
Yohan masuk kedalam apartemennya, ia berjalan menuju kamar yang selalu menjadi tujuan utamanya saat ia pulang ke apartemen.
"Kak Yohan, kau sudah pulang." Ujar perawat pribadi yang merawat ibu Yohan.
"Hm, apa ibu sudah tidur?" Tanya Yohan.
"Iya, baru saja tertidur." Jawab perawat pribadi itu.
Yohan tersenyum, ia kemudian menatap ibunya yang tertidur pulas.
"Apa saja yang dilakukan-nya hari ini?" Tanya Yohan lagi.
"Sama seperti hari-hari biasanya." Jawab perawat pribadi itu.
"Begitu ya." Gumam Yohan sembari menatap ibunya sedih, sudah bertahun-tahun ia melakukan perawatan untuk ibunya tapi wanita paruh baya itu tidak kunjung sembuh dari demensia-nya.
"Tapi kak, sepertinya ibu Anjani ada kemajuan walau hanya sedikit, beberapa kali ia menanyakan kakak dan juga bercerita tentang kakak." Ujar perawat pribadi yang bernama Miya itu.
"Benarkah?"
"Iya."
"Besok kita akan membawanya ke rumah sakit untuk check up."
"Iya."
"Kau pulanglah dan istirahatlah." Ujar Yohan.
"Iya kak, Miya pamit pulang, sampai jumpa." Ucap Miya.
Yohan mengangguk, kemudian berjalan ke arah ibunya. Laki-laki itu membenarkan posisi selimut sang ibu, lalu membelai lembut rambut ibunya.
"Ibu." Panggil Yohan lirih, tiba-tiba ia ingin memanggil ibunya itu.
Mata Yohan tampak berkaca-kaca, ia menggenggam tangan ibunya dan mencium tangan yang sudah keriput itu.
"Aku sayang ibu." Ujar Yohan, ia mencium kening ibunya, kemudian berjalan keluar kamar, pintu kamar ia biarkan terbuka agar ibunya yang menderita demensia itu tidak kesulitan saat ingin keluar kamar atau terjadi sesuatu.
Yohan berjalan menuju kamarnya, masuk kedalam kamarnya, menutup pintunya dan menghidupkan lampu kamar.
Ucapan rasa terimakasih Ray ketika itu kembali membayang dalam benaknya. Tuannya itu secara tiba-tiba mengucapkan terimakasih padanya karena dirinya telah setia berada di samping Ray selama delapan tahun lebih.
Yohan memegang perut di bagian ginjalnya, ia tersenyum tipis, hidup Ray telah terpaut menjadi satu dengannya, ia bisa hidup sampai sekarang karena tuannya.
Lima tahun yang lalu, Yohan mengalami gagal ginjal, ia telah melakukan cuci darah secara rutin, tapi melihat kondisi ginjalnya yang tidak baik, ia harus segera mendapatkan transplantasi ginjal dari keluarganya atau orang yang memiliki ginjal yang cocok dengannya.
Yohan yang hanya memiliki ibunya, tidak mungkin ia tega meminta ginjal sang ibu yang saat itu sudah menderita demensia.
Pada tahun itu, seakan dunia sedang menghujani dirinya dengan batu-batu besar. Ia sangat putus asa dan ingin menyerah dengan hidup-nya.
Tapi, Yohan juga tidak bisa mati begitu saja, ibunya hanya memiliki dirinya, jika ia mati, siapa yang akan menjaga ibunya yang menderita demensia itu.
Di titik terendah seperti itu, ia bahkan sempat berpikir untuk bunuh diri bersama-sama dengan sang ibu.
Tapi, ternyata tuhan masih belum menginginkannya untuk mati.
Seseorang berhati malaikat datang pada-nya dan menawarkan tranplantasi ginjal untuknya.
Yang lebih membuat ini seperti anugerah dari sang kuasa, ginjal mereka cocok. Malaikat penolong itu, dengan keinginannya sendiri, mendonorkan ginjalnya untuk Yohan.
Malaikat penolong itu adalah seorang pria, pria yang telah menjadi tuannya, pria yang sebelumnya telah menolongnya dengan memberikan Yohan pekerjaan sebagai assisten pribadi dan kemudian menolongnya lagi dengan memberikan Yohan satu ginjalnya.
Dia adalah Raymond Yuan Gavin, seorang pria yang memberikan sebagian hidupnya untuk Yohan.
Sejak saat itu, bagi Yohan hidupnya adalah hidup Ray, ia bisa hidup dan bisa merawat ibunya karena pria itu.
Maka dari itu, sebagai rasa terimakasih yang besar, Yohan memutuskan untuk memberikan seluruh sisa hidupnya dengan mengabdikan diri pada Ray sebagai assisten pribadi.
"Terimakasih— Ray." Gumam Yohan, dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Manusia itu makhluk yang bebas dan tidak suka di perintah begitu saja, tidak mungkin seseorang mau menuruti perintah orang lain tanpa sebab. Mereka semua patuh karena suatu hal, seperti uang, kekuasaan atau jabatan.
Tapi, itu hanya apa yang dipikirkan manusia tamak dan munafik. Tidak untuk manusia yang sedang membalas kebaikan dengan ikhlas mengabdikan dirinya dan tetap setia sampai akhir.
Pada dasarnya, kebaikan adalah sebuah investasi yang dapat menghasilkan keuntungan di masa mendatang, tidak peduli sekecil apapun kebaikan itu, semua akan dituai di masa depan.