
Sekolah dasar, tempat dimana anak berusia tujuh tahun keatas berkumpul dan menuntut ilmu dasar disana. Semua orang tahu itu.
Masa-masa itu adalah masa tanpa beban. Bangun pagi, sekolah, dan bermain. Kehidupan yang masih sangat polos, membuat para orang dewasa sangat iri.
"Nana!" Panggil seorang pria, melambaikan tangannya dengan senyum yang tidak pernah luntur dari wajah rupawan itu.
Hari ini, dengan inisiatif nya sendiri, Alex menawarkan dirinya pada Rachel untuk menjemput Nana. Keinginan kecil yang begitu berharga untuknya.
"Paman!" Panggil Nana sembari berlari riang ke arah Alex.
"High five." Sapa Alex saat putri kecilnya itu kini telah berada di hadapannya, tangan pria itu terangkat untuk melakukan high five dengan Nana.
"High five!" Dengan cepat Nana membalas high five dari Alex.
Mereka memang akan selalu melakukan high five setiap kali bertemu, itu seperti sapaan khas dari keduanya.
"Ayo masuk." Ajak Alex.
Nana mengangguk dan masuk ke dalam mobil pria itu, gadis kecil itu duduk di samping kursi kemudi.
Setelah Nana masuk, Alex juga masuk dan duduk dikursi kemudi. Lalu, membantu Nana memakai sabuk pengamannya.
"Paman." Panggil Nana.
"Iya?" Alex menoleh sekilas sebelum kemudian kembali fokus pada jalanan yang dilaluinya.
"Sebelum mengantar ku pulang, bisakah paman mengajakku ke taman bermain?" Pinta Nana, pandangannya terarah pada Alex dengan raut penuh harapan.
"Kau ingin pergi ke taman bermain?" Tanya Alex.
"Iya, Nana ingin—" Gadis berusia sepuluh tahun itu terlihat menundukkan kepalanya, menggantungkan kalimatnya yang Belum terselesaikan.
"Ingin apa?"
Aku juga ingin menghabiskan waktu bersama ayah kandung ku. — Batin gadis kecil itu.
Jangan pernah meremehkan seorang anak, diusia seperti itu, para orang dewasa akan berpikir mereka masihlah anak-anak yang tidak mengerti apa-apa. Faktanya, itu adalah pemikiran yang salah.
Ketika seorang anak mulai bisa mengingat sesuatu, mulai memiliki sebuah memori. Mereka telah menjadi manusia yang mulai memiliki pemikiran dan pemahaman yang akan terus berkembang. Anak-anak di usia seperti itu, layaknya sebuah misteri dan juga kejutan untuk orang dewasa.
"Hanya ingin saja. Apa—paman tidak bisa?" Tanya Nana.
"Hei, tentu saja bisa. Jadi, kau ingin pergi ke taman bermain yang mana?"
Nana tersenyum senang, wajahnya terlihat antusias dengan pertanyaan dari Alex itu.
"Taman bermain yang itu." Ucap Nana, tangannya menunjuk pada sebuah biang lala yang terlihat dari jalanan itu.
"Kau yakin? Itu taman bermain biasa." Kata Alex.
"Em." Nana mengangguk yakin dengan keinginannya.
"Baiklah, kita kesana." Ujar Alex memutar balik stir mobilnya menuju taman bermain yang Nana inginkan.
•••
"Ini terlihat lebih kecil dari perkiraanku, apa kau yakin ingin tetap bermain disini? Lihatlah hanya ada beberapa permainan saja. Paman bisa membawamu ke taman bermain yang lebih besar dari ini." Ujar Alex saat mereka baru saja masuk ke dalam taman bermain itu.
Drrt. Drrt. Drrt
Suara ponsel milik Alex terdengar berbunyi, pria itu lantas mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.
Terlihat nama Rachel memanggil tertulis di layar ponsel itu. Segera tanpa menunggu lama, Alex langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo? Alex. Dimana kau? Kau sudah menjemput Nana kan? Aku belum pulang dari kampus, jadi bawa dia ke rumah kak Ana dulu ya." Ujar Rachel dari seberang sana.
"Aku ada di taman bermain bersama Nana." Jawab Alex sembari menatap Nana dengan senyuman.
"Taman bermain? Kenapa tiba-tiba mengajaknya pergi kesana?"
"Gadis kecil ini yang memintanya." Ucap Alex masih memandang Nana yang juga menatapnya, menunggu ayah kandungnya itu menyelesaikan panggilan.
Terdengar helaan nafas dari diri Rachel, perempuan itu seakan tahu dengan sikap Nana pada Alex, meminta pria itu pergi ke taman bermain, menghabiskan waktu luang dengan bermain bukanlah sifat dari Nana, kecuali ada alasan tertentu. Alasan yang sudah jelas Rachel ketahui. Alasan yang kadang membuat Nana diam dan murung.
"Baiklah, jaga dia dengan baik, jangan mengecewakannya. Satu lagi, katakan padanya untuk pulang pukul tiga sore, Nana harus ada dirumah sebelum pukul lima." Ujar Rachel.
"Iya, aku mengerti. Kalau begitu, aku tutup panggilannya. Aku tidak tega melihat gadis kecil ini menunggu lama." Kata Alex dengan tangan yang mengusap puncak kepala Nana.
"Oke." Setelah mendengar sahutan dari Rachel, Alex kemudian memutuskan panggilan itu.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama ya." Alex membungkuk, mensejajarkan dirinya dengan Nana.
"Apa barusan itu ibu yang menghubungi?" Tanya Nana yang dibalas anggukan oleh Alex.
"Ah iya hampir lupa, ada pesan dari ibumu. Kita hanya punya waktu bermain sampai jam tiga sore. Karena kau harus ada dirumah sebelum jam lima sore nanti." Ujar Alex.
"Baik. Ayo paman kita naik itu." Nana menarik tangan ayah kandungnya itu menuju biang lala yang berputar lambat.
•••
Saat sampai di bagian paling atas, sepasang mata itu dapat melihat banyak rumah dan gedung-gedung tinggi.
Angin yang berhembus pun menghasilkan udara yang lebih segar, terasa menyenangkan dan lebih menyenangkan lagi karena menaiki wahana itu bersama seseorang yang di harapkan.
"Kau terlihat seperti baru pertamakali menaikinya." Ujar Alex, ia duduk berhadapan dengan anak perempuan nya itu.
Nana menoleh pada Alex, gadis kecil itu kemudian duduk ditempatnya, mengahadap ayah kandungnya.
"Ini yang kedua kalinya untukku. Sebelumnya, bersama Yuan dan bibi Ana, itu sekitar dua tahun yang lalu." Jawab Nana, tangannya bergerak meraih tangan besar milik Alex, ia mengangkat tangan itu, lalu meletakkannya ke atas kepalanya sendiri.
"Papa." Ucap Nana, membuat Alex terbelalak mendengarnya.
Dia telah dewasa sebelum waktunya — perkataan Rachel yang pernah dikatakan padanya itu kembali terlintas diingatan Alex.
Empat tahun yang lalu, Alex memutuskan untuk pergi ke luar negeri, mengurus perusahaan cabang yang ada disana. Jarang sekali dirinya pulang ke negara asalnya, hal itu membuatnya seringkali merindukan Nana. Saat rindu, ia akan menghubungi Rachel, menanyakan kabar anak kandungnya itu.
"Apa kau sudah mengetahuinya?" Tanya Alex dengan raut sendunya.
Sesaat Nana terlihat sedih, namun kemudian ia mengubah ekspresinya begitu cepat, gadis kecil itu tersenyum pada Alex.
"Bolehkah— papa?" Tanya Nana lagi.
Panggilan itu terdengar sederhana, sangatlah sederhana. Namun bagi Alex, tidak sesederhana itu untuk mendapatkan panggilan yang sangat ia tunggu-tunggu sejak lama. Terharu sekali hatinya mendengar benihnya yang telah berkembang menjadi sosok gadis kecil itu kini memanggilnya papa.
"Pasti sulit bagimu untuk menerima kenyataan ini ya? Maafkan papa." Ucap Alex, air matanya tanpa terkendali, meluncur begitu saja.
"Apa kehadiran ku adalah sebuah kesalahan?" Tanya Nana sembari menghapus air mata ayah kandungnya itu.
Alex menggelengkan kepalanya,
"Tidak, kau bukanlah sebuah kesalahan." Jawab Alex.
"Kalau begitu jangan meminta maaf, jika papa meminta maaf, Nana akan merasa kalau Nana adalah sebuah kesalahan." Ujar Nana.
Alex mengusap kepala gadis kecil itu, menatapnya sendu.
"Kau benar-benar telah dewasa sebelum waktunya ya anakku." Gumam Alex.
•••
Rachel melihat jam tangannya sekali lagi, ia baru saja pulang dari universitas dan kini sedang menunggu Nana pulang.
Ya, Rachel melanjutkan studinya lagi setelah memikirkannya cukup lama.
Menyelesaikan gelar sarjana adalah bagian dari impiannya, beberapa tahun waktu telah berlalu, selama itu ia bekerja keras untuk bisa mengisi angka-angka di tabungannya, semua itu ia lakukan agar bisa menyisihkan uang untuknya melanjutkan kuliah yang telah tertunda beberapa tahun lamanya.
"Kenapa belum pulang juga? Ini sudah pukul tiga lewat lima belas menit." Gumam Rachel yang sedang menunggu anaknya pulang.
Sepuluh menit kemudian, terdengar suara bel berbunyi menggema di penjuru apartemen itu.
Rachel berjalan menuju pintu apartemen dan membukanya,
"Terlambat dua puluh lima menit." Ujar Rachel pada anaknya.
"Maaf." Ucap Nana, ia sejak kecil selalu diajarkan untuk disiplin. Pulang tepat waktu adalah salah satu bentuk kedisiplinan yang harus Nana patuhi.
"Masuk dan mandilah." Perintah Rachel.
"Baik." Jawab Nana.
Sebelum masuk, ia melihat Alex, melemparkan senyuman pada pria itu.
"Papa, sampai jumpa lagi." Ujar Nana kemudian berjalan masuk kedalam apartemen itu, menuju kamarnya.
"Papa?" Tanya Rachel.
"Yah, dia yang memintanya. Kalau begitu aku permisi. Sampai jumpa — sampaikan itu pada Nana." Kata Alex kemudian berlalu pergi dari depan pintu apartemen itu.
"Tunggu, kita perlu bicara." Ujar Rachel menghentikan langkah Alex.
Pria itu berbalik dan menunggu kata selanjutnya dari Rachel.
"Ikut aku." Rachel menutup pintu apartemen itu dan berjalan mendahului Alex.
Kaki mereka terus berjalan menuju atap dari gedung apartemen itu.
"Apa saja yang sudah Nana katakan padamu?" Tanya Rachel.
"Tidak banyak."
Rachel menghela napasnya.
"Walaupun dia telah memanggilmu seperti itu, jangan terlalu sering bertemu dengannya dan jangan pernah berpikir untuk bisa merebut nya dariku."
Alex terperangah dengan perkataan Rachel, perkataan perempuan itu terdengar egois jika orang tidak tahu bagaimana perjuangan Rachel merawat Nana selama ini. Ia mengatakan itu bukan tanpa alasan.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak mungkin melakukan itu."
"Lalu, kenapa sampai sekarang kau belum menikah juga?"
"Apa hubungannya dengan Nana, aku menikah atau tidak, itu—"
"Begitukah? Kalau begitu menikahlah dan lupakan Nana. Lagipula umurmu sudah tiga puluh lima lebih, apa kau berniat menjadi pria tua yang kesepian?"
Alex menatap Rachel tidak percaya, perempuan itu mengatakannya dengan hati yang bercampur aduk.
"Kau sedang kasihan padaku?"
"Aku hanya ingin kau bahagia juga. Saat tahu kau belum menikah sampai sekarang, rasa bersalah selalu menyelimuti diriku. Aku tidak ingin hidup dengan perasaan seperti itu. Setiap kali melihat mu, aku merasa—aku merasa tidak nyaman." Ujar Rachel dengan air mata yang perlahan mengalir.
Alex mengehembuskan napas beratnya, ia menutup matanya sejenak.
"Maaf membuatmu merasa tidak nyaman dengan kehadiran ku."
"Bukan seperti itu—"
"Ya, aku paham perasaanmu. Tapi maaf, aku tidak bisa mengabaikan Nana lagi. Sejak pertama kali aku meminta maaf padamu sampai saat ini, aku tidak bisa mengabaikan Nana, dia tetap tanggung jawabku. Tidak peduli apapun yang terjadi, dia adalah darah daging ku. Aku minta maaf, Rachel." Ujar Alex.
"Aku pikir, kau harus segera kembali. Ini hampir pukul lima, jangan membuatnya mencarimu." Kata Alex kemudian pergi dari sana, meninggalkan Rachel seorang diri.
End.✍