The Destiny

The Destiny
Bantuan



Rachel menopang dagunya, ia merasa mulai bosan karena sudah terlalu lama menunggu seseorang yang ingin mengajaknya bertemu di luar.


Wanita itu meminum jus alpukatnya sampai habis.


Tidak lama kemudian, terdengar suara gemerincing lonceng dari pintu masuk, Rachel menolehkan kepalanya, ia tersenyum, akhirnya perempuan yang di tunggunya datang juga.


Rachel melambaikan tangannya ke arah Ana,


"Kak, disini!" Panggil Rachel, perempuan yang dipanggil pun melangkah mendekat ke meja Rachel.


"Maaf membuatmu menunggu lama." Ujar Ana, wajahnya terlihat menyesal, ia tidak sengaja datang terlambat dan membuat adik tirinya yang sedang hamil harus menunggunya lama.


"Tidak masalah." Ucap Rachel.


"Apa kau sudah pesan makanan?" Tanya Ana.


"Em, sudah."


"Sepertinya kau menunggu sangat lama ya." Ujar Ana sembari menampilkan wajah bersalahnya.


"Tidak masalah kak, aku baik-baik saja."


"Tapi bayimu—."


"Dia baik-baik saja, dia sepertinya juga suka menunggumu." Canda Rachel.


"Maaf."


"Jangan meminta maaf terus. Ayo katakan saja, kenapa kakak memintaku bertemu disini?" Tanya Rachel.


Ana diam sejenak, ia kembali meyakinkan dirinya kalau ini adalah pilihan yang tepat.


Gadis itu kemudian mengeluarkan surat persetujuan operasi dari dalam tasnya, lalu ia berikan pada Rachel.


Rachel menerimanya, ia mulai membacanya dengan teliti. Kata pertama yang terbaca olehnya adalah operasi, membuat wanita hamil itu membelalakkan matanya.


"Operasi?"


Ana mengangguk lemah, ia tidak mempunyai keberanian untuk menatap Rachel, air matanya seakan bisa jatuh kapan saja, sesekali tangannya menyeka sudut matanya. Jujur, ia benci situasi seperti ini.


"Penyakit apa itu? Apa separah itu? Sejak kapan? Kak! Katakan padaku."


Rachel memegang tangan Ana, ia berharap rasa peduli dan khawatir-nya dapat menyalurkan semangat pada Ana.


"Kolaps paru-paru, pneumotoraks." Jawab Ana.


"Apa itu penyakit yang berbahaya?"


"Bisa dikatakan begitu. Karena— saat gejalanya tidak segera ditangani, lama-kelamaan bisa menjadi tension pneumotoraks. Seseorang yang mengalami tension pneumotoraks, dalam waktu dua sampai lima menit, jika tidak ada pertolongan pertama yang tepat, itu bisa menyebabkan kematian." Ujar Ana.


"Bagaimana itu bisa terjadi padamu kak? Kenapa tiba-tiba seperti ini?!" Rachel menatap Ana sedih.


"Itu karena kecelakaan yang aku alami saat aku kecil."


"Kecelakaan?"


"Hari itu seharusnya aku, ayah, mama-ku, dan Kenan pergi ke tree park seperti biasa. Tapi— karena aku yang terlalu bersemangat dan tidak mendengarkan perkataan mama-ku, aku menyebrang jalanan sendiri dan tertabrak mobil, saat itu kondisi-ku sangat parah, aku mengalami cedera otak dan patah tulang rusuk yang menyebabkan paru-paruku kolaps." Jawab Ana sembari menundukkan kepalanya. Gadis itu sedang berusaha menyembunyikan isak tangisnya.


Rachel sedih melihat Ana yang tampak putus asa seperti ini, rasanya hatinya tersayat sebilah pisau tajam.


Sungguh, Rachel tidak percaya kenapa tuhan memberikan ujian hidup yang sulit kepada perempuan sebaik Ana.


"Jika kejadiannya cukup lama, kenapa sekarang terjadi lagi padamu?" Ujar Rachel.


Gadis itu mengatakannya dengan diiringi oleh isak tangisnya.


"Jangan menangis. Aku yang sakit kenapa kau yang menangis seperti itu" Ujar Ana.


"Aku khawatir. Aku sangat takut kehilanganmu, kak." Ucap Rachel.


"Terimakasih sudah peduli padaku."


"Lalu— apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?"


"Tanda tangan, aku ingin kau menjadi waliku untuk menyetujui operasi yang akan aku jalani." Ujar Ana.


"Jadi maksud kakak— ayah dan Kenan mereka— tidak tau?"


Ana menggelengkan kepalanya dan tersenyum miris, sebenarnya ia ingin sekali memberitahu, tapi ia juga tidak ingin lagi melihat kedua pria itu merasakan kesedihan yang sama seperti waktu itu.


"Kau tidak berniat memberitahukan hal ini pada mereka?"


"Tidak, mereka hanya akan histeris seperti mu. Aku sangat menyesal sudah memberitahumu, maaf. Aku tidak tau jika kau akan seperti ini."


"Jangan menyesal karena telah memberitahuku, aku bersyukur kakak percaya padaku untuk membagi kesusahan yang kakak alami."


Rachel menyeka air mata Ana, ia menyunggingkan senyumannya, memberikan dukungan dan semangat kepada kakak tirinya itu.


Ana tersenyum membalasnya, ia juga bersyukur bisa mendapatkan kepedulian dari Rachel, akhirnya ia bisa menjalani operasi tanpa ada banyak orang yang tau.


"Aku akan menandatangani surat persetujuan operasi, aku juga akan menemanimu saat kakak menjalani operasi itu."


"Terimakasih." Senyum haru terukir di wajah Ana.


"Sudah seharusnya aku membantumu, jadi kumohon jangan merasa bersalah ya." Ujar Rachel, Ana membalasnya dengan anggukan kepala.


"Jadi, apa kakak sudah menentukan tanggalnya?"


"Belum— tapi aku sudah memikirkannya."


"Pria itu tau?"


"Tidak, tidak ada yang tau selain dirimu. Rachel, bisakah kau berjanji padaku untuk tidak memberitahukan hal ini pada siapapun?"


"Aku janji, percayalah padaku, tidak akan ada yang tau, tapi— itu selama operasinya berjalan baik-baik saja dan kau akan sehat kembali."


"Itu artinya, pada akhirnya kau akan memberitahu mereka."


"Kak— coba kakak pikirkan, kalau operasi berjalan tidak baik, dan itu— itu— ah! aku tidak sanggup mengatakannya. Intinya, mereka yang menyayangimu akan merasa bersalah, mereka akan menyalahkan diri mereka sendiri."


Ana menggigit bibir bawahnya, ia tidak bisa menyangkalnya, apa yang Rachel katakan memang benar, mereka akan menyalahkan diri mereka sendiri.


"Baiklah, tapi hanya ketika itu terjadi saja, baru kau beritahu mereka."


"Iya, aku berjanji."


Ana memandang Rachel dengan senyuman penuh rasa syukur, ia akhirnya bisa tenang tanpa harus merasa bingung lagi karena perihal tanda tangan.


"Terimakasih Rachel, terimakasih." Gumam Ana sembari memeluk adik tirinya itu.