
Pintu ruang ICU terbuka, terlihat Ana sedang terbaring tak sadarkan diri diatas ranjang rumah sakit.
Ray dan Rachel pun berdiri, mereka mendekat ke arah ranjang pasien yang didorong oleh para medis menuju ruang operasi yang terletak berdekatan dengan ruang ICU.
Beberapa ahli bedah terlihat berlarian masuk ke dalam ruang operasi. Pintu ruang operasi ditutup, saat itu juga dokter Brian keluar.
Ia berdiri di depan pintu ruang operasi. Dokter itu menatap Ray yang terlihat kacau, kemudian menghela nafasnya.
"Ana akan segera di operasi." Ujar dokter Brian.
"Setelah melakukan operasi, apa dia akan baik-baik saja?" Tanya Ray.
Pandangan mata pria itu terus fokus melihat kaca tembus pandang yang ada di pintu ruang operasi itu, ia terlihat mengamati para tim medis yang mulai mempersiapkan operasi.
Dokter Brian mengangguk dengan senyum tipisnya, sebagai seorang dokter, itu adalah ekspresi untuk memberikan dorongan semangat, harapan dan motivasi untuk keluarga pasien.
"Operasinya— aku pastikan berjalan lancar. Seorang gadis yang tangguh seperti Ana, ia pasti bisa melewati semua ini dan baik-baik saja. Keinginannya untuk berjuang pada hidupnya sangat besar." Ujar dokter Brian.
"Syukurlah." Gumam Ray,
"Apa kau suami Ana?" Tanya dokter Brian, ia kembali menatap Ray dengan intens.
"Iya benar." Jawab Ray.
"Pergilah ke bagian administrasi dan urus berkas-berkasnya, setelah operasi ini, Ana harus di rawat beberapa hari di ruang perawatan."
"Iya, terimakasih dokter." Ujar Ray sembari membungkuk hormat ke arah dokter itu.
Dokter Brian tersenyum melihatnya, ia menepuk-nepuk bahu Ray beberapa kali.
"Setelah ini, tolong kau jaga Ana dengan baik. dia itu— sudah seperti keponakanku sendiri. Jadi, sebagai pamannya, aku mohon padamu untuk jangan membuatnya sakit ataupun menderita. Bahagiakanlah dia." Bisik dokter Brian yang di balas dengan anggukan kepala oleh Ray.
Ray dan Rachel kembali mengawasi proses operasi itu dari balik kaca, setiap detik terasa bagaikan satu jam yang lama berlalu.
Mereka menunggu dengan rasa khawatir, walaupun sudah mendapatkan kabar baik dari dokter Brian, tapi tetap saja, sebelum melihat Ana membuka matanya, rasa khawatir itu tetap akan melanda.
•••
Setelah kurang lebih satu jam operasi berlangsung, akhirnya ruang operasi itu pun terbuka. Ana yang terbaring di bed rest itu masih tak sadarkan diri.
Kemudian, para tim medis membawanya ke ruang perawatan, mereka membawanya ke ruang perawatan VVIP sesuai dengan permintaan Ray.
Kini gadis itu terbaring di ruang perawatan, alat bantu pernapasan seperti oksigen dan alat medis lain seperti puls oxymeter juga alat-alat medis yang terhubung dengan monitor masih setia melekat di tubuhnya.
Dua hari berlalu, tapi Ana belum menunjukkan tanda-tanda untuk membuka matanya.
Dokter mengatakan, kemungkinan itu karena cedera ringan yang di alami kepala Ana, tapi itu bukanlah masalah besar, karena kondisi Ana semakin hari, semakin membaik.
Selama masa itu, Ray selalu setia duduk di samping Ana, ia bahkan sempat ribut dengan Kenan, hanya masalah siapa yang akan menunggu Ana.
Ya, pada akhirnya, Ray dan Rachel memutuskan untuk memberitahukan keadaan Ana pada keluarga mereka. Lagipula, Ana juga semakin membaik, hanya perlu melewati masa pemulihan saja.
Ray menatap lama istrinya itu, perlahan tangannya meraih tangan Ana dan menggenggamnya.
"Kumohon bangunlah, Ana. Kenapa kau suka sekali tidur? Apa kau tidak lelah menutup matamu seperti itu terus?" Bisik Ray.
Setiap kali, walaupun Ana tidak membuka matanya, Ray selalu mengajak Ana bicara, menceritakan hal-hal menarik, lucu dan juga hal lainnya.
"Ana."
"Ana bangunlah." Bisik Ray lagi, kemudian mencium tangan istrinya itu.