
Yohan berjalan menuruni tangga. Setelah Ana datang dan melihat tuan-nya itu akan baik-baik saja bersama istrinya. Yohan berencana untuk pulang ke apartemennya.
Namun, sampai dibawah tangga itu, ia melihat Alex yang sedang menatapnya, pria berkepala tiga itu ingin mengabaikan Alex begitu saja, namun Alex tiba-tiba menghalangi jalannya.
"Ada yang ingin aku katakan padamu." Ujar Alex.
Yohan menatapnya malas, ia kembali melangkahkan kakinya.
"Ini soal gadis itu." Ucap Alex. Kalimat itu membuat Yohan menghentikan langkahnya.
"Apa kau tahu siapa ayah dari anak yang baru saja dilahirkannya?"
Yohan masih diam ditempat, membuat Alex tersenyum sinis dan mendekati pria itu.
"Apa itu kau?" Tanya Alex lagi.
"Apa aku terlihat seperti pria yang tidak bertanggungjawab?!" Ujar Yohan dengan raut kekesalannya.
Alex tertawa,
"Kau benar, tapi aku hanya menebak saja. Kenapa kau terlihat begitu marah?"
Yohan menatap tajam adik beda ibu tuan-nya itu.
"Bagaimana jika aku bertanya hal itu padamu. Apa itu anakmu?" Tanya Yohan, memutar balikkan pertanyaan Alex.
Sesaat Alex tampak tercengang, namun kemudian ia kembali menetralkan ekspresinya.
"Kau sepertinya sangat peduli dengan gadis itu." Ujar Alex.
"Kau bahkan tidak berani menjawabnya, kau mencoba mengalihkan topik pembicaraan kan. Ck, dasar pecundang." Kini Yohan yang menatap sinis pada Alex.
"Aku tidak mengalihkan topik pembicaraan, aku hanya ingin bertanya, kenapa kau terlihat peduli padanya?" Kata Alex.
"Kau sendiri, untuk apa kau bertanya tentang dia?!"
Yohan mencibir,
"Katakan saja kalau kau suka padanya."
"Hei! Jangan mengambil kesimpulan seperti itu. Bukankah kau sendiri yang menyukainya."
"Aku? Tidak mungkin." Jawab Yohan.
"Tidak mungkin? Kau pikir aku tidak tahu, selama ini, diam-diam kau mengawasinya kan? Kau mengatasnamakan tugas sebagai tameng mu, padahal kau selama ini mengikuti Ana agar bisa memantau Rachel dari dekat kan?! Kau pikir aku tidak tau?"
Yohan tertawa, tapi bukan tawa biasa, tawa yang mengundang rasa misterius kepada orang yang mendengarnya.
"Kau menyudutkan orang lain diatas perasaan pribadimu sendiri. Pecundang yang menyedihkan." Ujar Yohan, pria itu berlalu meninggalkan Alex yang mengepalkan tangannya.
"Yohan!" Panggil Alex, pria yang dipanggil pun menoleh. Melihat Yohan yang menoleh, Alex langsung meninju wajah assistennya Ray itu cukup keras.
Sudut bibir Yohan terlihat mengeluarkan darah segar.
Yohan mengusap sudut bibirnya yang berdarah itu. Kemudian, ia berjalan mendekati Alex. Yohan tidak berniat membalas Alex dengan tinjuan, pria seperti Yohan akan menghadapi hal sepele seperti itu dengan emosi yang dapat ia kendalikan.
Yohan memegang kedua bahu Alex,
"Sudah aku katakan sebelumnya, kalau kau menyukainya, maka katakan, dan aku akan memberikanmu jalan yang luas untuk melangkah mendekatinya." Bisik Yohan tepat di telinga Alex.
Alex melepaskan tangan Yohan dari bahunya, pria itu menepuk-nepuk bahunya yang seolah kotor oleh tangan Yohan.
"Kalau aku berkata tidak menyukainya, apa kau akan pergi padanya dan bertanggungjawab? Atau kau akan tetap mengawasinya sebagai pecundang yang sesungguhnya?" Tanya Alex.
Yohan terdiam, ia merasa kalau Alex sedang membuatnya menjadi seekor kambing polos yang diberi warna hitam.
"Jangan berteriak pecundang kalau ternyata dirimu yang sebenarnya adalah seperti itu. Kau harus tahu, kalau kau bukan hanya pecundang saja, tapi— kau ini juga seorang pengecut yang sudah ahli di bidangnya." Kata Yohan.
Alex yang mendengarnya hanya diam tak bergeming, tapi pria itu memberikan tatapan tajam pada Yohan.