk, tangannya bergerak mengusap lembut wajah perempuan itu.
"Terimakasih." Ucapnya.
"Em, aku juga berterimakasih padamu. Terimakasih karena selalu ada untuk kami. Terimakasih untuk semuanya." Balas Rachel.
Mereka saling memandang, seakan sedang menelisik setiap inci wajah satu sama lain. Senyuman dari kedua insan itu tidak pernah luntur dari wajah mereka.
Yohan kembali menjulurkan tangannya, merapikan rambut Rachel yang masih terlihat basah, dengan pandangan-nya yang tak pernah lepas dari perempuan itu.
"Rachel." Ucap Yohan lirih.
Rachel tersenyum,
"Kak—" Belum sempat Rachel menyebut nama pria itu, Yohan sudah lebih dulu membungkam mulut Rachel dengan bibirnya.
Lama mereka larut dalam sebuah ciuman, sampai kemudian sebuah suara yang memanggil Rachel dengan panggilan ibu membuat perempuan itu sontak melepaskan ciuman mereka dengan mendorong Yohan menjauh darinya.
"Nana." Ucap Rachel canggung, dalam hatinya bertanya-tanya, Nana melihat adegan barusan apa tidak ya?
"Kau sudah bangun?" Tanya Rachel lagi.
Nana mengangguk, ia kemudian berjalan menghampiri ibunya dan Yohan. Gadis kecil itu duduk diantara mereka.
"Apa yang ibu lakukan dengan paman?" Tanya Nana layaknya anak kecil yang polos.
"Dia melihatnya." Gumam Rachel dengan wajah mengarah pada Yohan.
"Nana, itu—paman sedang meniup mata ibumu yang terkena debu." Ujar Yohan memberikan alibinya.
"Oh." Jawab Nana, ia juga tidak melihatnya dengan jelas karena terhalang oleh punggung Rachel.
"Kau masih mengantuk?" Tanya Rachel.
"Iya. Tapi ini sudah sore, ibu bilang jangan tidur di sore hari." Jawab Nana.
"Anak pintar. Setelah hujan reda, nanti kita pulang ya." Ucap Rachel.
"Pulang? Kenapa tidak menginap disini saja? Nana suka ada di tempat paman Yohan. Nanti paman Yohan akan membacakan buku untuk Nana saat Nana akan tidur."
"Buku?"
"Iya, paman bilang, itu buku—"
"Nana, apa kau ingin camilan?" Tanya Yohan menyela.
Nana mengangguk dengan senyum senangnya.
Yohan kemudian berdiri dari sofa itu, ia menggendong Nana dan membawanya menuju dapur, meninggalkan Rachel yang masih bertanya-tanya.
•••
Sore berlalu, kini malam hadir diantara mereka. Badai hujan belum juga reda, walau sebenarnya mereka bisa menerobosnya dengan mobil, tapi dengan angin kencang seperti saat ini, akan sangat berbahaya. Yohan pasti juga kesulitan untuk berkendara. Lagipula, Nana terus merengek untuk tinggal disini satu malam saja.
"Nana, sudah malam, waktunya kau tidur. Ayo Nana." Ajak Rachel, saat anaknya itu masih bermain puzzle dengan Yohan.
"Nanti bu." Ucap Nana.
Rachel menghela nafasnya, Yohan menoleh menatap Rachel yang terlihat seperti ingin marah, walau sebenarnya tidak, perempuan itu hanya memasang wajah tegasnya.
"Nana." Panggil Rachel lagi, kali ini dengan nada memperingatkan.
"Nana, ini sudah malam. Nana tidur dulu ya, kita bisa bermain ini lain waktu lagi." Ujar Yohan lembut.
Nana menatap pria itu sedih,
"Tapi aku ingin paman membacakan buku itu lagi sebelum aku tidur." Pinta Nana.
"Buku itu lagi?" Tanya Rachel yang masih dibuat penasaran dengan buku itu.
"Baiklah, kalau begitu kalian tidur dikamarku saja ya. Disana lebih rapi, aku sudah lama tidak merapikan kamar bekas mendiang ibuku. Takutnya berdebu." Ujar Yohan pada Rachel.
Tanpa menunggu jawaban dari Rachel, Yohan lantas menggendong Nana dan membawa gadis kecil itu ke kamarnya.
Rachel menghela nafasnya kembali, sejenak ia diam di tempat, melihat sikap Yohan yang selalu baik pada anaknya dan juga dirinya, membuat perempuan itu merasa senang dan juga sedih. Masalahnya, sekalipun pria itu peduli pada mereka, dan terlihat tertarik pada Rachel, tapi sampai sekarang Yohan tidak pernah berkata apapun tentang masa depan. Rachel hanya berharap satu hal dari pria itu, Yohan menikahinya. Tapi, apakah mungkin?
Setelah memikirkan semua itu, Rachel melangkahkan kakinya menuju kamar pria itu. Saat masuk kedalamnya, terlihat Nana yang terbaring diatas kasur dan Yohan duduk disisi kasur dengan tangan memegang sebuah buku.
Terdengar Yohan masih membacakan isi dari buku itu walau Nana sudah terlelap dalam tidurnya.
Rachel berjalan mendekati Yohan, perempuan itu penasaran dengan buku yang Nana favorit kan. Lantas, ia mengambil buku itu dari tangan Yohan tanpa permisi.
Mata Rachel membelalak, kemudian terdengar hembusan nafas pelan darinya.
"Kau bacakan buku ini padanya?" Tanya Rachel yang heran pada Yohan.
"Kenapa? Itu—"
"Dia masih anak-anak, tidak paham dengan hal-hal seperti ini."
Yohan tersenyum sembari mengambil kembali buku itu, kemudian dilihatnya buku yang dia beli dengan gaji pertamanya. Buku dengan judul Magif of thinking big karya David Schwartz. Buku yang berisi ilmu dasar mengenai impian besar untuk menuju kesuksesan, dimana cita-cita dimulai dari sebuah harapan dan impian.
"Terkadang anak-anak bisa melampaui orang dewasa, jangan meremehkan seorang anak karena umurnya masih jauh dibawah kita, biarkan dia berkembang dan meraih apa yang di impikannya, jangan menghakiminya, tapi pahami dia dan dukung dia." Ucap Yohan.
"Maksudnya?"
"Nana berkata padaku, jika suatu hari nanti, dia ingin menjadi pengusaha sukses dan juga seorang ahli seni, dia ingin mempunyai sebuah perusahaan hiburan seperti yang ia lihat di papan iklan. Lalu, dia ingin membuat rumah untuk kalian berteduh. Walaupun itu terdengar tidak masuk akal tapi itu tetap sebuah impian besar." Jawab Yohan, pandangannya tertuju pada Nana yang sudah masuk ke alam mimpinya.
Rachel merasa terharu mendengarnya, selama ini dirinya hanya dibuat sibuk oleh pekerjaan, persiapan dirinya untuk melanjutkan kuliah dan juga mengurus Nana. Tidak pernah sekalipun ia meluangkan waktu untuk bertanya tentang hal seperti itu pada anaknya.
"Kadangkala kau perlu meluangkan waktu untuk berbincang dengannya." Saran Yohan.
Rachel tersenyum,
"Pasti, terimakasih sudah memberitahuku."
Yohan mengangguk,
"Aku pikir dia akan menjadi anak yang luar biasa suatu hari nanti." Ucapnya, dengan pandangan yang masih terus terarah pada Nana.
"Aku harap begitu." Gumam Rachel, ia juga ikut memandang gadis kecil yang telah tertidur dalam mimpi indah.
Dilihat dari sudut pandang manapun, mereka berdua saat ini seperti orangtua yang sedang memandangi anak mereka dengan harapan penuh di hati keduanya.
Semoga kau bahagia Nana — Hati berkata.
End.✍