
Beberapa hari telah berlalu, tapi Ana masih tak ingin bicara dengan Ray. Gadis itu selalu menghindar saat ia harus satu ruangan dengan suaminya itu.
Ray menghela napasnya, ia merasa sudah putus asa dengan semua ini. Dirinya sudah mencoba berusaha untuk memperbaiki keadaan, tapi sepertinya Ana masih belum membuka maaf untuknya.
Padahal sebenarnya, gadis itu sudah lama memaafkannya. Hanya saja, ia merasa emosional dan kesal setiap kali melihat suaminya itu.
"Ana." Panggil Ray, istrinya itu baru saja keluar dari walk in closet.
Diam, seperti biasa. Gadis itu bungkam tak menjawabnya.
"Ana, aku mohon dengarkan aku. Bisakah kita bicarakan baik-baik masalah ini? Sampai kapan kau akan terus marah dan mendiamkanku seperti ini?" Tanya Ray dengan nada yang terdengar sangat frustasi.
Ana menghentikan langkahnya saat ia hendak keluar dari kamar. Gadis itu menoleh dan memandang suaminya yang tertunduk lesu.
"Aku memang tidak memecat sekertaris baru itu, tapi aku sudah memindahkannya di tim manajemen pemasaran. Jika kau tidak percaya tanya Alex saja, dia sekarang menjadi bawahan Alex." Ujar Ray masih dengan kepala tertunduk, ia tidak tahu jika istrinya itu kini menatapnya.
Ray menarik rambutnya dengan kedua tangannya, ia ingin sekali tenggelam di dasar lautan saja saat ini.
Melihat Ray yang begitu putus asa. Ana berjalan perlahan mendekati suaminya yang masih terduduk di pinggir ranjang dan senantiasa menundukkan kepalanya. Ia memegang lembut kedua tangan Ray yang masih berada di kepala pria itu.
Ray mendongakkan kepalanya saat melihat kaki Ana berdiri di hadapannya.
Ia menatap gadis itu sendu, pancaran sinar keputus-asaan tampak jelas dari sorot mata suaminya itu. Ia menyesal, sangat-sangat menyesal telah membuat Ana marah dan mendiamkannya selama beberapa hari.
"Ana~ " Panggilnya lirih.
Ana hanya diam menatap wajah pria itu. Tampak bulu-bulu halus tumbuh di wajah Ray, yang berarti, pria ini benar-benar kacau selama ia mendiamkannya. Ray bahkan tidak peduli lagi dengan keadaan dirinya sendiri.
"Kau menyesal?" Tanya Ana. Ray merasa hatinya menghangat setelah sekian lama tak mendengarkan suara Ana yang berbicara padanya.
Pria itu tampak menyunggingkan senyumnya sekilas.
"Aku menyesal." Jawab Ray dengan raut wajah menyesalnya. Ia bahkan berjanji pada dirinya, jangan sampai membuat Ana marah lagi, karena dirinya tidak bisa menerima hukuman dengan didiamkan seperti ini.
"Aku senang mendengarnya. Baiklah, aku memaafkanmu" Ujar Ana.
"Tapi, bukan berarti aku akan melupakan semuanya. Jadikan itu pelajaran untukmu." Sambung Ana lagi.
Ray mengangguk paham, ia tersenyum sumringah mendengar permintaan maafnya akhirnya diterima oleh istrinya.
Pria itu kemudian memeluk tubuh Ana yang sudah lama ia rindukannya.
Ana yang awalnya ingin membalas pelukan suaminya itu, namun tiba-tiba ia mendorong tubuh Ray.
Gadis itu berbalik membelakangi Ray. Ana menutup mulutnya, ia merasakan gejolak itu lagi. Akhir-akhir ini, perutnya terus saja merasa mual, apalagi saat berdekatan dengan Ray, ia kadang merasa mual, kesal dan juga sangat emosional.
"Ana, kau ingin pergi kemana?" Tanya Ray saat melihat Ana bergegas keluar dari dalam kamar mereka.
"Kau bau!" Teriak Ana dari luar kamar.
Ray mengerucutkan bibirnya kecewa, ia mencium aroma tubuhnya dan hawa nafasnya sendiri.
Aku memang belum mandi dan juga sikat gigi. Tapi, aku tidak bau. - Ujar Ray dalam hatinya.
Pria itu dengan lesu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sedangkan Ana, ia masih berdiri di depan pintu kamar mereka, gadis itu tampak mengatur napasnya agar rasa mual di perutnya hilang.
"Nona." Panggil Yohan, pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya, membuat Ana terlonjak kaget.
"Maafkan saya, nona." Ujar Yohan.
"Lupakanlah. Apa kau sedang menunggu Ray?"
"Iya nona. Apa nona akan ikut memeriksa persiapan perayaan pernikahan nona dan tuan Ray?"
"Ha? Ray sedang mempersiapkan perayaan pernikahan kami?" Tanya Ana, ia belum mengetahui tentang hal itu. Dirinya kemudian ingat beberapa minggu lalu, Ray mengatakan akan membuat perayaan pernikahan mereka. Tapi, karena Ray tidak membahasnya lagi setelah itu, Ana pikir tidak jadi.
"Apa tuan Ray menyiapkan ini untuk kejutan ya? Ah jika begitu, aku telah melakukan kesalahan karena mengatakannya pada istrinya." Gumam Yohan.
"Apa yang kau katakan?" Tanya Ana yang tidak mendengar gumaman dari Yohan.
"Ah tidak ada nona. Tapi, nona bisakah anda berpura-pura tidak tahu kalau tuan Ray sedang mempersiapkan perayaan pernikahan. Saya pikir, tuan Ray ingin memberikan anda kejutan. Tapi, sepertinya saya membuat kesalahan." Ujar Yohan.
"Okey tidak masalah, aku akan berpura-pura tidak tau. Tapi, ada syaratnya." Ana tersenyum penuh misteri kepada Yohan. Pria itu merasakan perasaan tidak enak saat melihat senyuman itu.
"Menikahlah dengan Rachel." Ucap Ana dalam sekali tarikan napas.
Yohan tampak terperanjat dengan ucapan istri tuannya itu, matanya terlihat membelalak sempurna. Tapi kemudian, ia berdehem dan menetralkan ekspresinya.
"Nona, itu—"
"Aku hanya bercanda, jangan terlalu serius." Ujar Ana sembari tertawa lepas melihat ekspresi Yohan yang terkejut, gadis itu menepuk-nepuk bahu Yohan agar pria itu lebih santai.
Di saat yang bersamaan, Ray keluar dari kamar. Ia melihat tangan Ana yang masih berada di bahu Yohan, terlihat juga, jika istrinya itu sedang tertawa lepas di hadapan pria lain.
Ray menggeram tak suka, rasa posesif menyelimuti dirinya. Ia menarik tubuh Ana kedalam dekapannya, lalu menatap Yohan kesal.
Yohan yang mengerti dengan sikap tuannya itu hanya mampu menundukkan kepalanya dan tersenyum canggung.
"Kau ini kenapa? Lepaskan tanganmu." Ujar Ana, ia melepaskan tangan Ray yang melingkar di pinggang rampingnya.
"Kau tidak suka bersentuhan dengan tubuhku, tapi kau terlihat senang menyentuh bahunya." Tatapan Ray terarah pada bahu Yohan.
Ana diam sesaat, namun kemudian ia mendecih pada suaminya itu.
"Cih, kau lupa? Kau bahkan pernah melakukan hal yang lebih parah, di pijat oleh sekertaris barumu." Ujar Ana, ia mensedekapkan tangannya, menatap Ray sinis.
Yohan yang mendengar perkataan Ana pun tampak terkejut, masalahnya ia saat itu sedang libur, jadi tidak mengetahui perihal itu.
Assistennya itu menatap tuannya dengan pandangan tak percaya. Ray yang merasa Yohan menatapnya, ia menggelengkan kepalanya jika itu hanya salah paham.
Pria itu kemudian kembali menatap Ana dengan senyuman kakunya.
"Itu— itu aku. Ah iya benar, Yohan ayo kita berangkat, hari ini bukankah ada rapat dengan para direksi." Ray mencoba mengalihkan pembicaraan, ia beralih menatap Yohan dan memberi kode.
"Hari ini anda tidak ada rapat apapun tuan." Ujar Yohan, pria itu biasanya cepat tanggap dengan kode yang Ray berikan, tapi kali ini ia sepertinya sedang tidak terkoneksi dengan baik.
Ray tampak tertawa kaku untuk menutupi alibinya yang gagal.
"Wah kau lupa ya, hah kau ini. Ayo cepat kita sudah terlambat." Ray menarik lengan Yohan menjauh dari Ana yang sudah berkacak pinggang pada suaminya.
"Sayang, aku berangkat kerja ya— see you, I love you my wife." Teriak Ray.
Ana menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya itu, lalu menghela napasnya dan tersenyum.