
"Ana, tunggu." Panggil Ray, tapi gadis itu tak mendengarkan panggilannya. Bukannya tak mendengar, tapi pura-pura tidak mendengar dan lebih tepatnya mengabaikan suara suaminya itu yang terus saja memanggil namanya.
Ray memberikan paper bag berisi kotak makanan itu kepada Alex yang masih berdiri di sana.
Pria itu kemudian mengejar istrinya yang sudah masuk ke dalam lift. Pintu lift itu tertutup sebelum Ray berhasil masuk kedalamnya.
"Sial." Gumam Ray. Kemudian ia melihat pintu tangga darurat. Tanpa pikir panjang, pria itu berjalan kesana dan turun ke lantai dasar melewati lima belas tangga darurat.
Sesekali Ray berhenti untuk mengatur napasnya. Ia terus menuruni tangga sampai di tangga terakhir. Dibukanya pintu itu, lalu ia bergegas menyapu pandangan ke seluruh lobby utama. Berharap Ana masih ada disana.
Tapi tak ada tanda-tanda gadis itu masih ada disana. Ray keluar dari dalam gedung perusahaannya, ingin mengejar Ana yang mungkin saja pulang kerumah. Tapi kemudian ia teringat jika dompet, kunci mobil dan ponselnya tertinggal di ruangannya.
Ray mengusap wajahnya kasar, ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Tak peduli dengan tatapan orang-orang yang mengenalnya, ia tetap mengekspresikan rasa frustasinya itu di muka umum.
Dengan langkah lebar, Ray berjalan masuk kembali ke dalam gedung perusahaan itu. Ia melangkah cepat menuju lift khusus eksekutif untuk kembali ke ruangan nya.
Lift itu meluncur menuju lantai lima belas. Saat pintu lift terbuka, Ray langsung berjalan keluar, ia melonggarkan dasinya dan melepaskan kancing kemeja atasnya karena merasa gerah.
Ray melangkah tanpa mempedulikan beberapa orang yang terlihat menyapanya, bahkan ia mengabaikan sekertaris nya yang telah kembali di meja sekertaris.
Pria itu membuka pintu ruangan nya, ia hendak mengambil kunci mobil, dompet dan ponselnya. Tapi, baru saja ia masuk, dirinya dibuat terkejut oleh sosok gadis yang telah membuat dirinya terlihat kacau.
"Ana?" Panggil Ray, ia berjalan mendekati Ana yang duduk di sofa bersama Alex.
Ana menatapnya malas, gadis itu mengalihkan pandangannya dari Ray.
"Bagaimana kau bisa ada disini?" Tanya Ray, ia ingat jika tadi ia melihat Ana masuk kedalam lift untuk turun ke lantai dasar.
"Oh jadi aku tidak boleh ada disini?!" Tanya Ana dengan nada jengkelnya.
"Bukan, bukan begitu. Tapi bukankah kau tadi masuk ke dalam lift dan menuju lantai dasar. Bagaimana sekarang kau bisa ada disini? Aku mengejarmu susah payah menuruni lima belas tangga, tapi ternyata kau ada disini." Ujar Ray.
"Aku tidak menyuruhmu mengejarku." Jawab Ana ketus.
Ray mengehela napasnya, kemudian ia duduk di samping Ana.
"Jadi bagaimana kau bisa ada disini?" Tanya Ray lagi.
"Apa itu penting untuk dipertanyakan?!" Ucap Ana kesal.
"Dia kembali lagi setelah sampai di lantai dasar. Ana ingin mendengarkan penjelasan mu." Kata Alex menengahi pertengkaran suami istri itu.
Ya, tadi Ana memang sudah sampai di lantai dasar dan ingin langsung pergi dari gedung perusahaan TNP itu. Tapi, tiba-tiba ia terpikir, kenapa ia sangat emosional, kenapa tidak mendengarkan penjelasan Ray dulu.
Setelah berpikir beberapa kali akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke ruangan Ray dan meminta penjelasan dari suaminya itu. Ia akan mencoba memberikan kesempatan pada Ray untuk menjelaskan semuanya. Tapi, saat ia sampai kembali di ruangan Ray, ia hanya melihat Alex yang duduk di sofa.
"Benarkah?" Tanya Ray pada Ana.
"Kau ingin menjelaskannya atau tidak?!" Tanya Ana dengan nada tidak sabarnya. Ia tidak suka dengan basa-basi yang terlalu panjang. Dirinya itu sejak tadi sudah menahan emosi untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
"Iya, aku akan menjelaskannya." Ray menahan napasnya sejenak sebelum akhirnya mengehembuskannya dan kembali menatap Ana.
"Semua yang kau lihat tadi, tidak seperti yang kau pikirkan." Ujar Ray.
"Memangnya apa yang aku pikirkan?!"
"Dia hanya sekertarisku."
"Aku tahu." Jawab Ana ketus.
"Dia memijat bahuku bukan karena keinginanku tapi inisiatif nya sendiri." Ujar Ray.
"Bukan karena keinginanmu tapi inisiatif nya sendiri?"
Ray mengangguk,
"Iya."
Ana tertawa sinis pada suaminya itu.
"Kau bodoh ya? Jika ingin membuat alasan, cari alasan yang terdengar meyakinkan." Kata Ana.
"Tapi itulah kenyataannya."
"Bodoh, jika kau tidak menginginkannya, kau bisa menolaknya, dia itu bawahanmu, kalau kau berkata tidak, maka dia tidak akan melakukannya, apalagi dia masih sangat baru bekerja sebagai sekertaris mu, dia tidak akan berani kecuali kau memang menginginkan pijatan itu dan sangat menikmatinya." Ujar Ana.
Skakmat, Ray bungkam tak dapat berkata-kata lagi, semua yang Ana katakan itu seperti mata pisau tajam yang menusuknya dengan satu kali tusukan.
Alex, pria itu hampir tersedak oleh makanannya karena menahan tawa ketika melihat Ray tak dapat berkutik lagi.
Kakak tirinya itu melihat Alex dengan raut wajah kesal. Ray menarik kotak makanan yang di bawa Ana tadi dari hadapan Alex.
"Ini milikku, dan kau lebih baik pergi dari sini." Ujar Ray kesal.
"Ah iya iya baiklah, aku akan pergi. Aku tidak akan menggangu pertengkaran kalian lagi. " Kata Alex dengan tawanya, pria itu kemudian berdiri dan melangkah keluar ruangan Ray.
"Aku juga akan pergi." Ucap Ana, mengembalikan fokus Ray pada istrinya itu lagi.
"Ana, Ana aku mohon maafkan aku. Aku membiarkan nya memijatku karena aku sangat kelelahan. Badanku akhir-akhir ini terasa lelah sekali, jadi aku pikir itu bisa meringankan lelahku sejenak." Jujur Ray.
"Kau bisa memintaku dirumah untuk memijatmu. Kenapa harus dengan wanita lain?! Diruangan tertutup seperti ini, hanya kau dan dia. Bagaimana jika kau menyukainya dan berlanjut ke hal yang tidak bisa aku bayangkan?!"
Ray menggenggam tangan Ana dan menatap gadis itu sendu.
"Aku tidak mungkin melakukan itu. Walaupun ada darah ayahku yang memiliki dua istri mengalir di tubuhku. Tapi, bukan berarti aku akan mengikuti jejaknya. Bagiku, kau adalah satu-satunya. Aku tidak akan pernah melakukan hal-hal buruk seperti itu. Aku tidak sanggup melukai hatimu, melihat mu menderita sama saja juga membuatku menderita." Kata Ray.
Seperti halnya wanita-wanita lain, yang akan luluh dengan perkataan orang yang dicintainya. Begitupun juga Ana, ia luluh dengan perkataan Ray yang terdengar menyentuh hatinya.
Gadis itu menghela napasnya dan membalas tatapan Ray.
"Tapi berjanjilah padaku, jika kau merasa lelah atau tidak enak badan katakan padaku dan jangan meminta pijatan dari siapapun kecuali aku."
Ray menganggukkan kepalanya,
"Iya, aku berjanji. Kau bisa memegang janjiku."
Ana tersenyum mendengarnya, ia membelai rambut suaminya itu dan merapikannya. Rambut Ray terlihat kacau dan acak-acakan.
"Aku memaafkanmu." Ucap Ana.