
Malam itu udara terasa dingin, Yohan memberikan mantelnya kepada Ana yang tampak menggigil karena gaun yang dikenakan gadis itu hanya menutupi sebatas dada saja.
"Sebenarnya kita akan pergi kemana? Kenapa aku memakai pakaian seperti ini?"
Yohan diam tak menjawab, ia membantu Ana berjalan masuk ke dalam mobil, membuat gadis itu mencebik kesal dan hanya bisa menurut saja.
Sesuai perintah dari Ray, assisten Yohan menjemput Ana sebelum acara dimulai. Mobil itu melaju normal dijalanan yang lenggang.
Ana menatap luar jendala, awan hitam tampak begerak menutupi cahaya rembulan, perasaan tidak nyaman menyelimuti diri Ana.
Sebenarnya apa yang sedang mereka rencanakan? — Batin Ana.
Sejak siang tadi sampai malam ini, dirinya disibukkan dengan berbagai perawatan yang dilakukan oleh keempat wanita bayaran Ray.
Beberapa kali Ana mendengus kesal, ia merasa lelah dengan aktivitas seperti itu, bukan hanya badannya yang lelah tapi juga hatinya. Ana harus terus bersabar melakukan semua yang telah diperintahkan oleh Ray, jika ia tidak menurut, para wanita itu yang akan kena imbasnya. Tentu saja, Ana tidak tega.
•••
Mobil yang dikendarai assisten Yohan dan Ana telah memasuki area hotel berbintang lima, mobil itu berhenti di depan lobby utama hotel, beberapa orang pria berpakaian formal langsung menyambut mobil yang membawa Ana itu.
Pintu mobil itu terbuka, Yohan mengulurkan tangannya untuk membantu Ana keluar dari dalam mobil, gadis itu yang biasanya menolak, kali ini— karena gaun yang dikenakannya sangat menghalangi gerakannya, ia memilih untuk menerima uluran tangan dari assisten Yohan.
Saat berjalan memasuki hotel, semua orang dengan pakaian formal berwarna hitam dan putih membungkuk, memberi hormat kepada Ana. Gadis itu merasa kikuk, ia hanya mampu membalas dengan senyuman tulus.
Yohan mempersilahkan Ana untuk masuk terlebih dahulu ke dalam lift khusus yang hanya dipakai oleh para VVIP saja.
Ana masuk ke dalam lift diikuti oleh assisten Yohan. Setelah mereka masuk, assisten Yohan tampak menekan salah satu angka pada tombol lift. Kemudian, Lift itu mulai bergerak, bergerak naik menuju ke lantai paling atas.
Tak butuh waktu lama, pintu lift terbuka. Saat itu juga, Ana kembali di hadapkan dengan suasana yang sama seperti di bawah tadi, semua orang berpakaian formal membungkuk memberi hormat kepadanya.
Ana memasang wajah bingungnya, ia sama sekali tidak mengerti dengan semua ini.
Assisten Yohan mempersilahkan Ana untuk berjalan mendekat kearah pintu yang di jaga oleh dua orang laki-laki berbadan kekar di sisi kanan dan kiri.
Ini pintu neraka ya? Kenapa ada penjaga disisi kanan dan kiri, membuatku merinding saja. — Batin Ana.
Tap. Tap. Tap
Suara langkah kaki yang sangat familiar ditelinga Ana terdengar mendekatinya, langkah kaki yang selalu ditunggunya pulang saat ia masih kecil dulu. Ayah — pikir Ana.
Ana menoleh kebelakang, kemudian terlihat olehnya sang ayah yang memakai tuxedo hitam dan kemeja putih sedang berjalan ke arahnya. Farhan mensejajarkan dirinya disamping Ana, ayahnya itu mengambil tangan Ana dan meletakkannya di lengannya.
Ana menatap wajah ayahnya, Farhan tersenyum tapi senyum itu memiliki banyak ekspresi. Sedih, bahagia, haru, dan menyesal, semua tampak jelas bagi Ana.
Saat Ana kalut dengan pikirannya itu, dari arah kirinya, seorang wanita dengan pakaian formal berjalan membawa bunga baby breath ke arah Ana. Kemudian, ia tiba-tiba menyerahkan bunga yang dibawanya itu kepada Ana.
Tindakannya membuat Ana terdiam sesaat, ia memandangi bunga itu sangat lama.
Ana mencoba mencerna semua yang terjadi padanya hari ini dan malam ini.
Pada detik berikutnya, mata Ana tampak membelalak lebar ketika ia mulai sadar dengan semua yang sedang terjadi padanya ini.
Tidak mungkin, tidak mungkin secepat ini, tidak tidak. Pasti dugaanku salah, ini bukan pernikahan kan? Oh tidak mungkin! — Batin Ana.
Saat Ana masih sibuk meluruskan pikirannya, pintu di depannya itu terbuka.
Pada saat itu juga, kaki Ana terasa lemas ketika melihat isi ruangan yang penuh dengan orang-orang dan dekorasi pernikahan menghiasi setiap sudut ruangan.
Apa maksud semua ini? Kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau malam ini aku akan menikah dengan pria sialan itu?! — Batin Ana menjerit.
Ana masih diam, ia tidak ingin melangkahkan kakinya sama sekali. Farhan, sang ayah yang melihat sikap anaknya itu, perlahan menyentuh tangan Ana, memberi dukungan dan semangat pada putrinya sembari menatap Ana dengan tatapan yang seolah mengatakan 'maaf ayah tidak bisa berbuat apapun.'
Ana tersenyum tipis pada ayahnya, ia menghela nafas sejenak, kemudian berjalan berdampingan dengan sang ayah.
Alunan lembut piano mengiringi setiap langkah kaki Ana, para tamu undangan berdiri menyambut Ana yang tengah berjalan di atas karpet merah bertabur kelopak bunga.
Pandangan Ana menyapu seluruh ruangan, dibagian terdepan tempat duduk tamu undangan— Ana melihat ibu tirinya, Rio, Rachel yang menatapnya kesal dan iri, lalu di sana juga ada Kenan yang menatapnya dengan tatapan meminta maaf.
Ana terus menampilkan senyuman terbaiknya, ia harus bisa menyesuaikan diri dengan semua ini, ia juga tidak ingin terlihat sedih dihadapan ayahnya dan Kenan.
Di depan sana berdiri seorang pria berbalut tuxedo berwana hitam dengan kemeja putih didalamnya. Pria itu tampak mempesona setiap orang yang melihatnya, tatapannya yang dingin dan menusuk, membuat siapapun meleleh karenanya.
Ana mengehentikan langkahnya tepat dihadapan Ray, alunan piano yang tadinya lembut sekarang berganti dengan nada romantis yang menghangatkan hati setiap telinga yang mendengarnya.
Ayah Ana memberikan tangan putrinya itu kepada Ray, yang kemudian disambut dengan baik oleh pria itu.
Setiap rangkaian acara pernikahan, Ana hanya bisa diam dan menurut, sekarang ia bukan seperti dirinya sendiri.
Dalam hati kecilnya, Ana ingin kabur dan melarikan diri, tapi itu tidak mungkin. Karena, tanda tangannya telah tertoreh diatas hitam dan putih, yang sah secara hukum.
Lagipula, ia juga tidak ingin menyusahkan ayahnya. Ana sudah cukup kasihan melihat ayahnya yang sempat drop karena Rachel. Dan hal lainnya, ia tidak ingin Ray menggunakan Kenan sebagai ancaman untuknya. Maka dari itu, kali ini, dirinya hanya bisa pasrah.
Kini masa lajangnya berakhir sudah, ia telah menjadi istri dari seorang pria yang sangat dibencinya, seorang pria yang hanya akan menjadikan Ana sebagai mainannya saja.
Dalam hatinya, Ana berteriak kesal. Tapi, di depan semua orang, gadis itu terus menampilkan senyumannya. Tak henti-hentinya ia mengucapkan terimakasih kepada setiap orang yang memberinya ucapan selamat.
Ana menghela nafas yang kesekian kalinya, ia merasa tubuhnya sangat lelah dan butuh istirahat.
Ah badanku sakit, pantatku sudah gatal ingin duduk, kapan ini akan berakhir? Aku lelah membuat senyum palsu, aku ingin istirahat. — Ana merengek dalam hati.
Ketika dirinya sedang sibuk menggerutu di dalam hati, seseorang menepuk bahu Ana dari belakang, membuat gadis itu menoleh dan melihat Kenan yang tersenyum ke arahnya.
"Kenan." Ucap Ana yang tampak senang melihat adiknya itu datang menghampirinya.
"Kak, apa kau lelah?" Tanya Kenan, Ana melirik ke arah Ray yang berdiri sedikit jauh darinya, pria itu terlihat masih sibuk berbincang dengan rekan bisnisnya.
"Ah kau memang yang paling mengerti diriku, tidak seperti pria jahat itu." Bisik Ana, membuat Kenan tertawa kecil mendengar ucapan kakaknya itu.
"Apa kakak ingin ikut denganku?"
"Kau ingin pergi kemana?" Tanya Ray yang kini sudah berada di dekat Ana.
Ana mendengus kesal,
"Aku lelah jika harus berdiri terus, kau tidak lihat apa yang aku kenakan untuk alas kakiku? Kenan mengajakku untuk mencari tempat duduk. Apa aku tidak boleh istirahat sejenak saja?!"
Ray melihat Kenan yang ada disamping Ana,
"Kakakmu biar aku yang mengurusnya, kau bisa pergi." Ujar Ray.
Ana menatap Kenan sendu, "Pergilah." Dengan berat hati adiknya itu meninggalkan kakaknya.
"Ikut aku." Ujar Ray, ia menarik lengan Ana keluar dari ruangan itu.
"Kau akan membawaku kemana?"
"Kamar." Jawab Ray sembari berjalan memasuki lift dengan tangan yang masih menarik lengan Ana.
"Kamar?" Mendengar kata kamar, pikiran Ana sudah melayang entah kemana, otaknya memberikan tayangan negatif pada dirinya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku membawamu ke kamar karena tadi kau bilang ingin istirahat." Kata Ray.
Ana menggigit bibir bawahnya, ia merutuki dirinya yang memiliki pikiran kotor seperti tadi.
Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka. Ray kembali menarik lengan Ana, membawa perempuan itu ke salah satu kamar yang telah di pesannya.
"Masuk." Ana mengikuti Ray yang masuk ke dalam kamar hotel itu.
"Istirahatlah, aku akan kembali ke ruang resepsi pernikahan. Setelah selesai menyapa beberapa rekan bisnis penting, aku akan kembali kesini lagi." Ujar Ray.
Oh tentu! Pergilah, mataku ini akan sangat senang jika tidak melihatmu. Kau juga tidak perlu kembali kesini lagi, tidur saja dikamar hotel lain. — Batin Ana.
"Kau boleh istirahat, tapi jangan tidur. Tunggu aku kembali baru boleh tidur! Apa kau mengerti?"
Cih licik sekali. Baiklah tuan Raymond— anda lihat saja nanti! Aku akan tidur dengan pulas tanpa menunggumu kembali. — Batin Ana.
"Kalau kau ingin berganti pakaian, kau bisa mengganti pakaianmu— semua sudah disiapkan didalam lemari itu. Bagian kiri, itu berisi pakaianmu."
Ana mengangguk paham,
"Ya."
"Hanya itu?"
"Apa?"
"Katakan padaku seperti ini, baik sayang aku mengerti dan cepatlah kembali karena aku sudah tidak sabar menunggumu."
Kalimat menjijikan seperti itu, siapa yang kau suruh mengatakannya?! Tidak mau! — Batin Ana.
"Cepat ikuti perkataan ku tadi! Kau harus ingat, sekarang aku ini sudah sah menjadi majikanmu, jadi kau harus menuruti semua perintahku!"
Mendengar ucapan Ray itu, membuat Ana Ingin sekali merobekw mulut pria itu, kesal rasanya mendengar perkataannya.
"Baik sayang, aku mengerti dan cepatlah kembali karena aku sudah tidak sabar menunggumu." Ucap Ana yang terpaksa mengikuti perintah pria itu.
Ray tersenyum puas, ia mengusap kepala Ana seperti majikan yang mengusap kepala hewan peliharaannya. Membuat Ana mendengus kesal.
"Aku pergi dulu. Ingat perkataanku!" Ujar Ray.
Ya, Aku akan mengingatnya sekarang dan melupakannya saat kau pergi. — Batin Ana.
Setelah itu, Ray berjalan keluar kamar hotel mereka.
Ana meloncat senang ketika pintu kamar hotel itu telah tertutup kembali, ia bersenandung ria menuju kamar mandi, membersihkan riasan di wajahnya dan melepas hiasan yang melekat di kepalanya.
Mengingat Ray mengatakan ada pakaian di dalam lemari, tanpa melepas gaunnya, Ana menghidupkan shower, menyetelnya ke suhu hangat. Perlahan rasa lelah yang meliputi tubuhnya tadi seolah hilang terbawa oleh aliran air.
Selesai mandi, Ana keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono, ia berjalan menuju lemari. Dibukanya pintu lemari itu, dan ternyata— isinya mampu membuat mulut Ana ternganga.
Lemari itu terisi penuh dengan lingerie yang berbeda-beda bentuk dan warna. Selebihnya semuanya sama-sama tipis dan tembus pandang.
Oh tuhan! Apa lagi sekarang? Dia menyuruhku memakai pakaian laknat ini?! Jangan harap aku mau memakainya. Ah ya ampun lihatlah label harganya masih ada, ini mahal sekali, tapi sayang aku tidak bisa memakaimu wahai pakaian. — Batin Ana.
Ana menghela nafas kesal, ia bingung harus memakai pakaian apa sekarang, tidak mungkin ia menggunakan handuk kimono itu saja.
Ana melirik lemari pakaian di sebelah kanannya, itu milik Ray. Ana memikirkan bagaimana jika ia mengenakan pakaian Ray saja, dan kemudian— tangan gadis itu membuka lemari milik Ray, didalamnya hanya ada dua kemeja yang digantung rapi, satu berwarna hitam dan satunya lagi berwarna putih.
Ana memilih kemeja berwarna hitam, karena lebih terlihat tidak transparan. Dikenakannya kemeja itu yang terlihat cukup kebesaran ditubuhnya.
Kemeja hitam itu menutup tubuh Ana sampai diatas lutut, walaupun bagian pahanya masih terlihat, tapi setidaknya itu lebih baik daripada memakai lingerie yang ada di lemarinya.
Setelah itu, Ana berjalan menuju tempat tidur. Ia menghempaskan tubuhnya di atas sana.
"Ah nyaman sekali." Gumam Ana. Ia berguling-guling ke kanan dan kiri, menikmati kenyamanan tempat tidur itu, ranjang ukuran king size itu sangat besar dan lembut.
Puas dengan kegiatan absurd-nya, gadis itu kemudian menatap langit-langit kamar hotel. Tak lama waktu berlalu, rasa kantuk menyerang dirinya.
Beberapa kali Ana terlihat menguap, ia mulai mengusap-usap matanya yang telah berair.
Gadis itu mencari posisi yang nyaman untuk tidur, ia memeluk guling dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Perlahan-lahan mata Ana tertutup. Beberapa detik kemudian, alam bawah sadar telah membawanya, gadis itu tertidur pulas.
Entah apa yang akan terjadi pada Ana kalau Ray kembali ke kamar hotel itu, lalu melihat Ana yang tertidur pulas dan telah mengabaikan perintah pria itu.