
"Dulu, aku ingin hidup seperti bunga, menjadi yang terindah diantara bunga-bunga lainnya dan disukai banyak kumbang.
Dulu, impianku adalah menjadi sorotan perhatian banyak orang. Itu karena, hidupku yang kurang perhatian dari orangtuaku.
Inilah perjalanan kisahku—
Aku lahir dari seorang wanita yang merupakan istri kedua dari pria tua yang kaya raya. Itu terdengar seperti film televisi bukan, yah tapi itulah kenyataannya.
Ayah kandungku adalah pria tua yang lebih mirip seperti kakekku sendiri daripada seorang ayah.
Ibuku menikahinya karena harta, itu benar. Dari awal semuanya adalah sebuah kesalahan. Menikah karena harta tidak akan pernah membawa kebahagiaan, yang ada hanya akan menjadikan seseorang tidak pernah merasa puas dengan kehidupannya.
Lalu, suatu hari, ayah kandungku meninggal dunia karena sakit jantung nya. Hari itu, adalah hari terberat bagiku. Bukan karena merasa sedih, tapi setelah ayah meninggal, aku dan juga kakak serta ibuku di perlakukan sangat buruk, saudara tiriku dari istri pertama ayah tidak ada yang menyukai kami sedikitpun. Kami seperti seonggok sampah menjijikan yang tinggal dirumah itu.
Mendapat perlakuan buruk, bukanlah ibuku jika ia akan tetap betah tinggal disana.
Hari itu, hujan deras mengguyur, aku dapat mengingat nya dengan jelas. Sebuah taksi berhenti didepan rumah besar itu. Ibu menarikku dan kakakku untuk masuk ke dalam taksi. Tanpa pamit, kami pergi meninggalkan rumah yang telah menjadi tempatku bernaung sampai aku remaja.
Sedih rasanya, meninggalkan tempat yang penuh kenangan begitu saja. Sekalipun tak banyak kenangan bahagia yang tertinggal, tapi karena sedikitnya kenangan manis itu, membuat diri ini sulit melupakannya.
Lalu, hidupku yang dulu serba ada kini harus terbatas dengan fasilitas yang seadanya.
Kami hidup dengan sisa uang tabungan serta sedikit warisan yang kami miliki.
Terus seperti itu, sampai akhirnya, ibu menikah dengan seorang duda pemilik perusahaan departemen store.
Terlihat bagaimana ibuku begitu jatuh cinta pada pria paruh baya itu.
Setelah menikah, kami pindah ke rumah ayah tiriku. Sama seperti di tempat sebelumnya, kami disapa dengan buruk oleh saudara tiri kami.
Mereka adalah Keana dan juga Kenan, dua kakak beradik yang begitu membenciku saat itu. Pertama kali melihat mereka, membuat ingatan burukku tentang saudara tiriku sebelumnya kembali. Itulah mengapa aku sangat membenci mereka juga.
Aku berpikir, sebuah kebencian harus di balas dengan kebencian pula, jika aku lemah seperti sebelumnya, aku hanya akan terus menjadi sosok yang lemah, yang akan selalu ditindas.
Dan kemudian, ketika waktu berlalu, rasa ketidakadilan hidup yang membuatku melakukan perbuatan buruk, menjadikan hidupku benar-benar hancur.
Hari dimana aku hamil, ayah tiriku marah besar, semua orang memandangku rendah, begitupun dengan ibu dan kakakku. Melihat semua itu membuat diri ini ingin berhenti bernapas saja.
Tapi ternyata semua masalah itu adalah batu-batu besar yang menutupi ujung gua kegelapan. Ketika aku menyingkirkan satu persatu batu-batu besar dan berat itu, aku—akhirnya menemukan secercah cahaya yang menuntunku menuju kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.
Keana, saudari tiri yang aku benci, dialah orang pertama yang membantuku menyingkirkan batu-batu besar dan berat itu. Dia yang pertama memberiku kekuatan juga semangat disaat-saat aku ingin menyerah dan berhenti berjuang.
Semenjak saat itu, aku merasa menjadi orang yang berbeda setiap harinya. Kebahagiaan yang datang padaku, bukanlah kebahagiaan semu yang hanya terasa sesaat saja, tapi setiap saat, setiap detik, dan setiap waktu.
Puncak dari rasa bahagia ku adalah kehadiran Nana dalam hidupku, kelahirannya yang awalnya tidak aku harapkan, kini menjadi seperti sebuah hadiah dari pencipta. Dia hadiah terindah yang kumiliki.
Dia adalah cahaya kehidupan ku. Kehadirannya, membawaku menemukan tujuan hidupku. Aku ingin sukses, membesarkannya dengan baik, dan menjadikannya sosok perempuan yang luar biasa di masa depan.
Dan sekarang, aku tidak ingin lagi menjadi bunga yang indah, ataupun bunga yang disukai banyak kumbang, aku tidak menginginkan nya lagi.
Sekarang, aku ingin menjadi langit, yang akan tetap selalu ada di saat malam ataupun siang, yang berada tinggi diatas sana. Semua orang butuh mendongakkan kepalanya untuk melihat langit, aku ingin dipandang seperti itu. Bukan seperti bunga, yang akan layu dan terinjak-injak saat jatuh dari batangnya."
"Dan sekarang kata happy ending tertulis diakhir kisahmu." Ucap seorang pria yang telah berhasil mengambil hatiku.
Aku tersenyum padanya,
"Belum." Kataku, membuatnya tersenyum dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Ketika manusia masih memiliki kehidupan, maka tidak akan pernah ada akhir, karena sebuah kisah hidup akan terus berlanjut sampai kita menutup mata untuk selamanya dan pergi meninggalkan kehidupan di dunia ini."
Pria itu masih tersenyum padaku, senyum kehangatan yang selalu aku sukai darinya, sebuah senyuman yang membuatku jatuh hati padanya.
"Jika begitu, semua kisah akan berakhir sedih." Katanya.
Aku tertawa mendengar perkataannya,
"Pergi dari dunia ini bukan berarti akhir yang sedih, itu hanya mindset dari setiap orang."
"Maksudmu, pergi dari dunia ini adalah sebuah kebahagiaan?"
Aku kembali tertawa, tawa yang lebih lepas dari sebelumnya.
"Tidak juga. Entahlah, kematian adalah sebuah misteri, bahagia atau tidak, kau bisa bertanya pada orang yang telah pergi."
"Kau bercanda, yang benar saja bagaimana caraku menanyakan nya?" Ucapnya dengan tawa yang juga menghiasi wajah rupawan nya.
Sekejap, kami tertawa bersama. Melepaskan sebuah hormon yang memicu kebahagiaan di dalam hati.
Sederhananya, bersama dirinya aku bahagia, bercerita lalu bertukar pikiran dan kemudian tertawa, semua itu kami lakukan tanpa adanya rasa bosan.
Hari yang berlalu terasa dengan warna-warna pelangi yang indah.
Tapi dibalik keindahan ini pasti akan ada kesedihan lain yang menyapa, entah kapan itu.
Hanya saja, aku tidak akan mempedulikan nya. Karena hari ini adalah kehidupan ku, dan hari esok adalah sebuah harapan yang masih menjadi misteri untukku.
Kini, senyuman disetiap hariku bukan karena hidupku yang telah sempurna, tapi karena aku bersyukur dengan semua yang telah aku miliki.
End.✍