The Destiny

The Destiny
Wake Up



"Ana, ini aku— Ray." Ujar Ray.


Ana mengernyitkan keningnya, dalam hatinya ia kembali mengulang nama itu, Ray?


"Ana." Panggilnya lagi.


Ana menatap Ray, ia memandang pria itu cukup lama, kemudian tersenyum.


"Ray." Ucap Ana lirih.


Ray mengehembuskan nafas lega,


"Aku pikir kau hilang ingatan setelah beberapa hari tidak sadarkan diri."


"Apa selama itu, tapi bagaimana kau bisa ada disini?" Tanya Ana.


"Saat itu kondisimu sangat mengkhawatirkan, jadi Rachel menghubungiku." Jawab Ray.


"Rachel pasti kesulitan karena-ku, apa dia baik-baik saja?" Tanya Ana dengan wajah cemasnya.


"Beberapa hari yang lalu, dia terlihat kurang baik karena harus berlarian kesana kemari. Tapi sekarang, Rachel sudah baik-baik saja."


Ana menundukkan kepalanya, ia merasa bersalah pada adik tirinya itu, ia pasti membuat Rachel kesulitan saat ia tak sadarkan diri.


"Apa keluargaku tahu tentang hal ini?" Tanya Ana, ia mendongakkan kepalanya dan menatap Ray.


"Eng— iya, itu karena mereka harus tau kondisi-mu. Ana, kau tidak seharusnya menyembunyikan rasa sakitmu. Jika sakit maka katakan sakit, jangan berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja. Apa kau tidak tau bagaimana kecewa dan sedihnya kami melihat kondisi-mu yang seperti ini sedangkan kami tidak tahu apa-apa sebelumnya." Ujar Ray.


Ana menundukkan kepalanya lagi, ia menggigit bibir bawahnya, dan kembali merasa bersalah.


"Maaf." Ucap Ana.


"Sudahlah, yang terpenting sekarang kau baik-baik saja. Aku sangat bersyukur." Ucap Ray sembari meraih tangan Ana dan menggenggamnya.


"Terimakasih sudah bertahan, terimakasih Ana." Ujar Ray lagi dengan tatapan hangatnya. Sorot mata pria itu terlihat seperti sedang memancarkan sinaran kasih sayang.


Ana memandang Ray lekat, wajah pria itu terasa lebih familiar dari sebelumnya. Rasanya, seperti ia sudah lama sekali mengenal Ray.


"Ray."


"Hm?" Ray menatap Ana, ia menunggu perkataan selanjutnya dari gadis itu.


"Iya, tapi— kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" Kening Ray berkerut heran.


"Tidak, hanya saja— bolehkah aku tau, untuk apa kau kesana?" Tanya Ana.


Ray terdiam sesaat, entah kenapa Ana tiba-tiba membahasnya, ini membuatnya mengingat tentang laporan assisten Yohan soal anak dari ketua perusahaan Ussa.


Pria itu belum tahu kebenaran pastinya, tapi semua bukti dan penjelasan yang masuk akal, mau tak mau Ray mempercayainya untuk saat ini. Hanya saja hatinya merasa tidak nyaman dan tidak senang, ini diluar dugaannya, ia pikir seharusnya senang dengan kabar ditemukannya Angel.


Ray menghela nafasnya,


"Untuk bertemu seseorang." Jawab Ray.


Ana terdiam, ingatan bawah sadar yang ia alami saat tidak sadarkan diri masih melekat di dalam benaknya.


Kalau itu memang ingatanku yang hilang, apakah mungkin dugaanku benar? Tapi— nama Ray di dunia ini sangat banyak. — Batin Ana.


"Ana, apa kau baik-baik saja?" Tanya Ray yang melihat Ana hanya diam melamun.


"Ah tidak, tidak apa-apa. Eng— kalau boleh tahu lagi, siapa orang yang kau temui?"


Ray terhenyak dengan pertanyaan Ana. Lalu kemudian, ia terlihat mengehembuskan nafas beratnya.


"Angel, aku memanggilnya Angel, dia adalah— cinta pertamaku. Tapi, itu hanya seperti cinta seorang anak kecil saja." Ujar Ray, ia berpura-pura tertawa dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Angel? Apa ini semacam takdir. Tapi, apakah benar yang Ray maksud Angel itu adalah aku? Saat itu, Anita juga mengganti namanya menjadi Angel, sejak hari itu juga, aku memanggilnya Angelin. Jadi— yang Ray maksud itu, Angel diriku atau Anita? Tapi— walaupun Ray memiliki nama yang sama dengan pria itu, bukan berarti dia Ray di masa laluku kan? — Batin Ana.


"Ana, aku keluar sebentar, aku ingin menghubungi keluargamu, terutama si Kenan itu." Ujar Ray, kemudian ia berdiri dari duduknya.


"Ada apa dengan Kenan?" Tanya Ana.


"Adik kesayanganmu itu saat tahu kau sakit seperti ini, dia benar-benar keras kepala dan menyusahkan saja. Dia memintaku untuk memberikannya kabar tentang kondisimu setiap satu jam, merepotkan sekali." Ujar Ray yang diiringi dengan helaan nafasnya. Lalu kemudian, ia berjalan keluar dari kamar perawatan Ana.


Ana menatap punggung Ray yang terlihat tegap dan kokoh itu. Dirinya masih terpikirkan dengan ingatannya yang lama hilang dan sekarang tiba-tiba muncul kembali.


Apa benar Ray yang dulu dan sekarang ini adalah orang yang sama?


Jika itu benar, rasanya sangat luar biasa dan sulit sekali dipercaya.


Tapi, Ana juga tidak bisa langsung mengaggap kalau asumsinya itu benar. Karena, bisa saja itu hanya ingatan palsu pasca amnesia, seperti otak yang memberikan rangsangan palsu pada memorinya. Intinya, Ana harus memastikannya dulu.