
Kebahagiaan itu datang bersama orang-orang yang disayangi. — Epilog the destiny.
💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦
Pagi yang cerah seperti biasanya, keluarga itu tampak bahagia, duduk di meja makan dengan canda tawa disana.
"Yuan!" Panggil seorang gadis yang langsung masuk ke dalam rumah itu.
"Halo paman Ray, bibi Ana, dan nenek Calista." Sapa Nana yang baru saja sampai di ruang makan.
"Halo Nana, ayo ikut sarapan. Yuan masih ada di kamarnya." Ujar Ana.
"Anak itu selalu saja bangun siang, sepertinya aku kurang mendisiplinkannya dengan baik." Ucap Ray yang ingin bangkit dari kursinya untuk mendatangi kamar anak laki-lakinya itu.
"Selamat pagi." Disaat yang sama, Yuan datang ke ruang makan.
"Eh, kau datang kerumah?" Tanya Yuan yang ditujukan pada Nana.
"Kenapa lama? Kau bangun kesiangan lagi?!" Tanya Ray, ayahnya.
Yuan tersenyum seperti biasa,
"Mom, lihatlah. Dad menatapku seperti itu, aku takut." Rengek Yuan, pria yang sudah berusia dua puluh satu tahun itu berjalan ke arah ibunya dan memberi kecupan singkat di kening Ana.
Ray hanya bisa menghela napasnya melihat kelakuan anaknya yang memang selalu seperti itu. Sejak kecil, setiap kali Ray memarahi nya, Yuan akan mengadu dan merengek pada ibunya.
"Ayo Nana, ikut sarapan dulu." Ucap Calista, sang nenek.
"Terimakasih nek, tapi Nana sudah sarapan dirumah tadi." Kata Nana, seorang gadis periang berusia dua puluh satu tahun lebih sembilan bulan dari Yuan.
"Kenapa kau tidak menunggu dirumah mu saja?" Tanya Yuan pada Nana dengan mulut yang masih terisi makanan.
"Yuan, kalau makan jangan berbicara, kau bisa tersedak nanti." Nasehat Ana.
"Maaf mom." Ucap Yuan.
Ray mencibirnya,
"Jika mommy mu yang mengatakannya kau langsung meminta maaf, tapi jika daddy yang mengatakannya, kau selalu membantah. Dasar anak kurang ajar." Ucap Ray kesal.
Yuan kembali tersenyum tanpa dosa pada ayahnya,
"Dia sedang iri mom." Bisik Yuan pada ibunya, Ana hanya tersenyum menanggapi.
"Apa yang kau katakan dasar bocah." Ujar Ray, semakin kesal melihat Yuan yang mulai mengompori ibunya untuk berpihak pada pria muda itu.
Melihat gelagat marah dari ayahnya, Yuan berpura-pura takut dan bersembunyi di balik tubuh Ana yang duduk disampingnya.
"Sudah sudah, kalian ini ayah dan anak tidak pernah berubah, selalu saja ribut saat bertemu, tapi saling merindu saat lama tidak bertemu." Kata Ana dengan nada kesalnya, ia jengkel dengan tingkah kedua pria itu, yang bertengkar disaat sedang makan seperti ini.
"Kau dengar itu dad, mom sedang marah." Ucap Yuan, ia mengatakan itu masih dengan mulut yang berisi makanan.
"Yuan! Mom sudah bilang, kalau makan jangan berbicara, dan lagi, mom sedang memarahi kalian berdua bukan hanya dad mu saja. Kau mengerti?!" Ana menatap anaknya itu dengan tatapan tegasnya.
Ray terlihat menahan tawanya, melihat Yuan yang diam menunduk takut pada ibunya itu. Ya, hanya Ana yang ditakutkan oleh kedua pria yang hampir memiliki banyak kesamaan dan kemiripan itu.
Ray kemudian berdehem, menetralkan suasana yang terasa mencekam beberapa saat.
"Ayo kita berangkat Yuan, Nana." Kata Ray, mengajak kedua pria dan gadis itu untuk berangkat bersamanya seperti biasa.
"Baik. Bibi dan nenek, Nana berangkat ke kampus dulu ya, sampai jumpa." Pamit Nana.
"Bye mom, bye grandma." Pamit Yuan dengan nada kecilnya, ia masih terkena efek amukan dari Ana.
"Maafkan mom okey." Bisik Ana saat Yuan ingin beranjak berdiri.
Yuan menatapnya, kemudian melemparkan senyuman-nya.
"Maafkan Yuan juga, mom." Ujar Yuan sembari mengecup puncak kepala ibunya dengan sayang.
"Kau suka sekali mencium mommy mu." Kata Ray, dia cemburu.
Yuan malas menanggapi perkataan ayahnya, ia memilih pergi lebih dulu bersama Nana, menunggu ayahnya itu di dalam mobil.
"Aku berangkat kerja ya sayang." Pamit Ray.
"Iya." Jawab Ana, menunggu Ray pergi keluar rumah. Tapi pria itu masih berdiri ditempatnya cukup lama, ia menunggu sesuatu dari Ana.
Perempuan yang kini telah berusia empat puluhan enam tahun itu hanya bisa menghela napasnya menghadapi suaminya yang berusia lima puluh dua tahun tapi masih seperti seorang remaja yang selalu ingin dimanja kekasihnya.
"Kau sama sekali tidak berubah, selalu saja, ah ya ampun." Ucap Ana yang langsung mengecup sekilas bibir Ray. Yah, itu adalah energi pagi untuk Ray. Dari dulu sampai sekarang tidak akan pernah dihilangkan dari rutinitas pagi mereka.
Ray tidak akan pernah mau berangkat bekerja sebelum Ana memberinya sebuah kecupan manis.
"Sampai jumpa nanti malam." Bisik Ray, dibalas senyuman dari Ana.
"Ibu, aku berangkat." Pamit Ray pada ibu tirinya yang masih terlihat sehat di usianya yang telah menginjak tujuh puluh tahun.
"Iya, hati-hati." Kata ibu tirinya itu.
"Hati-hati dan sampai jumpa." Ucap Ana.
Ray mengangguk kemudian berlalu pergi ke arah mobil yang telah menunggunya sejak tadi.
•••
Di mobil itu, Yuan dan Ray duduk di kursi mobil bagian tengah, sedangkan Nana duduk di kursi mobil bagian depan, bersampingan dengan sopir pribadi Ray yang mengemudikan mobil itu.
"Nana, apa ibu mu sudah berangkat ke kampus?" Tanya Ray, biasanya sebelum berangkat ke perusahaan ia mengantar Yuan sekaligus menjemput Nana dan Rachel untuk pergi bersama.
"Ah ibu pergi ke gedung rektor hari ini, karena ada rapat para dosen."
"Pantas saja kau datang ke rumahku." Ucap Yuan sembari memakai earphone-nya.
"Yuan, lepaskan itu. Jangan memakainya saat bersama dad ataupun mom. Itu terlihat seperti kau tidak ingin mendengarkan perkataan orang tuamu." Ujar Ray.
Yuan menghela napasnya pasrah,
"Iya, baiklah." Jawab Yuan.
"Oh iya, jadwal kelas kalian hari ini sama bukan?" Tanya Ray.
"Iya paman." Jawab Nana mewakili Yuan.
"Pulang nanti minta ayahmu untuk menjemput ya, dan tolong bawa Yuan juga. Karena malam ini kita ada makan malam bersama keluarga besar." Ucap Ray.
"Kami bisa pulang sendiri." Jawab Yuan.
"Oke paman." Jawab Nana yang selalu bertentangan dengan Yuan.
Mereka sejak kecil memang selalu bersama, tapi bukan berarti seperti dua kelinci yang manis. Mereka seperti seekor tikus dan kucing, tidak pernah akur sama sekali, tapi walaupun begitu di hati keduanya saling menyayangi layaknya saudara kandung.
Umur mereka memang berbeda sembilan bulan, tapi mereka selalu sekolah di tingkatan yang sama. Itu karena Nana memang terlambat mendaftar sekolah, saat kecil dulu, gadis itu ingin selalu satu kelas dengan Yuan.
"Nana. Apa yang kau katakan? Kita bisa pulang naik taksi bersama, ah kau bodoh sekali." Ujar Yuan sembari melempar Nana dengan tisu wajah.
"Jika tidak di jemput, kau akan pergi dan tidak hadir di acara makan malam keluarga nanti malam." Kata Ray.
"Aku tidak akan kabur dad. Lagipula kenapa aku harus berangkat bersama dad terus setiap hari?" Kesal Yuan.
Ray menghela napas dan menggelengkan kepalanya, heran dengan sikap anak laki-lakinya itu.
"Baiklah, mulai besok kau bisa naik mobil sendiri, tapi berangkat bersama Nana dan juga bibi Rachel." Kata Ray yang ditanggapi tatapan antuasias dari anaknya.
"Benarkah? Tapi—aku ingin berangkat menggunakan motor." Ujar Yuan, dia seperti seseorang yang diberi hati tetapi meminta jantung.
"Yuan." Ray menyebut nama pria itu dengan nada memperingatkan.
"Iya baiklah." Ucap Yuan pada akhirnya mengalah juga.
"Kita sudah sampai di kampus tuan muda Yuan dan nona Nana." Kata sopir pribadi Ray.
Yuan turun dari mobil begitu saja, tanpa mengatakan apapun pada Ray.
"Paman, terimakasih untuk tumpangan nya, semoga pekerjaan paman berjalan lancar." Ucap Nana setelah itu keluar dari mobil menyusul Yuan yang sudah berjalan lebih dulu dengan earphone terpasang ditelinganya dan tangan yang dimasukkan kedalam saku celana.
Ray menggelengkan kepalanya melihat anak laki-lakinya yang saat ini sedang ditatap dan dikerumuni oleh para gadis-gadis di universitas itu.
"Buah memang tidak pernah jatuh terlalu jauh dari pohonnya, aku seperti melihat diriku yang dulu." Gumam Ray.
•••
Pagi berlalu, siang menyapa. Kelas hari ini telah usai, Yuan memasukkan laptopnya kedalam tas dan berdiri dari bangku kuliah yang bertingkat itu.
"Hari ini kau ada waktu?" Tanya seorang pria.
"Aku punya banyak waktu, tapi tidak bisa pergi keluar bersama kalian, hari ini aku ada acara keluarga." Jawab Yuan dengan nada lesu-nya.
"Kau sudah lama tidak berlatih bersama kita." Kata seorang yang lain.
"Maaf, tapi besok dan seterusnya, aku akan sering berlatih bersama kalian."
"Kau sudah mendapatkan kebebasan-mu ya?"
"Yah, begitulah."
"Yuan!" Panggil Nana yang berdiri di depan pintu kelas itu.
"Lihatlah, bodyguard-nya sudah datang. Kalau begitu sampai jumpa besok kawan." Kata pria itu, ia kemudian berlalu pergi bersama dengan dua pria lainnya.
"Mereka sudah pergi, padahal aku belum menyapa." Ucap Nana, ia kini berdiri disamping Yuan.
"Ah iya, ayo cepat. Ayahku sudah menjemput kita." Nana menarik tangan Yuan, keluar dari kelas itu. Tapi karena terburu-buru, mereka tidak sengaja menabrak seorang gadis saat ingin berbelok.
"Maaf maaf aku tidak sengaja." Ucap gadis yang ditabrak itu.
"Kenapa meminta maaf? Kami yang salah, maafkan kami, apa kau terluka?" Tanya Nana.
"Tidak." Jawab gadis itu.
"Syukurlah, kalau begitu kami permisi, sekali lagi maafkan kami." Ujar Nana membungkukkan badannya meminta maaf, ia menendang pelan kaki Yuan agar pria itu juga ikut meminta maaf. Tapi, harga diri Yuan terlalu tinggi untuk itu.
"Iya." Jawab gadis itu.
Setelahnya, Nana kembali menarik tangan Yuan menuju area parkir universitas.
"Itu ayahku. Ayo." Ucap Nana masih menarik Yuan yang hanya pasrah ditarik oleh Nana, dirinya sudah terbiasa dengan gadis itu, selalu sesuka hati dengannya. Padahal, orang lain dikampus ini, tidak ada yang berani walau hanya memegang ujung rambut Yuan. Semua orang tahu, jika Yuan adalah anak tunggal yang digadang-gadang akan menjadi pewaris perusahaan besar ayahnya.
"Ayah!" Panggil Nana pada seorang pria yang dipanggil ayah olehnya.
"Nana, Yuan. Ayo cepat." Ucap pria itu melambaikan tangannya.
**♪EPILOG END♪**