The Destiny

The Destiny
Episode spesial : Miya dan Yohan (Goodbye love)



 


Bersamamu adalah harapan terindah dalam hidupku, tapi melupakanmu adalah keinginan terbesarku. Bahagialah bersamanya — The destiny \(eps. spesial Yohan Miya\)


 


 


✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍


Langit biru membumbung tinggi diatas sana, awan putih berjalan perlahan seakan-akan sedang mengelilingi dunia. Matahari bersinar terang, menyorotkan cahaya yang seakan menyimbolkan sebuah keceriaan.


Namun, itu semua hanya seperti saat kita membuka mata dan menutup mata. Dunia tampak terang saat mata terbuka, dan dunia akan tampak gelap saat mata tertutup.


Begitulah sekarang, awan putih berlalu pergi, berganti dengan awan hitam yang menyapa. Langit biru tak lagi terlihat, matahari tertutup oleh mendung yang mulai mengeluarkan kilatan cahaya petir.


Hal-hal seperti ini adalah sebuah contoh dari kehidupan. Adakalanya, hidup terasa bersinar terang, dimana bahagia dan tawa selalu menyapa. Tapi juga adakalanya, hidup menjadi kelabu dan gelap, dimana mendung selalu hadir dalam setiap waktu.


Sebuah harapan adalah mimpi yang tidak pernah tertidur. Namun terkadang, harapan adalah sebuah mimpi buruk. Berharap terlalu tinggi, berjuang untuk harapan, tersakiti karena harapan, dan kecewa karena harapan.


Itulah yang gadis ini rasakan, menangisi robeknya harapan yang telah lama ia rajut. Air matanya bahkan terasa mengering.


Tarikan nafas dan hembusan nafas, seakan telah menjadi makanannya akhir-akhir ini.


Miya menatap pusaran makam seseorang yang sangat berarti baginya. Selama ini ia menghabiskan banyak waktu bersama orang yang telah pergi selama dua tahun itu.


"Ibu Anjani, aku pikir, aku tidak bisa menempati janjiku untuk terus berada disisi putramu. Karena dia—dia bukan tercipta untukku. Hatinya kini milik perempuan lain, dan baginya, aku ini sejak awal hanyalah seorang adik untuknya." Ucap Miya lirih.


•••


Setelah ibu Yohan meninggal dua tahun yang lalu, Miya tentu harus mencari pekerjaan lain untuk menyambung hidupnya.


Kini dirinya bekerja di salah satu rumah sakit universitas di kota itu. Dia bekerja sebagai perawat di bagian unit gawat darurat.


Hari-harinya terasa hambar, setiap hari hanya melakukan aktivitas seperti biasa tanpa adanya warna lain.


"Miya, bisakah kau ambilkan obat-obat ini di bagian farmasi?" Pinta seorang dokter padanya, dokter itu memberikan selembar kertas berisi daftar obat-obatan pada Miya.


"Iya tentu saja." Jawab Miya.


"Terimakasih." Ujar dokter itu yang dijawab dengan senyuman oleh Miya. Setelah itu, Miya pergi dari sana menuju bagian farmasi.


Miya berjalan melewati ruang tunggu, beberapa pasien yang mengenalnya terlihat menyapa perempuan itu, lemparan senyuman banyak terarah padanya. Di sana ia terkenal sebagai seorang perawat yang baik hati. Banyak pasien yang datang dan meminta Miya untuk merawat mereka, sikap Miya yang ramah pada pasien, membuat para pasien-pasien itu merasa nyaman dan senang.


Sesampainya di bagian farmasi Miya masuk dengan kartu identitasnya, kemudian ia menyerahkan selembar kertas berisi daftar obat kepada salah satu orang dibagian farmasi itu.


"Tunggu saja diluar, nanti kalau sudah kami siapkan semua, akan kami berikan padamu." Ujar salah seorang bagian farmasi.


Miya mengangguk dengan senyuman, ia kemudian pergi keluar dari ruangan itu, menunggu di kursi tunggu yang tersedia di sana.


"Miya." Gadis itu langsung menoleh saat mendengar namanya dipanggil oleh seseorang dengan suara yang sangat familiar ditelinganya.


"Kak yohan? Sedang apa di rumah sakit?" Tanya Miya, ia berdiri saat pria itu berjalan mendekatinya.


"Aku sedang mengambil resep obat." Jawab Yohan.


"Tidak demam." Ucap Miya pada dirinya sendiri.


Yohan memegang tangan Miya yang masih menempel di keningnya, pria itu menurunkan tangan gadis itu.


"Aku baik-baik saja. Ini obat untuk Nana, dia sedang demam." Kata Yohan.


"Nana? Maksudnya anak perempuan dari Rachel?"


Yohan menganggukkan kepala,


"Ah iya, kau sekarang bekerja disini?" Tanya Yohan mengalihkan topik pembicaraan saat dirinya menangkap raut wajah sedih dari perempuan itu.


"Iya." Jawab Miya, gadis itu kembali duduk di kursi tunggu.


"Kau—terlihat luar biasa dengan seragam perawat itu. Pasti akan ada banyak pria yang memperebutkan hatimu." Ujar Yohan yang berusaha mendinginkan rasa gemuruh yang melanda hati Miya.


Miya tersenyum miris mendengar ucapan yang keluar dari mulut pria itu.


"Kau sedang memintaku untuk melupakan dirimu ya?" Tanya Miya masih dengan kepala tertunduk.


Yohan diam, ia merasa tak enak hati melihatnya.


"Miya, kau tahu kan, masalah hati tidak dapat dipaksakan. Aku sudah minta maaf padamu beberapa tahun yang lalu. Apa sekarang kau masih belum bisa melupakan perasaanmu padaku juga?"


"Karena itu—karena masalah hati tidak dapat dipaksakan, kau tidak berhak menyuruhku untuk cepat-cepat melupakan dirimu. Sekalipun kau telah menolakku dan memiliki perempuan lain yang kau cintai. Bukan hal yang mudah untuk semua itu, sekalipun aku menginginkan nya, aku tetap kesulitan untuk melepaskan semua tentangmu di hati dan kepalaku." Jawab Miya, kini dengan wajah yang menatapnya sendu.


"Maaf." Ucap Yohan yang tak dapat berkata-kata lagi.


Miya menggigit bibirnya, menahan tangisan yang akan keluar.


"Tentang bagaimana perasaanku padamu, jangan pedulikan itu. Karena itu adalah urusanku. Walaupun hati dan pikiran ku masih milikmu, tapi bukan berarti diri ini harus memiliki mu. Jangan takut jika aku akan merusak kehidupan mu bersamanya. Karena aku, aku akan melupakan mu, entah kapan hari itu akan datang, tapi percayalah, saat ini aku butuh waktu untuk semua itu." Ujar Miya.


"Perawat Miya dari bagian UGD?" Panggil seseorang dari ruang farmasi.


Miya berdiri dari duduknya,


"Iya, saya disini." Jawab Miya pada orang farmasi itu.


Sebelum pergi dari hadapan Yohan, perempuan itu menatap pria yang telah dicintainya selama belasan tahun lamanya dengan raut wajah yang dipaksakan untuk tersenyum.


"Aku ini adalah adik bagimu kan? Kalau begitu, seorang adik juga akan bahagia ketika kakaknya bahagia. Kak, semoga kau bahagia bersama orang yang telah berhasil memiliki hatimu. Aku—aku pergi dulu, selamat tinggal dan sampai jumpa." Ucap Miya, ia pergi dengan meninggalkan senyuman berurai kesedihan pada pria itu.


"Maaf, Miya." Gumam Yohan dengan raut sedihnya.


Cinta itu hanya sebuah kata yang di deskripsikan oleh perasaan seseorang. Karenanya, tidak ada yang pernah tahu, apa arti cinta secara pasti. Definisi tentang cinta, memiliki banyak cabang pengertian, semua tergantung pada takdir cinta yang menyapa mereka.


Rasa sakit yang ditimbulkan karena cinta yang telah mematahkan hati seseorang merupakan sebuah pembelajaran, bahwa cinta tidak selamanya berujung pada kebahagiaan dan juga— jika memang orang yang dicintai saat ini menimbulkan rasa sakit seperti itu, maka itu berarti tuhan sedang berkata bahwa dia bukan takdirmu. Karena ada takdir lain yang sedang menunggu.


Cukup bukalah pikiran dan lapangkan hati, melangkah kedepan dengan senyuman, sapa masa lalu sebagai sebuah pengalaman, lalu sapa masa depan dengan pembelajaran dari masa lalu. Akan terlihat di depan sana seseorang lain, yang sedang melambaikan hatinya pada—mu, Miya.


End.✍