The Destiny

The Destiny
what's wrong



"Ada apa?" Tanya Alex ketika melihat Ana terlihat menendang ban mobilnya yang masih terparkir di garasi rumah.


Ana kesal dengan nasib sialnya pagi ini, setelah melihat Ray pergi bersama Yohan, ia juga pergi menuju garasi untuk mengambil mobilnya. Tapi, saat mobil itu baru saja akan keluar dari garasi, ia merasakan ada yang aneh dengan mobilnya.


Akhirnya Ana turun dari mobil itu, dan terlihat salah satu ban mobil bagian depannya kempes.


"Kau ingin pergi kemana? Aku akan mengantarmu." Ujar Alex saat ia melihat ban mobil Ana sepertinya bukan hanya kehabisan angin saja tapi ban itu bocor, terlihat ada sobekan kecil disana.


"Aku naik taksi saja. Lagipula, kau juga akan pergi bekerja, aku tidak ingin menyusahkanmu." Kata Ana.


"Tidak tidak, sama sekali tidak menyusahkan. Hari ini tidak ada berkas penting yang harus aku periksa. Jadi, bisa dikatakan hari ini aku tidak terlalu sibuk." Ujar Alex.


Ana tampak berpikir,


"Baiklah, tapi— benarkah tidak apa-apa? Masalahnya, aku ingin menemani Rachel ke rumah sakit."


Ketika mendengar nama itu disebutkan oleh Ana, pria itu tampak terkejut sesaat.


"Untuk apa pergi ke rumah sakit?" Tanya Alex yang penasaran, tapi sebisa mungkin ia membuat pertanyaan yang tidak memperlihatkan jika dirinya sedang khawatir pada Rachel.


"Nana semalam demam. Tapi, bisakah kita cepat berangkat sekarang dan lanjutkan obrolannya nanti saja. Rachel pasti sudah menungguku."


"Ah iya tentu." Alex bergegas menuju mobilnya, di ikuti Ana yang masuk ke dalam mobil.


•••


Rachel menatap jam tangannya lagi, ia sedang menunggu Ana, tapi kakak tirinya itu sepertinya terlambat dari waktu yang sudah dijanjikan.


Rachel menimang-nimang Nana yang menggeliatkan tubuhnya. Badan bayi itu masih terasa panas, semalaman ia tidak tidur karena mengurusnya.


Rasanya lelah, tapi rasa lelah itu seketika hilang saat rasa khawatir lebih mendominasi dirinya.


"Sedang apa?" Tanya Kenan yang baru saja akan berangkat ke kampusnya.


"Menunggu kak Ana." Jawab Rachel yang masih sibuk menimang bayinya.


"Kak Ana? Dia akan menginap disini?" Tanya Kenan, pria itu selalu terlihat antusias saat mendengar kakaknya akan datang ke rumah.


"Tidak, dia akan menemaniku pergi ke rumah sakit."


Kenan mengernyitkan keningnya, ia menatap Rachel dari atas hingga ke bawah.


"Kau tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit. Tapi, semakin lama aku memperhatikan dirimu, sekarang kau terlihat seperti wanita paruh baya umur tiga puluhan." Canda Kenan.


Rachel mencubit lengan Kenan yang ada di sampingnya, membuat pria itu mengaduh kesakitan.


"Kau itu selalu saja menghinaku. Aku ini lebih tua satu tahun darimu, setidaknya hormatlah padaku." Ucap Rachel.


Kenan mengusap lengannya yang terasa berdenyut karena di cubit oleh Rachel.


"Wanita yang baru melahirkan memang sangat mengerikan. Ck, seperti induk ayam." Cibir Kenan dengan tawa jahilnya, lalu kemudian ia berlalu meninggalkan Rachel yang masih berdiri di depan teras rumah.


"Kau ingin pergi kemana?" Tanya Rachel.


"Tidak lihat apa yang aku bawa?" Kenan menunjukkan tas ranselnya.


"Tas."


"Kau tahu jawabannya, kenapa bertanya lagi aku akan pergi kemana." Ujarnya, kemudian kembali melangkahkan kakinya keluar dari pekarangan rumah.


Rachel menghela napasnya melihat Kenan yang sudah hilang dari pandangan-nya.


"Rachel." Panggil Ana yang baru saja keluar dari mobil Alex. Karena melamun, Rachel bahkan tidak sadar jika kakak tirinya itu sudah sampai di depan rumah.


"Aku pasti membuatmu menunggu sangat lama ya?" Tanya Ana dengan wajah bersalahnya.


"Benar, kakiku sampai mati rasa karena terus berdiri disini menunggumu." Jawab Rachel, berpura-pura kesal pada kakak tirinya itu.


"Nana maafkan bibi ya, membuat ibumu menunggu lama." Ujar Ana pada bayi yang Rachel gendong.


"Kenapa dia mengantar kakak? Kakak tidak memakai mobil sendiri?" Rachel menunjukkan jarinya pada Alex yang berdiri di belakang Ana.


"Itu karena mobilku sedang sakit." Kata Ana, tangannya masih sibuk memainkan pipi anak Rachel.


"Oh kalau begitu kita berangkat ke rumah sakit naik taksi saja."


"Alex akan mengantarkan." Jawab Ana, ia mengambil Nana dari Rachel dan menggendongnya.


Rachel menatap Alex dengan senyuman ramah, sedangkan pria itu membalasnya dengan senyum canggung.


"Ayo." Ajak Alex, tatapannya masih terpaut pada Rachel.


Rachel mengangguk,


"Kak, ayo."


"Hm." Ana berjalan ke arah mobil bagian tengah, entah kenapa ia memilih duduk disitu dan membiarkan Rachel duduk di bagian depan bersama Alex.


•••


Ray memijat pelipisnya, ia merasakan pening di kepalanya.


"Tuan, apa anda baik-baik saja?" Tanya Yohan.


"Hm." Jawab Ray seadanya.


"Apa tuan sedang sakit?" Tanya Yohan lagi.


Ray menggelengkan kepalanya,


"Tidak, aku hanya lelah."


Pria itu duduk disalah satu kursi yang tersedia. Saat ini, Ray dan Yohan sedang berada di tempat persiapan perayaan pernikahan Ray dan Ana.


Konsep yang Ray usung adalah outdoor, ia ingat jika Ana sangat suka menatap langit malam. Karena itu, ia memilih konsep ini untuk anniversary pernikahannya.


"Saya akan mengambil minuman untuk anda tuan." Ujar Yohan, pria itu bergegas menuju salah satu meja yang terdapat beberapa botol mineral dan snacks yang disiapkan untuk para pekerja yang tengah mempersiapkan dekorasi perayaan pernikahan.


Yohan melangkah kembali menghampiri Ray, ia menyodorkan botol air mineral itu pada tuannya.


"Silahkan tuan."


Ray dengan lesu mengambil botol air mineral itu, membuka tutup botol dan meneguknya perlahan. Tapi, tiba-tiba ia menyemburkan air yang telah masuk ke mulutnya itu.


"Ada apa tuan?" Tanya Yohan yang terkejut dengan tindakan Ray.


"Pahit." Ujar Ray.


Yohan mengernyitkan keningnya heran. Assisten Ray itu mengambil air mineral yang masih ada dalam genggaman tuannya. Yohan melihat tanggal kadaluwarsa-nya, disana tercetak jelas jika kadaluwarsa-nya masih cukup lama.


Pada akhirnya, Yohan pun meneguk air mineral bekas Ray itu.


Tidak pahit. - batin Yohan.


"Tuan ini— "


"Kau ingin berkata jika itu tidak pahit?" Sela Ray, memotong perkataan Yohan.


"Eh, iya tuan. Ini memang tidak pahit sama sekali." Ujar Yohan.


"Itu yang orang lain katakan padaku juga." Kata Ray.


"Apa ada masalah dengan kesehatan anda tuan?"


Ray mengehela napasnya,


"Entahlah, belakangan ini aku merasa tidak berselera makan. Minum pun selalu menginginkan yang manis, air mineral terasa pahit. Kau tau, bahkan aku sekarang menyukai es krim." Ujar Ray, pria itu sedang mengeluhkan kondisinya yang ia rasa sangat aneh belakangan ini.


"Tuan, kita pergi ke rumah sakit saja ya. Kita periksakan apa ada yang salah dengan tubuh tuan." Kata Yohan, dirinya tampak panik, pria itu takut jika Ray jatuh sakit. Bagaimanapun juga, jika Ray sakit karena ginjalnya, Yohan akan merasa bersalah.


"Jangan khawatir, ginjalku baik-baik saja." Ucap Ray yang seakan paham dengan ketakutan dari Yohan.


"Tapi tuan, bagaimana jika— "


"Aku sudah ke dokter pribadiku kemarin. Dia bilang aku hanya kelelahan. Jika kau tidak percaya, aku akan memperlihatkan resep yang di tuliskan dokter itu padamu." Kata Ray.


"Tidak tuan, saya percaya. Saya hanya khawatir saja." Jawab Yohan.


Ray berdiri dari duduknya dan menepuk pundak assistennya itu sekilas.


"Aku paham perasaanmu. Kau tidak perlu takut akan kesehatanku, aku selalu baik-baik saja. Santailah sedikit." Ujar Ray.