
Walaupun kau terhapus dalam ingatanku, walaupun kau tidak dapat kukenali, seberapa banyak waktu telah berlalu, jika takdir telah menentukannya, pada akhirnya kita akan dipersatukan kembali. — the destiny. (Ray Ana)
Hujan yang datang bisa pergi, tapi manfaatnya akan selalu terasa. Seperti cinta yang datang bisa juga pergi, tapi kesuciannya tidak akan pernah pudar, karena cinta sejati akan menemukan jalannya kembali. — the destiny. (Alex, Rachel, Yohan)
✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏
Alex mengalihkan perhatiannya pada Rachel yang ada disampingnya.
"Kita ke rumah sakit ya." Ujar Alex.
"Ada apa?" Tanya Ana yang belum mengetahui jika Rachel terluka.
"Tangannya berdarah, sepertinya saat Rachel jatuh tadi tangannya terkena pecahan piring." Kata Dita.
Ana melihat kebawah kakinya, disana terlihat pecahan piring yang masih berserakan.
"Sayang! Jangan berdiri disitu, kakimu bisa terluka! Dan apa ini?! Kenapa menggendong anak kecil?! Berikan Nana padaku, kau itu sedang hamil tua, jangan melakukan hal seperti ini, sudah kesusahan dengan perut besarmu sekarang malah menggendong Nana. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan bayi kita?" Ujar Ray, pria itu meraih Nana dari gendongan istrinya.
Tadi saat Ray baru saja masuk ke dalam restoran, ia melihat Ana berdiri diantara pecahan piring, dan lagi, disaat Ana sedang hamil besar seperti itu, istrinya malah menggendong anak kecil yang sudah berusia delapan bulan. Ray tidak bisa membiarkannya begitu saja.
"Kau berlebihan." Ucap Ana, menggelengkan kepalanya, merasa heran dengan suaminya yang terlalu over protective akhir-akhir ini.
"Kak, biar Nana aku yang gendong." Kata Alex pada Ray, ia membuka tangannya untuk mengambil Nana.
Ray tanpa protes memberikan Nana pada ayah kandungnya itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa banyak pecahan piring seperti ini?" Tanya Ray.
"Tadi ada sedikit kejadian kecil, tapi sekarang sudah selesai." Jawab Ana.
"Dita dan yang lainnya, tolong ya bersihkan pecahan piring ini dan juga sisa makanan yang berhamburan itu." Pinta Ana.
"Iya bos." Jawab Dita, ia kemudian membagi tugas dengan karyawan lain dan mulai melakukan tugas mereka masing-masing.
"Rachel, ayo ke ruangan kakak, tanganmu harus segera di obati." Kata Ana.
Rachel mengangguk, masih dengan wajah tertunduk nya, ia mengikuti Ana dan Ray yang berjalan lebih dulu di depannya dan Alex.
•••
Ana masuk lebih dulu ke dalam ruangannya, perempuan itu berjalan menuju salah satu laci meja kerjanya, mengambil kotak obat yang ia simpan.
"Duduklah." Ucap Ana.
Rachel duduk diikuti oleh Ana yang juga duduk di samping Rachel.
"Ray, tolong ambilkan air mineral di dalam kulkas kecil itu." Pinta Ana pada suaminya.
Mendengar permintaan sang istri, Ray langsung berjalan sesuai petunjuk arah dari Ana. Ia mengambil air mineral botol dari kulkas kecil itu, kemudian berjalan kembali ke arah Ana yang sedang membalutkan perban di luka Rachel.
"Ini." Ray menyerahkan air mineral yang Ana minta pada perempuan itu.
"Terimakasih." Ucap Ana.
"Ini, minumlah." Ana memberikan air mineral yang telah ia buka tutup botolnya itu pada adik tirinya.
"Maaf kak." Ujar Rachel.
"Untuk apa? Kau tidak perlu meminta maaf. Semua masalah tadi juga sudah selesai. Ah iya, lukamu cukup dalam, sebaiknya pergi ke dokter, aku takut jika terjadi infeksi." Kata Ana.
"Maaf sudah membuat keributan di restoran kakak." Ucap Rachel meminta maaf lagi.
Ana tersenyum, mengelus lembut rambut adik tirinya.
"Jangan dipikirkan lagi, tidak apa-apa."
"Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Kata Rachel yang takut jika Ana bisa saja memecatnya.
"Iya, sekarang lebih baik kau pulang dan istirahat dulu ya. Kau terlihat pucat sekali, nanti aku akan menghubungi dokter keluarga untuk datang ke rumah." Ucap Ana, tangannya kembali membelai lembut rambut adik tirinya itu.
Rachel mengangguk, menuruti perkataan Ana. Ia tidak ingin menyangkalnya lagi. Dirinya juga merasa tidak baik-baik saja.
"Aku akan mengantarmu." Ujar Alex.
"Iya." Jawab Rachel, ia kemudian berdiri dari duduknya, berpamitan pada Ana dan pergi dari ruangan itu bersama Alex yang menggendong Nana.
"Keributan biasa antara pengunjung restoran dengan karyawan." Jawab Ana.
"Oh." Ucap Ray, tangannya perlahan bergerak menyentuh perut Ana yang sudah membesar.
Waktu cepat berlalu, tidak terasa usia kehamilan Ana sudah memasuki usia tiga puluh satu minggu, hanya tinggal beberapa minggu lagi untuk menunggu kelahiran buah hati mereka.
"Hai anak daddy." Sapa Ray pada janin yang ada diperut Ana.
Ana tersenyum melihat Ray yang mulai berbicara pada calon bayi mereka itu.
"Hari ini kau tidak nakal pada mommy mu kan?" Tanya Ray pada si janin.
"Tidak daddy, aku hanya sedikit lebih banyak menendang dan bergerak." Jawab Ana mewakili sang janin.
"Benarkah? Sepertinya dia tidak sabar untuk keluar dari dalam sana dan melihat dunia." Kata Ray.
"Bagaimana jika kita mulai memikirkan sebuah nama untuknya?"
Ray mencium perut Ana sekilas, kemudian ia menatap istrinya dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Apa kau punya saran?" Tanya Ray.
Ana tampak berpikir namun kemudian menggelengkan kepalanya.
"Ada banyak nama yang terlintas di kepalaku, tapi terlalu sulit untuk memilih salah satunya." Ucapnya seraya mengelus perutnya.
"Boleh aku memberikan saran?" Tanya Ray.
"Tentu saja, kau kan ayahnya." Jawab Ana.
"Yuan." Ucap Ray.
Ana mengernyit, kemudian tersadar jika itu merupakan salah satu nama kepanjangan Ray, Raymond Yuan Gavin.
"Itu namamu." Kata Ana dengan tawa kecilnya.
"Ya, aku suka nama itu, tapi tidak ada orang yang memanggilku dengan nama itu." Ujar Ray.
"Baiklah, aku setuju. Jadi namanya Yuan."
Ray mencium pipi Ana sembari mengelus perut istrinya itu lagi.
"Yuan Mauli Gavin." Ucap Ray.
"Itu...nama panjangnya?"
Ray mengangguk, kepalanya kini berada di depan perut Ana. Mengelus pelan perut itu, seakan-akan ia sedang mengelus anaknya yang ada di dalam sana.
"Sayang, apa kau suka dengan nama itu? Yuan Mauli Gavin." Tanya Ray pada janin didalam perut Ana.
Sesaat kemudian terasa tendangan dari dalam sana. Kedua suami-istri itu lantas saling memandang satu sama lain. Berasumsi jika tendangan barusan adalah pemberitahuan kalau si janin suka dengan nama itu.
"Dia menendang." Ucap Ray dan Ana bersamaan, kemudian saling tertawa bahagia.
Bagaimana jika aku tidak pernah bertemu dengan mu lagi?
Aku tidak pernah memiliki perasaan ini sebelum kamu datang dan menemukan diriku.
Sejak saat awal aku melihatmu, di dalam hatiku, seakan aku tahu, jika kau adalah takdir ku.
Percayalah, cinta akan menemukan jalannya sendiri.
**🌹THE END🌹**
✏11.11.2019 —26.12.2019✏
**TO BE CONTINUE SEASON 2**
✏01.01.2020✏