
Hari ini media dihebohkan dengan fakta mengejutkan dari perusahaan Ussa, bisnis ilegal yang telah di lakukan perusahaan itu kini terbongkar di hadapan publik.
Media cetak ataupun internet, semua membahas perusahaan besar itu. Sebuah perusahaan yang digadang-gadang akan menjadi perusahaan terbesar di negeri ini, namun sekarang, karena fakta yang baru saja terungkap, banyak relasi bisnis satu persatu memutus kerjasama dengan perusahaan itu. Layaknya roda yang berputar, sekarang perusahaan itu berada di ambang kebangkrutan.
Ana menghela nafasnya. Mendengar kabar berita itu, dirinya sedikit merasa kasihan dengan apa yang terjadi pada keluarga Anita, bagaimanapun juga, ia masih memiliki hubungan keluarga dengan mereka.
Drrt. Drrt. Drrt
"Halo?"
"Apa kau sudah melihat beritanya?" Tanya Ray dari seberang sana.
"Em, sudah, aku baru saja melihatnya."
"Setelah ini— aku tidak perlu menyembunyikanmu lagi dari hadapan publik, karena perempuan itu sudah tidak memiliki manfaat lagi untukku."
"Ck, kau terdengar seperti pria jahat." Ujar Ana.
"Aku tidak peduli. Setelah ini, aku akan mengatakan pada dunia bahwa kau wanita satu-satunya yang aku inginkan dan aku cintai."
Ana berdecih mendengar perkataan Ray yang menggelitik hatinya itu.
"Ya, terserah kau saja, aku harus bekerja, aku akan mematikan panggilannya." Ucap Ana.
"Hei tunggu."
"Apa lagi?! Aku harus bekerja Ray."
"Kau memang jahat, ya baiklah, tutuplah panggilannya. Tapi, kau jangan merindukan aku ya, karena siang ini aku tidak datang ke restoranmu, aku ada pertemuan dengan ketua komisaris. Bye, see you my wife." Ujar Ray sembari menutup panggilan itu.
"Selalu saja percaya diri, siapa yang merindukanmu?!" Ujar Ana.
Ping
Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal terlihat muncul pada layar ponsel Ana.
Ana membuka pesan itu lalu membacanya, itu pesan dari orang yang mengatakan jika dirinya adalah Angelina Anita Ussa, ia meminta Ana untuk bertemu karena ada hal penting yang harus Anita katakan pada Ana.
Ana tampak berpikir, apa ia abaikan saja atau ia turuti permintaan sepupunya itu. Gadis itu menghembuskan nafasnya, bagaimanapun juga saat ini Anita sedang berada di ujung tanduk kehidupan, mungkin saja perempuan itu butuh teman untuk berkeluh-kesah.
•••
Di tempat, dimana Anita menunggu Ana, perempuan itu terlihat duduk bersantai di deck kapal pesiar miliknya.
"Nona muda." Yuna datang dengan nafas terengah-engah, ia berdiri menghadap Anita dengan wajah tertunduk.
"Ada apa?" Tanya Anita.
"Saya dipecat." Ujarnya, masih dengan wajah tertunduk.
Anita tersenyum sinis, ia sudah tahu kalau itu akan terjadi, karena Ray sudah mengetahui siapa Yuna sebenarnya.
Yuna adalah assistennya yang ia utus untuk menjadi sekertaris Ray, memata-matai pria itu selama tujuh tahun lebih, tapi sayangnya pada detik-detik terakhir seperti ini, identitas Yuna terbongkar. Bagi Anita, ini seperti jatuh lalu tertimpa tangga.
"Yuna, kalau kau tidak meletakkan kamera pengintai, dia tidak akan curiga padamu. Lagipula, kau ini bekerja untuk siapa hah?! Siapa yang menyuruhmu mencuri dokumen penting yang berisi proyek perusahaan Ray? Aku tidak pernah memintamu berurusan dengan bisnis kotor seperti itu. Ck, membuatku susah saja." Ujar Anita sembari meneguk winenya sampai habis.
"Maafkan saya nona, saya tidak tahu kalau anda akan menentangnya."
"Lupakan saja. Menyesalinya juga tidak ada gunanya, aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aaah, menjengkelkan! Kau pergilah, aku muak melihatmu."
Yuna melangkah pergi dengan sopan. Perempuan itu turun dari kapal pesiar milik Anita dan berlari meninggalkan dermaga kapal pesiar itu.
Dari kejauhan, Ana yang baru saja datang ke tempat itu, tak sengaja melihat Yuna yang berlarian, ia mengernyit heran, gadis itu ingin bertanya tapi saat mereka berpapasan, Yuna melewatinya begitu saja.
Ana menatap punggung Yuna yang semakin menjauh, ia bertanya-tanya ada apa dengan sekertaris Ray itu.
Ah terserahlah, bukan urusanku.
Ia kembali berjalan menuju tempat yang sudah Anita share padanya. Ana berjalan memasuki area yang di penuh kapal pesiar di setiap sisi dermaga, gadis itu melihat nomor-nomor yang tertera pada kapal-kapal itu.
Setelah lama mengecek satu persatu, akhirnya ia menemukan kapal pesiar milik Anita. Ana dapat melihat Anita yang duduk di deck kapalnya.
"Ada perlu apa kau memintaku bertemu?" Tanya Ana, ketika dirinya sudah sampai di hadapan Anita.
"Aku tidak punya banyak waktu." Ucap Ana.
"Cih, baiklah." Anita berdiri dan berjalan menghampiri Ana.
"Ana, bercerailah." Ujar Anita.
Sama seperti dulu, gadis itu tanpa malu dan secara terang-terangan, merebut apa yang Ana sukai.
Ana tertawa, tawa mengejek yang ia berikan pada sepupunya itu.
"Kau pikir aku mau menuruti perkataan mu?! Tidak akan pernah." Ucap Ana.
Anita mendorong Ana cukup keras, membuat gadis itu terdorong sampai punggungnya membentur pagar pembatas kapal.
Dengan emosi yang menyelimuti dirinya, Anita mencekik leher Ana, mendorong tubuh Ana semakin keluar dari pagar pembatas. Sedikit dorongan keras saja, tubuh Ana bisa tercebur ke dalam air laut.
"Ana, apa kau masih tidak bisa berenang? Bagaimana kalau aku mendorongmu? Kau tahu, bagian itu cukup dalam. Aku juga baru saja memindahkan kapalku ke tempat yang cukup jauh dari kapal-kapal pesiar lain. Jadi, tidak akan ada orang yang datang menolongmu."
"Kau sedang mengancamku?!"
"Tidak. Yang benar adalah aku akan membunuhmu. Tapi, kali ini tidak akan gagal seperti delapan belas tahun yang lalu. Ana, apa kau tidak ingat? Sebenarnya, kecelakaan yang kau alami saat itu— karena aku mendorongmu ke jalan raya."
"Tapi, bodohnya kau yang percaya dengan kata-kata manipulasi dari ayahku. Kau tahu? Ketika dirimu setengah sadar, ayahku yang saat itu ingin menutupi kesalahanku, dia membisikkan sesuatu padamu seperti ini, Ana ingatlah, kau kecelakaan karena kesalahanmu sendiri, kau lari menyebrangi jalan raya dan tertabrak mobil, ini salahmu, salahmu Ana. Dan bodohnya kau, menjadikan itu sebagai ingatanmu, padahal itu hanya kalimat yang dibuat untuk memicu ingatan palsu di saat kepalamu sedang cedera. Bodoh! Kau memang bodoh Ana." Ujar Anita yang diiringi dengan tawa jahatnya.
"Oh— jadi seperti itu." Sebuah suara muncul dari belakang Anita. Gadis itu menoleh dan melihat sosok Ray berdiri disana bersama dengan beberapa petugas kepolisian.
"Kau!"
Anita menatap Ana marah, sedangkan Ana membalasnya dengan senyuman menyeringai. Ia merasa lega melihat Ray datang di waktu yang tepat.
Flashback on~
Mengulang kembali saat sebelum Ana datang menemui Anita, ia mengirimkan pesan pada Ray.
Ana memberitahu Ray kalau Anita mengajaknya bertemu di dermaga kapal pesiar.
Ray yang tau sifat buruk Anita, ia mengantisipasinya dan diam-diam menyusul Ana.
Lalu ketika Ana baru saja akan naik ke kapal pesiar milik Anita, gadis itu mengirimkan pesan lagi padanya. Ray, aku tidak bisa berenang, melihat air laut ini, perasaanku tidak enak. Apa aku akan baik-baik saja?
Membaca pesan yang sangat mengkhawatirkan, Ray pikir sedang terjadi sesuatu pada Ana, padahal saat itu Ana hanya memberinya siasat dengan maksud, jika terjadi sesuatu padaku maka tolonglah aku.
Ray yang selalu berpikir lebih jauh, ia pun memilih menghubungi kepolisian terdekat. Tak butuh waktu lama, para petugas kepolisian datang, dan di saat yang tepat pula, Anita sedang mengungkapkan semua kebusukannya.
Flashback off~
"Angkat tanganmu nona." Ujar kepala petugas kepolisian itu.
Anita mendecih kesal, dengan satu kali dorongan, Anita mendorong tubuh Ana hingga jatuh ke dalam air laut, membuat semua orang tampak terkejut dan panik.
Ray dengan sigap langsung melompat untuk menolong Ana yang memang tidak bisa berenang.
Petugas kepolisian menembakan peluru peringatan ke udara ketika Anita menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari sana. Namun aksi kejar-kejaran itu tidak berlangsung lama. Pada akhirnya, Anita di seret masuk ke dalam mobil kepolisian.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Ray, ketika mereka sudah berada di atas daratan.
Ana mengangguk, ia masih terbatuk-batuk karena sempat meminum air laut yang juga masuk ke dalam hidungnya.
"Biar aku memberimu napas buatan." Ujar Ray yang kemudian mulai memajukan wajahnya mendekati Ana.
"Ck, jangan mencari kesempatan dalam kesempitan, katakan saja kalau kau ingin menciumku."
"Kalau aku mengatakannya— apa kau akan mengijinkannya?"
Ana memukul kepala Ray gemas, akhir-akhir ini, otak suaminya itu hanya berisi hal-hal yang berbau dewasa saja, Ana sampai jengah rasanya.
"Kau tidak paham situasi ya?! Aku hampir mati tercekik dan juga tenggelam. Tapi, kau malah memikirkan hal seperti itu!" Ujar Ana, ia menatap Ray kesal. Gadis itu kemudian berdiri, lalu berjalan meninggalkan Ray yang mengejarnya di belakang.
"Ana." Panggil Ray yang terdengar seperti rengekan. Pria itu kemudian melangkahkan kakinya lebar, menyusul Ana yang berada beberapa meter didepannya.