
Dengan badan basah kuyup dan tubuh menggigil karena kehujanan, Ana berjalan masuk ke dalam rumah. Gadis itu berjalan mengendap-endap memasuki rumah Ray, ia melakukannya karena tidak ingin dirinya ketahuan pulang terlambat.
Astaga— ini dingin sekali, aku harus cepat kekamarku dan menghangatkan tubuh, sebelum paru-paru ini berulah lagi. — Ucap Ana dalam hatinya.
Setelah menaiki anak tangga dan berjalan beberapa meter. Ia akhirnya sampai di depan pintu kamarnya.
Apa pria itu sudah tidur? Baguslah kalau dia sudah tidur. Aku bisa menghindar dari hukumannya untuk sementara ini. — Batin Ana.
Kemudian, tangan gadis itu mulai menekan password pintu kamarnya. Setelah pintu itu terbuka, ia segera masuk kedalam kamarnya yang gelap.
Tapi, rasanya ada yang aneh. Lampu tidurnya menyala, membuat Ana mengernyit heran.
Bukankah tadi pagi— aku sudah mematikannya? Apa mungkin aku lupa mematikannya? Ah! itu tidak penting. Aku harus segera mandi air hangat dan berganti pakaian. — Batin Ana.
Kemudian, ia mulai melepas blazer yang dikenakannya, dan juga melepas bajunya. Tapi, saat ingin membuka tanktop-nya, sebuah suara bariton menghentikan gerakannya.
"Hentikan itu kalau kau tidak ingin aku melakukan sesuatu padamu."
Ketika dirinya mengetahui ada orang yang sejak tadi memperhatikannya dalam kegelapan, Ana segera berlari menuju sakelar lampu dan menghidupkannya.
Di sofa, dekat jendela kamarnya, Ana dapat melihat sosok Ray yang sedang duduk, menunggu gadis itu pulang.
"Apa yang kau lakukan dikamarku? Tunggu! Bagaimana kau bisa masuk ke kamarku?!" Tanya Ana sembari mengambil blazer-nya yang basah dan mengenakannya kembali.
"Smartlock itu buatan perusahaanku, tentu saja aku tahu bagaimana cara membukanya. Lagipula orang bodoh mana yang mengganti password-nya dengan tanggal lahirnya sendiri." Ucap Ray.
"Cih, aku akan memberikan komentar buruk pada produk perusahaanmu itu." Ujar Ana sembari melangkah pergi ke kamar mandi.
"Kau mau kemana?! Aku belum selesai berbicara denganmu!"
"Keluarlah dari kamarku, aku sedang tidak ingin berdebat." Ujar Ana, ia mengabaikan tatapan menusuk yang Ray berikan padanya.
"Kau lupa dengan hukumanmu?!"
"Lain kali saja! Aku bukan anak kecil yang terus saja kau hukum." Jawab Ana.
Gadis itu hendak menutup pintu kamar mandi. Tapi, tiba-tiba tangan Ray mencegahnya.
"Sepertinya— selama ini aku terlalu bersikap baik dan lemah padamu! Beraninya kau tidak sopan padaku, mengabaikanku, dan selalu membuatku kesal. Apa kau lupa dengan surat perjanjian yang sudah kau tanda tangani?!"
Ana menutup matanya sejenak, ia tidak tahu bagaimana harus mengatakannya pada pria itu, kalau saat ini, dirinya sedang tidak ingin berdebat.
"Ray— aku mohon padamu. Kali ini saja, biarkan aku mengurus diriku dulu." Pinta Ana sembari menggigit bibir bawahnya ketika ia mulai merasa nafasnya sedikit sesak.
"Ikut aku!" Ucap Ray sembari menarik lengan Ana keluar dari kamar mandi itu.
"Ray— "
Ana jatuh terduduk di lantai. Gadis itu terlihat kesakitan, ia memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Kau sedang berakting agar lepas dariku ya?! Cih, aku tidak percaya ini." Ucap Ray, ia masih berdiri memperhatikan Ana yang mulai memukul-mukul dadanya, berharap agar nafasnya normal kembali.
"Ray— Tolong." Ujar Ana dengan nafasnya yang mulai terengah-engah.
Ray memegang dagu Ana, lalu mendongakkan kepala gadis itu, ia melihat wajah Ana yang mulai berwana biru keunguan. Saat itulah ia sadar kalau istrinya itu tidak sedang berpura-pura sakit.
"Ana— kau kenapa?!" Tanya Ray yang mulai panik.
"Handuk, selimut, apapun itu yang membuatku tidak kedinginan." Ucap Ana.
Setelah itu, Ray mulai mengambil apa yang Ana ucapkan tadi. Ia mengambil beberapa handuk dari dalam lemari, lalu memakaikan semuanya ketubuh gadis itu. Tapi, Ana masih terlihat menggigil dan kesulitan bernapas.
Ray mengacak-acak rambutnya, ia bingung harus melakukan apa lag. Pria itu menatap kepenjuru kamar, mencari sesuatu yang dapat membuat Ana hangat.
Selimut! — Batin Ray.
Pria itu bergegas mengambil selimut tebal diatas tempat tidur Ana dan menyelimutkannya ke tubuh gadis itu. Ray juga mematikan AC dan menghidupkan penghangat ruangan.
"Apa kau merasa lebih baik?" Tanya Ray.
"Bisakah kau membantuku berdiri?" Pinta Ana, gadis itu sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.
Ray segera mengulurkan tangannya, membantu Ana berdiri.
"Ayo ke rumah sakit." Ujar Ray.
"Tidak perlu, aku sudah merasa lebih baik. Keluarlah, aku ingin mengganti pakaianku." Ucap Ana.
Gadis itu mulai berjalan perlahan menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Setelah beberapa menit berlalu. Pintu kamar mandi itu terbuka, Ana keluar dari dalam sana dengan pakaian tidur yang telah melekat di tubuhnya.
"Kau masih disini? Kembalilah ke kamarmu, kau tidak perlu khawatir." Ujar Ana ketika melihat Ray yang masih ada di dalam kamarnya.
"Siapa yang khawatir padamu. Aku hanya tidak ingin reputasiku buruk, karena mengabaikan istriku yang sedang sakit." Jawab Ray sembari mengikuti Ana yang sedang mengambil selimut baru di dalam lemari.
"Kalau khawatir katakan saja khawatir, tidak perlu membuat alasan seperti itu ." Ucap Ana, gadis itu merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, ia menarik selimutnya dan menyelimuti seluruh tubuhnya, kecuali bagian kepalanya.
Ray mengikuti Ana yang naik keatas tempat tidur, pria itu berbaring disamping Ana.
"Aku tidak khawatir."
"Terserah kau saja. Sekarang pergilah. Aku ingin tidur, jangan menggangguku." Ujar Ana yang kemudian mulai menutup matanya.
"Apa kau sakit?" Tanya Ray, ia penasaran kenapa Ana tiba-tiba susah bernapas seperti tadi.
"Diamlah."
"Kau alergi dengan suhu dingin?" Tanya Ray, lagi.
"Diamlah Ray— aku ingin istirahat." Ujar Ana dengan nada lemah dan mata terpejam.
"Iya, aku akan diam. Tidurlah." Ucap Ray sembari melempar sebuah boneka beruang ke wajah Ana.
Masih dengan mata terpejam, Ana mengambil boneka itu dan memeluknya, tak ingin membalas perbuatan pria itu.
Ray menatap Ana lama, gadis itu sepertinya sudah terlelap.
Sejenak, Ray tampak tersenyum. Lalu kemudian, ia mulai mencari posisi nyaman dan tidur membelakangi Ana.
•••
Diruangan dokter spesialis organ dalam, Ana duduk dikursi menatap dokter Brian yang masih menganalisa hasil rontgen-nya.
Dokter Brian adalah dokter yang telah menanganinya sejak Ana mengalami kecelakaan saat ia kecil dulu. Dokter itulah yang merawat Ana secara khusus sampai gadis itu benar-benar pulih dan bisa kembali beraktivitas normal.
"Tidak." Ana menggelengkan kepalanya.
"Paru-parumu itu— kolaps lagi."
"Apa? Tapi— waktu itu paman mengataka kalau aku sudah sembuh. Saat itu aku harus hidup dengan jarum suntik dan selang di dalam dadaku, apa sekarang— Ana harus mengalaminya lagi?" Ucap Ana sedih.
"Kebocoran pada paru-paru tidak bisa menutup dengan sendirinya, itu disebut bronchopleural fistula. Sekalipun saat itu kau pulih, bukan berarti pneumotoraks yang pernah kau derita tidak dapat kambuh kembali."
Ana menghela nafas panjang, ia menutup matanya sejenak.
"Ana, kau harus melakukan operasi."
"Operasi?"
Dokter Brian mengangguk, ia menatap Ana kasihan. Setelah kecelakaan waktu itu, Ana tumbuh sebagai seorang gadis dengan paru-paru yang bermasalah, beberapa bulan, Ana harus hidup dengan sebuah alat di dalam tubuhnya.
Sejak saat itu juga— Ana hidup dengan aktivitas terbatas. Fisiknya yang lemah, membuatnya menjadi gadis pendiam dan memiliki sedikit teman.
"Aku mau melakukannya. Tapi paman— bisakah operasinya dilakukan tanpa tanda tangan dari wali?"
"Kau kan tahu prosedurnya Ana, butuh persetujuan wali dari pasien jika ingin melakukan operasi."
Itu masalahnya, aku tidak ingin ayah dan Kenan khawatir. Ray? Tidak tidak, jika dia tahu aku sakit, dia akan semakin merendahkanku. — Batin Ana.
"Sebenarnya bisa menggunakan cara pleurodesis atau aspiration. Tapi— melihat hasil rontgenmu ini, aku khawatir kau bisa saja mengalami tension pneumotoraks, itu sangat berbahaya."
Ana kembali menghela nafasnya, kemudian menatap ke arah dokter yang sudah seperti pamannya sendiri.
"Aku akan memikirkannya lagi paman, kalau begitu Ana permisi." Ujar Ana.
Setelah itu, ia berdiri dari duduknya, gadis itu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ruangan.
"Ana, operasi adalah jalan yang terbaik untukmu." Ucap Dokter Brian padanya.
Ana mengangguk dan tersenyum hangat pada dokter itu.
"Terimakasih, nanti Ana akan menghubungi paman lagi." Ucapnya, kemudian kembali melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Setelah keluar dari ruangan itu, Ana berjalan dengan pikiran melayang, beberapa kali ia terlihat menghela nafasnya.
"Kenapa kau keluar dari ruangan itu?" Tanya Rachel yang tiba-tiba berada di hadapannya.
"Bukan urusanmu." Ucap Ana.
Lalu kemudian, tanpa sengaja, ia menatap perut Rachel yang sudah membesar.
Beberapa bulan tinggal dirumah Ray dan lama tidak bertemu dengan adik tirinya itu— Ana cukup terkejut melihat perut Rachel terlihat sudah besar.
"Kau ingin periksa kandunganmu?" Tanya Ana.
Rachel menanggapinya dengan anggukan kepala.
"Sendiri saja?" Tanya Ana, lagi.
"Kau pikir— sekarang ada yang peduli padaku?" Ucap Rachel ketus.
"Kalau begitu, biarkan aku menemanimu." Ujar Ana.
"Tidak perlu berpura-pura peduli padaku."
"Sudahlah, tidak perlu berdebat. Ayo cepat kita tunggu giliranmu." Ucap Ana sembari menarik Rachel perlahan menuju ke bagian dokter kandungan.
Sesampainya disana, terlihat beberapa wanita hamil yang juga sedang menunggu giliran mereka.
Ana membantu Rachel untuk duduk di salah satu kursi tunggu.
"Kau tidak perlu melakukan ini." Kata Rachel.
"Aku tidak menyangka ternyata kau masih mempertahankan bayimu, aku bangga padamu." Ujar Ana sembari ikut duduk di samping Rachel.
"Ck, jika bukan karena ayah yang melarangku menggugurkannya, dia sudah lama menghilang dari perutku."
Ana tersenyum, kemudian tangannya bergerak mengelus perut Rachel.
Kalau seperti ini— aku jadi merasa kasihan padanya. Bahkan sekarang ibunya sudah tidak peduli padanya. — Batin Ana.
"Lain kali— kalau kau ingin pergi periksa kandungan, hubungi aku. Aku akan menemanimu." Ujar Ana.
"Jangan pedulikan aku."
"Aku memaksa. Ah iya, nanti setelah pulang dari sini, ikut aku ke supermarket untuk berbelanja, aku akan membelikanmu susu hamil dan juga makanan yang baik untuk mu."
"Aku bilang jangan pedulikan aku. Lebih baik kau abaikan saja aku."
Ana kembali tersenyum,
"Walaupun kau melarangku— aku akan tetap peduli padamu. Anggap saja— itu adalah rasa banggaku karena kau tidak menjadi ibu yang jahat untuk bayimu." Ujar Ana yang sebenarnya membuat hati Rachel merasa haru.
Selama Rachel hamil, semua orang hanya bisa menghakiminya, tidak ada lagi yang peduli padanya, termasuk ibunya sendiri.
Ibunya itu setiap hari selalu saja memaki dan memarahinya. Rasanya ia hampir depresi karena semua itu.
"Terimakasih." Ucap Rachel pelan.
"Apa katamu?" Tanya Ana yang berpura-pura tidak mendengarnya.
"Lupakan saja."
Ana tertawa kecil, kemudian mengelus rambut Rachel dengan rasa kasih sayang.
"Kau juga." Ucap Rachel yang membuat Ana mengernyit heran karena tidak paham dengan maksud ucapan perempuan itu.
"Apa?" Tanya Ana.
"Kalau kau sakit— kau harus menghubungiku. Aku akan menemanimu melewati rasa sakit itu. Melihatmu keluar dari ruangan spesialis organ dalam tadi itu, pasti sesuatu yang serius terjadi padamu." Kata Rachel.
Rachel— dia ini sebenarnya berhati malaikat ya. Tapi sayangnya, ibunya itu membesarkannya dengan cara yang salah. — Batin Ana.
"Ah ya tuhan, aku terharu mendengarnya. Kemari, biarkan aku memelukmu." Ujar Ana sembari memeluk hangat tubuh adik tirinya itu.
Rachel tersenyum, kemudian ia juga membalas pelukan dari Ana itu.
Dua orang yang dulunya saling membenci dan menghina satu sama lain, kini saling berpelukan hanga, meluapkan emosi dan kesedihan bersama-sama.