The Destiny

The Destiny
Hope



Nothing is impossible. Anything can happen as long as we believe — Anonim.


🐇🐇🐇


Episode sebelumnya~


Tapi, saat ini. Bukan itu yang mengusik pikirannya. Ada hal lain yang lebih mengganggu kepalanya itu.


Alex kembali menghela napasnya untuk yang kesekian kali.


"Ada apa denganku?" Gumamnya sembari memijat pelipisnya yang terasa nyeri.


Episode 91 — Hope


Rachel sedang berdiri di depan televisi sembari menimang-nimang Nana yang baru saja menyusu.


Bayi kecilnya itu sebentar lagi akan tertidur, terlihat Nana beberapakali menguap.


"Apa kau akan terus seperti ini?" Tanya ibu Rachel yang mulai jengah dengan anaknya itu. Matanya terasa sakit saat melihat Rachel setiap harinya hanya sibuk mengurus anak saja.


"Ya?" Tanya Rachel yang tak mengerti.


"Apa kau akan terus hidup seperti ini?! Kau tidak bekerja dan hanya sibuk mengurus anakmu. Kau pikir selamanya akan meminta uang dari ayahmu? Kakakmu dan juga ayahmu itu sudah bekerja keras untuk perusahaan, sedangkan kau hanya duduk diam dan menikmatinya saja." Ujar sang ibu.


"Ibu—"


"Jangan memanggilku seperti itu, kau selalu saja merengek ibu ibu dan ibu. Aku bosan mendengarnya." Ibu kandungnya itu kemudian pergi begitu saja setelah membuat luka kecil di hati Rachel.


Perempuan itu menengadahkan kepalanya, agar tidak ada buliran air mata yang jatuh. Dadanya sangat sesak, rasanya sangat tidak nyaman.


Bagaimanapun, ia juga merasa jika apa yang baru saja ibunya katakan itu adalah sebuah kebenaran.


Selama ia hamil sampai dirinya melahirkan, semua biaya hidupnya bergantung pada ayahnya dan juga kadang Ana.


Tapi, jika aku mencari pekerjaan. Siapa yang akan mengurus Nana?


•••


Hari itu, waktu mengalir begitu saja, sama seperti hari-hari biasanya.


Kilauan cahaya senja telah menerangi kota itu, warna jingga yang hampir padam menekankan kesan vintage yang mendalam.


Mobil Ray baru saja memasuki parkiran restoran Ana, laki-laki itu turun dari mobilnya. Hari ini, Yohan tidak menemaninya. Mulai sekarang Yohan hanya akan bekerja sampai jam kerja kantor selesai.


Karena Yohan bukan robot, ia juga butuh istirahat. Apalagi untuk saat ini, Yohan juga merangkap sebagai sekertarisnya.


Ray masuk ke dalam restoran dengan dasi yang telah ia longgarkan sejak pagi tadi, rambutnya terlihat sedikit berantakan menambah kesan seksi bersamaan dengan tubuhnya yang begitu sedap di pandang mata kaum hawa.


Orang-orang bilang, jika seorang pria baru saja memiliki anak, maka aura pria itu akan terlihat lebih berkarisma dan menggoda, mereka biasa disebut hot daddy.


Begitupun dengan Ray, dirinya belakangan ini banyak dipandang oleh mata para gadis-gadis muda. Aura keseksian yang membuat tubuh merona panas sangat menggoda jiwa para kaum hawa.


"Ana ada di ruangannya?" Tanya Ray pada salah satu karyawan yang bekerja di restoran Ana.


"Bukankah anda CEO TNP Group? Apa anda ingin membuat reservasi VIP" Tanya karyawan baru itu.


"Hei apa yang kau katakan. Pergilah biar aku yang melayaninya." Ujar salah satu karyawan senior yang menjadi saksi bisu kisah cinta antara Ray dan Ana.


"Selamat sore tuan Ray, bos ada di ruangannya. Apa perlu saya panggilkan untuk anda?" Tanya karyawan senior itu.


"Ah tidak perlu, kau lanjutkan saja perkerjaanmu. Aku akan menghampirinya sendiri." Ujar Ray.


"Begitu ya, kalau begitu saya permisi." Kata karyawan senior itu, ia berlalu pergi namun kemudian berbalik lagi menghentikan langkah Ray.


"Tunggu tuan Ray. Apa anda ingin minum sesuatu atau makan sesuatu?" Tanyanya.


"Ah iya, baiklah." Ucap karyawan senior itu dengan senyum canggungnya, melihat sikap Ray sekarang dan membandingkannya dengan dulu, sangat aneh rasanya. Tapi juga membuat orang lain yang mengetahui perubahan itu merasa senang.


Ray membalas senyuman karyawan senior itu sekilas, pria itu kemudian menaiki tangga yang terhubung langsung ke ruangan Ana.


"Ana?" Panggil Ray saat dirinya telah masuk kedalam ruangan istrinya itu.


Ruangan itu terlihat sepi dan hening, tidak ada suara ketikan komputer ataupun lembaran kertas yang dibuka.


Ray menghentikan pandangannya pada Ana yang tertidur di meja kerjanya, gadis itu meletakkan kepalanya di meja kerja dengan mata yang terpejam.


"Ana?" Panggil Ray pelan, tapi tak ada jawaban. Sepertinya Ana benar-benar tertidur.


Ray menghembuskan napasnya, istrinya itu pasti kelelahan. Ray hendak mengangkat tubuh Ana, tapi terlihat kelopak mata gadis itu bergerak.


"Ana?" Panggil Ray, lagi.


Perlahan Ana membuka matanya,


"Ray?" Saat mata itu terbuka, Ana pikir ini hanya mimpi dalam tidurnya. Tapi kemudian, ia sadar jika itu nyata dan suaminya memang ada di depannya.


"Ray?!!" Pekik Ana yang sedikit terkejut dengan keberadaan suaminya yang tiba-tiba ada di ruangannya.


"Kenapa kau ada disini?" Tanya Ana.


"Saatnya pulang. Kau pasti kelelahan ya? Sampai tertidur di meja kerjamu seperti itu. Apa badanmu tidak sakit? Tidur dengan posisi seperti itu tidak bagus untuk tubuhmu." Ujar Ray.


"Tidak, aku sama sekali tidak kelelahan. Aku hanya mengantuk saja tadi. Ah iya, jam berapa sekarang?"


"Jam lima sore lebih sembilan menit." Jawab Ray.


"Aku tertidur cukup lama sepertinya." Gumam Ana pelan.


"Ada apa?"


"Ah tidak ada. Ayo pulang." Kata Ana, gadis itu mulai membereskan beberapa berkas dan dokumen, juga memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


"Biar aku yang membawa tasnya." Ujar Ray.


"Em, terimakasih." Kata Ana dengan senyumnya.


Gadis itu kemudian menggandeng tangan Ray dan mengajak Ray keluar dari restorannya untuk pulang kerumah. Sebelumnya, Ana menitipkan restorannya lagi kepada karyawan seniornya – Dita yang sekarang menjadi wakilnya untuk mengurus restoran secara penuh.


•••


Di rumah keluarga Ana. Rachel terlihat sedang menyiram bunga yang selalu Ana rawat saat gadis itu pulang ke rumah.


"Kau sepertinya suka berkebun." Ujar seorang pria yang baru saja masuk ke pekarangan rumah itu.


"Assisten Yohan?" Rachel tampak terkejut dengan kehadiran Yohan yang tiba-tiba.


"Sedang apa kau disini? Apa kak Ana dan kak Ray akan datang?"


"Tidak, aku— hanya tidak sengaja lewat sini." Jawab Yohan.


"Aaa begitu. Tapi, bukankah jika kau lewat sini, itu lebih jauh dari jalan biasa yang kau lewati untuk sampai ke apartemen mu?"


"Itu karena ada urusan perusahaan di dekat sini. Oh iya, ini untuk Nana." Yohan memberikan satu kantung plastik putih berisi susu formula.


"Eh?"


"Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa." Setelah memberikannya pada Rachel, Yohan pergi keluar dari pekarangan rumah itu dan masuk ke dalam mobilnya yang ia parkir di depan gerbang rumah.


Rachel menatap pria itu aneh dan juga heran, tapi kemudian ia tersenyum melihat kantung plastik yang ada ditangannya.