The Destiny

The Destiny
Teman atau Musuh



Setelah selesai makan malam bersama keluarga Ray— Ana langsung kembali ke kamarnya. Gadis itu terlihat menyibukkan diri dengan memeriksa laporan restorannya.


Tok. Tok. Tok


Ana menoleh kearah pintu kamarnya, ia berjalan dan membukakan pintu itu, disana berdiri seorang pria yang tersenyum padanya.


"Hai."


Ana mengernyitkan keningnya,


Siapa pria asing ini? - batin Ana.


"Kau ini siapa?" Tanya Ana tanpa basa-basi.


Pria itu terkekeh,


"Ah kakak ipar, kau tidak mengenaliku? Aku Alex, adik kak Ray."


"Oh— adik beda ibunya Ray."


"Wah— mulutmu kejam sekali ya, tapi itu memang benar. Kadang aku juga bingung, aku ini adik kandungnya atau bukan, kami hanya memiliki satu darah yang sama."


Ana tersenyum kaku,


"Aaa— begitu ya."


"Sepertinya aku menceritakan sesuatu yang tidak menarik bagimu."


"Ah tidak, kau salah paham."


"Kalau begitu boleh aku masuk dan menceritakan hal-hal menarik padamu?"


Ana diam,


Membiarkan pria asing masuk ke dalam kamarku— apa tidak masalah? Ah terserahlah. Lagipula, dia itukan adik iparku. — Batin Ana.


"Masuklah."


Ana membuka pintunya lebar-lebar, ia melakukannya agar terhindar dari fitnah, bisa saja nanti dirinya dituduh berbuat sesuatu dengan iparnya jika ia menutup pintunya. Karena itu, Ana mengambil tindakan pencegahan.


"Kak Ray menyuruh kakak ipar untuk tidur terpisah dengannya— apa kakak ipar tidak merasa sedih?"


"Sedih? Yang benar saja, aku sangat bahagia dia menyuruhku tidur terpisah dengannya. Ah iya, jangan memanggilku kakak ipar, aku tahu kau lebih tua dariku."


"Lalu— kau ingin aku memanggilmu apa? Nona Keana atau Nona Ana"


Ana tertawa kecil mendengarnya,


"Panggil saja Ana."


Perbincangan mereka pun terus berlanjut, Ana yang awalnya merasa canggung, sekarang ia mulai tertawa lepas dihadapan Alex, karena pria itu terus saja menceritakan beberapa hal yang lucu bagi Ana.


•••


Di ruangan lain, di rumah itu— Ray masih disibukkan dengan urusan perusahaan yang sedang kacau, indeks saham perusahaannya akhir-akhir ini tidak stabil.


Semua itu karena masalah project smart vacum cleaner yang dirancang oleh perusahaannya beberapa bulan terakhir tiba-tiba di klaim oleh perusahaan lain.


Ia masih mencari tahu dalang dibalik semua kekacauan ini. Sebenarnya ia ingin menuduh saudara laki-laki beda ibunya, tapi tak ada bukti kuat untuk hal itu.


Ray kembali menghela nafasnya, ia memijat pelipisnya, kepalanya terasa berat.


Tok. Tok. Tok


"Masuk."


Yohan masuk dengan sebuah map ditangannya,


"Ini daftar nama-nama staf, direktur dan manager yang ikut berpartisipasi dalam project itu tuan."


Ray menatap Yohan lekat, melihat laki-laki itu, ia teringat kembali dengan perkataan sekertaris Yuna tadi siang.


Flashback on~


Siang hari dikantor, sekertarisnya datang membawa sebuah amplop coklat padanya. Ray mengernyitkan keningnya, bingung.


"Pada tanggal 10, malam hari sebelum perusahaan Ussa mengklaim project itu, ada orang yang melihat assisten Yohan dan direktur Oris Buana bertemu dengan anak perempuan dari perusahaan Ussa."


"Maksudmu, kau mencurigai assisten Yohan dan pamanku?" Tanya Ray pada sekertarisnya.


"Iya presdir."


Flashback off~


Ray menghela nafasnya, setelah mengingat kembali perkataan sekertaris Yuna yang mengganggu pikirannya itu, ia menatap Yohan yang berdiri dihadapannya.


Dalam hati kecil ia ingin menyangkal semua foto yang ada di amplop itu, apalagi Yohan sudah seperti saudara baginya, dan direktur Oris adalah paman dari pihak ibu kandungnya sendiri.


Apakah mungkin mereka tega melakukan pengkhianatan di belakangku? — Batin Ray.


"Tuan." Panggil Yohan, ia merasa heran dengan tuannya yang hanya diam melamun.


"Yohan, apa yang kau lakukan malam hari pada tanggal sepuluh lalu?"


Yohan diam sejenak, pria itu tampak mengingat-ingatnya.


"Saya bertemu dengan direktur Oris, tuan."


"Kau menemui pamanku untuk apa?"


"Apa paman membawa bibiku juga?" Sebenarnya itu pertanyaan jebakan, ia ingin tahu apakah Yohan akan memberitahunya jika anak perempuan perusahaan Ussa bersama mereka juga saat itu.


"Tidak tuan, hanya kami berdua saja."


Ray menutup matanya sejenak, bukan itu jawaban yang ingin didengarnya, jika seperti ini, ia akan semakin mencurigai assisten Yohan dan pamannya.


"Buat janji makan malam dengan pamanku besok malam, aku ingin mengenalkan Ana secara langsung padanya." Ujar Ray.


"Baik tuan."


"Apa direktur Rifano sudah mengatakan sesuatu atau mengakui sesuatu?"


Yohan menggeleng kepala,


"Belum tuan."


"Tidak perlu. Kau boleh pergi sekarang."


"Baik tuan, saya permisi." Pamitnya.


Yohan berjalan keluar dari ruang kerja Ray, ia berjalan melewati kamar Ana yang berada di sebelah ruang kerja tuannya itu.


Assisten Yohan melihat Ana yang tampak tertawa riang dengan Alex, kedua orang itu terlihat sangat akrab satu sama lain.


Ana menoleh ke arah pintu ketika dirinya merasa ada yang memperhatikannya. Gadis itu melihat Yohan berdiri disana. Tapi kemudian, Yohan terlihat melangkah pergi dari sana.


"Dia memang selalu seperti itu. Bahkan kadang aku merasa dia seperti makhluk halus, langkah kakinya tidak terdengar saat berjalan." Ujar Alex di iringi candaan kecilnya.


Ana bergidik ngeri, lalu tertawa menanggapi candaan dari Alex.


"Apa yang kau tertawakan?! Kau sepertinya sangat senang bersama dengannya!" Suara itu, itu bukan Alex yang mengatakannya, Ana menoleh ke sumber suara itu.


Disana Ray berdiri, pria itu berdiri di depan pintu kamarnya, menatap dirinya seperti tadi siang, marah.


"Dia pasti salah paham, aku akan pergi." Bisik Alex pada Ana, pria itu kemudian berdiri dan hendak melangkah pergi. Tapi, Ana tiba-tiba menahan tangan Alex.


"Abaikan saja dia." Ucap Ana yang terdengar jelas oleh Ray.


"Beraninya kau! Cepat kemari!"


Ana berpura-pura tidak mendengarnya,


"Alex, apa kau mendengar suara anjing menggonggong? Suaranya sangat menyakiti telingaku."


Alex meringis melihat Ana yang berani mengabaikan Ray, bahkan ibunya saja tidak berani bersikap seperti itu pada kakaknya itu.


"Ana!" Panggil Ray.


"Ana— sebaiknya kau mengikuti keinginannya." Bisik Alex, tapi gadis itu terlihat masih tak peduli.


Ray yang kesal, berjalan kearah Ana dan menyeret gadis itu masuk kedalam kamarnya.


"Kenapa kau suka sekali menarikku?!" Ucap Ana ketika dirinya dan Ray sudah berada di dalam kamar pria itu.


Ray hanya diam menatapnya tajam. Ana mengalihkan pandangannya, ia risih ditatap seperti itu.


"Kau mencoba selingkuh di depanku?!" Bentak Ray.


"Baiklah, lain kali aku akan selingkuh di belakangmu." Ucap Ana dengan senyum miringnya.


Ray mengepalkan tangannya marah, ia menghantamkan kedua tangannya pada dinding dibelakang Ana.


Ana tampak telonjak kaget. Sekarang, dirinya terkunci oleh kedua tangan Ray. Pria itu maju satu langkah menghapus jarak diantara mereka.


Ana kembali mengalihkan pandangannya,


"Apa mau-mu?" Tanya Ana dengan nada gugupnya.


"Sepertinya aku kurang mendidikmu dengan benar ya." Ucap Ray sembari mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu.


Melihat Ray yang semakin mendekati wajahnya, Ana pun tak punya pilihan lain, gadis itu menggerakkan tangannya, lalu mendorong wajah Ray menjauh darinya.


"Kau!"


Dalam satu kali gerakan, Ray mengangkat tubuh Ana dan melemparkannya ke atas tempat tidur.


Ana mencoba untuk kabur, tapi Ray sudah lebih dulu naik ke atas tempat tidur dan mengunci pergerakan gadis itu. Ray memeluk tubuh Ana seperti sedang memeluk sebuah guling.


"Lepas bodoh! Kau bisa membunuhku!" Pekik Ana, tapi pria itu malah semakin mengeratkan dekapannya.


Sebuah ide darurat muncul di pikiran Ana, gadis itu menggigit lengan Ray yang masih mendekapnya sangat erat.


Hal itu membuat Ray berteriak kesakitan dan langsung melepas pelukannya.


"Aaww— sakit bodoh!" Ujar Ray sembari mendorong kepala Ana untuk menjauh dari lengannya.


"Bukankah waktu itu— aku sudah mengatakannya padamu. Kau harus ingat, aku ini anjing gila. Jadi, jangan coba-coba menggangguku lagi." Kata Ana yang kemudian berlari keluar dari kamar Ray. Tapi, sebelum dirinya benar-benar keluar dari kamar, gadis itu tampak berbalik untuk mengatakan sesuatu pada Ray.


"Hati-hati rabies!" Teriak Ana diiringi tawa puasnya. Setelah itu, ia kembali berjalan keluar dan menutup pintu kamar itu dengan keras.


Ray mendengus kesal melihat Ana yang sudah keluar dari kamarnya. Lalu kemudian, pria itu kembali meniup-niup lengannya yang terasa berdenyut dan perih.


Tapi walaupun ia mendapat perlakuan seperti itu dari Ana, alih-alih marah, ia malah tersenyum dan tertawa.


"Sepertinya aku tidak salah memilih dia sebagai peliharaan ku. Tingkahnya itu— sangat aneh dan menggemaskan." Gumam Ray.