The Destiny

The Destiny
Malam Setelah Pernikahan



Malam sudah semakin larut, tamu undangan satu persatu berpamitan untuk pulang, keluarga Ana pun juga telah pulang beberapa menit yang lalu.


Ray melonggarkan dasinya, semua rekan bisnis yang di undangnya sudah tak ada lagi, disana hanya tinggal beberapa direktur, manager, dan karyawan di perusahaannya.


"Kenapa kau terus mengikutiku?!" Tanya Ray pada assisten Yohan yang terus mengekorinya itu.


"Memangnya kenapa tuan?"


Yohan masih tak paham, karena biasanya ia memang mengikuti kemanapun Ray pergi, sudah menjadi tugasnya sebagai assisten untuk selalu ada di samping Ray, itulah yang dipikirkan Yohan.


"Jika orang tidak tahu, mereka akan mengira orang yang aku nikahi itu kau! Jangan mengikutiku lagi!" Kata Ray.


"Maaf tuan, saya tidak bermaksud seperti itu."


"Ah sudahlah. Aku akan kembali ke kamar hotel untuk istirahat."


"Iya tuan."


"Jangan mengikutiku! Kau benar-benar membuatku merinding." Ujar Ray, pria itu kemudian melangkah keluar ruangan menuju kamar hotel.


Sesampainya di kamar hotelnya, Ray membuka pintu, ia menarik dasinya, melemparkannya ke sembarang arah.


Pria itu duduk di sofa yang ada di dalam kamar hotel itu. Matanya menyapu segala arah, mencari seseorang yang kini telah menjadi istrinya.


"Istriku?!" Panggil Ray.


Tapi, beberapakali ia memanggil Ana dengan panggilan itu, tidak ada jawaban dan tidak ada yang datang menghampirinya.


Ray mengerutkan keningnya, rasa kesal mulai menyelimuti dirinya.


"Keana Mauli!" Teriak Ray, tapi tetap tidak ada jawaban.


Apa perempuan itu sedang mandi atau tidur di dalam kamar mandi? Dia itu tuli atau pura-pura tuli? Kenapa tidak menjawab panggilanku! Awas saja kau! — Batin Ray.


Ray mengetuk pintu kamar mandi, tapi tidak ada jawaban dari dalam sana. Pria itu kemudian memegang handle pintu kamar mandi dan membukanya, ternyata pintu itu tidak dikunci. Ray pun masuk ke dalam, tapi tidak ada siapapun di dalam kamar mandi itu.


Kemana perginya anjing liar itu?! Ah salahku yang tidak mengikatnya, sekarang dia entah ada dimana. Awas saja kalau dia berani kabur dariku. — Batin Ray kesal.


Pria itu kemudian melangkah ke arah tempat tidur, ia membuka tuxedo dan melemparkannya ke atas ranjang. Saat itulah ia merasa ada yang aneh dengan selimut itu.


Ada sesuatu yang bergerak di balik selimut itu. Ray tersenyum miring, seperti menemukan jawaban dari teka-teki sulit, Ray langsung membuka selimut itu.


Disana Ana meringkuk memeluk guling dengan mata terpejam.


Ray mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu, ia merasakan hembusan nafas tenang dari Ana, gadis itu tertidur pulas, bahkan saat Ray berteriak pun ia tidak terbangun.


"Beraninya kau tidur dengan tenang seperti itu, kau mencoba melawan perintahku ya?! Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menungguku kembali?! Sial." Ucap Ray.


Ray tiba-tiba mengangkat tubuh Ana, gadis itu menggeliatkan badannya ketika merasa tidurnya terusik. Tapi kemudian, ia kembali tertidur dengan pulas.


Setelah itu, Ray membawa tubuh Ana masuk kedalam kamar mandi. Sebelumnya, Ray mengisi air di bathtub sampai penuh, lalu melemparkan tubuh Ana kedalam bathtub berukuran besar itu.


Ana yang saat itu masih tertidur pulas, lalu tiba-tiba dilempar kedalam air, rasanya seperti mimpi tenggelam didalam lautan.


Gadis itu terkejut dan langsung bangun dari tidurnya, hidungnya terasa perih karena menghirup air.


Ana mengerjapkan matanya beberapa kali, ia masih berpikir jika dirinya sedang bermimpi, gadis itu belum menyadari seorang Raymond yang berdiri disampingnya.


Saat sadar itu bukan mimpi, Ana menolehkan kepalanya ke samping, saat itulah, ia melihat Ray menatapnya tajam.


Ana terkejut, gadis itu berteriak cukup keras, seakan-akan ia baru saja melihat penampakan hantu.


Sedangkan Ray, pria itu masih diam dengan ekspresi datarnya. Kemudian, ia menarik paksa Ana untuk keluar dari bathtub itu.


Ray menarik paksa Ana keluar dari bathtub, Ana meringis merasakan cengkeraman tangan Ray pada tangannya yang terlalu kuat.


"Lepas baju yang kau pakai!" Ray menunjuk kemeja hitamnya yang dipakai Ana kini basah kuyup.


Ana membelalakkan matanya, ia mencoba melepaskan tangan Ray yang masih memegang lengannya erat.


"Siapa yang menyuruhmu memakai pakaianku?! Dan siapa yang menyuruhmu tidur sebelum aku kembali?!"


Ana terlonjak kaget dengan bentakan Ray. Seketika, nyali gadis itu langsung menciut, ia bahkan tidak berani menatap Ray.


"Lepas!" Ray menarik kemeja yang dikenakan Ana, pria itu sangat tidak suka jika barang-barangnya disentuh oleh orang lain tanpa seijinnya, bahkan assistennya sekalipun.


"Aku mohon jangan, aku akan melepasnya sendiri." Pinta Ana.


Ray melepaskan tangannya dari Ana, gadis itu mundur beberapa langkah menjauh dari Ray.


"Keluarlah, aku akan melepasnya." Ucap Ana.


"Aku suamimu, kenapa aku harus keluar." Kata Ray dengan santainya.


Ana menghela nafasnya,


"Kau sedang memerintahku?!"


"Tidak tidak, kau salah paham. Aku—aku sedang memohon kepadamu." Ujar Ana.


Ray diam, pria itu menatapnya beberapa saat,


"Kalau begitu, memohon dengan benar."


"Tuan Raymond yang terhormat. Bisakah anda keluar? Saya ingin berganti pakaian." Ucap Ana.


Tapi, walaupun Ana sudah memohon seperti itu. Ray masih diam ditempatnya, ia masih belum keluar juga. Pria itu masih terus menatap Ana, seperti menunggu sesuatu dari gadis itu.


"Aku sudah memohon kepadamu, kenapa kau masih belum keluar juga?" Tanya Ana.


"Memohon dengan berlutut." Ucap Ray.


Pria itu ingat, saat dirumah Ana waktu itu. Ana— dengan harga dirinya yang tinggi, menolak untuk berlutut di hadapannya, dan saat ini— Ray ingin melihat bagaimana Ana menurunkan harga dirinya itu dan berlutut di hadapannya.


"Aku benar-benar ingin membunuhnya." Gumam Ana yang terdengar seperti bisikan bagi Ray.


"Apa yang kau gumamkan? Kau sedang menyumpahi ku ya?!"


"Tidak, mana mungkin aku berani seperti itu." Jawab Ana sembari tersenyum kaku.


"Cepat! Memohon dan berlututlah di hadapanku atau— kau memang ingin aku membantumu membuka kemeja milikku itu?"


Ana mengumpat dalam hatinya, tapi walaupun ia kesal dan ingin mencakar wajah pria itu. Pada akhirnya, Ana berlutut dihadapan Ray dan mengulangi kembali kalimat permohonannya tadi.


"Bagus." Ucap Ray, setelah itu, ia pergi keluar kamar mandi dan menutup pintunya kembali.


Melihat Ray yang sudah keluar, Ana bergegas mengunci pintu kamar mandi itu, berjaga-jaga kalau saja pria itu masuk kembali kedalam.


Ana melepas kemeja hitam milik Ray yang sudah basah kuyup itu, kemudian ia mengambil handuk kimono dan memakainya.


Setelah itu, ia membuka kunci pintu dan keluar dari dalam kamar mandi.


Saat kakinya kembali menginjak kamar tidur hotel, pandangan Ana menangkap Ray yang sedang duduk di sofa sembari memainkan ponsel-nya.


Ana berjalan perlahan melewati Ray, gadis itu naik dengan gerakan pelan naik keatas tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Ray melirik Ana,


"Siapa yang menyuruhmu tidur?!!"


Mendengar itu, Ana refleks langsung duduk.


Sekarang apalagi yang dia inginkan?! — Batin Ana, kesal.


Ray menatap Ana cukup lama, membuat gadis itu merasa risih karenanya.


"Kenapa tidak mengganti pakaianmu? Kau sedang menggodaku dengan memakai handuk itu?" Tanya Ray.


Siapa yang ingin menggodamu! Kalau saja ada pakaian yang layak dipakai untukku, tentu aku akan memakainya. — Batin Ana.


"Cepat pakai bajumu. Kau pikir dengan memakai handuk seperti itu, kau bisa menggodaku? Kau bukan tipeku, melihatmu saja nafsu terdalamku langsung hilang."


Oh ya ampun, aku sangat bersyukur kalau memang kau sangat tidak bernafsu padaku. — Batin Ana, lagi.


"Kenapa masih diam saja? Apa kau benar-benar berniat menggodaku?!"


"Siapa yang ingin menggodamu?! Aku hanya tidak mau memakai pakaian laknat itu! Lebih baik aku memakai handuk ini daripada memakai pakaian itu." Ujar Ana sembari menunjuk lemari pakaiannya.


Ray pun berjalan mengikuti arah tunjuk jari Ana. Pria itu kemudian membuka lemari pakaian Ana.


Sama seperti Ana, Ray juga menampilkan ekspresi wajah terkejutnya ketika melihat isi lemari pakaian itu.


Yohan sialan! Pakaian macam apa ini?! — Batin Ray.


Pria itu pun mengambil semua isi lemari pakaian itu. Kemudian membawanya keluar kamar hotel, ia memberikannya kepada housekeeping yang kebetulan berada dilantai itu.


Tak lama kemudian, pria itu kembali masuk ke dalam kamar hotelnya.


Ray masuk dan langsung duduk di tempat ia duduk sebelumnya.


"Ada apa dengan tatapanmu itu?" Tanya Ray ketika sudut matanya menangkap Ana yang terus menatapnya dalam diam.


"Apa sekarang aku boleh tidur?" Tanya Ana dengan raut wajah yang sudah tidak kuat lagi menahan rasa kantuknya.


Ray diam menatap gadis itu, melihat Ana seperti itu, membuat Ray merasa gemas padanya.


"Ya, tidurlah." Ucap Ray.


Setelah mendapat persetujuan dari Ray. Gadis itu langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, mencari posisi nyaman dan kembali terlelap tanpa mempedulikan sosok Ray yang masih memperhatikannya.