
"Ray."
"Hm." Gumam Ray.
"Kita— bagaimana kalau kita bercerai saja." Ucap Ana.
Perkataannya itu sontak membuat Ray langsung menatap ke arahnya. Pria itu tampak terkejut dengan apa yang barusan Ana ucapkan.
"Jangan bercanda." Kata Ray.
"Aku serius. Lagipula, bukankah kau sudah tidak peduli padaku lagi?"
Ray terlihat diam untuk beberapa saat, lalu kemudian, pria itu berdiri dari duduknya, ia berjalan menuju ke arah pintu keluar kamar.
"Pergilah, lalu aku juga akan pergi dari rumah ini." Ancam Ana, membuat Ray menghentikan langkahnya.
"Kenapa kau mengabaikanku? Apa salahku? Kenapa kau bodoh sekali? Kenapa kau tidak menyadari siapa aku? Kenapa? Kenapa? Kenapa?!" Ujar Ana, gadis itu mengucapkan semua perkataannya itu diiringi dengan air mata yang mengaliri wajahnya.
Ray tampak berjalan mendekati Ana, pria itu kini berdiri dihadapannya Ana. Ia diam menatap Ana yang masih menangis tersedu-sedu.
Dengan satu kali gerakan, Ray memeluk tubuh gadis itu. Mengusap puncak kepala Ana dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan untuk gadis itu.
"Ray— aku Angel." Ucap Ana.
Tapi, walaupun ia sudah mengatakannya, Ray tampak diam tak merespon. Pria itu tidak memberikan reaksi apapun.
"Ray~"
"Ssstt— diamlah, aku sudah tahu." Kata Ray.
"Eh?"
Ana mendorong tubuh Ray agar menjauh darinya, lalu gadis itu menatap ke arah suaminya itu dengan raut wajah penuh tanya.
"Kau bilang— kau sudah tahu? Lalu— kenapa kau menjauhiku?" Tanya Ana.
"Lupakanlah, ayo kita istirahat, ini sudah malam." Ucap Ray yang kemudian menarik lembut tubuh Ana, pria itu membawa Ana ke arah tempat tidur.
"Tunggu dulu, aku tidak akan tidur sebelum kau menjelaskannya padaku." Ujar Ana.
"Besok, besok aku akan menjelaskannya padamu. Ini sudah malam, lebih baik kita tidur." Ucap Ray.
"Ray!"
"Besok, Ana."
"Sekarang."
"Besok, aku janji." Ucap Ray sembari mengelus kepala Ana lembut.
Ana mendengus kesal, ia mendorong tubuh Ray dan menjauh dari pria itu.
"Kalau kau tidak ingin menjelaskannya sekarang, aku akan pergi dari rumah ini, malam ini juga." Ujar Ana.
"Iya baiklah, ayo kemari, aku akan menjelaskannya sekarang." Ujar Ray, mendengar itu, Ana segera berjalan mendekati Ray. Gadis itu siap mendengarkan semua yang akan Ray katakan.
Sebelum memulai penjelasannya, Ray meraih tangan Ana dan merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Sekilas, Ray mengecup puncak kepala istrinya itu.
"Baiklah, aku akan memulainya dari Yohan yang memberiku foto-foto yang ia ambil dari cctv. Saat itu Yohan memberiku beberapa lembar foto yang dia ambil dari cctv, lalu ada dua foto yang mengarah ke anak ketua perusahaan Ussa, Angelina Anita Ussa. Foto yang pertama aku lihat, itu foto anak perempuan yang memeluk ibumu, tapi wajah anak perempuan itu tidak terlihat karena membelakangi kamera cctv, lalu foto kedua anak perempuan itu masuk ke dalam mobil yang ternyata milik ketua perusahaan Ussa, dan wajahnya juga tidak terlihat karena tertutup oleh seorang bodyguard yang mengawalnya."
Ray berhenti sejenak, ia mengecup puncak kepala Ana lagi, membuat gadis itu mendongak, menatap Ray yang tersenyum padanya.
"Lanjutkan penjelasannya." Pinta Ana.
"Iya iya, kau sangat tidak sabaran sekali. Jadi, beberapa hari setelah itu, Yohan datang memberitahuku, dia bilang kalau anak perempuan di foto itu adalah Angelina Anita Ussa. Yohan juga memberiku beberapa bukti di dalam map, tapi saat aku baru memikirkannya dan ingin melihat isi map itu, Rachel menelponku kalau kau masuk ICU, kabar itu lebih membuat pikiranku kacau, jadi aku melupakan dokumen itu dan pergi ke rumah sakit. Lalu setelah itu, aku hanya fokus merawatmu dan masih berpikir bahwa yang Yohan asumsikan itu benar. Aku juga tidak sempat lagi melihat isi map itu, karena pikiranku saat itu sangat rumit."
Ana memegang pipi Ray dan mengelusnya lembut, memberi ketenangan pada suaminya itu, Ray memejamkan matanya merasakan tangan Ana yang menyentuh halus wajahnya.
"Lalu, bagaimana akhirnya kau tau jika Angelina bukan Angel yang kau cintai?" Tanya Ana.
"Malam saat kita bertengkar, diluar kamar aku terpikirkan oleh perkataanmu, kalau aku mencintainya kenapa aku tidak bisa mengenalinya. Kalimat itu membuatku berpikir seolah kau tahu banyak tentang Angel. Jadi, aku pergi ke ruang kerja dan memeriksa map yang Yohan berikan, saat aku melihat foto kecil Angelina, aku terkejut, ternyata dia bukan Angel yang aku cari. Setelah itu aku ingin menanyakanya padamu, tapi saat aku masuk kedalam kamar, kau sudah tertidur." Ujar Ray.
"Jadi?"
"Jadi aku ikut tidur juga." Jawab Ray dengan tawa kecilnya.
Ana mencubit perut Ray, ia sedang serius tapi pria itu malah bercanda.
"Jangan bercanda!"
"Aku serius, aku ikut tidur juga. Tapi, keesokkannya aku bangun pagi-pagi dan datang menemui Kenan, aku meminta foto keluarga kalian saat kau masih kecil dan saat ayahmu belum menikah lagi. Apa kau tau apa yang aku lakukan saat melihat dirimu yang masih kecil di foto itu."
"Apa?"
"Aku menertawakan diriku sendiri yang sudah dipermainkan oleh kebodohan ku, bodohnya aku tidak memeriksa informasimu secara detail saat kita akan menikah dulu, dan bodohnya aku tidak berniat untuk mengetahui foto keluargamu dulu, yang memang sudah tidak terpajang dirumahmu. Jika saja aku mencari tahu tentangmu lebih detail lagi saat itu, aku pasti mengetahuinya lebih cepat dan ceritanya akan berbeda, aku akan mencintaimu dan baik padamu lebih awal."
Ana berdecih dengan ungkapan kebodohan yang Ray akui sendiri.
"Kau memang sangat bodoh, dan kenapa tidak menanyakan itu langsung padaku daripada jauh-jauh pergi menemui Kenan?"
"Karena aku pikir kau marah padaku." Jawab Ray.
"Tapi bagaimana kau berpikir untuk melihat foto masa kecil ku?"
"Aku hanya ingin memastikannya saja, mengingat perkataanmu yang memiliki dua kemungkinan, yaitu kau mengetahui tentang Angel atau kau adalah Angel yang aku cari."
"Ah begitu ya, tapi kalau kau tahu sejak saat itu. Lalu— kenapa beberapa hari setelah kita bertengkar, kau tetap menjauhiku?!" Ana memberikan tinjunya pada dada bidang Ray, pria itu meringis, berpura-pura kesakitan padahal ia tidak merasa sakit apapun.
"Ini masalah bisnis dan masalah internal perusahaan. Karena Angelina masih berpikir kalau aku mempercayainya dan belum mengetahui kebenarannya. Aku memanfaatkannya untuk mengetahui rencana mereka, rencana ayahnya yang ingin menjatuhkan perusahaanku, dan juga untuk mencari bukti siapa dalang yang bekerja sama dengan perusahaan Ussa atas klaim yang mereka lakukan dari proyek yang sebelumnya perusahaan TNP buat." Ujar Ray.
"Tapi, setidaknya beritahu aku kalau kau sudah mengetahuinya." Ana mengerucutkan bibirnya, Ray tersenyum melihatnya.
"Maaf, tapi kan— sekarang aku sudah memberitahumu." Kata Ray.
Ana tersenyum mendengarnya, ia mengangguk sembari membalas pelukan hangat dari suaminya itu.