
Restoran terlihat ramai pengunjung, bahkan Ana sampai ikut turun tangan untuk melayani para pembeli.
"Bos, anda belakangan ini kelihatan semangat sekali."
Ana tersenyum menanggapinya.
Tentu saja. Aku sangat bahagia karena pria gila dan pengikut setianya itu hampir satu minggu ini tidak datang mengusikku lagi. Aku pikir do'a ku terkabul, mereka seperti hilang ditelan bumi. — Batin Ana yang sangat senang.
"Aku memang selalu seperti ini."
"Tapi sebelumnya— anda terlihat murung selama beberapa minggu, dan sekarang sepertinya anda sudah kembali seperti dulu lagi. Saya sangat senang melihatnya bos."
"Ah kau ini, oh iya bagaimana review pengunjung restoran tentang menu baru kita?"
"Responnya bagus bos, sampai siang ini banyak pesanan menu baru, sepertinya akan over target."
"Oke. Lalu bagaimana dengan kotak saran menu baru, kau sudah memeriksanya?"
"Sudah bos. Kebanyakan mengatakan untuk membuat variasi lain, jadi tidak akan merasa bosan dengan menu itu."
Ana mengangguk paham,
"Katakan pada kitchen leader untuk menemuiku, oh iya, Dena tidak masuk untuk beberapa hari, dia ijin padaku semalam. Jadi kau sebagai satu-satunya crew leader untuk saat ini— tolong handle semuanya dan laporkan padaku ya. Dan satu lagi, untuk para trainee, suruh Jean dan Miko untuk training mereka sampai hari kedua, hari ketiga training biar aku saja yang melakukannya."
Ana menghentikan penjelasannya, ketika ia melihat Dita yang sepertinya tak mendengarkan perkataan nya lagi.
"Dita! Apa kau mendengarkanku?" Tanya Ana. Tapi sepertinya, telinga crew leader-nya itu sedang tersumbat sesuatu.
"Dita." Ana melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Dita. Tapi, gadis itu masih tetap diam.
Sebenarnya apa yang dia lihat sampai seperti orang kerasukan sesuatu. — Batin Ana.
Ana menolehkan kepalanya kebelakang, mengikuti arah pandang Dita.
Seorang pria dengan tubuh yang familiar berjalan mendekat ke arah Ana. Dibelakang pria itu ada empat wanita berpakaian formal dan satu laki-laki dengan jas hitam.
Ana mengernyitkan matanya. Karena cahaya matahari, wajah pria itu tidak terlihat cukup jelas.
"Bos, bukankah itu laki-laki VIP yang pernah mengatakan kalau dirinya itu calon suamimu?"
Mendengar perkataan Dita itu, Ana langsung menajamkan penglihatannya. Benar, itu adalah Ray, pria itu berjalan mendekat kearahnya.
"Dita, pergilah dan urus pekerjaanmu. Dia— biarkan aku yang mengurusnya."
Ana merenggangkan otot-otot tangan dan lehernya, gadis itu memperagakan gerakan seperti orang yang akan siap untuk bertarung.
Ray berhenti dihadapan Ana, gadis itu menatap Ray dari atas sampai bawah berulang kali seperti memastikan sesuatu.
Dia? Benarkah ini pria brengsek itu? Aku tidak salah lihat kan? Kenapa dia muncul lagi?! Aku sudah sangat senang dia tidak menampakkan diri selama seminggu ini, tapi sekarang tiba-tiba datang ke restoranku dan membuat kehebohan. Sekarang apa yang akan dilakukannya?! Rencana licik apa yang akan di gunakannya untuk menyusahkanku?! — Batin Ana.
"Oh— tuan Raymond, lama tidak merasakan kejahatan anda. Sekarang apa yang akan anda rencanakan untuk menggangguku?!"
Ana menatapnya dengan pandangan menantang, rasanya waktu seminggu mampu mengumpulkan energi gadis itu untuk melawan Ray kembali. Walau kenyataannya itu mustahil.
Ray tidak menanggapi perkataan Ana, ia menjentikkan jarinya, lalu para wanita berpakaian formal di belakang Ray itu langsung berjalan mendekati Ana. Mereka memegang lengan kanan dan kiri Ana. Kemudian, memaksa Ana berjalan keluar restoran.
"Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan aku!" Ujar Ana yang terus meronta meminta untuk dilepaskan.
Ray menatap Ana kesal, dengan tidak sabar ia menarik tangan gadis itu dan berjalan keluar restoran.
Ana ingin meneriaki Ray, tapi melihat beberapa pengunjung restoran yang tengah berbisik-bisik memperhatikan ke arahnya dan Ray, gadis itu akhirnya memilih diam.
"Masuk." Ray membukakan pintu belakang mobil untuk Ana, tapi gadis itu mengalihkan pandangannya tak peduli, ia memilih berjalan melewati Ray dan membuka pintu mobil bagian depan, lalu duduk didalamnya.
Melihat sikap Ana yang susah di atur itu membuat Ray merasa otaknya mendidih. Dengan satu kali gerakan, ia kembali menarik tangan Ana kasar, mendorong Ana masuk ke dalam mobil bagian tengah, lalu diikuti dirinya yang juga masuk dan duduk disamping Ana.
"Kau ini sedang menculikku ya?! Cepat turunkan aku atau aku akan melaporkan kalian semua ke polisi." Ujar Ana, tapi tak ada yang mempedulikan ucapannya sama sekali.
Dimobil itu hanya ada dirinya, Ray dan assisten Yohan, lalu dibelakang mobil yang dikendarainya ada sebuah mobil lain yang mengikuti, itu adalah mobil yang berisi para wanita berpakaian formal tadi.
Drrt. Drrt. Drrt.
Ponsel Ana berdering, tertera di layar ponselnya sebuah pemberitahuan panggilan masuk dari Dita. Ana berniat untuk menerima panggilan itu. Tapi, tangan Ray dengan cepat merebut ponsel Ana, dan mengangkat panggilan itu.
"Jangan coba-coba menghidupkannya kembali atau aku akan membuangnya!" Tegas Ray. Ana hanya terpaksa diam dan menurut.
Lama dalam keheningan di dalam mobil, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yang telah Ray siapkan.
Yohan membukakan pintu mobil untuk Ray, lalu hendak beralih membukakan pintu mobil untuk Ana, tapi gadis itu sudah lebih dulu membuka pintu mobil, Ana turun dari mobil itu dan menutup pintu mobilnya cukup keras. Yohan menatapnya tajam karena Ana dapat merusak pintu mobil mahal itu.
Biarkan saja rusak, aku memang sengaja melakukannya. — Batin Ana dengan tatapan tak peduli.
Ray berjalan masuk ke dalam gedung berlantai tiga itu. Sedangkan Ana, gadis itu masih berdiam diri di tempatnya. Tapi kemudian, keempat wanita tadi kembali menyeretnya untuk masuk mengikuti Ray.
Ana dipaksa masuk ke sebuah ruangan yang lumayan luas, disana ada satu pintu di bagian tengah, disudut kiri ada beberapa gaun yang terkesan mewah dan tersusun rapi, lalu disudut kanan ada peralatan make up dan skin care lainnya.
Ray duduk di sofa yang ada diruangan itu. Sedangkan Yohan, ia diperintahkan Ray untuk menunggu di luar ruangan.
"Lakukan."
Ana mengernyitkan dahinya bingung, lakukan? Lakukan apa? — Batin Ana.
Satu dari keempat wanita itu mendekati Ana, ia menyentuh blazer yang dikenakan Ana dan berniat untuk melepasnya.
Ana berteriak histeris,
"Apa yang kau lakukan?!" Teriak Ana pada wanita itu.
Ana menyilangkan tangannya dan berjalan mundur menjauhi wanita itu.
Raymond sialan! Apa dia sedang menyuruh wanita ini untuk menelanjangiku?! — Batin Ana.
Ana terus berusaha menepis tangan wanita itu, gadis itu bahkan hampir menangis dibuatnya.
"Hentikan! Apa mau-mu sebenarnya?! Kenapa kau menyuruhnya melepas pakaianku?!" Ucap Ana pada Ray yang masih duduk santai di sofa itu.
"Aku tidak menyuruhnya melepas pakaianmu, dia hanya ingin membantumu melepas blazer yang kau kenakan, tapi kau terlalu berlebihan menanggapinya." Ujar Ray sembari tersenyum miring ke arah Ana, menyindir Ana yang sudah berderai air mata.
Ana mengusap air matanya kesal,
"Jika yang pria sialan itu katakan benar, kenapa sebelumnya kau tidak memberitahuku nona?" Tanya Ana pada wanita itu, tapi wanita itu hanya diam tak berniat menjawab sama sekali.
Para wanita ini— aku tidak pernah mendengar mereka berbicara sepatah katapun sejak tadi, apa mereka bisu? — Pikir ana.
"Mereka tidak akan menjawab-mu, aku membayar mereka untuk melaksanakan tugas dengan baik dan tidak berbicara apapun, jadi jangan membuat mereka sulit." Ray berkata dengan santai.
"Ikuti saja apa yang akan mereka lakukan, mereka tidak akan merugikanmu. Aku membayar mahal mereka untuk membantumu membersihkan diri." Ujar Ray lagi.
"Aku bisa membersihkan diriku sendiri, lagipula untuk apa aku mandi di siang hari seperti ini."
"Siapa yang menyuruhmu mandi, aku meminta mereka me-make over-mu untuk acara nanti malam."
"Tidak perlu! Aku suka penampilanku seperti ini. Dan lagi, nanti malam aku tidak berniat pergi kemanapun." Kata Ana.
Ray menghela nafasnya, ia meletakkan koran yang belum sempat dibacanya. Kemudian, menatap ke arah Ana yang keras kepala itu.
"Sudah kukatakan, jangan membuat mereka susah, kalau kau terus keras kepala seperti ini, kau akan menyulitkan mereka. Apa kau tidak mengerti juga?"
"Aku memang tidak mengerti, kenapa kau membawaku dengan paksa ke tempat seperti ini? Kau bahkan belum menjelaskannya padaku."
"Ini semua aku lakukan untuk persiapan nanti malam. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu tadi?!"
"Kau selalu mengatakan persiapan nanti malam, memangnya kau akan membawaku ke acara seperti apa?!"
Ray tidak menghiraukan pertanyaan Ana, pria itu kembali menghela nafasnya, kemudian beranjak dari duduknya, berjalan mendekati Ana.
"Ikuti saja apa yang akan mereka lakukan, jangan banyak bertanya. Jika kau membuat masalah maka mereka yang akan bertanggung jawab. Jadi, kalau kau tidak ingin menyusahkan mereka, jangan membuat masalah."
Perkataan itu jelas ancaman untuk Ana, jika gadis itu membuat masalah seperti kabur atau menolak hal-hal lain, maka sama saja ia telah membunuh para wanita itu.
"Iya iya aku mengerti." Kata Ana.
"Bagus, kalau begitu aku akan keluar, masih ada hal lain yang harus aku urus." Ujar Ray yang tersenyum puas. Setelah itu, ia melangkah keluar dari tempat itu dan menutup pintunya kembali.
Pergilah dan jangan kembali lagi! — Batin Ana.