The Destiny

The Destiny
Tentang Kehidupan



"Jangan berteriak pecundang kalau ternyata dirimu yang sebenarnya adalah seperti itu. Kau harus tahu, kalau kau bukan hanya pecundang saja, tapi— kau ini juga seorang pengecut yang sudah ahli di bidangnya." Kata Yohan.


Alex yang mendengarnya hanya diam tak bergeming, tapi pria itu memberikan tatapan tajam kepada Yohan.


Yohan tak menghiraukan tatapan dari Alex itu, ia lebih memilih untuk mendekatkan wajahnya ke telinga Alex, lalu membisikkan sebuah kata-kata yang membuat Alex semakin diam membisu.


"Kau itu— sedang merasa bersalah padanya kan? Kau pikir aku tidak tahu atas apa yang telah kau lakukan pada wanita itu. Kau lah pria yang menanam benih di rahimnya tapi tidak bertanggungjawab." Bisik Yohan di telinga Alex.


Tangan Alex terkepal kuat, ia marah, bagaimana bisa Yohan mengetahui kebenarannya, darimana pria itu tahu?


Yohan tampak berjalan mundur, menjauh dari hadapan Alex, pria itu terlihat membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan, lalu menepuk bahu Alex beberapa kali dan berlalu dari hadapan Alex.


Tapi, lagi-lagi Alex mengentikannya.


"Tunggu, dari mana kau tahu? Apa kak Ray juga mengetahuinya?" Tanya Alex.


"Darimana aku tau itu tidak penting, dan apakah tuan Ray mengetahuinya? Aku belum memberitahunya. Karena aku tidak peduli dengan kehidupanmu, maka dari itu aku tidak memberitahukan hal ini pada tuan Ray."


Alex terlihat kesal karena Yohan mengabaikan satu pertanyaan pentingnya, pria itu kemudian menarik kerah Yohan, meminta paksa Yohan untuk menjawab pertanyaannya itu.


"Katakan, darimana dan bagaimana kau tahu?" Tanya Alex.


Yohan menepis tangan Alex yang masih mencengkramnya, pria itu tampak diam sesaat, namun kemudian mulai memiliki minat untuk menjawab pertanyaan dari Alex.


"Aku hanya tidak sengaja melihatmu bersamanya beberapa kali. Kau ingat ketika perusahaan sedang dalam masalah? Saat itu aku mencurigaimu, maka dari itu aku mengikuti gerak-gerikmu, tapi tidak disangka aku harus mengetahui sesuatu yang memalukan. Dengar! Kau itu telah melakukan hal tidak terhormat yang bisa menjadi aib bagi keluarga Gavin!" Ujar Yohan.


"Kau tahu apa tentangku?! Kau tidak tahu bagaimana kehidupan ku! Jadi jangan menilaiku kalau kau tidak merasakan bagaimana aku hidup selama ini!"


"Sudah aku katakan, aku tidak peduli tentang kehidupanmu. Aku hanya tidak suka kalau kau membuat nama baik keluarga tuan Ray buruk karena perbuatanmu!" Ujar Yohan, ia kemudian berbalik lagi untuk pergi.


"Jangan katakan pada siapapun." Ucap Alex, membuat Yohan kembali mengentikan langkah kakinya.


"Aku mohon." Sambungnya memelas pada Yohan yang terdiam membelakanginya.


"Itu berarti kau tidak akan bertanggungjawab padanya? Kau akan terus berpura-pura tidak berdosa? Apa kau punya hati?" Tanya Yohan, ia mengatakan itu tanpa menoleh pada Alex.


"Aku tidak bisa menikahinya, jadi anggap saja kau tidak tahu." Kata Alex.


Tanpa mereka sadari, seorang wanita paruh baya sejak tadi berdiri memperhatikan dan mendengarkan pertengkaran mereka berdua.


Calista, ibu kandung Alex itu melangkah mendekati Alex, lalu menampar wajah anaknya itu.


Alex tersentak kaget saat dirinya tiba-tiba mendapat tamparan keras yang ternyata dari ibunya sendiri. Yohan pun sampai menoleh kebelakang ketika suara tamparan itu terdengar menggema ke penjuru ruangan.


"Apa katamu?! Kau tidak akan menikahi wanita yang sudah kau hamili?! Kau anggap dirimu ini pria?! Aku tidak pernah menyangka akan melahirkan anak sepertimu." Ujarnya dengan suara bergetar, tubuhnya terasa lemas, ia tak kuasa menerima kenyataan bahwa anaknya adalah seseorang yang sangat buruk perilakunya.


"Ibu." Alex menyentuh tangan ibunya. Tapi kemudian, ibunya itu menepis tangannya.


Air mata Calista turun, ia menatap kecewa anak laki-lakinya itu.


"Jangan panggil aku ibu kalau kau tidak ingin bertanggungjawab atas kesalahan yang telah kau lakukan."


"Bu, aku punya alasan sendiri kenapa aku tidak bisa menikahinya." Jawab Alex.


Mendengar itu, Alex tertawa miris.


"Karena itu aku tidak menikahinya! Bu, apa ibu pikir dengan aku bertanggung jawab padanya, dia akan bahagia?! Tidak, dia tidak akan bahagia, karena aku tidak mencintainya, hatiku ini, ada wanita lain yang memilikinya." Ujar Alex.


"Cinta bisa tumbuh karena terbiasa bersama-sama Alex." Nasihat sang ibu.


"Tidak, ibu salah! Kalau memang seperti itu, lalu kenapa ibu tidak mendapatkan cinta ayah?! Aku tidak menikahinya karena aku tidak ingin ia memiliki nasib yang sama seperti ibu."


"Alex, karena itu jangan seperti ayahmu. Bertanggung jawablah dengan benar ya." Pinta ibunya.


"Tidak bisa, aku tidak mencintainya, aku tidak bisa!"


"Kau bisa melupakan wanita yang kau cintai! Lalu kau bisa memulai mencintai Rachel dan anak kalian."


Alex menggelengkan kepalanya,


"Tidak bisa! Aku bilang tidak bisa! Karena wanita yang aku cintai juga hamil anakku, aku sudah melamarnya." Ucap Alex asal, entah itu sebuah kebohongan atau kebenaran, tapi ibunya tampak begitu terpukul berat ketika mendengar Alex dengan mudahnya berkata seperti itu.


Ibunya itu sampai menganga tak percaya. Begitupun juga Yohan yang masih diam berdiri disana, pria itu juga terkejut dengan pengakuan Alex. Alex yang terlihat baik di depannya, ternyata sangat buruk.


"Kenapa kau membuat ibu kecewa?! Apa salah ibu? Ibu minta maaf, kalau ibu kurang memperhatikan dirimu, aku ini benar-benar ibu yang buruk karena tidak bisa mendidikmu dengan benar." Ujar ibu Alex yang kemudian tiba-tiba jatuh terduduk di lantai.


"Ibu." Alex ingin membantu ibunya berdiri, tapi ibunya itu kembali menolak sentuhan tangan anaknya itu.


"Pergilah, ibu tidak ingin melihatmu."


"Ibu mertua!" Ana berteriak khawatir.


Gadis itu baru saja ingin turun dari lantai atas, lalu ia tidak sengaja melihat ibu mertuanya itu tiba-tiba jatuh terduduk di lantai.


"Alex, ada apa?" Tanya Ana, ia berjongkok dan membantu ibu mertuanya berdiri, tapi sayangnya, ia tidak kuat untuk menahan tubuh ibu Alex itu.


"Alex tolong bantu aku." Ujar Ana, tapi tangan Alex kembali ditepis dan ditolak mentah-mentah oleh ibunya.


Ana yang melihat itu pun sedikit paham dengan situasinya. Gadis itu sudah menebak kalau ibu dan anak itu sedang bertengkar.


"Assisten Yohan, bantu aku." Pinta Ana pada assistennya Ray yang masih berdiri disana.


Yohan mengangguk, lalu kemudian bergerak membantu ibu Alex berdiri. Setelah itu, ia juga membantu wanita paruh baya itu berjalan menuju kamarnya.


Ana menatap Alex sejenak,


"Alex, aku tidak tahu apa yang membuatmu dan ibumu bertengkar. Tapi ingatlah, dia itu wanita yang melahirkan mu, jangan pernah menyakiti hatinya atau— suatu hari nanti, kau akan menyesalinya. Aku mengatakan ini sebagai seseorang yang sudah tidak memiliki ibu kandung lagi." Ucapnya, kemudian gadis itu melangkah pergi menyusul Yohan yang membawa ibu mertuanya.


Alex mengusap wajahnya kasar, ia tidak pernah berfikir kalau pada akhirnya akan menjadi seperti ini.


Dari lantai atas, Ray memperhatikan gerak-gerik Alex yang sedang emosi dan frustas itu. Kakak beda ibunya itu hanya menatapnya tanpa ingin ikut campur.


Ray menghela nafasnya sejenak, lalu kemudian, ia kembali masuk kedalam kamarnya.