
Ana berdiri di depan pintu kamar Ray cukup lama. Gadis itu berulangkali meyakinkan dirinya untuk mengetuk pintu kamar itu, tapi ia selalu merasa ragu.
Beberapa menit kemudian, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Ray keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian kerja yang telah rapi.
"Aku melihatmu terus berdiri di depan pintu kamarku, ada apa?" Tanya Ray sembari merapikan dasinya.
"Bagaimana kau tahu?"
Ray menghela nafasnya, ia mengarahkan tubuh Ana ke kanan, lalu mendongakkan kepala gadis itu ke atas.
"Kau lihat— itu kamera cctv. Benda itu selalu merekam tindakanmu. Ah! aku ingat, dulu seseorang seringkali menendang pintu kamarku saat aku tidak ada." Ujar Ray.
"Ck, itu kan dulu." Ucap Ana.
Ray melirik koper yang ada di belakang tubuh Ana. Pria itu tampak mengernyitkan keningnya sejenak, lalu kembali teringat kalau hari— Ana akan pergi.
"Kau mau berangkat pagi ini?" Tanya Ray.
"Iya. Aku berdiri di depan pintu kamarmu ini karena ingin berpamitan denganmu, tapi kau lama sekali keluar dari kamar."
"Lain kali langsung masuk saja, passwordnya satu satu satu satu." Ujar Ray.
Ana yang mendengar Ray menyebutkan pin kamarnya itu— rasanya ingin sekali tertawa sembari mencibirnya. Bagaimana mungkin pria yang begitu perfeksionis seperti Ray, menggunakan password dengan angka yang anak sekolah dasar pun pandai mengingatnya.
"Ada apa dengan ekspresimu itu, konyol sekali. Ayo, aku akan mengantar-mu ke bandara." Ucap Ray.
Pria itu kemudian meraih koper Ana dan membawanya turun ke lantai satu.
Ana mengikuti Ray. Tapi, langkah kaki Ray yang lebar membuat Ana kesulitan mengimbanginya.
"Ray— tunggu."
Ana menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan suaminya itu. Lalu kemudian, ia tampak mengatur nafasnya sejenak.
"Aku bisa berangkat sendiri." Ujar Ana.
"Aku akan mengantarmu." Kata Ray dengan nada memaksanya.
"Ray— aku sudah memesan taksi, bagaimana bisa aku membatalkannya begitu saja, kasihan sopir itu sudah menungguku cukup lama."
"Kita bisa membayarnya dan menyuruhnya pergi." Ujar Ray.
"Tidak perlu Ray. Lagipula, kau harus pergi ke kantor. Aku bisa pergi ke bandara sendiri." Ucap Ana.
Gadis itu terlihat sedang mencoba mengambil kopernya dari Ray, tapi pria itu tidak mengijinkannya.
Ray menyembunyikan koper Ana di belakang tubuhnya, semakin menyusahkan Ana untuk meraihnya.
"Ada apa ini? Ana— apa kau ingin pergi dari rumah?" Tanya Alex, pria itu sepertinya salah paham dengan kedua orang itu, ia pikir mereka sedang bertengkar.
"Apa kalian ingin bercerai?" Tanya Alex lagi.
"Jangan bicara sembarangan." Ujar Ray.
"Lalu— kenapa kalian seperti pasangan yang sedang bertengkar? Dan itu— bukankah itu koper Ana, kenapa dia terlihat ingin pergi dari ini?"
"Aku memang akan pergi, tapi nanti juga kembali lagi." Ucap Ana.
"Kau ingin pergi kemana?" Tanya Alex.
"Tanyakan saja pada Ray, aku tidak punya banyak waktu lagi. Taksi yang ku pesan sudah menungguku cukup lama, aku harus segera pergi."
"Kau benar-benar tidak ingin aku mengantar-mu?" Tanya Ray yang terlihat kecewa dengan penolakan Ana.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Ya sudah, aku pergi dulu, daa— sampai jumpa kalian." Pamit Ana sembari meleparkan senyuman terbaiknya.
Setelah itu, Ana menarik kopernya dan berjalan keluar rumah. Di depan sana ada sebuah taksi yang sudah menunggunya sejak tadi.
Ana membalikkan badannya sejenak, lalu melambaikan tangannya ke arah Alex dan Ray yang berdiri tak jauh di belakangnya. Lalu kemudian, ia masuk kedalam taksi itu.
"Dia akan pergi kemana kak?" Tanya Alex.
"Kau tidak perlu tahu." Ujar Ray sembari membalikkan badannya dan berjalan masuk kedalam rumah.
Saat ini, entah kenapa, Ray merasakan perasaan yang tidak enak. Dirinya itu ingin sekali menemani Ana pergi. Tapi masalah perusahaan sangat rumit sekali, ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
Ray berjalan melewati ruang makan begitu saja, ia bahkan tidak berselera untuk sarapan.
"Ray." Panggil ibu tirinya.
"Ada apa?"
"Kau tidak sarapan?"
"Tidak." Ujar Ray, kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju lantai atas.
Ketika Ray ingin pergi ke ruang kerjanya untuk mengambil sesuatu. Langkahnya itu tiba-tiba terhenti tepat di depan kamar Ana, ia menatap pintu kamar itu cukup lama.
Ray mengehela nafasnya sesaat, lalu menekan password pintu kamar itu.
Setelah pintu terbuka, Ray masuk ke dalam kamar Ana, ia menatap seluruh isi kamar yang tertata rapi.
Dalam diamnya, Ray tersenyum tipis, pria itu kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Disana, ia dapat mencium aroma tubuh Ana yang tertinggal, rasanya sangat nyaman.
Tapi, semakin ia merasakan aroma Ana, semakin dirinya merasa gelisah dengan gadis itu, hatinya tidak tenang, ada sesuatu yang terasa mengusik hati Ray.
Pria itu kemudian mengambil ponselnya dari dalam saku celananya, ia mengirimkan pesan singkat untuk istrinya itu.
Kabari aku, jika kau sudah sampai tujuan~