
Suasana yang ramai, lampu-lampu yang menghiasi jalan dan stan-stan penjualan. Malam yang menyenangkan untuk di lewati bersama-sama pasangan.
Saat baru memasuki area itu, Ana dibuat terperangah, ini seperti pasar malam, tapi lebih terlihat bercahaya dan ramai.
Perempuan itu tersenyum senang, ia mendongakkan kepalanya ke arah Ray yang berdiri tegap disampingnya.
"Kau suka?" Tanya Ray.
Ana menganggukkan kepalanya dengan rasa antusias.
"Em, sangat suka."
Ray ikut tersenyum senang, ia mengacak-acak rambut Ana gemas, melihat perempuan itu senang, membuat hati Ray juga merasakan hal yang sama.
"Ray, aku ingin berkeliling." Pinta Ana.
"Baiklah, kau boleh berkeliling, tapi aku akan menemanimu."
"Hah ya ampun, sekarang aku merasa seperti memiliki ekor yang selalu menempel padaku kemanapun aku pergi." Gumam Ana.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak bisa mendengarnya? Apa kau ingin sesuatu?" Tanya Ray.
"Ah tidak tidak, aku tidak mengatakan apapun. Ayo kita pergi kesana."
Ana menarik lengan Ray, sesekali mereka mampir ke stan penjualan untuk melihat-lihat saja.
"Ray, ayo makan pangsit yang disana!" Ujar Ana, ia menunjuk salah satu stan yang berada tak jauh dari mereka. Pangsit yang baru keluar dari pengukusan rasanya akan sangat nikmat jika di makan malam hari seperti ini.
"Jangan makan makanan di tempat seperti ini, itu belum tentu bersih. Kalau kau memang menginginkannya, aku akan menelpon assisten Yohan untuk mencarikan pangsit kukus di restoran yang terpercaya kebersihannya."
Ana mendengus kesal, merepotkan sekali jika harus pergi ke tempat seperti ini bersama seseorang yang berada di kelas sosial yang tinggi.
"Kau sangat menyebalkan." Ujar Ana, kemudian ia melangkah ke arah stan penjualan pangsit itu dan membeli beberapa pangsit kukus.
"Ana, kau baru saja operasi."
"Lalu apa hubungannya dengan makan pangsit? Memangnya jika aku baru saja operasi, lalu aku tidak boleh makan? Lagipula operasi yang kujalani sudah lewat sembilan belas hari yang lalu." Ujar Ana.
Setelah mendapatkan makanan yang ia inginkan, Ana menarik Ray menjauh dari stan itu.
"Ikut aku." Ucap Ray.
"Kemana?"
"Mencari tempat duduk, jangan makan dengan posisi berdiri." Kata Ray.
Saat Ray ingin meraih tangan Ana, tiba-tiba sebuah suara memanggilnya, Ray maupun Ana menoleh ke sumber suara itu.
"Kak Ray! Ana!"
Ana mengernyitkan keningnya, ia melihat sosok Anita yang berjalan mendekati mereka.
"Angelin?" Gumam Ana. Ray yang mendengar gumaman Ana menoleh pada istrinya itu sekilas, lalu kembali melihat kearah Anita yang berjalan semakin mendekat.
"Kalian juga datang? Ah kak Ray, aku pikir kau tidak menyukai acara seperti ini." Ujar Anita, ia tersenyum menatap Ray.
"Kau sendiri, biasanya kau tidak suka dengan tempat ramai dan tidak berkelas seperti ini." Ucap Ana.
"Itu karena perusahaan ayahku sponsor utama di festival lampion harapan tahun ini, karena ayahku tidak bisa hadir, jadi aku yang menggantikannya untuk memberikan sambutan dan memimpin pembukaan puncak acara nanti." Dia tersenyum, tapi senyumannya itu selalu mengarah pada Ray, membuat Ana merasa tidak senang.
Ray terus menatap Anita yang masih tersenyum manis padanya, pria itu bahkan lupa dengan istrinya yang masih mencoba membawanya pergi menjauh dari gadis itu.
"Ray." Panggil Ana, tapi telinga Ray seperti tersumbat sesuatu, ia seakan tuli untuk saat ini.
"Kak Ray, bukankah kau juga salah satu sponsor? Bagaimana kalau kau menemaniku untuk memberi sambutan dan membuka puncak acara nanti?" Ujar Anita.
Ray masih diam, ia merasa tubuhnya tersihir sesuatu yang membuatnya tak bisa menolak ketika Anita melepas tangan Ana dari lengan Ray dan kini Anita yang menarik Ray menjauhi Ana, perempuan itu sengaja menarik Ray sembari berlari kecil menjauhi Ana. Anita melakukan itu, agar Ana yang belum lama sembuh dari operasinya tidak bisa mengejar mereka.
Anita— dia itu sengaja berlari ya?! Andaikan aku bisa berlari kencang dan itu tidak menimbulkan masalah pada kesehatanku. Sial. — Batin Ana.
Hah, aku sangat menyedihkan — Batinnya lagi.
Kemudian, ia kembali berjalan mengikuti arah Ray dan Anita tadi, wajahnya terlihat masam dan kesal, berkali-kali ia menghela nafasnya, dalam hatinya bermacam-macam kata umpatan ia berikan kepada Anita bahkan juga Ray.
"Eh? Bukankah anda istri presdir Ray?" Tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Ana mengernyitkan keningnya, ia merasa familiar dengan perempuan yang ada di hadapannya ini. Tapi, Ana sama sekali tidak bisa mengingat namanya.
"Ah iya, perkenalkan, saya Yuna, sekertaris presdir Ray." Yuna membungkuk hormat pada istri atasannya itu.
"Ah— iya kau pernah ikut makan siang bersama Ray di restoranku waktu itu. Maaf, aku lupa." Ujar Ana.
"Tidak apa-apa. Oh sepertinya anda ingin mencari tempat duduk, biarkan saya membantu."
"Ah tidak perlu. Lagipula, aku ingin menyusul suamiku. Oh iya, jangan bicara formal padaku, berbicaralah seperti kau sedang berbicara dengan kenalanmu." Ujar Ana.
"Iya saya—eh maksudnya aku mengerti, kalau begitu, aku akan menemanimu menyusul presdir."
Ana mengangguk,
"Tidak masalah." Ucap Ana yang kemudian kembali berjalan menyusul Ray.
Diam-diam, Yuna terlihat melemparkan senyum sinisnya ke arah Ana. Lalu kemudian, gadis itu tampak mengeluarkan minuman botol rasa cokelat dari dalam tasnya.
"Ana, apa kau haus? Ini untukmu." Ujar Yuna sembari membuka tutup botol minuman itu, lalu memberikannya kepada Ana, tapi ketika Ana ingin menerima minuman itu, Yuna tiba-tiba seperti terdorong oleh seseorang, hal itu membuat minuman yang dipegangnya tumpah ke depan dan mengenai baju Ana.
"Ah ya ampun— apa yang sudah aku lakukan. maafkan aku, aku mohon jangan beritahu presdir, jika presdir tahu, aku bisa di pecat." Ujar Yuna, ia membungkukkan badannya seolah menyesal.
Ana menghembuskan nafasnya, berusaha menahan emosi yang saat ini sedang mengelilingi hatinya.
"Iya, aku tidak akan memberitahu suamiku." Ujar Ana, setelah itu ia kembali berjalan sambil mengelap bajunya yang terasa lengket karena minuman manis itu.
"Ah Ana! Kalau kau menemui Presdir dengan kondisi seperti itu, walaupun kau tidak mengatakannya. Tapi, itu sama saja kau mengadukan aku dengan bukti langsung." Ucap Yuna.
"Baiklah, aku tidak akan menemuinya." Ucap Ana.
Membuat Yuna menyunggingkan senyum manisnya di hadapan Ana.
"Ikut aku, ada toilet wanita di sebelah sana." Kata Yuna sembari menunjuk ke arah yang berlawanan dengan arah yang akan Ana tuju untuk menyusul Ray.
Ana menghela nafasnya pasrah, ia pun akhirnya memilih mengikuti Yuna menuju ke arah toilet umum itu.
Yuna yang berjalan di depan Ana, gadis itu diam-diam mengirimkan sebuah pesan singkat pada seseorang yang merupakan majikannya.
Nona muda, tugas saya terselesaikan dengan baik, silahkan anda lanjutkan rencana anda yang selanjutnya.