The Destiny

The Destiny
How



No one has the ability to do something perfect. But each person is given a lot of opportunity to do something right β€” Unknow.


πŸ…πŸ…πŸ…


"Sayang, aku ingin makan mie instan buatanmu." Ujar Ray, tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan yang di lalui.


"Lain kali saja, saat ini aku sedang tidak dalam mood bagus untuk memasak." Kata Ana.


"Kau jahat sekali, aku meminta apapun darimu kau selalu menolaknya." Protes Ray.


"Itu keinginan calon anakmu."


"Selalu saja menggunakan alasan itu. Memangnya janin bisa berbicara." Gumam Ray dengan ekspresi yang tampak mencibir Ana.


"Kau bisa masak sendiri." Ucap Ana.


"Tapi aku ingin kau yang memasaknya." Kekeuh Ray.


Ana menghela napasnya,


"Okey, aku akan membuatkannya untukmu nanti."


"Janji?"


"Eh bukankah itu mobil Alex?" Tanya Ana, perhatiannya kini beralih pada mobil Alex yang terparkir di pinggir jalan.


Disana juga tampak beberapa orang berkumpul mengelilingi sesuatu.


"Ray coba menepi, perasaan ku tidak enak." Suruh Ana.


Ray menepikan mobilnya, setelah itu Ana langsung keluar lebih dulu tanpa menunggu suaminya.


Ana dengan cepat berhasil menerobos kerumunan orang-orang itu.


"Alex?" Panggil Ana saat matanya langsung mengenali postur tubuh Alex yang membelakanginya.


"Ana? Kenapa kau ada disini?" Tanya Alex.


"Aku baru saja ingin pulang ke rumah dan tidak sengaja melihat mobilmu, ada apa?"


"Ini, perempuan ini menyeberang jalan di jalur yang bukan untuk penyeberangan, jadi mobilku tidak sengaja menabraknya sedikit." Jawab Alex.


"Apa tuan ini memiliki hubungan dengan anda nona? Dia sudah menabrak perempuan ini tapi tidak ingin bertanggungjawab." Kata salah seorang yang ada di kerumunan itu.


"Ini bukan salahku, jika dia menyeberang di tempat penyeberangan yang sudah disediakan, mobilku tidak akan melukainya. Lagipula, ini juga mengguncang diriku, melihat dirinya yang tiba-tiba melintas menyeberangi jalanan." Sanggah Alex.


"Eng, saya pikir. Ini tidak perlu diributkan lagi. Lagipula saya tidak apa-apa, hanya luka goresan saja." Ujar perempuan yang tak sengaja tertabrak oleh Alex.


"Kalian dengar sendiri kan? Sejak tadi dia berkata tidak apa-apa." Ucap Alex pada orang-orang yang membentuk kerumunan itu.


"Alex, walaupun kau tidak sengaja menabraknya, setidaknya bawa dia ke rumah sakit atau klinik terdekat untuk di obati. Aku khawatir lukanya bisa mengakibatkan infeksi." Saran Ana.


"Ada apa?" Tanya Ray yang baru saja berhasil menerobos masuk ke dalam kerumunan.


"Kau lama sekali." Ucap Ana.


"Maaf." Bisik Ray pada isterinya itu.


"Jadi apa yang terjadi.. Tunggu dulu! bukankah kau~" Tatapan Ray mengarah pada perempuan yang tidak sengaja Alex tabrak.


"Tuan Raymond? Bukankah anda atasannya kak Yohan?" Tanya perempuan itu, adalah Miya.


Kak Yohan? Dia memanggilnya seolah akrab dengan assisten Yohan. β€” Batin Ana.


"Apa kau Perawat Miya?"


"Iya ini saya tuan." Jawab Miya.


"Kau mengenalnya?" Tanya Ana pada Ray.


"Dia perawat pribadi yang merawat ibunya Yohan selama ini." Jawab Ray.


Pantas saja dia memanggil assisten Yohan seperti itu. Tapi, apa mereka memiliki hubungan khusus ya? Ah ya ampun, jika benar begitu, rencana ku untuk menjodohkan Rachel dengan assisten Yohan akan gagal. Ini sangat rumit, sungguh diluar dugaan ku. β€” Batin Ana.


"Jadi apa yang sebenarnya tadi kalian ributkan?" Ray mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab tadi.


"Ah itu, aku tidak sengaja menabraknya." Jawab Alex.


"Ini semua kesalahan saya tuan Ray. Saya menyeberang jalanan tanpa mematuhi peraturan lalu lintas, seharusnya saya menyeberang melalui jalur penyeberangan, tapi saya mengabaikannya." Kata Miya.


"Ah begitu." Ucap Ray.


Pria itu kemudian menghadap orang-orang yang masih berkerumun disana.


"Kami akan membawanya ke rumah sakit terdekat, jadi bisakah kalian bubar?!" Ray menggunakan nada yang biasa ia gunakan untuk memerintah dengan tegas bawahannya.


Kerumunan orang-orang itu pun akhirnya satu-persatu memudar, mereka pergi dari sana.


"Alex."


"Iya kak?" Tanya Alex ketika Ray memanggil namanya.


"Bawa dia ke rumah sakit. Aku dan Ana akan mengikuti dari belakang." Ujar Ray.


"Ayo." Ajak Ray pada Ana setelah melihat mobil Alex melaju ke jalan raya.


Suami dan istri itu masuk ke dalam mobil mereka dan mengikuti Alex dari belakang menuju rumah sakit terdekat.


Tak jauh dari lokasi kejadian, ada rumah sakit tipe c disana.


Alex lebih dulu sampai dan keluar dari mobilnya bersama Miya.


Mereka berdua masuk ke dalam dan langsung mendapatkan penanganan pertama.


Luka itu memang tidak parah, hanya beberapa luka gores di bagian kaki dan siku Miya. Tapi, jika tidak di bersihkan dan diobati, itu bisa mengakibatkan infeksi bakteri yang ada pada luka.


Ray dan Ana masuk ke dalam rumah sakit itu, mereka segera menuju IGD dimana Alex dan juga Miya berada disana.


"Bagaimana?" Tanya Ray saat baru saja tiba disana.


"Dokter bilang tidak ada luka serius, hanya luka kecil. Beberapa hari juga sudah kering." Jawab Alex.


"Maaf sudah merepotkan kalian." Ucap Miya.


"Tidak masalah, lain kali berhati-hati lah." Ujar Ray.


"Iya tuan, terimakasih atas perhatiannya. Kalau begitu, saya permisi."


"Eh tunggu." Cegah Ray.


Ada apa dengan pria satu ini?!! Dari awal melihat perempuan ini dirinya terlihat perhatian sekali dengannya. Kau sangat menyebalkan Ray. β€” batin Ana.


"Ada apa tuan?" Tanya Miya.


"Tadi aku menghubungi Yohan. Sebentar lagi dia akan datang untuk mengantarkan mu pulang." Ujar Ray.


Ana yang mendengarnya semakin mencebik kesal. Rasa kesalnya seakan sampai membuat kepalanya mendidih panas.


"Kapan kau menghubungi assisten Yohan?" Tanya Ana.


"Tadi, sebelum kita pergi ke rumah sakit. Aku mengirimkan pesan teks pada Yohan. Dia membalasnya danβ€” ah itu dia." Perkataan Ray terhenti saat dirinya secara kebetulan melihat Yohan yang sudah tiba disana.


"Miya!" Panggil Yohan dengan raut wajah khawatir.


"Kau tak apa?" Tanya Yohan.


"Em, tidak apa-apa. Hanya luka ringan." Jawab Miya dengan senyum senangnya melihat Yohan sampai rela datang untuk dirinya.


Tidak bisa di biarkan. Jika seperti ini, bisa-bisa peluang Rachel semakin menipis nantinya. β€” batin Ana.


"Kak Yohan, jika kau pergi kemari, lalu bagaimana dengan nyonya Anjani?" Tanya Miya, yang dimaksud nyonya Anjani adalah ibu Yohan.


"Dia sedang tertidur, karena itu ayo cepat, aku akan mengantarmu." Jawab Yohan.


"Eh tidak tidak! Dia lebih baik diantarkan oleh Alex." Ujar Ana.


"Anaβ€”" Belum sempat Ray berbicara, Ana sudah mencubit kuat lengan Ray.


"Assisten Yohan, kau kembali saja ke rumah mu, Alex yang akan mengantarkannya pulang. Bagaimanapun juga, walaupun Alex tidak sengaja, ia tetap harus bertanggungjawab kan?" Kata Ana.


Mendengar kata tanggung jawab, Yohan menatap sinis Alex.


"Saya tidak percaya padanya." Ujar Yohan.


"Kau tenang saja assisten Yohan, jika terjadi sesuatu pada perempuan ini, aku yang akan memberi Alex pelajaran." Ucap Ana. Ia kemudian menatap Alex dan memberi aba-aba agar Alex cepat bergerak mengantarkan Miya pulang.


"Iya baiklah, ayo aku akan mengantar mu." Ujar Alex yang pasrah, di hatinya, ia sangat malas mengantarkan perempuan itu.


Miya hanya diam dan menurut, walau sebenarnya sangat ingin Yohan yang mengantarnya, tapi ia terpikir tentang ibu Yohan yang ditinggal seorang diri.


"Kau akan tahu akibatnya jika terjadi sesuatu padanya." Bisik Yohan pada Alex.


Alex menepis tangan Yohan yang menyentuh bahunya. Kemudian berlalu dari ruang IGD, diikuti oleh Miya.


"Tuan, nona. Saya juga permisi pulang." Ucap Yohan.


"Ah iya tentu saja. Kau harus cepat pulang ke rumah mu, bagaimana bisa kau tega meninggalkan ibumu yang menderita demensia sendirian dirumah hanya karena mendapat kabar buruk dari gadis itu. Kau ternyata tidak menomorsatukan ibumu ya." Kata Ana, ia sengaja menyindir Yohan. Istri Ray itu kesal karena Yohan tampak peduli pada Miya.


Yohan hanya menunduk dan diam. Ia merasa, jika yang Ana katakan memang benar.


"Sayang, apa yang kau katakan? Kau melukai hatinya."


"Dia lebih melukai hati Rachel, jika Rachel tau tentang ini." Ucap Ana asal.


Yohan mendongakkan kepalanya saat Ana mengatakan itu, tapi dia tetap diam.


"Ayo pulang, aku lelah." Ana menarik tangan Ray kembali ke mobil mereka.


Meninggalkan Yohan yang masih terdiam beberapa menit disana, tampak memikirkan sesuatu.


Yohan datang ke rumah sakit karena khawatir pada Miya, perempuan itu sudah seperti adik baginya, ia juga yang telah merawat ibunya dengan baik.


Lalu, saat mendengar perkataan Ana tentang Rachel. Hati Yohan merasa gelisah.