The Destiny

The Destiny
Hati yang Berkata



Seseorang membuka pintu kamar perawatan Ana dan terlihat berjalan masuk, Ana menoleh kearahnya, itu adalah sepupunya yang sudah lama tidak ia temui.


"Angelin." Gumam Ana.


Anita melangkahkan kakinya mendekati Ana yang berusaha duduk dari tidurnya.


"Biar aku bantu." Ujar Anita, ia meletakan bucket bunga yang ia bawa dan membantu Ana untuk duduk bersandar.


"Terimakasih." Ucap Ana.


Anita tersenyum sekilas, ia kemudian mengambil bucket bunga yang dibawanya dan memberikannya kepada Ana.


"Ini untukmu."


Ana menatap bucket bunga yang telah di pegangnya itu dalam diam.


Krisan kuning? Apa dia tidak tahu apa makna bunga ini atau memang sengaja? Hah, lupakan, perempuan ini memang selalu seperti ini padaku. — Batin Ana.


Krisan kuning melambangkan sebuah cinta yang harus di waspadai, sebuah ancaman, atau sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Maknanya sangat buruk sekali.


Ana menetralkan pikirannya, ia menampilkan senyumannya pada gadis yang kini telah berdiri di samping ranjangnya.


"Maaf, aku terlambat menjengukmu." Ujar Anita.


Ana menggelengkan kepalanya dengan senyum yang masih menghiasi wajah.


"Tidak masalah, bisa melihatmu lagi setelah sekian lama, itu sudah cukup membuatku senang." Ucap Ana.


Aku sangat mengutuk mulutku, kenapa aku mengatakan kebohongan yang bodoh seperti itu. — Batin Ana.


Semenjak ibu Ana meninggal, Anita sangat jarang sekali menghubunginya, bahkan mereka tidak pernah bertemu lagi sejak saat itu.


"Ah iya sudah lama sekali ya. Tapi, ngomong-ngomong, aku dengar kau sudah menikah ya?" Tanya Anita, perempuan itu mengubah ekspresinya dengan raut wajah seolah kecewa.


"Iya."


"Kau tidak mengundangku. Jahat sekali."


"Bukan seperti itu, masalahnya— itu terjadi begitu saja." Ujar Ana.


"Oh begitu ya, apa karena masalah departemen store keluargamu? Waktu itu aku dengar— departemen store ayahmu hampir bangkrut, tapi tiba-tiba kondisinya membaik kembali bahkan profitnya terlihat mengalami peningkatan. Apa itu semacam pernikahan bisnis?"


Ana tersenyum canggung pada Anita,


"Ah iya begitulah" Ujar Ana dengan senyumnya yang dipaksakan.


"Jadi kau terpaksa menikahinya?" Tanya Anita sembari melirik Ray yang berdiri di luar pintu, pria itu hendak masuk, tapi mengurungkan niatnya ketika ia mendengar pertanyaan itu.


"Eng— bisa dikatakan begitu." Jawab Ana, dirinya sudah sangat malas menghadapi Anita. Mungkin saat masih kecil dulu ia terlalu naif pada perempuan itu, tapi ketika usianya menginjak remaja, Ana sadar jika Anita seperti parasit untuknya.


Anita selalu menempel kemanapun Ana pergi, perempuan itu juga selalu bersekolah di sekolah yang sama dengan Ana, semua yang Ana dapat dan Ana miliki, Anita selalu mengambil darinya, bahkan kadang tanpa malu ia memintanya langsung pada Ana.


"Apa kau mencintainya?" Tanya Anita, pertanyaan yang ia berikan pada Ana itu tujuannya agar Ray mendengarnya. Perempuan itu tau Ray berdiri diluar sana mengamati mereka, tapi sayangnya Ana tidak menyadari itu.


"Tidak." Jawab Ana, berbohong.


Maksudku— tidak salah lagi. Aku tidak akan mengatakan yang sejujurnya padamu, karena apa yang aku suka, kau pasti akan merebutnya. Itu sudah menjadi kebiasaanmu sejak dulu. — Ucap Ana dalam hatinya.


Ray yang mendengarnya diluar sana, ia merasakan gemuruh dihatinya, ia tidak suka dengan jawaban Ana.


"Sungguh? Kau hampir satu tahun menikah dengannya, apa kau sama sekali tidak ada perasaan seperti itu?" Tanya Anita lagi, dalam benak perempuan itu, ia tersenyum menyeringai.


"Maaf, aku tidak bisa menjawabnya, aku ingin istirahat, bisakah kau pergi?" Ucap Ana dengan nada yang ia buat se-sopan dan sebaik mungkin agar perempuan itu tidak tersinggung.


Pergi sana! Pergilah! Perutku mual melihatmu, dan jangan pernah berpikir untuk mengunjungiku lagi — Batin Ana sembari mulai menutup matanya.


"Baiklah, lain kali aku akan datang lagi. Oh iya sampaikan salamku pada suamimu itu ya, bye Ana." Ujar Anita.


Siapa yang peduli dengan salam mu, aku tidak akan menyampaikannya, dan jangan pernah datang lagi. — Ucap Ana dalam hatinya.


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang tertutup, hal itu membuat Ana mengehembuskan nafasnya, akhirnya pergi juga.


Tapi, ketika Ana ingin membuka matanya, terdengar suara pintu yang kembali terbuka, dan juga suara langkah kaki yang berjalan mendekatinya. Ana pikir itu Anita, jadi dirinya tetap senantiasa menutup matanya.


Suara hembusan nafas berat terdengar dari samping ranjang Ana. Sebuah tangan perlahan-lahan merapikan rambutnya.


Dalam hati Ana merasa heran, seorang Anita tidak mungkin melakukan ini. Lalu ia berpikir, mungkin ini Kenan.


Tapi kemudian, sebuah kecupan di keningnya, membuat Ana sadar, jika itu bukan Kenan.


"Sayang sekali, aku pikir— ah sudahlah. Ana, entah kenapa, aku ingin mengatakan ini padamu, jadi dengarkan baik-baik ya. Ana, apapun yang terjadi padamu, aku akan tetap ada disisimu." Gumam Ray pelan, itu lebih seperti berbisik pada Ana.


Ray mengelus rambut Ana dengan lembut, ia juga menggenggam tangan perempuan itu, tanpa Ray sadari, Ana mendengar semua perkataannya, karena Ana memang sejak tadi hanya berpura-pura tidur.


Sayang sekali, kenapa kau mengatakan tidak mencintaiku? Kalau kau mengatakannya, mungkin aku akan lebih memikirkan perasaanmu. Tapi Ana— rasanya aku kesal sekali saat mendengarmu berkata tidak mencintaiku. Ana, kau wanita kedua setelah Angel yang berhasil mengganggu pikiran dan hatiku. Ana, bagaimana jika aku benar-benar menemukan Angel? Aku harus memilih siapa diantara kalian? Aku tidak bisa melepaskanmu. Tapi, aku juga tidak bisa melupakan Angel begitu saja. Maafkan aku Ana. — Ucap kata hati Ray.