
pertemuan antara dua kepribadian adalah seperti berkontaknya dua zat kimia. Jika terdapat suatu reaksi, maka keduanya akan bertransformasi. — C.G. Jung.
✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏✏
Berdiri cukup lama di depan pintu, membuat seseorang yang melihat tingkah pria itu merasa jengah.
Kenan berjalan masuk ke halaman ruamahnya, setelah beberapa saat mengawasi Alex dari gerbang rumah, pria itu terlihat oleh Kenan terus berdiri di depan pintu masuk rumah.
"Ada perlu apa?" Tanya Kenan.
Alex sepertinya terkejut mendengar seseorang bersuara saat dirinya sedang melakukan sesuatu.
"Ingin bertemu Rachel?" Tanya Kenan lagi.
"Apa dia ada di rumah?" Ucap Alex balik bertanya.
"Sepertinya tidak, sudah beberapa bulan ini dia bekerja di restoran kak Ana." Ujar Kenan.
"Bekerja? Lalu bagaimana dengan Nana?"
Kenan menghela nafasnya, ia sangat malas ikut campur urusan orang-orang ini.
"Tentu saja, kak Ana yang menjaganya. Rachel bekerja sebagai karyawan dan kak Ana yang sebagai bos disana memiliki waktu luang juga pekerjaan yang lebih ringan, maka dari itu kak Ana yang menjaga anak itu." Ujar Kenan.
"Anak itu katamu? Hei, dia punya nama." Kata Alex .
"Ya ya, maksudku Nana. Lagipula kenapa kau sekarang peduli setelah sebelumnya mengabaikannya. Penyesalan mu sepertinya sangat terlambat ya." Sindir Kenan kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.
"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali." Gumam Alex yang mengulangi kalimat Rachel waktu itu.
•••
Rachel menyeka keringatnya, pengunjung restoran hari ini lebih banyak dari hari kemarin, mungkin karena hari ini adalah akhir pekan.
Rasanya menyedihkan mendapatkan jadwal shift di akhir pekan, tapi itu semua karena permintaannya sendiri. Ia selalu meminta Ana untuk bersikap adil dan tidak membedakannya dengan karyawan yang lain, walau Rachel adalah adiknya.
"Apa kau lelah? Biar aku yang menggantikanmu sementara, kau istirahatlah." Ujar Dita, karyawan senior disana.
"Ah tidak, hanya sedikit berkeringat saja bukan berarti lelah." Kata Rachel.
Dita tersenyum,
"Baiklah, jika kau merasa lelah, istirahatlah sebentar, jangan memaksakan diri." Sarannya kemudian berlalu kembali pada pekerjaannya.
Rachel hanya membalasnya dengan senyuman. Lalu mengambil piring-piring kotor yang ada di meja itu lagi.
Tapi sepertinya rasa lelah memang sedang menyelimutinya, sesaat ia kehilangan fokus dan itu membuatnya tidak sengaja menabrak seorang perempuan yang merupakan pengunjung restoran itu.
Sekejap terdengar suara piring pecah menggema di penjuru restoran. Semua orang kini tertuju pada Rachel yang jatuh terduduk dilantai.
"Sial!" Perempuan yang tidak sengaja Rachel tabrak itu merasa kesal, ia menepis sisa-sisa makanan yang terlempar ke pakaiannya.
"Maaf nona, saya tidak sengaja." Ujar Rachel, ia berdiri, mengambil tisu dari salah satu meja dan membantu perempuan itu membersihkan pakaiannya yang kotor.
"Lepaskan tangan kotormu itu! Lihatlah bajuku terlihat lebih kotor lagi karena darahmu!" Bentaknya sembari menunjuk tangan Rachel yang tampak mengeluarkan darah karena terkena pecahan piring.
"Rachel." Dita datang membantu Rachel untuk meminta maaf pada perempuan itu.
"Maaf nona, kami akan mengganti rugi semuanya." Ucap Dita.
Perempuan itu berdecih, menatap remeh Rachel dan Dita yang mengenakan seragam karyawan.
"Kau pikir pakaian ku ini bisa di beli dengan gaji kalian?! Satu restoran ini pun tidak akan cukup untuk membeli pakaian ku ini!" Katanya dengan wajah yang terlihat begitu angkuh.
Rachel semakin menunduk, dirinya belum pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya, itu membuat tubuhnya gemetar ketakutan, merasa malu dan dihinakan.
"Panggil bos kalian!" Ujar seorang pria yang sepertinya kekasih perempuan itu.
"Tidak, saya berjanji akan mengganti pakaian yang kotor ini." Ucap Rachel, ia tidak ingin Ana kerepotan lagi karena dirinya. Selagi Ana masih ada di ruangan nya dan belum mengetahui masalah ini, Rachel harus menyelesaikannya.
"Bagaimana orang miskin seperti mu akan mengganti pakaianku ini? Kau ingin memberiku angsuran uang perbulan?! Kau pikir aku ini rentenir?! Jika kau bisa membayarnya langsung, aku tidak akan mempermasalahkan hal ini." Ujar perempuan itu dengan tatapan jijiknya pada Rachel.
Mendengarnya, Rachel semakin menundukkan kepalanya.
"Sudahlah sayang, kita menjadi pusat perhatian. Suruh saja dia berlutut padamu untuk meminta maaf. Setelah itu, aku akan membelikanmu pakaian baru yang lebih mahal dari ini." Kata pria yang ada disamping perempuan yang sedang marah pada Rachel itu.
"Sikapmu semakin lama, semakin buruk ya, Rena." Suara seorang pria yang menyebut nama perempuan itu, membuat seluruh perhatian kini terarah padanya.
"Kak Alex." Ucap Rena, sekejap ia seperti seekor kerang yang bersembunyi didalam cangkangnya.
Alex berjalan mendekati Rachel, pria itu meraih tangan Rachel yang masih mengeluarkan darah.
Alex mengambil sapu tangan dari saku celananya lalu membalutkannya di luka Rachel.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Alex dengan wajah khawatir-nya.
Rachel mengangguk dengan senyuman yang mengungkapkan rasa terimakasih.
"Rachel, Alex, dan ada apa ini?" Disaat itu, Ana juga muncul dengan Nana yang ada dalam gendongannya.
"Dia—" Rena menatap Ana tak percaya, ia ingat saat dirinya diputuskan oleh Alex karena Ana.
Saat itu Ana mengaku sebagai tunangan dari Alex. Bahkan karena perbuatan Ana itu, Rena harus pindah universitas karena malu dengan berita bahwa dirinya adalah peliharaan pria-pria kaya, padahal itu memang benar.
"Ini restoran mu?" Tanya Rena pada Alex.
Alex menggelengkan kepalanya, ia kemudian mengambil dompetnya dan memberikan kartu nama sekertarisnya pada Rena.
"Hubungi nomor itu untuk meminta biaya ganti rugi." Ujar Alex.
"Kenapa kau peduli pada karyawan tunanganmu ini?" Tanya Rena yang masih beranggapan jika Ana adalah tunangan dari Alex.
Semua orang yang mengenal Ana dan Alex pun mengernyit heran dengan perkataan perempuan itu.
"Sayang, ayo kita pergi dari sini." Ujar pria yang bersama Rena, pria itu terlihat takut melihat Alex dan juga Ana.
"Tunggu dulu sayang, aku tidak ingin karyawan rendahan seperti dia itu merasa bangga karena dibantu oleh tunangan bos nya." Kata Rena.
"Kepala tim Ferdian, sepertinya anda telah salah mencari kekasih ya." Ucap Alex pada pria yang berada di samping Rena.
"Kau mengenalnya?" Tanya Rena pada kekasihnya itu, Ferdian.
"Dia direktur di perusahaanku, dia adik dari CEO Raymond, dan perempuan yang menggendong anak itu bukan tunangan direktur Alex tapi dia adalah istri CEO. Jika mereka berdua mengadu, aku bisa dipecat." Bisik Ferdian pada Rena.
"Apa?!" Pekik Rena tak percaya.
Alex terlihat seperti menahan senyumnya, mendengar pembicaraan sepasang kekasih yang tadinya menyombongkan diri, sekarang benar-benar bersembunyi di balik cangkang kerang mereka.
"Kenapa kalian membuat keributan di restoran ku?" Tanya Ana yang baru saja sampai setelah susah payah menuruni tangga karena harus menggendong Nana dengan perutnya yang telah membesar.
"Maaf, tapi karyawan anda yang menabrak saya lebih dulu." Ujar Ferdian sopan.
"Tapi Rachel juga sudah minta maaf pada mereka, hanya saja dipersulit, bahkan perempuan ini bilang jika restoran anda tidak akan mampu untuk membeli pakaian yang dikenakannya." Kata Dita, gadis itu sedang memberikan minyak dan juga korek api pada Ana, berharap agar Rena dapat balasan setimpal karena kesombongannya tadi.
Beberapa karyawan Ana yang ada disana pun menahan tawa mereka mendengar Dita yang mengadukan itu pada bos mereka.
"Apa kau tidak tahu jika pemilik restoran ini adalah istri dari CEO TNP Group! Bukan hanya baju yang kau pakai saja yang mampu di belinya, tapi juga seluruh isi toko dan bahkan toko bajunya juga mampu di beli oleh nyonya Ana." Sambung Dita dengan nada yang sengaja lebih tinggi dari sebelumnya agar semua orang di dalam restoran itu mendengarnya dan ikut menertawakan kebodohan Rena.
"Dita, jangan seperti itu." Bisik Ana pada Dita.
"Maaf bos, saya hanya terlalu kesal dengannya." Ucap Dita yang kini memandang Rena dengan tatapan sinisnya.
"Maaf atas kesalahan karyawan saya. Saya harap masalah ini dapat diselesaikan dengan cara baik-baik." Kata Ana dengan sopan pada Rena dan Ferdian.
"Ah tidak masalah, nyonya Gavin. Ini tidak perlu di permasalahkan lagi." Ucap Ferdian dengan tubuh sedikit membungkuk hormat pada Ana.
Ana tersenyum canggung mendengar dirinya dipanggil dengan nama keluarga Ray. Ia merasa geli sendiri mendengarnya.
"Kalau begitu pergilah, dan kau Rena, jika ingin uang untuk mengganti bajumu hubungi nomor itu." Kata Alex.
"Ayo Rena." Ajak Ferdian menarik Rena yang masih diam menatap Rachel kesal.
"Tunggu, kenapa kau peduli dengan karyawan ini?! Dan juga membohongiku soal bertunangan dengan kakak iparmu sendiri." Tanya Rena.
"Kenapa aku peduli padanya? Karena dia ibu dari anakku. Dan kenapa aku membohongimu, itu bukan urusanmu." Jawab Alex dengan wajah tegasnya.
Rena menganga, semakin dibuat kesal dengan jawaban Alex yang menjengkelkan baginya. Perempuan itu mendesis kesal dan kemudian pergi keluar dari restoran.