
Life is like a piano, white and black. - unknow
•••
Ruang makan itu terasa hening, hanya bunyi dentingan sendok dan piring yang terdengar.
Calista, ibu Alex, wanita paruh baya itu telah memasuki dunianya sendiri. Sekalipun tangannya bergerak menyendok makanan tapi pikirannya melayang ke hal lain.
Kepalanya telah penuh terisi dengan sosok yang belum hadir di ruang makan itu, Alex.
"Alex belum bangun?" Tanya Ray, entah pada siapa.
Ibu tirinya itu menoleh padanya, menghela napas sejenak dan kembali memakan sarapannya.
"Bukankah ibu mertua membuatkan sup itu untuk Alex?" Ana menunjuk semangkuk sup yang terhidang di atas meja makan. Itu sup pereda pengar setelah mabuk.
"Iya." Jawab ibu mertuanya.
"Kalau begitu, biarkan aku mengantarkannya ke kamar Alex." Ujar Ana.
"Tidak perlu Ana, kau selesaikan saja sarapanmu. Jangan pedulikan anak itu, jika dia lapar, dia akan datang kesini sendiri." Kata ibunya, padahal dalam hatinya, dirinya sendiri ingin mengantarkan sup itu ke kamar anaknya.
"Semalam dia terlihat mabuk sekali, pasti sulit untuknya bangun. Tidak apa, aku akan mengantarkannya."
"Aku saja." Suara itu membuat kedua perempuan di ruang makan itu menoleh padanya, Ray.
"Aku yang akan mengantarkan sup itu ke kamarnya." Ray berdiri dari kursinya, tangannya mengambil sup yang sudah terlihat dingin itu.
"Tidak perlu Ray, biarkan pelayan saja yang mengantarnya." Ujar ibu tirinya.
"Aku ini kakaknya, dia mabuk sampai seperti itu pasti karena ada sesuatu. Anggap saja ini rasa peduliku padanya." Ray berlalu dari ruang makan itu, tak lupa semangkuk sup yang ia bawa.
Ana tersenyum melihat sikap suaminya. Jika di bandingkan dengan Ray yang dulu, Ray yang sekarang terlihat lebih dewasa.
"Hah sikapnya membuat hatiku terharu melihatnya." Gumam ibu Alex itu.
"Mereka sekarang terlihat seperti kakak dan adik sungguhan ya." Ujar Ana.
"Em, benar. Oh iya, bagaimana? Apa kau sudah memberitahukan pada Ray soal kehamilan mu?" Tanya ibu mertuanya itu.
"Sudah, semalam. Tapi, ngomong-ngomong, aku sangat berterimakasih pada ibu mertua. Jika bukan karena ibu mertua yang memaksaku untuk melakukan tes itu. Aku pasti tidak akan pernah tau jika ada kecambah di perutku." Jawab Ana.
"Kecambah? Kau memberinya nama kecambah?" Ibu mertuanya itu tampak tertawa geli mendengarnya.
"Terdengar aneh kan? Aku juga merasa seperti itu. Tapi Ray terus saja memanggilnya kecambah ku, kecambah, kecambah ayah." Ujar Ana seraya mengikuti cara Ray memanggil calon bayi mereka itu.
"Benarkah? Dia pasti terlalu senang. Kau beruntung Ana, memiliki suami yang mencintaimu dan bayimu sepenuh hati."
"Iya, aku sangat bersyukur ibu mertua." Jawab Ana dengan senyum bahagianya.
"Ayo makan yang banyak. Mulai sekarang jangan sampai telat makan, dan juga pilih makanan yang baik dan sehat. Jangan makan sembarang dan jangan sampai kelelahan."
"Ah ya ampun, aku mendengarkan kata-kata itu lagi. Ray semalam juga mengatakan semua itu." Ucap Ana, dengan wajah kesal bercampur candaannya.
"Karena memang harus seperti itu." Ujar ibu Alex disela-sela tawa kecilnya.
•••
Ray berdiri di depan pintu kamar adik beda ibunya. Beberapa saat lalu pria itu sudah mengetuk pintu kamar. Tapi, Alex tak kunjung membuka pintu kamarnya.
Bunyi beep menandakan password yang dimasukkannya benar, pintu kamar pun terbuka.
Bagaimana Ray bisa tau password pintu kamar Alex, itu karena Alex menggunakan angka-angka yang anak sekolah dasarpun pandai mengingatnya.
Yah, password pintu kamar Alex sama seperti password pintu kamar Ray dulu, sebelum akhirnya Ana mengganti password pintu kamar Ray, satu satu satu dan satu.
Ray masuk kedalam kamar setelah menutup kembali pintu kamar itu. Kakinya melangkah ke arah jendela dengan tirai yang masih tertutup rapat.
Dengan satu tangannya, Ray membuka tirai berwarna hitam gelap itu.
Alex terdengar melenguh, merasa terusik dengan sinar matahari yang menusuk matanya.
Ray menghela napasnya, melihat adik beda ibunya itu tertidur dengan sepatu yang masih terpasang di kakinya.
Ray meletakkan mangkuk berisi sup ke atas nakas yang ada di samping tempat tidur.
"Alex." Panggilnya pelan. Tapi, tak ada balasan dari Alex.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya." Ucap Ray sembari melepaskan sepatu yang masih terpasang di kaki Alex.
Ray lagi-lagi menghela napasnya, ia duduk di sisi ranjang membelakangi Alex.
"Aku bisa membantumu, jadi katakan saja apa masalahmu, aku akan mendengarkannya." Ujar Ray.
Telinga Alex mampu mendengarnya tapi matanya itu terlalu berat untuk terbuka. Kepalanya terasa pening karena meminum alkohol terlalu banyak semalam.
"Bagaimanapun juga, aku ini kakakmu. Walaupun ibu kita berbeda tapi ayah kita sama. Setidaknya itu berarti, kita ini masihlah saudara kandung."
Alex tampak mengusap sudut matanya, merasa sedih dan juga bahagia.
Jika kau tau apa yang terjadi padaku, kau pasti akan membenciku kak. - batin Alex.
"Aku akan selalu mendengarkanmu. Kapanpun kau butuh bantuanku, temui saja aku. Ingat, aku adalah kakakmu. Jadi, jangan pernah sungkan." Ujar Ray, ia melirik Alex yang masih memejamkan matanya. Kakaknya itu tau jika Alex sebenarnya sudah bangun.
"Baiklah, aku akan pergi. Ah iya, jangan lupa makan sup itu. Ibu membuatkannya untukmu." Kata Ray, sebelum akhirnya pergi dari kamar adiknya itu.
Mendengar suara pintu tertutup, Alex membuka matanya. Pria itu mengusap wajahnya kasar, terlihat bekas air mata disudut matanya.
Alex bangun dari posisi tidurnya, ia menolehkan kepalanya, melihat ke arah nakasnya. Semangkuk sup pereda pengar yang sudah dingin, terhidang diatas nakas itu.
Pria itu menghembuskan napasnya berat. Apa yang ia alami saat ini lebih berat, daripada saat ia harus dikucilkan di rumah ini.
•••
Rachel tersenyum menatap Nana yang baru saja bangun.
"Selamat pagi sayang." Ucapnya mengelus wajah mungil bayi itu.
Kemudian ingatannya kembali pada kejadian semalam. Dimana Nana tidur dalam timangan Yohan, bahkan pria itu juga mengantarkan dirinya dan Nana pulang ke rumah.
Mengingat semua tindakan yang Yohan lakukan pada anaknya, membuat hatinya seakan-akan tergelitik oleh ribuan kupu-kupu.
Entah kenapa, sekarang Yohan adalah satu-satunya nama yang masuk ke dalam list ayah ideal baginya.
"Nana, apa kau menginginkan ayah seperti dia?" Tanya Rachel pada anaknya yang hanya menatap polos.
"Astaga, apa yang sedang aku pikirkan. Tidak Rachel, kau terlalu banyak berpikir. Hah, ya ampun— " Gumamnya, ia mengetuk-ngetuk kepalanya untuk mengusir semua keinginan yang terlintas di otaknya.