The Destiny

The Destiny
Stupid



Ray membuka pintu kamar, disana terlihat Ana duduk di pinggir tempat tidur, gadis itu sudah menunggunya sejak tadi.


"Kau pulang."


"Hm." Ray melepas kemejanya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Ana menghela nafasnya, suaminya itu tidak menatapnya sama sekali, bahkan tidak bertanya kenapa Ana pulang duluan, apa Ray tidak mencarinya saat Ana tidak terlihat di festival itu.


Menyebalkan


Ana merebahkan tubuhnya dikasur, ia menunggu Ray selesai mandi, bagaimanapun ia harus segera memberitahu Ray semua kebenarannya, untuk apa ingatannya kembali jika ia hanya diam saja.


Suara pintu kamar mandi terbuka, Ana merubah posisinya, ia kembali dengan posisi duduk.


Namun, saat ia ingin memanggil suaminya itu, Ray langsung masuk ke dalam walk in closet, membuat Ana berdecih kesal.


Perempuan itu pun bangkit dan berdiri di depan walk in closet, ia menunggu Ray keluar dari sana.


Dia mengabaikanku?! Apa sekarang dia percaya dengan perkataan Anita, cih.


Ana berkacak pinggang, melihat Ray yang keluar dari walk in closet itu.


Ray masih mengeringkan rambutnya dengan handuk, ia menatap Ana heran.


"Ada apa?" Tanya Ray.


"Aku ingin bicara denganmu." Ujar Ana.


Ray berlalu melewati Ana, ia meletakkan handuk yang tadi digunakannya untuk mengeringkan rambut ke tempat pakaian kotor.


"Apa?"


"Sebelumnya, apa kau tidak khawatir denganku?" Tanya Ana.


"Khawatir? Ah, kau pulang duluan, sekertaris Yuna sudah mengatakannya padaku."


"Ck, kau percaya pada sekertaris mu itu?"


Ray menoleh pada Ana, ia heran kenapa Ana tiba-tiba mengatakan itu.


"Ya begitulah."


"Bodoh."


Ray mengernyitkan keningnya, tak paham, ia mendekati Ana dan menyentuh kening perempuan itu.


"Ada apa denganmu?"


"Aku mendengar semuanya— pengumuman Angelin."


Ray terdiam, ia mengalihkan pandangannya dari Ana, melihat sikap Ray, istrinya itu semakin geram.


"Kau percaya padanya?" Tanya Ana.


Diam, suaminya kembali diam, tak menjawab dan juga tak berniat menjawab. Ray sendiri bingung dengan semua yang terjadi malam ini, rasanya rumit sekali. Ia pikir, ia akan senang, tapi tidak, ia malah merasakan sesuatu yang tidak bisa dirinya jelaskan. Sejak tadi pikirannya kalut.


"Ray!" Ana berteriak frustasi, ia menatap Ray kesal, gadis itu kehilangan kesabarannya menghadapi suaminya yang tampak bodoh saat ini.


"Sudahlah Ana, aku sedang tidak ingin berdebat, aku lelah." Ujar Ray, ia berbalik membelakangi Ana.


"Angel, apa kau sangat mencintainya?" Tanya Ana.


Tubuh Ray terlihat sedikit menegang ketika Ana menyebutkan nama itu. Tapi, tetap tak ada jawaban darinya.


"Ray, aku tau kau sangat mencintainya. Tapi— " Ana menggantungkan perkataannya, ia menatap punggung itu dengan harapan besar.


"Apa kau tidak bisa mengenali orang yang kau cintai?" Lanjut Ana.


"Sudahlah Ana, jangan membahas hal itu." Ray berbalik dan menatap Ana.


"Ray— "


"Cukup Ana!" Ray membentak Ana dengan nada tingginya, membuat Ana melangkah mundur, sesaat dirinya terkejut dengan sikap Ray itu.


"Kau tidak tahu apapun, jadi diamlah!" Ujar Ray yang kemudian melangkah menuju pintu keluar.


"Aku tahu! Ray, aku ini istrimu dan juga— "


"Kau bahkan tidak mencintaiku, jadi diamlah dan bersikap seolah tidak terjadi apapun." Ucap Ray, ia membuka pintu kamar dan menutupnya keras.


Ana terperangah dengan perkataan Ray, perempuan itu tersenyum miris pada dirinya dan juga suaminya itu.


"Bodoh! Aku mencintaimu, dan juga, aku ini anak perempuan yang selalu menghabiskan waktu akhir pekan bersamamu. Kau mengatakan jika Angel itu spesial untukmu, tapi kau sama sekali tidak bisa mengenalinya." Gumam Ana.


Perempuan itu mendesau kesal, mungkin butuh waktu untuknya mengatakan semuanya pada Ray. Disaat pikiran pria itu sedang kacau, ia benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk berkata-kata lebih.


Semua perkataannya selalu berhasil di tangkis oleh pria itu, sekarang pun Ray terlihat enggan berhadapan dengannya.