The Destiny

The Destiny
Helenium (Air Mata)



Rachel mengusap air matanya, ia berjalan mengikuti dokter Brian yang sedang menuju bagian ICU.


Saat ingin ikut masuk, Rachel di larang untuk masuk ke dalam, ia harus menunggu diluar, apalagi dirinya sedang hamil, ICU tidak boleh di masuki sembarangan orang, semua harus sesuai prosedur.


Kemudian, Rachel melangkah lemas ke arah kursi tunggu, ia duduk disana, kepalanya tertunduk lesu. Ingin menangis tapi seolah air matanya telah kering.


Rachel kemudian teringat perkataan dokter Brian untuk memberitahu suami Ana. Rachel tidak ingin melakukannya, tapi— melihat kondisi dirinya sendiri, membuatnya harus memikirkannya lagi.


Berulangkali ia memikirkannya, akhirnya Rachel pun memutuskan untuk menghubungi Ray.


Dengan ragu, Rachel mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu membuka kunci layar ponsel itu.


Rachel menggigit bibir bawahnya, perasaannya campur aduk, ia kesal pada dirinya yang harus lemah saat ini, jika saja dirinya tidak sedang hamil dan lemah seperti ini, ia pasti tidak akan memberitahu siapapun tentang kondisi Ana, karena itu adalah janjinya pada Ana, untuk tidak memberitahukan kondisi Ana pada siapapun.


Dalam hatinya, Rachel berkali-kali mengucapkan maaf pada Ana karena tidak bisa menepati janjinya itu.


Rachel benar-benar terpaksa melakukan ini.


Dengan air mata yang menetes lagi, Rachel— dengan terpaksa, ia menghubungi Ray.


•••


Disisi lain, Ray sedang berada di ruang kerja rumahnya, ia kembali absen tidak masuk kantor dengan alasan tidak enak badan, padahal itu karena hatinya yang sedang merasa gundah.


Yohan masuk keruangan itu dengan membawa sebuah map, ia membungkuk hormat pada Ray, lalu meletakkan map itu diatas meja tuan-nya.


Ray mengernyitkan keningnya, ia menunggu assisten-nya itu untuk menjelaskan apa isi map itu dan kenapa ia memberikannya pada Ray.


"Saya rasa, saya sudah menemukan nona Angel tuan." Ujar assisten Yohan.


"Dia putri dari Ketua Anderson Ussa." Ujar Yohan, melanjutkan perkataannya.


Ray tampak terkejut, ia merasa itu tidak masuk akal, bagaimana bisa— Angel adalah anak dari musuhnya.


"Kau yakin itu Angel?" Tanya Ray.


"Saya yakin tuan. Karena mobil yang dikendarai anak perempuan di foto kemarin itu adalah milik ketua Ussa, sang pemilik perusahaan Ussa."


"Karena itu mobil ketua Ussa, jadi kau menyimpulkan anak perempuan yang masuk ke dalam mobil itu adalah anaknya?" Tanya Ray.


"Orang tua nona angel bercerai saat nona Angel baru berusia satu tahun, sejak saat itu ia dibesarkan oleh ibunya sampai berumur sembilan tahun, tapi kemudian ibunya menikah lagi dan menyerahkan nona Angel kepada ayahnya." Ujar assisten Yohan.


"Dan ayahnya itu adalah Anderson Ussa?"


"Iya, benar tuan, itu yang saya dapat dari beberapa informan."


Ray menutup matanya sejenak, ia mengusap wajahnya kasar, kenapa semuanya menjadi semakin rumit seperti ini.


"Siapa namanya?" Tanya Ray.


"Nama perempuan itu tuan?"


"Iya."


"Angelina Anita Ussa."


Ray mengernyit aneh,


"Jadi namanya memang angel?"


"Tidak tuan. Dulu— sebelum akhirnya ia ikut dengan ayahnya, namanya adalah Anita Ussa, lalu kemudian, ia menambahkan Angelina di depan namanya. Dari yang saya dengar, ia sengaja menambahkan nama itu untuk mengingat seorang pria masa kecilnya." Ujar assisten Yohan.


Ray menghembuskan nafas beratnya, ia mencoba mencerna atas apa yang baru saja Yohan katakan. Semua terdengar masuk akal, tapi rasanya Ray masih belum puas.


Ponsel Ray bergetar, terlihat panggilan masuk dari Rachel. Pria itu hanya diam menatapnya, sesaat ia berpikir untuk mengabaikannya, tapi saat wajah Ana kembali melintas di memorinya, ia langsung mengangkat panggilan itu.


"Halo? Halo kak Ray." Suara Rachel terdengar parau di telinga Ray, ia seperti berbicara sambil menangis. Itu membuat perasaan tidak nyaman di hati Ray kembali muncul lagi.


"Ada apa denganmu?" Tanya Ray.


"Kak Ana. Ah— bagaimana aku harus mengatakannya, aku tidak bisa menjelaskannya disini, tapi tolong, cepat datang ke rumah sakit. Kak Ana masuk ICU, dia—" Belum sempat Rachel menyelesaikan perkataannya, baterai ponsel Rachel habis, panggilan pun terputus sepihak.


Ray tidak peduli dengan perkataan Rachel selanjutnya, karena otaknya sudah kosong saat ia mendengar jika Ana masuk ruang ICU. Ingatan Ana yang berpamitan dan melambaikan tangan dengan senyuman pun kembali terputar di benaknya, semua itu bagaikan perpisahan selamat tinggal.


Tubuh Ray terasa lemas, ia berdiri dari kursi kerjanya, tapi tiba-tiba terhuyung, ia kehilangan keseimbangannya, jika Yohan tidak menopangnya, mungkin saja Ray sudah terjatuh ke lantai.


"Tuan, apa anda baik-baik saja? Ada masalah apa?" Tanya assisten Yohan yang melihat raut terkejut, panik, dan khawatir di wajah tuannya itu.


"Kunci mobil." Gumam Ray, dengan keadaan yang masih linglung, Ray mencari kunci mobilnya, tapi kepanikan membuat seseorang semakin sulit mencari sesuatu yang diinginkan.


Ray mengobrak-abrik meja kerjanya, bahkan ia tidak peduli melemparkan map yang berisi dokumen Angel, ia juga sudah melupakan kabar ditemukannya Angel, yang seharusnya itu membuatnya bahagia.


"Dimana kunci mobilku?!"


"Kunci mobil tuan, ada di saku celana tuan." Ujar Yohan sembari menunjuk ke arah kunci mobil yang terlihat muncul di balik saku celana Ray


"Ck, kenapa tidak mengatakannya sejak tadi?!"


Dengan gerakan cepat, Ray langsung mengambil kunci mobil itu dan berlari menuju mobilnya.


Ia melajukan mobil itu seperti sedang mengendarai mobil ambulans yang membawa pasien gawat darurat.


Sesampainya di rumah sakit, pria itu langsung memarkirkan mobilnya ke area parkir. Lalu ia berlari seperti seorang buronan yang sedang di kejar polisi. Tidak peduli berapa banyak orang yang memakinya karena ia menabrak mereka, kaki Ray terus berlari cepat menuju ruang ICU.


Pria itu terus berlari, setiap kali senyuman Ana dan lambaian tangan Ana melintasi kepalanya, ia merasakan sesak dihatinya, ia merasa takut, tanpa ia sadari perlahan air matanya menetes.


Ketika kakinya menginjak area ICU, dari kejauhan, ia bisa melihat sosok Rachel yang masih menangis tersedu-sedu. Melihat itu, hati Ray semakin gelisah, ia berhenti berlari dan melangkah cepat ke arah Rachel.


"Rachel." Panggil Ray, pria itu masih terengah-engah, ia berjalan mendekati Rachel.


"Katakan apa yang terjadi? Apa Ana mengalami kecelakaan?!" Tanya Ray, ia tidak tahu kalau Ana berpamitan pada-nya pagi tadi untuk pergi ke rumah sakit, bukan untuk pergi ke bandara. Jadi, Ray berpikir kalau Ana mengalami kecelakaan.


Rachel menggelengkan kepalanya,


"Bukan."


"Lalu kenapa dia masuk rumah sakit? Apa yang terjadi?!"


"Aku minta maaf karena tidak memberitahukan hal ini sebelumnya, tapi kak Ana yang menyuruhku untuk merahasiakan hal ini. Ia tidak mau membuat orang-orang yang disayanginya dibuat khawatir olehnya." Ujar Rachel dengan tangisan yang mengiringi perkataannya.


"Apa maksudmu? Katakan saja intinya!"


"Sebenarnya, kak Ana tidak pergi ke luar negeri, itu semua hanya alasannya agar ia bisa menjalani operasi paru-parunya tanpa ada yang tau."


Ray terperangah mendengarnya, ia bahkan sampai jatuh berlutut, tubuhnya bergetar, ia merasa tidak berdaya.


"Kak Ana menderita pneumotoraks, hari ini ia seharusnya operasi, tapi seakan ujian dari tuhan belum berakhir, ia bertabrakan dengan tim kode blue yang sedang membawa defibrillator, rongga dadanya terbentur benda itu, dan kepalanya menghantam lantai rumah sakit. Dokter bilang dia mengalami cedera otak ringan, tapi itu bukan masalah besar, yang sedang di khawatirkan sekarang adalah paru-parunya."


Rachel menghela nafasnya, dengan sesenggukan ia kembali melanjutkan perkataannya.


"Tapi, mendengar itu semua, hatiku sedikit lega, karena pada awalnya, aku pikir kak Ana mengalami tension ptx. Kalau kak Ana sampai mengalaminya, dua menit sampai lima menit tension ptx terjadi, kak Ana bisa meninggal saat itu juga jika tidak ada penanganan cepat."


Ray mengepalkan tangannya kuat, ia sungguh tidak menyangka kalau Ana selama ini menyembunyikan penyakitnya itu dari dirinya. Padahal, selama ini gadis itu terlihat ceria dan selalu tersenyum.


Mengingat wajah Ana yang tersenyum bahagia di saat seperti ini, hanya membuat hati Ray semakin terasa sakit. Ia rindu senyum gadis itu.