The Destiny

The Destiny
Try (1)



"Lupakan tentang penjelasan mu, karena kau jujur, aku akan mencoba percaya pada semua alasanmu di balik masalah yang telah kau perbuat ini. Sekarang, kau harus menebus dosamu, bertanggung jawab lah pada Rachel dan anakmu."


"Aku tidak bisa."


"Kau— kenapa tidak?"


"Aku—" Alex tak mampu melanjutkan perkataannya, ia kembali diam dengan kepala tertunduk.


Ray menghela napasnya,


"Apakah karena ini, kau dan ibu bertengkar?" Tanyanya.


Alex semakin dibuat diam membisu. Pria itu berpikir keras, apa yang harus ia lakukan. Saat seperti ini, dirinya seperti berada di ruang interogasi. Dalam hatinya, ingin menciptakan sebuah alibi, tapi hatinya juga ingin ia mengatakan sesuatu yang benar.


"Ibu ingin kau bertanggung jawab pada Rachel dengan menikahinya, tapi kau menolak. Karena itu, ibu marah padamu sampai ia enggan untuk berbicara denganmu. Apa asumsi ku itu benar?" Tanya Ray.


"Maaf." Ucap Alex lirih.


Kembali terdengar helaan napas yang sangat berat dari Ray. Pria itu mencoba memahami adiknya, tapi jalan buntu selalu ia temui. Alex tampak masih belum ingin membuka dirinya. Ray yakin, Alex memiliki alasan tertentu.


"Siapa saja yang mengetahui ini?" Tanya Ray.


"Ibu, kau, dan assisten Yohan." Jawab Alex.


"Jadi, Rachel masih tidak mengenalimu ya. Melihat video itu langsung, aku tahu, kau menggunakan trik pecundang untuk tidur bersamanya. Pencahayaan yang gelap, dan pengaruh obat, entah obat tidur atau obat perangsang yang kau gunakan, tapi itu cukup efektif untuk membuat wanita itu tidak bisa mengingatmu."


"Maaf, saat itu aku—"


"Sudah aku katakan, aku tidak ingin mendengar penjelasan mu, bukan berarti aku tidak suka dengan alasanmu, kau punya alasan tertentu untuk itu, aku akan mencoba menghargai nya walau perbuatan itu sangat buruk. Tapi, ada orang lain yang lebih butuh penjelasan itu daripada aku." Ujar Ray.


"Aku tidak bisa kak, aku tidak bisa menikahinya."


Ray tersenyum miris pada adiknya itu, kakinya melangkah mendekati Alex yang ada di seberang meja kerjanya.


Ray berdiri dihadapan Alex, ia menyentuh kedua bahu Alex dengan kedua tangannya.


"Ini bukan masalah tidak bisa, tapi tanggung jawab. Dia anakmu dan juga wanita yang telah mengandung dan melahirkan anakmu, apa kau tidak bisa merasakan hal-hal seperti ikatan saat berada di dekat mereka, terutama anakmu?"


Alex menundukkan kepalanya, hatinya berkata benar, ia merasakan sesuatu saat dekat dengan Nana, perasaan hangat dan juga haru. Ingin sekali tangannya merengkuh tubuh mungil bayi perempuan itu.


"Aku tidak cukup baik untuknya."


Ray tersenyum,


"Kau memang tidak cukup baik baginya, maka dari itu kau perlu belajar secara teori dan juga praktik untuk menjadi baik atau bahkan sangat baik untuknya. Bukankah begitu sifat ujian." Ujar Ray.


"Aku mencintai wanita lain, aku menghamili wanita lain dan juga telah melamarnya." Ucap Alex, menggunakan alasan sama seperti yang ia katakan pada ibunya waktu itu.


Hanya saja, mungkin jika itu yang mendengarnya adalah orang lain, mereka akan marah pada Alex, kata-kata itu terdengar bahwa ia mengakui jika dirinya adalah manusia sampah yang seharusnya tidak ada di muka bumi ini.


Tapi, berbeda dengan Ray, ia terlihat pandai menyembunyikan emosinya dan juga pintar dalam menilai perkataan orang. Nada yang Alex gunakan untuk mengatakan alasan itu terdengar sembrono dan terburu-buru.


"Jangan berbohong dengan sesuatu yang murahan seperti itu. Kau mengatakan itu semakin membuat ku memahaminya dengan jelas, jika itu hanyalah alasan tanpa kebenaran." Ujar Ray, membuat Alex menciut, adiknya itu semakin tidak berani menatap mata kakaknya.


"Kenapa kau tidak bisa?" Tanya Ray yang hanya melihat Alex diam.


Ray tidak pernah melihat pria didepannya ini menjadi bungkam dengan wajah frustasi seperti ini sebelumnya. Alex yang selalu menampilkan senyuman-nya, sekarang seperti orang berbeda.


Hari semakin siang, terik matahari di musim seperti ini sangat menyengat. Rasanya membuat orang-orang malas untuk keluar dari keteduhan.


Rachel berjalan menggendong Nana masuk ke dalam restoran milik kakak tirinya, ibu tunggal itu pergi kesana bukan tanpa alasan.


Kakinya melangkah begitu saja menaiki tangga yang terhubung langsung ke ruangan Ana.


Pintu itu terbuka, terlihat Ana yang masih fokus pada laptopnya, gadis itu tampak menggerakkan jari-jari tangannya mengetik pada keyboard.


"Kak Ana." Panggil Rachel dengan nada lirih agar kakak tirinya itu tak terkejut.


Ana mengalihkan perhatiannya pada suara yang memanggil namanya. Kemudian raut wajah tak percaya jika Rachel ada disini tampak terukir.


Gadis itu berjalan mendekati Rachel, tersenyum hangat pada Nana yang sangat tenang dalam gendongan ibunya.


"Tidak biasanya kau datang kemari, ada apa? Aaa apa kau ingin makan sesuatu? Restoran ku hari ini sedang mengeluarkan menu baru, apa kau mau mencobanya?" Tanya Ana dengan pertanyaan beruntun.


"Tidak, bukan itu tujuanku datang kemari." Jawab Rachel.


"Ah begitu, oh iya, duduklah. Sebentar, aku akan menyuruh karyawanku mengantarkan minuman." Ujar Ana, ia menuntun Rachel ke arah sofa, kemudian hendak berlalu untuk memberi perintah pada karyawannya, tapi tangan Rachel menahan kepergian kakak tirinya itu.


"Tidak perlu, air putih itu saja." Kata Rachel sembari menunjuk pada air mineral dalam kemasan gelas yang ada di atas meja sofa itu.


"Baiklah." Ucap Ana mengalah, ia kemudian duduk disamping Rachel.


"Jadi, apa tujuanmu datang kemari? Apa kau perlu sesuatu?" Tanya Ana.


"Em, aku perlu bantuan mu kak." Jawab Rachel.


"Katakan saja, selama itu masih di dalam jangkauan kemampuan ku, aku akan membantumu semaksimal mungkin." Katanya.


"Boleh aku bekerja di restoranmu?" Tanya Rachel dengan nada ragu-ragu jika Ana menolaknya.


"Apa? Kau—kenapa tiba-tiba?"


"Aku tidak bisa selamanya hidup membebani kalian, ayah ataupun kakak. Aku harus bisa mandiri, apalagi sekarang aku punya Nana. Aku tidak ingin menyusahkan orang lain karena Nana." Jawab Rachel.


Ana menghela napasnya, sejenak ia merenung, menatap bayi mungil didepannya sendu. Kasihan sekali nasibnya, andaikan ia punya seorang ayah, pasti ibunya tidak akan sesusah ini, pikir Ana.


"Apa kau yakin? Jika kau bekerja, siapa yang akan mengurus Nana?" Tanya Ana.


"Karena itu, aku ingin bekerja disini. Tapi sepertinya itu akan merepotkan mu."


Ana mengelus bahu Rachel pelan, memberikan dorongan semangat pada perempuan itu.


"Jangan sungkan. Jika itu maumu, kau bisa bekerja disini, dan masalah Nana, pekerjaan ku lebih mudah untuk membuat ku bisa mengurus-nya juga. Jadi, saat bekerja, kau bisa fokus pada pekerjaan mu dan tidak perlu memikirkan Nana. Aku akan meletakkan box bayi di ruanganku, jadi aku yang akan menjaganya selama kau bekerja."


"Apa itu tidak masalah bagimu?" Tanya Rachel yang merasa tidak enak.


Ana tersenyum dengan anggukan kepalanya.


"Em, tentu saja tidak. Sudah aku katakan, jika pekerjaan ku lebih mudah untuk membuatku menjaganya juga."


"Ah iya, kerja disini memakai sistem shift, bekerja dengan waktu tujuh jam dan istirahat satu jam, satu minggu akan mendapat libur dua kali, kecuali di hari besar dan hari-hari penting nasional. Masalah gaji, kau jangan khawatir, semua terjamin dengan tunjangan juga." Ujar Ana layaknya sebagai seorang bos yang baru saja menerima karyawan baru.


Rachel tersenyum mendengarnya, kepalanya mengangguk, menjawab penjelasan Ana jika dirinya paham.