The Destiny

The Destiny
Kebahagiaan Kecil



"Apa yang kau bicarakan padanya?" Tanya Ray.


"Tidak ada." Jawab Ana.


"Kau tidak berniat untuk ikut campur urusan mereka lagi kan? Ana, kau sudah berjanji untuk tidak peduli dengan hal-hal seperti itu. Itu semua hanya akan menyusahkan dirimu sendiri." Ujar Ray.


Ana meraih lengan Ray dan memeluknya.


"Aku sudah berjanji, aku tidak lupa itu. Percayalah, aku hanya memberinya semangat. Dia terlihat seperti Rachel saat putus asa dulu." Kata Ana sembari menarik Ray menuju bagian dokter kandungan.


"Benarkah?"


"Iya, aku tidak berbohong. Apa memberikan semangat juga termasuk ikut campur urusan orang yang kita kenal?" Tanya Ana.


Ray tersenyum, mengelus puncak kepala istrinya itu.


"Tidak, tapi jangan berlebihan."


"Baik bos!" Ucap Ana.


•••


Di ruangan itu, Ana terbaring di atas bed rest. Dokter Yui sebagai dokter kandungan terlihat sedang melakukan USG di perut Ana.


"Kandungannya sudah berusia delapan belas minggu, itu artinya kalian bisa melihat jenis kelaminnya. Apa kalian ingin melihatnya?" Tanya dokter Yui.


"Bolehkah?" Tanya Ray.


"Tentu saja, kenapa tidak, itu hak kalian." Jawab dokter Yui dengan tawa kecilnya mendengar pertanyaan yang Ray lontarkan.


"Kalau begitu biarkan kami melihatnya dokter." Ucap Ray.


"Baiklah, ayo kita lihat, apakah seorang pangeran atau seorang princess. Semoga saja posisinya memungkinkan kita untuk melihatnya ya." Ujar dokter itu.


Ray dan Ana merasa seperti sedang membuka kado besar dihadapannya. Rasanya sangat senang dan juga menegangkan.


"Kalian bisa melihatnya?"


"Saya melihatnya, tapi saya tidak tahu apakah itu laki-laki atau perempuan." Ujar Ray.


Ana tertawa mendengar perkataan Ray.


"Lihatlah baik-baik, jelas sekali kalau itu laki-laki, sayang."


"Benar, janin-nya berjenis kelamin laki-laki. Sepertinya Istri anda lebih pintar daripada anda ya, tuan Ray." Canda dokter Yui pada Ray.


"Ah begitu ya, aku sudah menduganya saat dia masih sebesar kecambah." Ucap Ray.


"Dugaan anda seperti doa yang terkabulkan." Ucap dokter Yui.


"Apa kita bisa melihat wajahnya juga dokter?" Tanya Ana.


"Wajah janin mulai terbentuk saat usia kehamilan memasuki minggu kedelapan, tapi waktu paling ideal untuk melihat wajahnya adalah minggu ke dua puluh enam, karena sebelum waktu itu bentuknya masih kontur, kalian bisa lihat sendiri, tidak terlalu jelas dan tidak terlalu bagus gambarnya. Tapi setidaknya, kalian bisa melihatnya bukan?"


"Dia menggemaskan." Gumam Ana.


"Pada usia kehamilan ibu Ana ini, janinnya sudah bisa mendengar dan merespon gerakan. Jadi mungkin ibu Ana akan merasakan tendangan dan berbagai gerakan lain dari si janin. Kalian bisa menyanyikan lagu atau memutar musik klasik untuknya."


"Apa kita bisa berbicara dengannya juga?" Tanya Ray.


"Tentu saja, tapi jangan mengharapkan jawaban darinya ya. Janinnya bisa mendengar tapi belum bisa berbicara." Gurau dokter Yui. Terlihat Ana menatap Ray dengan tawa mengejeknya, suaminya itu selalu bertanya hal-hal yang sudah pasti jawabannya.


"Baiklah, seperti yang kalian lihat. Kandungannya baik-baik saja, tidak ada masalah apapun. Janin-nya juga berkembang dengan normal." Ujar dokter Yui sembari membantu Ana turun dari bed rest.


"Saya akan memberikan resep vitamin dan juga beberapa obat kehamilan lainnya. Ah iya, anda juga harus minum susu hamil dan makan makanan yang bergizi, berat badan anda juga harus sedikit bertambah ibu Ana." Saran dokter itu.


"Iya dokter, terimakasih." Ucap Ana, tangannya kemudian meraih kertas yang di berikan dokter Yui.


•••


"Sini, biar aku saja yang menyuapinya." Ujar Yohan yang baru saja datang di ruang makan itu.


"Tidak, biar aku saja." Kata Rachel.


Perempuan itu kembali menyuapi ibu Yohan, kemudian menoleh pada Yohan yang masih berdiri disampingnya.


"Nana sudah tidur?" Tanya Rachel.


"Sudah." Jawab Yohan, pria itu mengambil posisi duduk di samping Rachel.


"Sepertinya ibu menyukaimu." Ucap Yohan.


"Benarkah? Bagaimana kau tahu?" Tanya Rachel dengan pandangan yang kembali fokus pada ibu Yohan.


"Kau tahu, saat pertama kali ibu bertemu dengan tuan Ray, ibuku mengamuk pada tuan Ray. Tapi itu hanya sementara saja, lama-kelamaan entah bagaimana, tuan Ray akhirnya bisa berteman baik dengan ibuku. Sekarang saat bertemu dengan tuan Ray, ibuku tidak akan pernah mau melihat tuan Ray pergi dari pandangannya." Kata Yohan.


"Sungguh?" Rachel tertawa geli membayangkan apa yang baru saja Yohan katakan.


"Jika ibu tidak menyukaimu, dia akan marah padamu sejak awal kalian bertemu." Ucap Yohan.


Tangan ibu Yohan perlahan-lahan bergerak menyentuh wajah Rachel, membuat perempuan itu semakin tersenyum lebar. Begitupun juga dengan Yohan.


"Apa dia tidak bisa sembuh? Melihatnya seperti ini terus, kau pasti sangat sedih bukan?" Tanya Rachel.


"Ya begitulah, tapi aku tetap bersyukur. Setidaknya aku masih bisa melihatnya setiap hari." Jawab yohan, pria itu mengelus tangan ibunya lembut, lalu mencium tangan ibunya itu.


Rachel tersenyum, terharu melihat Yohan yang begitu menyayangi ibunya.


"Baiklah, aku mengerti sekarang." Gumam Rachel.


Yohan menatapnya heran, mendengar gumaman Rachel itu.


"Apa?"


"Aku pikir, aku juga harus bersyukur karena masih bisa melihat ibuku setiap hari. Ya, walaupun beliau saat ini sangat tidak menyukai keberadaanku dan Nana." Kata Rachel.


"Itu pemikiran yang tepat." Ucap Yohan sembari mengacak-acak rambut Rachel gemas.


"Oh ya. Aku dengar, Alex menemuimu?" Tanya Yohan.


"Em, dia meminta maaf padaku. Tapi aku sudah memaafkannya. Lagipula, aku tidak ingin menjadikan masa lalu itu sebuah dendam. Semuanya adalah pembelajaran untukku." Jawab Rachel.


Yohan tersenyum menatapnya,


"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Aku akan fokus menatap masa depanku. Seperti saat ini." Ujar Rachel, tatapannya terus terarah pada manik mata Yohan.


"Sungguh?" Tanya Yohan dengan mata yang menatap Rachel teduh.


"Hm." Rachel menganggukkan kepalanya, membuat Yohan merasa jika Rachel terlihat lucu dan juga manis.


Pria itu kemudian menarik dasinya, lalu pandangannya kembali mengarah pada Rachel. Yohan mendekatkan wajahnya pada Rachel, dari hati yang paling dalam, ia ingin mencium bibir perempuan itu. Tapi sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat.


Ibu yohan tiba-tiba bersin, membuat makanan yang masih ada dimulut wanita paruh baya itu tersembur ke wajah Yohan, sontak pria itu menghentikan gerakannya.


Rachel menutup mulutnya, menahan tawa, ia tak tahan melihat kesialan Yohan yang sangat lucu baginya.


Sedangkan Yohan, pria itu menghembuskan nafas beratnya, kemudian ia menatap ibunya itu dengan raut wajah seperti sedang meratapi nasibnya yang begitu malang.


"Ibu~" Ucap Yohan terdengar seperti rengekan anak kecil.


Ibunya itu hanya bisa membalasnya dengan senyuman tanpa dosa seperti biasa.


Rachel dan Yohan yang melihatnya pun saling memandang satu sama lain, lalu kemudian ikut tersenyum dan tertawa lepas.