
Learn from yesterday, live for today, and hope for tomorrow — Unknow
🐤🐤🐤
episode sebelumnya~
Entah kenapa, sekarang Yohan adalah satu-satunya nama yang masuk ke dalam list ayah ideal baginya.
"Nana, apa kau menginginkan ayah seperti dia?" Tanya Rachel pada anaknya yang hanya menatap polos.
"Astaga, apa yang sedang aku pikirkan. Tidak Rachel, kau terlalu banyak berpikir. Hah, ya ampun.." Gumamnya, ia mengetuk-ngetuk kepalanya untuk mengusir semua keinginan yang terlintas di otaknya.
episode — Morning Day♪
Tok. Tok. Tok
"Siapa?" Tanya Rachel, ia berjalan menuju arah pintu dan membukanya.
"Kenan?" Adik laki-laki Ana itu berdiri di depan kamar Rachel dengan sebuah paper bag berwarna merah muda di tangannya.
"Ini." Kenan menyerahkan paper bag itu pada Rachel.
"Apa ini?" Tanya Rachel, ia mengernyit heran.
"Dari assistennya kak Ray. Dia bilang itu sweater Nana. Ck, kau sengaja meninggalkan itu dimobilnya ya?" Tanya Kenan.
"Hei, apa maksudmu? Aku tidak sengaja meninggalkannya." Sanggah Rachel. Gadis itu memang tidak ingat jika sweater Nana tertinggal di mobil Yohan.
"Aku lihat, kau sangat dekat dengan assistennya kak Ray. Semalam saja, kau sampai tertawa seperti itu." Ucap Kenan.
"Kau iri ya? Kau tidak suka melihatku tertawa?" Tanya Rachel dengan nada pura-pura sedihnya.
Kenan menghembuskan napasnya sejenak, pria itu memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Ia kemudian berbalik membelakangi Rachel.
"Jangan bertindak gegabah. Apa yang kau harapkan darinya? Fokus saja urus anakmu dan tebus dosa-dosa masa lalumu." Saran Kenan, adik laki-laki Ana itu kemudian berlalu, menyisakan Rachel yang masih diam.
"Apa itu benar?" Sebuah suara membuat Rachel sedikit terlonjak kaget.
"Kakak?" Rio berdiri di depan pintu kamarnya, tangannya bersedekap di depan dada. Memandang Rachel, menunggu jawaban dari adik kandungnya itu.
"Aku bertanya padamu, apa kau memang dekat dengan assisten Yohan?"
"Eng, itu..itu kami hanya berteman saja."
"Jika kau tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya, seharusnya kau cukup katakan tidak ada. Tidak perlu membuat alasan seperti itu. Hah, kau tau tidak, alasanmu itu hanya akan membuat orang-orang semakin yakin jika kau memiliki berharap lebih pada assisten Yohan." Ujar Rio.
Rachel diam, kepalanya tertunduk menghadap kakaknya.
"Aku bukannya sedang menghakimi dirimu. Kau berhak memilih hidupmu. Aku juga tau jika kau sudah banyak berubah semenjak ada Nana di hidupmu. Tapi, karena itulah, aku takut kau salah langkah lagi dan membuatmu kembali terpuruk."
Rio menghela napasnya, ia diam sejenak menatap Rachel.
"Aku ini kakakmu, kita hidup bersama dalam waktu puluhan tahun. Jadi, aku tau bagaimana sikapmu jika kau sedang menyukai seseorang. Kau~" Ujarnya.
"Aku tidak menyukainya. Sungguh, kami hanya berteman." Jawab Rachel spontan. Padahal, Rio belum menyelesaikan perkataannya.
"Sudah aku katakan, jika memang tidak maka cukup katakan saja tidak. Kau itu, tidak pernah menghilangkan cara berbohong mu. Selalu saja membuat alasan yang terlalu ambigu untuk menutupi rasa lain di hatimu."
Rio berjalan mendekati Rachel, ia mengusap pelan puncak kepala adiknya itu.
"Aku harus berangkat kerja, sampai jumpa. Oh iya, aku pikir, apa yang dikatakan Kenan padamu tadi ada benarnya juga. Saat ini, kau fokuskan saja dirimu untuk mengurus Nana." Ujar Rio. Pria itu menutup pintu kamarnya sebelum kemudian berlalu pergi dari sana.
Rachel mengangkat wajahnya, menatap punggung kakaknya yang telah hilang dari sapuan pandangannya.
Helaan napas terdengar dari mulut Rachel.
"Mereka berdua benar. Lagipula apa yang sedang kau pikirkan Rachel?! Kenapa hatimu ini mudah sekali jatuh. Sekarang yang terpenting adalah merawat Nana dengan baik." Gumam Rachel pada dirinya sendiri.
Rachel mengehembuskan napasnya, sekejap kemudian terdengar suara tangisan bayinya.
Ah ya ampun aku melupakannya.
Rachel berlari menghampiri Nana yang sudah lama ia tinggalkan sendiri di dalam box bayi.
•••
Alex keluar dari kamarnya setelah membersihkan diri.
Ia keluar dengan tangan yang membawa mangkuk sup yang telah habis ia makan.
Kakinya bergerak ke arah ruang makan yang telah kosong, tidak ada satupun orang disana, tetapi masih ada makanan yang terhidang, sepertinya itu memang sengaja disediakan untuk dirinya.
Alex duduk disalah satu kursi makan, dengan helaan napas sejenak, ia mulai mengambil salah satu makanan itu untuk sarapannya.
Tapi kemudian tangannya terhenti, matanya melihat pada kursi dimana biasanya ibunya duduk. Lalu, pandangannya beralih pada mangkuk sup yang telah kosong.
Alih-alih melanjutkan makannya, Alex berdiri, dan berlalu pergi keluar rumah, ia akan berangkat ke kantor untuk bekerja. Mungkin dengan tumpukan berkas-berkas yang menyibukkannya, bisa menghilangkan pikiran kacaunya.
•••
"Bosan Ray, jika aku harus terus dirumah setiap hari. Aku bisa mati bosan disana." Jawab Ana.
"Kau bisa melakukan aktivitas lain, seperti menonton film, membaca buku, dan kau juga bisa mengobrol dengan ibu untuk menemanimu."
"Hei, aku ini bukan putri raja yang hanya akan melakukan hal-hal seperti itu. Aku butuh gerakan fisik juga."
"Saat membaca buku kau juga menggerakkan fisikmu, tanganmu bergerak untuk membuka tiap halamannya."
Ana mendengus kesal, perdebatan semacam ini tidak akan ada habisnya. Ia memilih diam tak menjawab.
"Ana kau mendengarkanku tidak?"
"Berhentilah berbicara atau aku lebih memilih berangkat ke restoran sendiri daripada diantar olehmu yang terus saja cerewet."
"Bukan begitu Ana, aku hanya~"
"Aku tau, aku tau kau sedang perhatian padaku, tapi tidak perlu berlebihan seperti itu." Ujar Ana, tepat disaat itu, mobil yang Ray kendarai masuk ke area restoran Ana.
Ray mengentikan mobilnya saat sampai di parkiran. Ia menolehkan kepalanya, menatap Ana yang juga masih menatap dirinya.
"Maaf jika aku berlebihan." Ucap Ray yang pada akhirnya akan selalu kalah.
"Bukan maksudku tidak menyukai perhatian darimu, tapi aku tidak bisa begitu saja meninggalkan restoran yang aku bangun dengan jerih payahku sendiri." Ujar Ana.
"Iya, aku minta maaf okey."
Ana mengangguk dan tersenyum tipis, ia membuka pintu mobilnya, tapi seperti waktu itu, Ray masih mengunci pintu mobilnya, karena ada sesuatu yang Ana lupakan.
"Ray, buka." Pinta Ana.
Ray mengetuk-ngetuk bibir merahnya dengan jari telunjuknya.
Ana tampak diam, membuat Ray tidak sabar, pria itu mendekatkan dirinya pada Ana. Tapi kemudian, Ana tiba-tiba langsung menutup mulutnya, raut wajahnya tampak seperti ia sedang menahan rasa ingin muntah.
"Tidak bisa, aku bisa muntah disini jika kau menciumku." Ujar Ana, tangannya mendorong wajah Ray untuk menjauh darinya.
"Kenapa?" Tanya Ray kesal, suaranya itu terdengar seperti rengekan.
"Itu keinginan kecambahmu, dia tidak mau ayahnya mencium ibunya." Jawab Ana asal. Padahal sebenarnya ia sama sekali tidak merasakan mual, dirinya itu hanya sedang menjahili suaminya.
"Benarkah? Tapi waktu itu kau menciumku lebih dulu, tapi kau tidak mual sama sekali." Tanya Ray.
"Karena itu juga keinginan kecambahmu, waktu itu dia sedang ingin ibunya mencium ayahnya." Jawab Ana dengan wajah menahan tawa.
Ray terlihat mendengus kesal, tangannya itu bergerak menekan salah satu tombol di bagian kemudi. Pintu mobilpun dapat dibuka.
Ana mengulum senyumannya, kemudian ia membuka pintu dan keluar dari mobil, sebelum menutupnya, ia melihat suaminya yang masih tampak kesal.
"Aku pergi ya." Ucap Ana.
"Bagaimana dengan ciuman pipi?" Tanya Ray yang masih berharap. Bagi pria itu, kecupan ataupun ciuman dari istrinya adalah sebuah energi yang dapat menghantarkan semangat untuknya.
"Maaf, tapi kecambahmu bilang tidak juga. Dia tidak ingin ayahnya berdekatan dengan ibunya untuk sementara ini. Sebagai ayah yang baik kau harus bisa memahaminya ya." Ujar Ana, setelah itu ia menutup pintu mobil.
Dari luar mobil, Ana melambaikan tangannya sejenak, kemudian berlalu masuk ke dalam restorannya.
"Aku yakin sepertinya kecambahku itu laki-laki. Ia sangat tidak suka pria lain mendekati ibunya. Ah astaga, kenapa kecambahku harus meniru sifatku?!" Gumam Ray kesal.
Dengan raut wajah muramnya, Ray melajukan mobilnya keluar dari area restoran Ana menuju ke perusahaannya.
Dapat dipastikan, akan ada banyak pegawainya yang menjadi korban pelampiasan kekesalan Ray. Semoga saja para korban itu tabah dan sabar menghadapi seorang raja singa yang kalah dengan calon lion king.
🍁🍁🍁
Maafkan author yang kemarin hanya up satu episode.
🍁🍁🍁
By the way, entah kenapa pas ngetik tentang Yohan, Rachel dan juga Alex. Author keinget sama Haru, Dan Oh, juga Baek Kyung di drama extraordinary you.
Mereka bertiga itu sebenarnya pemeran pendukung, tapi entah kenapa punya cerita nya sendiri yang bisa buat pembaca suka.
Entah ini hanya perasaan author atau gimana ya.
🍁🍁🍁
Terimakasih atas dukungan kalian.
©
Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, tempat kejadian, karakter ataupun peristiwa yang terjadi.