The Destiny

The Destiny
Try (2)



•••


"Kenapa kau tidak bisa?" Tanya Ray yang hanya melihat Alex diam.


Ray tidak pernah melihat pria didepannya ini menjadi bungkam dengan wajah frustasi seperti ini sebelumnya. Alex yang selalu menampilkan senyuman-nya, sekarang seperti orang berbeda.


"Aku tidak tahu harus memberitahumu alasan yang sebenarnya atau yang ada di hatiku?"


Ray menghembuskan nafas beratnya,


"Menggabungkan kedua alasan itu— bukan sesuatu yang buruk." Jawab Ray.


Alex mengangkat wajahnya, menatap kakaknya itu.


"Apa alasan sebenarnya dan apa alasan yang kau rasakan dihatimu, membandingkan kedua alasan itu, mungkin saja kau bisa menemukan celah untuk sebuah solusi disana." Ujar Ray.


"Alasan sebenarnya, aku masih belum siap untuk menikah, aku pikir itu sesuatu yang sulit ku jalani, aku masih belum dewasa dan banyak belajar. Lalu, alasan di hatiku, aku tidak ingin menyakiti dirinya dengan memaksanya untuk menikah denganku, karena aku pikir dia menyukai laki-laki lain." Kata Alex.


Ray berbalik membelakangi Alex, tatapannya terarah pada luar jendela gedung lantai lima belas itu.


"Jadi begitu. Kau pada awalnya hanya diam saja untuk menutupi semua itu, karena dirimu tidak siap menerima kenyataan. Tapi sebenarnya, hatimu itu masih ada rasa tanggung jawab, hanya saja ia muncul di saat yang kurang tepat."


Kini Alex yang menghela napasnya, ingatan malam itu kembali terlintas di memorinya, dimana Rachel dan Yohan tampak tertawa bersama.


"Saat dia hamil, aku merasa lebih baik diam dan berpura-pura tidak tahu. Tapi, saat melihat anak itu, aku merasakan sesuatu yang lain. Hanya saja, aku selalu berpikir jika aku bukan orang yang baik untuknya. Dan aku pikir itu benar, ada orang lain yang lebih baik untuknya." Ujar Alex.


"Dia dekat dengan pria lain?" Tanya Ray yang masih belum mengerti.


"Apa itu tidak terlihat jelas bagi kakak? Assisten Yohan dan Rachel." Ucap Alex lirih.


Ray terpaku mendengarnya, benar, itu kata yang muncul di kepalanya. Ia pun juga mengingat dimana Yohan dan Rachel tampak begitu dekat belakangan ini.


"Tapi itu bukan berarti ada hubungan khusus diantara mereka." Kata Ray.


"Aku tidak tahu itu, kakak bisa menanyakannya langsung pada assisten Yohan. Untuk sekarang, aku butuh waktu berpikir. Tapi, aku pastikan jika masalah ini tidak akan mempengaruhi nama baik keluarga, aku berjanji." Ujar Alex dengan yakin.


"Aku tidak butuh itu Alex, semua yang tahu juga tidak butuh itu. Yang kami inginkan hanyalah kau mengaku pada Rachel dan menemukan solusi bersama." Saran Ray.


Alex mengusap wajahnya putus asa,


"Kak, percayalah padaku. Beri aku waktu."


"Sampai kapan?! Sampai kau menyesal dan terus merasa bersalah?!" Bentak Ray yang geram dengan cara berpikir adiknya.


"Temui dia dan akui semua kesalahanmu, setidaknya kau mengaku dan meminta maaf padanya." Ujar Ray.


Alex masih diam.


"Alex!"


"Iya, aku mengerti." Ucapnya pasrah.


"Maaf jika aku memaksamu, tapi ini langkah awal yang akan membuatmu merasa bersyukur di kemudian hari."


Alex mengangguk lesu,


"Hm, kalau begitu aku permisi." Ujar Alex tanpa menatap kakaknya, ia berlalu meninggalkan ruangan itu.


Ray memijat pelipisnya saat melihat pintu ruangan itu telah tertutup. Jadi, seperti ini rasanya mengurus seorang adik. Dalam hatinya, ia sangat ingin marah pada Alex, tapi mengingat diri Alex adalah adiknya, entah kenapa hatinya tiba-tiba mereda dan ingin memahami situasi Alex.


•••


Yohan berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan setelah memberikan laptop yang Ray banting tadi pada anggota di markas pusat yang telah ia hubungi sebelumnya.


Assisten pribadi Ray itu kini masuk ke dalam lift khusus eksekutif menuju lantai lima belas.


Saat lift itu terbuka, dihadapannya terlihat sosok Alex yang menunggu di depan pintu lift.


Mereka berdua saling bertatap muka cukup lama, raut datar dari kedua pria itu tak dapat terbaca, apa yang sebenarnya mereka katakan dalam pikiran masing-masing.


Alex maupun Yohan, seakan-akan mereka itu sedang melakukan telepati satu sama lain.


"Kau pernah berkata, jika kau tidak peduli dengan kehidupan ku. Tapi, bagaimana bisa kau mengadukan ini pada kak Ray?" Itu adalah ungkapan sindiran untuk Yohan yang mulai berjalan keluar lift.


Yohan menghentikan langkahnya, diam, dan kemudian menoleh sedikit pada Alex yang berlawanan arah dengannya.


"Kau pikir, aku yang memberikan video itu? Sudah aku katakan, jika masalah yang kau buat ini membuatku dan tuan Ray susah." Jawabnya kemudian kembali berjalan.


"Jadi itu bukan kau? Lalu siapa?" Tanya Alex.


"Ck, kau suka sekali menghalangi orang untuk berjalan dengan tenang. Aku tidak tahu, kami sedang menyelidiki nya. Kau, jika ada seseorang yang kau ingat bertentangan dengan mu, katakan padaku. Mungkin itu sedikit membantu." Katanya kemudian benar-benar berlalu pergi meninggalkan Alex yang masih diam.


Pria itu tampak berpikir dengan apa yang Yohan katakan.


Seseorang yang mungkin menjadi musuhnya, seseorang yang meletakkan kamera itu secara diam-diam.