The Destiny

The Destiny
Permainan Anita



Ana keluar dari toilet wanita, ia masih mengelap bajunya. Nodanya memang hilang, tapi karena di bersihkan menggunakan air, sekarang bajunya basah.


Ana menatap ke arah Yuna yang selalu menampilkan senyum manis padanya.


Melihat senyumannya itu membuatku merasa tidak nyaman, hah, entahlah. Ah masa bodoh dengan bajuku, aku harus segera menyusul Ray. — Batin Ana.


Yuna berjalan mendekat, ia menatap baju Ana yang terlihat basah, sama seperti sebelumnya, ia menampilkan ekspresi bersalah yang berlebihan.


"Bajumu terlihat basah, biarkan aku membeli baju yang baru untukmu ya, kau tunggu disini dulu, aku akan segera kembali." Yuna ingin melangkah pergi tapi Ana menarik tangannya, ia menatap Yuna tanpa ekspresi.


Dari awal aku merasa ada yang tidak benar dengannya, apa yang sedang direncanakannya, ia terlihat seperti ingin aku jauh dari Ray. — Batin Ana, ia masih menatap Yuna, tangan Ana mencengkeram kuat lengan Yuna, itu cengkeraman yang tidak Ana sengaja, itu hanya aliran emosi yang keluar begitu saja.


Yuna meringis merasakan tangannya yang dicengkeram kuat oleh Ana, dalam sekejap Ana yang tadinya ia anggap remeh terlihat sangat menakutkan dengan tatapan Ana yang dingin dan begitu menusuk.


"Tidak perlu." Ujar Ana sembari menampilkan tatapan datarnya pada Yuna.


Setelah itu, Ana pergi berlalu dari hadapan Yuna.


Ana kembali berjalan menyusul Ray. Tapi, ternyata jarak antara toilet dan tempat Ray berada, lumayan jauh, itu seperti dari ujung ke ujung. Ketika menyadarinya, Ana merutuki kebodohannya. Seharusnya, tadi ia biarkan saja bajunya kotor, lalu Ray melihatnya dan Ana bisa membuat alasan untuk mengajak Ray pulang.


"Kau bodoh Ana." Gumamnya.


Tak lama kemudian terdengar suara Anita dari pengeras suara, sepupunya itu sepertinya sudah memberikan sambutan dan siap membuka puncak acara.


"Sebelum saya membuka puncak festival lampion harapan malam ini, saya ingin membuat pengumuman resmi. Saya beritahukan kepada seluruh kolega bisnis, keluarga saya dan juga semua yang hadir disini, bahwa pria yang berdiri di samping saya ini— adalah laki-laki satunya di hati saya. Dia adalah Ray, cinta pertama masa kecil saya hingga sekarang. Ray, kau pasti mengingat ku kan? Aku Angel, anak perempuan yang selalu menghabiskan akhir pekan denganmu delapan belas tahun yang lalu." Ujar Anita melalui pengeras suara.


Tidak tidak, aku mohon, Angelin sialan! Jadi kau dan sekertaris itu bekerjasama untuk membuatku jauh dari Ray, lalu kau bisa membuat pengumuman menjijikan seperti ini**?! — Batin Ana.


Ana terus berlari, terkadang ia berhenti untuk mengambil nafasnya, bagaimanapun juga ia masih seorang pasien yang menjalani rawat jalan.


"Aku tahu Ray sudah menikah, tapi pernikahan yang di lakukannya hanyalah sebuah pernikahan bisnis saja, lagipula wanita yang menikahinya tidak mencintai Ray. Tentang itu, aku pernah menanyakan hal ini secara langsung pada istri sahnya. Jika kalian tidak percaya, aku bisa membuktikannya."


Ana menghentikan langkahnya, saat rekaman percakapannya dengan Anita di rumah sakit waktu itu terdengar dari pengeras suara.


Ana tertawa, ia menertawakan kebodohannya sendiri, saat itu ia pikir dirinya telah menghindari jebakan Anita, tapi ternyata ia malah masuk ke dalam perangkap yang lebih sulit.


Sial! — Ucap Ana dalam hatinya.


Gadis itu tidak bisa berlari lagi ataupun mempercepat langkahnya, ia yang belum pulih, tidak bisa memaksakan diri untuk melakukan hal yang bisa membuat kesehatannya memburuk lagi. Ia tidak boleh lemah lagi disaat seperti ini, setidaknya setelah ia pulih, ia bisa membalas perempuan licik itu.


Kalaupun ia memaksa untuk datang menghampiri Ray yang saat ini masih berada di atas panggung, sama saja ia akan mempermalukan dirinya sendiri.


Ana tidak boleh gegabah, Perlahan-lahan ia harus menyusun rencana untuk memutar balikkan keadaan sekarang. Pertama-tama ia harus berbicara langsung pada Ray nanti, kalau dia adalah Angel yang sebenarnya.


Ana menghela nafasnya, gadis itu kemudian berbalik untuk pulang ke rumah. Untuk saat ini, ia akan membiarkan Anita bersenang-senang.


Kau bermain-main dengan orang yang salah Anita. Tunggu saatnya aku melemparkan dirimu ke dasar jurang. Kau anggap aku ini lemah? Anita, orang yang diam bukan berarti dia lemah. Tunggu pembalasanku.