The Destiny

The Destiny
Act Your Age



Pagi berganti siang, siang berganti sore, sore pun pergi dan malam menggantikannya.


Waktu terus melaju kedepan, jam menunjukkan pukul sembilan malam lewat empat puluh. Tapi, Ana masih belum juga pulang.


Ray kembali menghembuskan nafas beratnya. Ia merasa kesal karena Ana masih belum pulang juga, padahal sebentar lagi hampir tengah malam. Ini— membuat Ray merasa khawatir pada gadis itu.


Beberapa menit kemudian, suara mobil Alex terdengar memasuki halaman rumah Ray.


Tak lama dari itu— terdengar suara obrolan dan tawa dari luar rumah yang semakin mendekat ke arah ruang tamu, tempat dimana Ray sedang duduk menunggu Ana pulang.


Ana dan Alex masuk ke dalam rumah, mereka berdua sepertinya tidak menyadari keberadaan Ray yang sedang duduk di sofa sembari menatap mereka dengan raut wajah marahnya.


"Kalian sepertinya sangat bersenang-senang. Bersama-sama menusukku dari belakang." Ujar Ray.


Dia melemparkan koran yang tadi sempat di pegangnya ke atas meja ruang tamu itu. Lalu berdiri dari duduk-nya dan berjalan mendekati kedua orang itu.


"Kau sungguh memiliki niat untuk selingkuh dibelakangku ya?!" Ujar Ray yang telah berdiri dihadapan Ana.


"Kak, aku bisa menjelaskannya. Kami hanya— "


Belum sempat Alex merampungkan kata-katanya, Ray sudah lebih dulu memberikan tinjunya ke wajah adik beda ibunya itu.


Ana memekik melihat Alex yang terhuyung dan kemudian jatuh terduduk di lantai.


Gadis itu segera menghampiri Alex, sudut bibir pria itu tampak berdarah, membuat Ana semakin khawatir.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Ana.


Alex tersenyum padanya dan menggelengkan kepalanya, seakan berkata 'tidak apa-apa, aku baik-baik saja.'


"Aku akan membantumu berdiri." Ujar Ana sembari meletakkan lengan Alex ke lehernya, lalu membantu Alex berdiri.


"Hentikan itu!" Perintah Ray, ia menarik Ana untuk menjauh dari Alex. Lalu, pria itu mencengkeram kerah baju adik beda ibunya itu, berniat memukulnya lagi, tapi Ana mencoba menghentikannya.


"Bagaimana kau tega melakukan itu pada adikmu yang sedang sakit?"


"Kau membelanya?! Kalian berdua— beraninya kalian mempermainkan aku!" Teriak Ray. Pria itu kemudian mendorong tubuh Alex, membuat Alex terdorong beberapa langkah kebelakang.


Setelah itu, Ray menoleh ke arah Ana, menatap gadis itu dengan senyum miring yang saat ini menghiasi wajahnya.


"Kau— kau itu ternyata seorang perempuan murahan yang berani berselingkuh dengan adik suamimu sendiri, menjijikan!"


Ana mengepalkan tangannya, ia sangat marah ketika mendengar penghinaan yang tidak benar itu. Tangannya secara refleks menampar wajah pria didepannya itu.


Ray tersenyum masam mendapatkan tamparan keras dari Ana. Sedangkan gadis itu, ia menatap tangannya tak percaya, kenapa ia menampar wajah pria itu?


Ana menyembunyikan tangan kanannya yang bergetar ketakutan ke belakang tubuhnya, ia mundur kebelakang saat Ray melangkah maju mendekatinya.


"Setelah menamparku, apa sekarang kau kehilangan nyalimu? Kenapa kau terlihat ketakutan seperti itu?" Tanya Ray sembari menatap Ana dengan tatapan yang mengintimidasi gadis itu, membuat nyali Ana semakin menciut lagi.


Ray meraih tangan kanan Ana, tangan yang Ana gunakan untuk menamparnya tadi. Pria ith mencengkeram kuat tangan kanan Ana itu, membuat Ana meringis menahan sakit.


"Kak, hentikan itu! Kau membuatnya kesakitan." Ujar Alex yang ingin membantu Ana.


"Berhenti ikut campur urusan rumah tangga orang lain! Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya! Jangan sampai aku marah padamu lalu sesuatu terjadi yang buruk terjadi pada ibumu itu." Ucap Ray.


"Tadinya aku pikir, aku sangat menyesal karena menampar wajahmu. Tapi, melihatmu kembali mengancam orang lain, bahkan menjadikan orangtua sebagai ancaman, pikiranku berubah. Sekarang— aku pikir, kau memang pantas mendapatkannya." Kata Ana.


Ana yang tadinya ketakutan, kali ini kembali unjuk suara dan dengan tegas membalas tatapan tajam pria itu.


"Apa katamu?"


"Kau— Kau sama sekali tidak dewasa, sekalipun umurmu lebih tua dari kami. Tapi, diantara semua orang yang tinggal di rumah ini, hanya kau yang bersikap kekanak-kanakan. Apa kau tidak malu dengan dirimu sendiri?"


"Beraninya kau!"


Ray semakin mencengkram kuat tangan Ana. Tapi, gadis itu mampu menahan rasa sakitnya.


"Kau sangat menyedihkan." Ucap Ana.


"Aku? Aku punya uang, wanita dan kekuasaan, semua orang juga tunduk dan patuh padaku, lalu— bagaimana bisa kau mengataiku sangat menyedihkan? Bodoh sekali."


"Itulah alasan kenapa kau suka sekali mengancam orang lain. Kau terus berpikiran bahwa uang dan kekuasaan bisa membuatmu bahagia? Tidak! Kau selamanya hanya akan menjadi orang yang tidak pernah puas dan sangat menyedihkan dalam kesepian." Kata Ana.


"Apa yang kau katakan? Sungguh, tidak masuk akal. Kau harus tahu, uang dan kekuasaan, aku bahagia dengan semua itu."


"Uang dan kekuasaan? Itu bukan kebahagiaan, yang kau rasakan adalah kepuasaan dirimu sendiri. Kau merasa puas tapi kau tidak bahagia. Saat kau sendiri, dua hal itu tidak berarti bagimu, karena itu kau merasa kesepian."


Ray terdiam mendengar perkataan Ana. Gadis itu benar, ia memang selalu merasa kesepian saat sendiri. Semua yang dikatakan gadis itu seperti kebenaran dari dirinya.


Ana melepaskan tangan Ray dari lengannya, kemudian ia melangkah menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Alex juga ikut meninggalkan Ray yang masih diam membeku di tempatnya, ia sepertinya tak berniat bergerak sedikitpun, otaknya masih sibuk mencerna kalimat yang Ana katakan, memikirkan setiap suku kata yang terlontar dari mulut gadis itu.


•••


Ibu tiri Ray meletakkan sayur diatas piring pria itu.


"Makanlah, kau harus makan makanan yang seimbang agar kau tetap sehat."


Ray hanya diam, biasanya ia akan marah dan menggebrak meja lalu pergi. Tapi, sekarang ia diam dan bahkan memakan sayur itu. Ibi tiri Ray pun tersenyum senang melihatnya.


"Ana, kau juga makanlah ini."


"Iya terimakasih."


"Ibu, aku bagaimana? Kenapa kau tidak memberiku sayur juga." Rengek Alex.


"Dasar kau ini, baiklah, ini— makanlah sayurmu." Alex tersenyum senang, lalu mulai memakan sarapannya kembali.


Semua kembali makan dalam hening, Ray sesekali makan sambil melirik ke arah Ana. Sedangkan Ana, gadis itu hanya fokus pada makanannya.


Tak lama kemudian, Ana meletakkan sendok-nya, ia selesai memakan sarapannya dan bersiap untuk berangkat ke restoran.


"Apa kau akan pergi ke restoranmu, Ana?" Tanya ibu tiri Ray.


"Iya." Jawab Ana.


"Lain kali ajaklah ibu mertuamu ini ke restoran mu ya, aku sangat ingin makan disana." Ujar ibu tiri Ray.


"Kau memang harus mencoba makanan di restoran Ana bu, karena semuanya sangat enak, aku sering pergi kesana untuk makan siang." Ucap Alex.


"Lalu kenapa kau tidak mengajak ibumu ini?" Tanya Ibu kandung Alex itu sembari memukul pelan bahu Alex.


"Iya iya— lain kali aku akan mengajak ibu kesana, aku janji." Ucap Alex.


"Bagus. Kau harus menepati janjimu." Ujar Ana dengan senyum hangatnya.


"Kau tenang saja, aku pasti menepatinya." Jawab Alex.


"Kalau begitu Ana pergi dulu, sampai jumpa ibu mertua, sampai jumpa Alex." Pamit Ana.


"Iya, hati-hati di jalan."


Ana tersenyum hangat, lalu kemudian berjalan menjauh dari meja makan. Ia melangkah menuju pintu keluar rumah.


Kaki Ana terus melangkah menuju gerbang keluar rumah, ia harus keluar dari pekarangan rumah itu menuju jalan raya untuk mendapatkan taksi.


"Ana— ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucap seseorang dari arah belakang Ana.


Ana berhenti melangkah namun tidak ingin menoleh. Dari suaranya saja— Ana sudah tau kalau itu adalah Ray.


"Aku sudah memikirkannya beberapa hari ini. Kau benar, aku kesepian dan aku juga tidak bahagia." Ujar Ray.


Tapi, Ana masih terlihat diam, ia tidak menoleh ataupun berjalan kedepan. Gadis itu diam ditempatnya dengan kebisuan yang sedang menyelimuti dirinya.


"Katakan padaku, apa yang membuat orang bahagia?"


Beberapa detik telah berlalu menjadi menit. Tapi, Ana masih diam tak menjawab. Namun kemudian, terlihat gadis itu membalikkan badannya, menghadap ke arah Ray yang sebelumnya ia belakangi.


"Keluarga dan teman." Jawab Ana singkat.


"Keluarga dan teman? Bagaimana bisa?" Tanya Ray yang belum mengerti.


"Karena mereka adalah orang-orang yang memberimu rasa kasih sayang, perhatian, dukungan, dan cinta. Saat bersama mereka kita akan tetap tertawa bahagia, walaupun sedang ada banyak masalah yang menimpa diri kita. Mereka seperti moodbooster yang sudah diatur oleh tuhan."


"Lalu— bagaimana denganku?! Aku tidak memiliki keluarga. Ibu dan ayahku— mereka adalah keluargaku, tapi sudah tiada."


Ana menghela nafasnya, merasa geram karena Ray masih belum bisa menangkap penjelasannya.


"Keluarga tidak harus ayah, ibu, atau saudara-saudari kandungmu. Keluarga adalah orang terdekatmu, mereka orang yang sangat dekat denganmu, selalu ada untukmu, selalu mendukungmu, susah atau sedih mereka tetap disisimu, sekalipun tidak ada ikatan darah, mereka adalah keluarga."


Ray menatap Ana dalam diam, kata-kata Ana kembali mampu mengusik hati dan pikirannya.


"Kau selalu bersikap egois dan tidak pernah memberi kesempatan pada dirimu sendiri untuk berpikir lebih terbuka. Kau selalu berpikir jika kau yang paling tersakiti, itu yang membuat dirimu seolah telah ter-program untuk menutup diri dan menjadikanmu manusia egois."


Ana memandang Ray sejenak, ia melihat sorot mata suaminya itu, sedih.


Sebelumnya, ia tidak pernah melihat Ray memiliki mata yang terlihat menyedihkan seperti itu, biasanya mata itu selalu terlihat kejam dan penuh kuasa.


Ana menghela nafasnya lagi, ia pergi meninggalkan Ray yang masih diam membeku.


Ana kembali melangkahkan kakinya keluar dari pekarangan rumah itu menuju ke arah jalan raya untuk menghentikan taksi yang lewat.


Sedangkan Ray, ia masih diam menatap Ana dari kejauhan.


*Angel. T*erkadang aku berpikir dia mirip seperti Angel. Semua perkataan yang ia katakan hampir sama persis dengan yang pernah dikatakan Angel padaku dulu. Tentang keluarga yang tidak harus sedarah, dulu— Angel juga pernah mengatakannya padaku. Tapi, tidak mungkin Angel itu Ana. Pasti tuhan sedang menghukumku. Dia sengaja mempertemukan aku dengan perempuan yang memiliki sifat dan perilaku yang sama seperti Angel, agar kesedihan karena rindu dihatiku ini semakin membesar. Mungkin ini balasan yang setimpal atas semua kejahatan yang telah aku lakukan. — Batin Ray.