
Yohan masih berdiri tegak di posisinya, tak berniat duduk ataupun bergerak. Rachel mengehembuskan nafasnya dan menoleh pada pria itu.
"Apa kau tidak lelah berdiri seperti itu terus?" Tanya Rachel.
"Ini tugas saya nona." Jawabnya seperti biasa, selalu mengatasnamakan semua yang dilakukannya adalah tugasnya.
"Tapi kak Ray sedang tidak disini, kau bisa duduk." Ujar Rachel, ia merasa risih, rasanya seperti sedang ada makhluk tak kasat mata yang terus mengawasinya.
"Terimakasih atas perhatian anda, tapi ini tetap tugas saya, mohon anda abaikan saja." Jawab Yohan yang membuat Rachel semakin mendesah kesal. Pantas saja kakak tirinya - Ana, selalu terlihat malas berdekatan dengan Yohan, itu karena pria ini terlalu kaku dan tidak bisa di anggap seperti manusia pada umumnya.
"Aku tidak tau lagi harus berkata apa padamu. Bisakah kau pergi saja?!" Pinta Rachel yang sudah kesal.
"Maaf nona, tapi tugas saya adalah menjaga anda, saya tidak bisa pergi begitu saja." Jawabnya lagi.
"Tugas tugas tugas! Kau selalu mengatasnamakan semua yang kau lakukan itu adalah tugas! Aku tahu kau bekerja sebagai assisten pribadi, tapi bukan berarti kau harus bertingkah tidak manusiawi seperti ini, kau itu bagaimana bisa hidupmu sangat kaku seperti ini?! Pantas saja, sampai sekarang kau tetap melajang, siapa yang mau menikah dengan orang seperti mu, ck." Rachel menghela nafasnya, ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, meredakan emosinya.
Yohan hanya diam seperti biasa, jika menurutnya itu perkataan yang tidak perlu ia jawab, maka dirinya hanya akan diam.
"Kau tahu, aku dulu adalah orang jahat dan bodoh yang suka mencari perhatian. Hidupku hanya dipenuhi keserakahan dan ke-irian. Setiap kali melihat orang lain tersenyum karena orangtuanya, maka aku kesal dengan orangtuaku. Karena itu, aku meluapkan semua kesedihanku dengan pergi ke bar atau club, aku pikir— aku bisa melupakan semuanya tapi ternyata hanya sesaat saja."
Rachel menghela nafasnya lagi,
"Aku akan memberitahumu sebuah rahasia, dengarkan baik-baik. Sebenarnya anak ini hanya mempunyai satu ayah. Hanya saja, aku tidak tahu siapa pria itu. Tapi, kenapa aku tidak mengatakan ini pada keluargaku dan orang lain? Itu karena, pria itu seorang pengecut, orang seperti itu tidak pantas menjadi ayah anak ini. Dia melakukan itu padaku dengan identitas yang berubah ubah, pria itu selalu memperkenalkan dirinya dengan nama berbeda, mungkin dia pikir aku bodoh."
Rachel tertawa miris pada dirinya, ia kini menatap Yohan.
"Tapi sayangnya, aku benar-benar tidak mengingatnya sama sekali, aku tidak ingat bagaimana wajahnya, aku hanya ingat bagaimana aroma tubuhnya dan tanda lahir berwarna merah di punggungnya." Ujar Rachel.
Yohan masih diam, tapi karena ia memiliki telinga dan pendengaran yang baik, tentu saja ia mendengar semuanya.
"Apa kau tahu, kenapa aku menceritakannya kepadamu?"
"Telinga, mata dan mulut saya tidak mendengar, melihat, dan mengucapkan yang anda ceritakan nona."
Rachel tertawa lepas,
"Itulah kenapa aku mengatakan semuanya padamu, karena orang yang tidak memiliki hati sepertimu hanya akan menganggapnya angin lalu. Kau tidak peduli dengan orang sekitarmu walau kau pikir kau sedang mempedulikannya. Sifatmu yang seperti itu, sama saja seperti orang hidup yang kehilangan hatinya, setidaknya buatlah hidupmu sedikit berwarna, agar orang di sekitarmu merasa hangat dan nyaman." Ujar Rachel.
Jangan harapkan jika Yohan akan menjawab, pria yang seperti batu itu hanya akan kembali kepada sifat batu, yang diam dan hanya bergerak jika dipindahkan.
Tapi kemudian pria itu berjalan ke arah pintu. Rachel pikir, Yohan akan keluar tapi ternyata dirinya sedang membuka pintu untuk melihat seseorang yang sejak tadi berdiri di depan pintu, dapat dipastikan jika ia juga mendengarkan semua cerita pilu Rachel.
Alex tersenyum canggung saat ketahuan kalau dirinya tak sengaja menguping. Rachel menghembuskan nafasnya dengan mata terpejam sesaat.
"Sejak kapan kau disana?" Tanya Rachel.
"Aku tidak sengaja mendengar nya, tapi kau tenang saja, aku tidak mendengar, melihat ataupun membicarakan apa yang kau katakan." Ujar Alex mengikuti perkataan Yohan.
Rachel berdecih, ia mengalihkan pandangannya kembali keluar jendela.
"Aku akan mengingat janjimu itu, jangan mengatakannya pada siapapun." Ucap Rachel.
"Iya tentu saja." Jawab Alex sembari menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Yohan.
Rachel menoleh ketika mendengar Yohan berbicara informal pada pria itu.
Alex tertawa ringan,
"Dia memang seperti itu padaku dan ibuku, padahal aku dan kak Ray sudah berbaikan." Ujar Alex.
"Maaf, tapi tuan Ray belum memerintahkan ku untuk berkata formal padamu." Ucap Yohan.
"Ya, dia memang seperti manusia robotic, yang ter-setting dengan baik." Rachel tersenyum miris pada Yohan, ia menggelengkan kepalanya heran pada pria itu.
"Alex?" Ana baru saja masuk kedalam kamar perawatan bersama Ray yang masih setia memeluk pinggang Ana dari samping.
Alex menoleh ke arah Ana yang memanggil namanya itu. Lalu, sebuah senyum manis tampak terukir di wajah Alex.
"Alex!" Teriak Ana yang senang melihat teman curhatnya itu sudah kembali, ia melepas tangan Ray yang masih melingkar di pinggangnya dan berhambur memeluk Alex.
"Wow wow santai nona. Kau membuatku dalam masalah jika kau seperti ini." Ujar Alex ia melirik ke arah Ray yang terlihat seperti ada asap keluar dari kepalanya.
"Aku senang kau kembali." Ucap Ana yang kemudian melepas pelukannya, gadis itu meninju pelan dada Alex layaknya seorang teman sesama pria. Alex tersenyum menanggapinya.
Ray menarik baju Ana dari belakang, membuat gadis itu mundur dari hadapan Alex.
"Ada urusan apa kau kemari?" Tanya Ray dengan nada kesalnya.
"Ck, aku hanya ingin memberikan ini pada Ana, dia memintaku membawakan buah tangan saat aku kembali." Ujar Alex, ia menyerahkan sebuah paper bag kepada Ana.
"Terimakasih." Ujar Ana, gadis itu ingin meraih paper bag yang Alex berikan, tapi Ray dengan cepat merebutnya.
"Ray!" Ana memandang Ray kesal.
"Sudah, kau boleh pergi." Ujar Ray pada Alex.
"Ya, sepertinya aku tidak diharapkan disini. Baiklah, Ana aku pulang dulu ya, see you." Alex menepuk pundak Ana pelan, lalu kemudian berlalu pergi dari hadapan gadis itu.
Tapi, sebelum ia benar-benar keluar dari kamar perawatan itu, Alex menoleh lagi untuk menatap ke arah Rachel.
"Aku berharap kau melahirkannya dengan selamat dan bayi itu sehat." Ujar Alex, ia tersenyum pada wanita itu, Rachel membalasnya dengan anggukan yang disertai senyuman.
Setelah itu, Alex keluar dari kamar perawatan dan menutup pintunya kembali.
"Ray, berikan itu padaku." Ujar Ana sembari mengambil kembali paper bag itu dari tangan Ray. Lalu kemudian, ia membuka paper bag itu untuk melihat isinya.
"Ha? Susu?" Ana mengernyitkan keningnya, merasa heran ketika ia melihat merk susu rendah lemak dan tinggi kalsium di dalam paper bag itu.
"Biar aku lihat." Ray mengambil susu itu dari dalam paper bag. Dari gambarnya saja sudah terlihat kalau itu susu untuk wanita melahirkan, susu yang memiliki kandungan kalsium untuk memicu ASI agar banyak.
"Bukankah ini lebih pantas diberikan untuk Rachel?" Kata Ana yang tampak kecewa dengan isi paper-bag itu.
"Ya, mungkin ini memang bukan untukmu." Ujar Ray sembari memberikan paper bag itu pada Rachel.
"Berikan saja pada Rachel, besok aku akan membelikanmu milk yang kau inginkan." Ujar Ray.
"Bukan milk, tapi candy milk." Ucap Ana.
"Iyaa— aku janji akan membelikannya untukmu." Ujar Ray.
"Akan aku ingat janjimu."