The Destiny

The Destiny
Brother



"Presdir." Sekertaris Yuna masuk dengan wajah paniknya.


Ray melepaskan kacamata kerjanya, dan menatap sekertaris Yuna heran.


"Ada apa denganmu?" Tanya Ray.


"Ketua Komisaris Sam datang." Ujar sekertaris Yuna.


"Tiba-tiba?"


Sekertaris Yuna mengangguk, Ray berdiri dari duduknya, ia merapikan pakaiannya dan dasinya.


"Ikut aku."


"Baik presdir."


Ray melangkah dengan aura pemimpinnya yang sangat kuat, diikuti sekertaris Yuna yang berjalan tegap dan profesional, mereka terlihat seperti aktor dan aktris yang sedang memperagakan gaya seorang pemimpin dan sekertaris, sangat luar biasa untuk dilihat.


Ray keluar dari lift khusus exsecutive dan berjalan menuju lobby utama.


Ia membungkuk dan tersenyum ramah pada Ketua Komisaris yang sebenarnya adalah paman dari pihak ayahnya, paman Samuel Gavin, dia adik dari mendiang sang ayah.


"Apa kabar, ketua Sam." Sapa Ray ramah sembari mengulurkan tangannya untuk menjabat ketua Sam.


Laki-laki paruh baya itu tersenyum membalas jabatan keponakannya.


"Kabarku baik-baik saja dan semakin menua, seperti yang kau lihat, presiden direktur Raymond." Ujar Ketua Sam dengan gaya formalitas nya.


Keduanya pun tertawa menanggapi cara sapa mereka yang selalu seperti itu saat didepan orang banyak. Mereka harus terlihat profesional sebagai dua orang yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan itu.


"Paman!" Seseorang dari balik kerumunan memanggil ketua Sam dengan sangat santai dan akrab.


Semua mata tertuju pada suara itu— Alex, pria itu tersenyum lebar ke arah ketua Sam.


"Alex, kau harus tahu tempat, jangan memanggilnya seperti itu jika berada di perusahaan." Ucap Ray.


"Sudahlah, tidak masalah, yang lebih penting sekarang, aku butuh tempat untuk duduk dan berbicara dengan kalian berdua." Ujar ketua Sam.


Ray mengernyit menatap Alex, sedangkan Alex hanya mengangkat bahunya, ia juga tidak tahu kenapa paman mereka itu ingin bertemu dan berbincang dengan mereka berdua.


"Ah iya, silahkan ketua Sam."


Ray melirik sekertaris Yuna untuk membukakan pintu lift.


Mereka berjalan berurutan seperti struktur perusahaan, ketua Sam berada didepan, Ray dan Alex ada disamping kanan dan kiri pamannya itu, lalu dibelakang mereka adalah para sekertaris ataupun assisten pribadi.


"Kalian bisa tunggu diluar, kami hanya akan berbicara enam mata saja." Ujar ketua Sam.


Para sekertaris dan assisten pribadi itu mengangguk dan membungkuk sampai pintu ruangan chief exsecutive officer itu tertutup.


Ketua Sam duduk di sofa tamu yang ada ruangan, diikuti Ray dan Alex yang juga duduk.


"Bagaimana kabar kalian?" Tanya paman Sam, saat ia hanya bersama mereka berdua, maka ia bukan lagi seorang ketua komisaris tapi seorang paman.


"Aku selalu baik dan selalu merindukanmu paman." Ujar Alex.


Paman Sam tersenyum,


"Bagaimana denganmu Ray?"


"Jika paman bertanya keadaanku, aku baik-baik saja. Jika paman bertanya keadaan perusahaan, maka jawabanku cukup baik." Ucap Ray.


Paman Sam tertawa mendengar jawaban dari Ray, keponakannya yang satu ini memang mirip sekali dengan kakaknya, ayah Ray.


"Beberapa bulan yang lalu, aku dengar proyek perusahaanmu mendapat halangan, apa itu benar?"


"Benar, tapi setelah itu kami sudah menemukan solusinya, hanya saja masih dalam proses, jadi kondisi perusahaan masih belum stabil."


Paman Sam tersenyum lagi,


"Beberapa bulan telah berlalu, bukankah sudah cukup lama, kenapa kau belum membuatnya stabil?" Tanyanya, suasananya sekarang bagi Ray seperti sedang di interview oleh HRD.


"Maaf ketua, saya akan melakukan yang terbaik, saya pastikan kondisi perusahaan bukan hanya stabil kembali tapi juga meningkat." Ujar Ray, ia kembali bicara dengan bahasa formal lagi.


"Ray, kau harus ingat, walaupun sekarang Alex hanya kau beri jabatan sebagai manajer, tapi ia juga punya saham yang masih aku pegang. Jika kau gagal, aku terpaksa akan memberikan saham Alex kembali padanya, itu artinya— posisimu pasti akan terancam, apalagi jika banyak anggota direksi yang mendukung Alex."


"Paman tidak perlu lakukan itu. Aku percaya, kak Ray pasti bisa mengatasi ini dengan cepat. Kalaupun paman memberikan saham itu padaku kembali, aku akan memberikannya untuk kak Ray. Karena dia yang paling pantas di posisi ini." Ucap Alex sembari menatap kakaknya dan tersenyum.


"Kalau begitu paman berikan saja saham Alex kembali. Dengan begitu, kami bisa bersaing dengan adil." Ujar Ray.


"Kau yakin?" Tanya paman Sam.


Ray mengangguk,


"Aku yakin dengan apa yang aku katakan."


"Tidak, aku tidak mau bersaing denganmu. Paman, jangan dengarkan dia."


"Alex— sudah saatnya kau bangkit dari dudukmu, kau tidak bisa selamanya diam, kau harus berdiri tegak dan menghadap pada semua orang, kau harus percaya diri. Karena kau anak Morgan, ayah kita." Ujar Ray.


Alex dan paman Sam terperangah dengan perkataan Ray yang terdengar bijak, sejak kapan pria yang dulu membenci Alex mati-matian, kini dengan sikap dewasa membuka hatinya dan mengatakan 'ayah kita' seakan ia memperjelas hubungan persaudaraan antara dirinya dan Alex.


Namun kemudian, Alex melepaskan pelukannya pada Ray dan mengecek seluruh tubuh kakaknya.


"Apa kau sedang sakit parah?" Tanya Alex dengan wajah khawatir nya.


Ray menjitak kepala Alex, membuat adiknya mengaduh sakit.


"Kau berharap aku sakit dan sekarat ya."


"Bukan begitu, hanya saja kenapa sikapmu tiba-tiba berubah seperti ini?"


Ray tersenyum menanggapinya,


Semua karena butterfly effect dari seseorang — Batin Ray.


"Baiklah, paman akan mengembalikan saham Alex, lalu kalian bisa bersaing dengan adil. Kalau begitu paman pergi, masih ada urusan lain yang harus paman urus. Kalian tidak perlu mengantarkan paman keluat, duduk dan mengobrolah satu sama lain." Ujar paman Sam, ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan itu.


Pria paruh baya itu ingin memberikan ruang untuk dua saudara yang akhirnya mencoba memperbaiki hubungan mereka.


Ray dan Alex kini hanya berdua diruangan itu,


"Kak." Panggil Alex.


"Hm."


"Apa kau serius? Apa sekarang kau menganggap aku adikmu?"


"Hm."


"Hm. Hm apa? Kakak, ayo katakan." Rengek Alex.


Ah ya ampun, jadi begini rasanya punya adik, bagaimana bisa Ana betah punya dua adik. Sangat rewel sekali. — Batin Ray.


"Iya, kita kan memang saudara." Ujar Ray, ia masih merasa canggung dan gengsi untuk berkata santai pada Alex.


"Katakan, apa alasan kakak berubah seperti ini?"


"Tidak ada, hanya sebuah efek kepakan sayap kupu-kupu."


"Butterfly effect maksud kakak?"


"Hm."


"Siapa?" Tanya Alex lagi.


"Apa?"


"Siapa yang memberi kepakan sayap kupu-kupu itu."


"Ana." Jawab Ray.


"Ana? Wah, dia memang gadis yang luar biasa. Nanti aku akan menemuinya dan mentraktirnya makan. Karena dia, kau sekarang mau menganggapku saudara."


Alex kembali bergelayut pada Ray. Sebenarnya Ray sangat risih dengan sikap Alex, tapi demi berubah menjadi kakak yang lebih baik lagi, ia tiba-tiba menepuk-nepuk bahu Alex, karena Ray pikir, mungkin itu cara berbuat baik pada seorang adik.


"Tapi jangan terlalu dekat padanya." Ujar Ray.


"Ah iya, aku tidak akan membuatmu cemburu."


Ray mendorong badan Alex menjauh,


"Siapa yang cemburu, aku dan dia hanya teman, dia berjanji untuk menjadi teman dekatku."


"Berteman? Memangnya kau anak kecil? Tapi kak, pria dan wanita berteman dekat, pada akhirnya nanti akan saling jatuh cinta." Ujar Alex.


"Benarkah?"


Alex mengangguk semangat,


"Iya, apa kau sudah merasakan getarannya? Seperti jantungmu yang berdebar-debar." Ucap Alex sembari memperagakan jantung yang berdebar-debar.


"Jika seperti itu, kau tidak boleh dekat-dekat dengannya dan tidak boleh berteman dengannya."


Alex berhenti memperagakan gerakan jantung berdebar dan menatap Ray cemberut.


"Tapi kami hanya akan berteman saja."


"Kau yang mengatakannya, jika pria dan wanita berteman, pada akhirnya akan saling jatuh cinta. Jadi, kau tidak boleh berteman dengannya."


Ray berdiri dari sofa dan berjalan menuju meja kerjanya.


"Tapi kak, bukan itu maksudku."


"Kalau perkataanmu benar adanya, maka tidak boleh ada laki-laki yang berteman dengannya, hanya aku saja teman laki-lakinya. Sudah, pergi sana." Ucap Ray.


Alex menekuk wajahnya,


"Kau itu sedang jatuh cinta pada Ana ya? Sangat kekanakan sekali." Gumam Alex, ia pun dengan terpaksa melangkah pergi dari ruangan Ray.


Melihat Alex yang sudah keluar dari ruangan, Ray pun tersenyum lebar, tidak tau apa yang membuatnya sebahagia itu.