The Destiny

The Destiny
Tak Sengaja Bertemu



Rachel menggendong bayinya menuruni tangga, ia sedang mencari ibunya untuk meminta bantuan.


"Ibu." Panggil Rachel, ia berjalan mendekati ibunya yang sedang duduk diruang tamu, membaca majalah.


"Ada apa?" Tanya ibunya itu dengan nada malasnya.


"Tolong bantu jaga Nana sebentar ya." Pinta Rachel.


"Kau kan ibunya, kenapa harus aku yang menjaganya? Anak haram ini kan hasil dari perbuatanmu sendiri, jadi urus saja sendiri. Ibu tidak mau, melihatnya saja membuat darah tinggi ibu naik." Ujar ibunya.


Rachel menghela nafasnya, ia masih berdiri disana menatap ibunya dengan tatapan memohon.


"Bu, aku harus pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan bayi. Jadi, tolong jaga Nana ya, sebentar saja." Pinta Rachel, ia masih berharap ibunya itu mau membantunya, walaupun harapan itu sangat tipis, karena ia tahu ibunya tidak akan pernah mau membantunya mengurus Nana.


"Tidak." Kata ibunya.


Rachel menatap ibunya sendu, ia pun berlalu. Gadis itu sekarang benar-benar menjadi single mother yang berjuang mati-matian membesarkan anak seorang diri.


Setelah melahirkan dan pulang ke rumah, yang membantunya mengurus Nana di rumah itu hanyalah Kenan. Tapi, Rachel tidak bisa meminta tolong terus pada adik tirinya itu. Bagaimanapun juga, sekarang Kenan juga disibukkan dengan tugas kuliahnya.


Selain dari Kenan, tidak ada yang membantunya. Ayah tirinya juga hanya peduli seadanya, ibu kandungnya sikapnya sejak ia hamil memang sudah menganggapnya tidak pernah ada lagi, dan kakak kandungnya sendiri pun juga tidak begitu peduli padanya.


Walaupun ia tinggal dirumah yang dipenuhi orang-orang, tapi ia seperti tinggal seorang diri di sebuah rumah kontrakan.


Rachel berjalan keluar rumah, mau tak mau, ia harus membawa Nana untuk ikut pergi ke supermarket dengannya.


Sebuah taksi lewat, Rachel menghentikannya, lalu kemudian masuk kedalamnya.


"Tolong ke supermarket Palacia ya." Ujar Rachel pada sopir taksi itu.


"Baik."


Taksi itu melaju ke supermarket terlengkap di daerah itu.


Sesampainya di supermarket itu, Rachel membayar taksi dengan e-money nya, kemudian ia turun dari taksi dan berjalan masuk ke supermarket dengan membawa bayinya di dalam gendongan.


Perempuan itu melangkahkan dirinya menuju rak-rak bagian perlengkapan bayi. Ia mulai melihat-lihat angka kebutuhan gizi yang ada di setiap susu formula, sebagai seorang ibu yang tidak memiliki banyak ASI untuk anaknya, ia harus selektif dengan susu formula yang menjadi susu pendamping ASI nya.


Selesai memilih susu formula, ia mendorong troli belanjanya berjalan ke rak bagian popok bayi yang juga berdekatan dengan rak popok dewasa.


Disana lah Rachel tak sengaja melihat assistennya Ray sedang memegang salah satu produk popok dewasa. Rachel mengernyitkan keningnya, untuk apa pria itu ada disini dan sepertinya sedang ingin membeli popok dewasa.


"Assisten Yohan?" Panggil Rachel, ia sedang memastikan, apakah itu benar Yohan atau bukan.


Mendengar namanya dipanggil, Yohan pun menoleh ke arahnya.


"Ada apa?" Tanya Yohan, ia terlihat tidak terkejut saat Rachel mendapatinya sedang berbelanja popok dewasa.


"Eh tidak apa-apa, hanya saja aku tidak sengaja melihatmu dan memastikan apakah aku salah lihat atau tidak, maka nya aku memanggilmu." Ujar Rachel, Yohan hanya menanggapinya dengan oh saja. Kemudian ia fokus kembali untuk memilih ukuran popok dewasa itu.


"Kau membeli popok dewasa untuk siapa?" Tanya Rachel, entah kenapa ia begitu penasaran.


"Ibuku." Jawab Yohan tanpa mengalihkan pandangannya, ia tetap fokus pada tangannya yang masih bergerak untuk memilih popok dewasa itu.


"Oh untuk ibumu."


"Apa kau sedang membeli kebutuhan bayimu?" Tanya Yohan, ia menoleh pada Rachel.


"Hm, iya." Jawab Rachel.


Yohan mencari seseorang di dekat Rachel, seseorang yang mungkin saja menemani perempuan itu.


"Kau— apa tidak ada yang menemanimu?" Tanya Yohan saat ia tidak melihat siapapun didekat Rachel.


"Ya seperti yang kau lihat." Jawab Rachel dengan senyumannya.


Yohan menatap perempuan itu, ketika melihat Rachel, ia jadi teringat perkataan Alex yang tidak akan pernah mau bertanggung jawab dan menyuruhnya untuk menutupi kebenaran.


Mengingat nya membuat Yohan merasa iba pada Rachel, diusianya yang masih sangat muda, ia harus berjuang seorang diri membesarkan anaknya dan menjadi ibu tunggal.


Yohan meletakkan popok dewasa yang ingin dibelinya ke dalam troli belanja milik Rachel, kemudian ia meraih troli belanja dari tangan Rachel dan membawanya ke bagian popok bayi.


"Biarkan aku menemanimu dan membantumu belanja kebutuhan bayi." Ujar Yohan.


Rachel hanya terbengong dengan sikap Yohan yang tiba-tiba begitu baik padanya.


"Hei, kau tidak perlu membantuku, aku baik-baik saja, aku bisa melakukannya sendiri, lagipula aku juga sudah terbiasa." Kata Rachel.


"Mana yang ingin kau beli?" Tanya Yohan, ia tidak mempedulikan perkataan Rachel.


Rachel menghela nafasnya dan tersenyum,


"Itu, yang ada tulisan new born." Kata Rachel sembari menunjuk salah satu popok bayi yang memiliki tulisan new born di kemasannya.


"Ini?" Yohan mengambil popok bayi itu dan menunjukkan nya pada Rachel.


"Iya itu." Jawab Rachel.


Yohan kemudian meletakkan popok bayi itu ke dalam troli, tak sengaja ia melihat susu formula yang Rachel beli tadi.


"Kau memberinya susu formula?" Tanya Yohan.


"Iya, karena ASI ku tidak banyak keluar, dokter bilang itu hal yang wajar karena ini anak pertama, jadi untuk penambah kebutuhan susu, aku harus membeli susu formula." Jawab Rachel.


Yohan mengangguk paham, lalu ia mendorong troli nya ke bagian healthcare.


"Tidak, saat ini kita sedang membeli kebutuhanmu. Kau tenang saja, aku akan membayarnya untukmu." Ujar Yohan, ia kembali memilih vitamin dan suplemen serta susu yang sesuai dengan kebutuhan Rachel.


"Assisten Yohan, kau tidak perlu melakukan ini padaku." Ucap Rachel.


Yohan menoleh setelah ia selesai memilih dan memasukkan semua yang dipilihnya ke dalam troli belanja.


"Kalau kau tidak nyaman dengan perbuatan baikku, maka anggap saja aku sedang iba padamu." Ujar Yohan, ia menyentuh kening Rachel dengan jari telunjuknya, kemudian berlalu menuju kasir.


Rachel berjalan mengikuti Yohan yang sudah mulai membayar semua barang belanjaan itu.


Setelah selesai membayarnya, Yohan menghampiri Rachel yang berdiri tak jauh dari tempat kasir.


"Biar aku yang membawanya." Rachel ingin membantu Yohan membawa plastik belanjaan itu, tapi Yohan segera menjauhkannya dari jangkauan Rachel.


"Kau pikir aku ini pria macam apa? Bagaimana bisa aku membiarkan perempuan yang sedang menggendong bayi membawa belanjaan sebanyak ini."


"Tapi— "


"Sudahlah, kau diam saja dan ikuti aku. Aku akan mengantarmu pulang. Jangan membantah." Kata Yohan.


Rachel hanya diam saja menuruti perkataan Yohan, kemudian ia berjalan mengikuti Yohan yang menuju parkiran mobilnya.


"Masuklah." Ujar Yohan saat ia sudah memasukkan semua belanjaan ke dalam mobil dan membukakan pintu mobil depan untuk Rachel.


"Terimakasih." Ucap Rachel, yang kemudian masuk ke dalam mobil.


Yohan menutup pintu mobil itu dan berjalan ke sisi kemudi mobil, ia membuka pintunya dan masuk kedalam, menghidupkan mesin mobil, lalu melajukannya menuju rumah Rachel, rumah keluarga Ana.


"Terimakasih ya untuk semuanya." Ujar Rachel.


"Hm." Jawab Yohan yang masih fokus pada jalanan.


"Aku tidak tahu, ternyata kau pria yang baik, sangat-sangat baik." Kata Rachel lagi.


Yohan hanya diam tak menjawab pujian yang ditujukan padanya itu.


"Apa kau tinggal di daerah ini juga?" Tanya Rachel, gadis itu sedang mencoba mencairkan suasana yang canggung diantara mereka.


"Iya, aku tinggal di apartemen dekat supermarket tadi." Jawab Yohan.


"Ah begitu ya. Tapi ngomong-ngomong, kau seperti ini, lebih terlihat seperti manusia ya." Canda Rachel.


"Yah saat diluar jam kerja, seperti inilah aku." Kata Yohan yang mulai terlihat santai pada Rachel.


Rachel tersenyum,


"Oh iya, kau tadi membeli popok dewasa untuk ibumu, memangnya ibumu sedang sakit?"


"Hm, ibuku menderita demensia, sudah sejak lama. Dia satu-satunya keluarga yang aku punya." Jawab Yohan.


Rachel kembali tersenyum lagi,


"Sekarang aku akan menjadi orang pertama yang akan membelamu jika ada orang lain yang mengatakan kalau kau ini bersifat dingin dan juga berhati batu." Ujar Rachel. Yohan hanya tersenyum mendengarnya.


"Kau bisa tersenyum juga ya." Kata Rachel saat ia tidak sengaja melihat senyuman dari diri Yohan.


Mendengar itu, yohan langsung menghilangkan senyumannya dari wajahnya, membuat Rachel semakin tertawa dengan tingkah Yohan itu.


"Sudah sampai." Ujar Yohan, ia memarkirkan mobilnya di depan pintu rumah Rachel.


"Ah iya." Rachel ingin membuka sabuk pengamannya, tapi sepertinya ia kesusahan, melihat itu Yohan langsung membantunya. Itu membuat jarak diantara mereka sangat dekat.


"Sudah."


"Eh?"


"Aku sudah membuka sabuk pengamannya, kau bisa keluar sekarang." Ucap Yohan.


"Ah baiklah." Kata Rachel yang kemudian keluar dari dalam mobil itu.


Tak lama setelah Rachel keluar, Yohan pun ikut keluar juga.


Pria itu keluar dari dalam mobil dengan tangan yang memegang penuh beberapa kantong plastik.


"Biar aku yang membawanya ke kamar." Ucap Rachel.


"Tunjukkan saja dimana kamarmu, aku akan membawakannya untukmu." Ujar Yohan.


"Baiklah." Kata Rachel yang pada akhirnya mengalah juga.


Gadis itu kemudian berjalan lebih dulu di depan Yohan. Ia berjalan melewati beberapa anak tangga, hingga akhirnya sampai di kamarnya.


"Mau diletakkan dimana?" Tanya Yohan.


"Letakkan saja di atas tempat tidur." Ucap Rachel sembari membaringkan tubuh Nana di dalam box bayi.


"Aku sudah meletakkannya di atas kasurmu, kalau begitu, aku pamit pulang." Ujar Ray.


"Tunggu dulu."


"Ada apa?" Tanya Ray.


"Terimakasih." Ucap Ana dengan senyum tulusnya.