
Dokter Brian mengetuk-ngetukan jari nya, ia masih fokus melihat komputernya yang menampilkan hasil rontgen terakhir Ana. Kemudian, Ia menghela nafas beratnya dan menatap Ana.
"Volume udara yang terperangkap semakin banyak, kau harus segera menjalani operasi, sebelum terjadi tension ptx." Ujar dokter Brian.
Ana mengangguk, ia tahu kondisinya, jika terus menunda operasi, itu tidak baik untuknya.
"Iya, aku akan segera menjalani operasi, lagipula waliku juga sudah menandatangani surat persetujuan operasi."
"Apa dia yang akan jadi walimu?" Tanya Dokter Brian sembari menatap perut Rachel yang sudah terlihat membuncit.
"Ah iya, dia yang akan menjadi waliku, dia adikku." Jawab Ana.
"Adik? Ah adik sepupu maksudmu."
"Dia adik tiriku." Ujar Ana.
"Farhan menikah lagi? Maksudku, ayahmu menikah lagi? Wah, aku tidak tau itu terjadi, tapi kau baik-baik saja kan?" Tanya dokter Brian yang tampak terkejut dengan kabar lama itu.
"Hm, awalnya sulit, tapi paman bisa lihat sendiri, aku dan saudari tiriku ini terlihat sangat akrab kan?" Ujar Ana, dokter Brian mengangguk dan tersenyum.
"Tapi, kenapa kau tidak memberitahu ayahmu atau Kenan?"
Ana menunjukkan senyum mirisnya,
"Paman pasti tahu, aku tidak akan mungkin memberitahu mereka."
"Ck, sifatmu itu sangat mirip sekali dengan mendiang ibumu. Jangan lakukan itu, jangan sama seperti ibumu, setidaknya kau harus hidup lebih lama lagi. " Ujar dokter Brian.
"Karena aku anaknya, tentu sifat kami akan memiliki banyak kesamaan."
Dokter Brian menarik nafasnya lagi,
"Ibumu itu teman baikku, dia sudah seperti kakak bagiku, melihatnya meninggal di bawah perawatanku, itu membuatku merasa kecewa pada diri sendiri. Marina, dia tidak mau operasi tranparansi ginjal karena ia tidak ingin hidup dengan ginjal anaknya yang pernah menderita karena kecelakaan, ia seolah tahu jika suatu saat pneumotoraksmu akan kambuh lagi."
Ana tersenyum miris mendengarnya, ibunya dulu memang tidak pernah memberitahukan penyakitnya pada siapapun. Mendiang ibunya itu selalu menahan sakitnya sendiri, pergi ke rumah sakit untuk cuci darah sendiri. Sama seperti dirinya saat ini, buah memang tidak akan jatuh terlalu jauh dari pohonnya.
"Ana, bagi paman— kau itu adalah keponakan paman sendiri. Jadi, paman akan berusaha yang terbaik untuk operasimu. Paman mempunyai seorang kenalan di bagian bedah kardiotoraks, ia dokter yang ahli di bidangnya, paman akan memintanya untuk menjadi dokter bedahmu." Ujar dokter Brian.
"Terimakasih, paman." Ucap Ana.
"Apa kau yang akan menentukan tanggalnya sendiri atau kau ingin meminta saran dariku?"
"Kalau pun aku yang menentukan tanggalnya sendiri, pasti yang akan menang adalah saran dari paman." Ujar Ana.
"Ya, kau benar. Bagaimana dengan lusa? Apa kau siap? Semakin cepat maka akan semakin baik bagimu."
"Aku tidak yakin, tapi akan aku usahakan." Jawab Ana.
Dokter Brian menatap Ana dengan senyum prihatinnya.
"Setelah operasi, kau juga harus dirawat inap selama lima atau tujuh hari."
Ana mengangguk,
"Selama perawatan kemungkinan tabung dada akan dipasang diantara paru-paru dan tulang rusuk, tapi itu tidak lama."
Ana menundukkan kepalanya, ia menggigit bibir bawahnya, membayangkan dirinya harus menggunakan alat seperti itu lagi, rasanya menyedihkan sekali.
Melihat kakak tirinya yang menundukkan kepalanya, perlahan Rachel menggenggam tangan Ana, memberikan dukungan dan semangat.
"Semua akan berlalu, aku percaya kau pasti bisa melewati semua ini kak. Kau harus semangat." Ujar Rachel.
•••
"Kak, apa kau sudah menghubungi Ana kalau kita akan makan siang di restorannya?" Tanya Alex pada Ray yang duduk di sebelahnya.
"Kak." Panggil Alex yang masih menunggu jawaban dari Ray.
"Diamlah." Ucap Ray.
"Oh iya, aku sudah lama tidak melihat kak Yohan, dimana dia?" Tanya Alex.
Ray menghela nafasnya, telinga-nya terasa berdenging mendengar ocehan Alex yang tiada henti.
"Kak Yohan? Kau pikir dia kakak-mu? Apa kau akan memanggil semua orang seakan mereka itu adalah keluargamu?"
"Baiklah, kau kakak-ku satu-satunya, tidak ada duanya di dunia ini, kau yang terbaik." Ujar Alex dengan senyum lebarnya seperti biasa.
"Dia sedang melaksanakan tugasnya." Ucap Ray.
"Siapa? Assisten Yohan? Ah pasti masalah perusahaan ya. Kau bekerja sangat keras kak! Kau memang yang paling pantas di posisi itu." Ucap Alex.
"Kau pikir Yohan bekerja untuk perusahaan, dia itu assisten pribadiku, dia hanya melakukan pekerjaan untukku, bukan perusahaan. Dia bekerja untuk kepentingan pribadiku, bukan kepentingan bersama."
"Wah, pantas saja dia selalu memanggilmu tuan tuan tuan, dan mengikutimu kemanapun kau pergi. Kau juga sangat percaya sekali padanya." Ucap Alex.
Ray melihat kaca mobil yang ada di dalam, disana terlihat sekertaris Yuna seperti sedang mengawasinya dan mendengarkan pembicaraannya setiap saat. Ray tersenyum miring melihatnya.
"Tapi kak, apa kau tidak takut kalau assisten Yohan mengkhianatimu?" Tanya Alex.
Mendengar pertanyaan itu, batin Ray mengatakan, kau pandai Alex, kau melemparkan umpan yang bagus.
Ray masih menatap kaca mobil itu, ia dapat melihat jelas ekspresi Yuna yang seolah menunggu jawaban darinya.
"Entahlah, aku juga terkadang memikirkannya. Tapi, siapapun yang berani mengkhianatiku, aku tidak akan memaafkannya. Jika dia berani menusukku dari belakang, maka aku akan membalasnya ribuan kali lipat, kupastikan hidupnya hancur sampai ia tidak memiliki keinginan untuk hidup lagi."
Ray mengatakan itu dengan tatapan lurus kedepan, tapi itu hanya kelihatannya saja, sebenarnya ia menatap tajam seseorang yang duduk di depannya, sekertaris Yuna. Perempuan yang sudah membodohi Ray dengan membawa bukti palsu bahwa assisten Yohan adalah pengkhianat.
Ray tahu, perempuan di depannya ini ingin menyingkirkan assisten Yohan dari sisinya. Tapi, untuk saat ini Ray hanya akan diam saja. Dia akan berpura-pura tidak tahu, sampai ia mengetahui apa alasan sekertaris Yuna melakukan ini padanya.