
"Anda ingin pulang tuan?" Tanya Yohan.
"Belum." Jawab Ray singkat.
Yohan menghela napasnya lagi. Dilihatnya Ray yang terus fokus pada monitor komputernya.
Suami Ana itu beberapa kali memijat pelipisnya dan tampak memejamkan matanya sekilas untuk mengusir denyutan di kepalanya.
"Tuan, sebaiknya anda pulang. Anda terlihat sangat lelah." Saran Yohan.
"Sebentar lagi." Jawab Ray, masih saja kekeuh menolak untuk pulang dan istirahat.
Assistennya itu sampai kehabisan cara untuk membujuk Ray agar pria itu berhenti bekerja sejenak dan beristirahat.
Yohan mengambil ponsel yang ada di sakunya. Ia menatap ponsel itu dan Ray secara bergantian. Pria itu berencana untuk menelpon Ana, meminta gadis itu agar datang ke perusahaan untuk membujuk Ray yang terlihat sedang tidak sehat.
"Jika ingin menghubungi kekasihmu, hubungi saja." Ujar Ray, ia sempat melirik assistennya yang terus-menerus memandang dirinya dan ponsel itu secara bergantian.
"Eng— kalau begitu, ijinkan saya keluar sebentar tuan."
Ray mengangguk dan mengibaskan tangannya agar Yohan segera melakukan panggilannya.
Yohan keluar dari ruangan Presdir itu, ia berdiri di dekat meja sekertaris yang kosong.
•••
"Ini obatnya." Ujar Ana, ia baru saja membelikan obat yang di resepkan oleh dokter anak, untuk bayi Rachel.
"Maaf ya kak, selalu menyusahkanmu." Dengan raut merasa tidak enak pada Ana, Rachel mengambil plastik berisi obat itu.
"Jangan berkata seperti itu, Nana itu sudah seperti anak aku sendiri." Ucap Ana, ia menatap bayi mungil yang tertidur pulas di gendongan ibunya.
"Terimakasih ya kak. Aku tidak tau bagaimana jadinya jika kau tidak ada disampingku selama aku hamil sampai aku melahirkannya, mungkin aku sudah sangat putus asa dari awal."
"Sudahlah, ayo kita pulang, biarkan Nana istirahat dan kau juga." Kata Ana, gadis itu mengulurkan tangannya pada Rachel.
Rachel mengangguk, diraihnya uluran tangan Ana itu, mereka berjalan beriringan bersama, diikuti oleh Alex yang selalu berada di belakang mereka sejak tadi.
Drrt. Drrt. Drrt
Baru saja melangkah beberapa meter, ponsel Ana berdering. Gadis itu menghentikan langkahnya dan mengambil ponsel yang ada di dalam tas miliknya.
"Assisten Yohan?" Tanya Ana pada dirinya sendiri.
"Siapa kak?" Tanya Rachel yang ikut penasaran.
"Assistennya Ray."
"Oh assisten Yohan. Angkatlah, siapa tahu itu panggilan penting." Ujar Rachel.
Ana mengangguk, tangannya kemudian menggeser tombol berwarna hijau, menerima panggilan.
"Halo, ada apa?" Tanya Ana pada Yohan yang menelponnya.
"Nona, bisakah anda pergi ke perusahaan TNP sekarang" - Itu lebih terdengar seperti permintaan daripada pertanyaan.
"Ha? Kenapa?"
"Tuan Ray sepertinya sedang sakit, saya sudah berusaha memintanya untuk pulang dan istirahat, tapi tuan Ray tidak mau mendengarkannya. Saya khawatir jika ada apa-apa dengan kesehatan tuan Ray. Jadi, saya meminta nona Ana untuk datang ke perusahaan dan membujuk tuan Ray agar dia mau pulang dan istirahat. Saya yakin, tuan Ray akan mendengarkan perkataan anda."
"Sakit? Benarkah? Bukankah tadi pagi dia baik-baik saja."
"Iya, tapi saat ini kondisinya terlihat tidak baik."
"Baiklah, aku akan kesana. Tapi— apakah kau tidak penasaran, aku sedang ada dimana?"
Di seberang sana Yohan tampak mengernyit aneh dengan pertanyaan Ana.
"Bukankah anda sekarang berada di restoran?"
"Ck, salah. Aku sedang menemani calon istrimu dan calon anakmu dirumah sakit." Ujar Ana, saat mengatakannya ia berjalan sedikit menjauh dari Rachel.
"Calon istri dan anak? Maksud anda— Rachel dan Nana?" Jawabnya, Yohan seolah langsung mengerti maksud calon anak dan calon istri itu.
"Wah kau pandai sekali ya."
"Maaf nona, tapi sebaiknya anda segera datang kemari untuk mengurus suami anda, atau nona ingin melihat suami anda di pijat oleh perempuan lain lagi?"
Ana mendengus saat mendengar perkataan Yohan, pria itu berkata seolah ia sedang menyindirnya, karena kurang baik menjadi seorang istri, sampai suaminya pun harus meminta pijat wanita lain.
"Iya iya aku akan kesana. Tapi kau harus tau, jika Nana sedang demam, setidaknya sebagai calon ayah temui dia." Kata Ana, gadis itu sepertinya sangat gigih menjodohkan Yohan dengan adik tirinya itu.
"Saya rasa hanya itu yang ingin saya sampaikan, saya akan menutup panggilan ini nona. Selamat siang."
Terdengar bunyi panggilan dimatikan, Ana menatap ponselnya dengan senyum sinis, ingin rasanya memaki assisten suaminya itu.
"Ada apa kak?" Tanya Rachel.
"Apa itu tentang kak Ray? Aku dengar kau mengatakan sakit, apa kak Ray sedang sakit?" Tanya Alex, pria itu sejak tadi hanya bungkam tak berbicara, ia ingin sekali berbicara, tapi setiap kali melihat Rachel dan anaknya, pria itu merasakan kekakuan pada mulutnya.
"Hm, assistennya bilang dia terlihat sedang sakit, tapi tidak ingin pulang dan beristirahat, jadi aku harus pergi kesana untuk membujuknya. Rachel, apa tidak masalah jika kau pulang bersama Alex saja? Maafkan aku, aku tidak bisa mengantarkan mu pulang ke rumah."
Gadis itu menatap adik tirinya dengan raut wajah meminta maaf.
Rachel membalas tatapan Ana dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Tidak masalah, cepat pergilah dan temui suamimu." Ujarnya, senyuman masih terukir di bibirnya.
Ana mengangguk, kemudian ia menatap Alex.
Alex tersenyum kaku, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hm, aku pastikan dia akan baik-baik saja." Jawab Alex.
"Bagus. Kalau begitu aku pergi dulu." Ana berpamitan dan berlalu pergi.
"Kak, hati-hati ya." Teriak Rachel. Ana tersenyum menanggapinya.
•••
"Sudah?" Tanya Ray saat Yohan baru saja masuk ke dalam ruangannya kembali.
"Iya tuan." Jawab Yohan.
"Aku penasaran siapa kekasihmu itu." Ujar Ray dengan wajah menahan senyumnya.
"Ah itu.. sepertinya anda salah paham tuan, saya tidak memiliki kekasih."
"Ya terserah kau saja, semoga kau bahagia bersama orang yang baru saja kau hubungi." Kata Ray, ia tidak tahu jika Yohan tadi menghubungi istrinya, ia pikir Yohan menghubungi seseorang, karenanya Ray melontarkan candaan seperti itu.
Jika anda tau siapa yang saya hubungi, apa anda akan mengatakan hal yang sama tuan? Ah ya ampun, aku merasa bersalah menghubungi istrinya diam-diam.
"Ada apa dengan ekspresimu itu, kau terlihat menahan sesuatu, katakan saja jika kau ingin pergi menemui kekasihmu itu." Ujar Ray, masih dengan candaannya.
"Tidak tuan, hanya saja~" Ucap Yohan, yang menggantungkan perkataannya.
"Apa?"
Hanya saja, yang saya hubungi itu istri anda, bagaimana saya bisa bahagia dengan istri anda? Apa anda sedang menyuruh saya untuk menusuk anda dari belakang? - batin Yohan, diiringi dengan helaan napas yang keluar dari mulutnya.
"Tidak ada tuan."
"Ray!" Panggil Ana, gadis itu langsung masuk ke dalam ruangan suaminya itu tanpa mengetuk pintu.
"Ana?" Ray menatap istrinya itu heran, kenapa Ana datang? Pikirnya.
Yohan menatap Ray, pria itu membungkukkan badannya hendak meminta maaf.
"Maaf tuan, tadi saya menghubungi nona Ana untuk membawa tuan pulang dan berisitirahat." Ujar Yohan.
"Tunggu dulu, jadi maksudmu— tadi itu yang kau hubungi adalah Ana?!" Tanya Ray dengan ekspresi keterkejutan.
"Aku menarik kembali perkataanku padamu! Siapa yang ingin kau bahagia dengan istriku!" Ujar Ray yang tampak kesal, salahkan dirinya sendiri yang asal bicara pada Yohan. Niatnya hanya bercanda, tapi candaan yang berujung merugikan dirinya sendiri.
"Iya tuan, tentu saja." Ucap Yohan menanggapi sikap Ray yang masih terlihat kesal.
"Ada apa dengan kalian ini?" Ana melangkah mendekati suaminya, ia meletakkan tangannya di kening Ray, memeriksa suhu tubuh pria itu.
"Tidak demam." Gumam Ana.
"Aku memang tidak sakit." Ucap Ray, pria itu memegang tangan Ana yang masih menempel di keningnya.
Mendengar itu, Ana melirik tajam pada Yohan, kesal rasanya mengetahui jika assisten suaminya itu mungkin sedang membohongi dirinya.
"Tapi anda terlihat berkeringat dingin dan juga sampai tidak bisa minum air mineral." Kata Yohan.
"Kau sakit tenggorokan? Coba buka mulutmu, aku akan memeriksanya."
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya merasa tidak nafsu makan dan kelelahan." Ujar Ray.
Ana menghela napasnya,
"Kenapa sebelumnya tidak mengatakannya padaku?"
"Aku tidak ingin kau khawatir, lagipula aku hanya lelah saja."
"Pulang." Perintah Ana.
Ray menatapnya, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Pulang, ayo pulang." Ana menarik lengan Ray, tapi pria itu masih diam di kursi kerjanya.
"Ray! Kau ingin membuatku marah lagi? Ayo pulang, jika tidak menurut, aku pastikan tidak akan tidur satu kamar denganmu selama satu tahun." Ancam Ana.
Suaminya itu terlihat mengerucutkan bibirnya, dengan pasrah ia berdiri, sekilas ia melihat komputernya yang masih menyala.
Yohan yang mengerti dengan arah tatapan Ray, ia langsung mencari cara agar Ray tidak terpikirkan oleh pekerjaannya.
"Saya akan menyelesaikan pekerjaan tuan yang belum selesai." Ujar Yohan.
"Tolong ya." Ucap Ray yang sudah pasrah di tarik paksa oleh Ana.
Yohan mengangguk sopan dan tersenyum melihat istri tuannya itu berhasil membawa Ray pulang.
"Ana, aku sungguh tidak apa-apa. Aku masih bisa bekerja." Ujar Ray, ia ditarik masuk oleh istrinya itu kedalam lift.
"Katakan saja jika kau ingin di pijat oleh wanita lain daripada istrimu sendiri."
"Tidak, bukan begitu. Kau bisa lihat sendiri tadi, tidak ada pegawai wanita di sekitarku." Sanggah Ray, membela dirinya.
"Bisa saja kau memanggilnya dari tim atau bagian lain saat kau sedang butuh pijatan."
"Astaga, kau tidak percaya padaku?!"
Ana menatap Ray tajam, kilatan matanya memancarkan ancaman yang mematikan bagi Ray, mendapatkan tatapan seperti itu dari istrinya, Ray memilih mengalah dan akhirnya diam seribu bahasa.
Sedangkan Ana, ia mengulum senyumnya melihat Ray yang seketika patuh padanya.