Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
8. PTWY 8 # Bergairah Di Atas Ranjang




...Waktu Update: 03.00...


...>>>Happy Reading<<<...


...21+...


Pada waktu yang sama di sebuah kosan kumuh, orang yang mengawasi Qila saat di kampus tadi pagi, terlihat sedang duduk di depan meja usai mengganti perban yang membalut perutnya. Dengan menggunakan komputer seadanya, Bram membuat identitas baru yang palsu untuk masuk ke Universitas tempat Qila kuliah.


'Brian Wil Nelson'


Ting!!


Data-data yang telah disiapkan telah dibuat lengkap. Bram tersenyum smirk dan lanjut masuk ke sebuah situs milik Aidan sebagai pemilik akun yang sudah diretas olehnya. Ini mudah baginya karena tiga tahun lalu, dia pernah melakukan hal yang sama. Meretas situs pribadi Aidan tanpa meninggalkan kecurigaan. Bram melihat apa saja yang ditulis Aidan, dan sesuai prediksi dari ingatan masa lalunya, Aidan meninggalkan laporan tentang Rayden yang menghentikan pembuatan mesin waktu, dan pencarian dirinya dan Black.


Dari data di depannya, itu berarti Black belum diketahui akhir hidupnya. ‘Jika benar dia mati, ini cukup mengerikan. Untung bukan aku yang menjadi tumbal proyek itu, tapi sangat disayangkan dia mati dengan cara ini.’ Bram melirik foto Keyra, istri dari Evan di masa sekarang, begitupun di masa dirinya berasal.


“Yosh, sebelum aku muncul di depan mereka, lebih baik aku mengambil beberapa langkah dulu.” Bram membuat satu akun khusus. Setelah itu, masuk ke sebuah game. Matanya mencari satu nama, tidak perlu berlama-lama, dia dengan cepat menemukan orang itu berada di puncak paling atas.


'Raiqa.'


Yah, pria muda itu adalah orangnya. Sudut bibir Bram pun terangkat sedikit, melihat akunnya online di tengah malam ini. Rencana Bram untuk sekarang adalah menjadikan sahabatnya itu sebagai kambing hitam. Ini memang terlihat jahat, tetapi demi kehidupan Keyra bahagia, Bram ingin membujuk Raiqa menikung atau merebut Keyra dari Evan. Dari awal ini seperti sebuah permainan otak, bukan?


Sebelum ke inti rencananya, Bram mula-mula mendekati Raiqa terlebih dulu. Menciptakan hubungan teman dekat diantara mereka. Bram sudah yakin, sekarang adalah waktu yang tepat mengubah masa lalu. Tapi apa dia yakin berhasil? Tentu tidak! Karena setiap yang Bram lakukan, sudah sesuai basis skenario Tuhan. Tetapi dalam benaknya, Bram serius dapat menciptakan perubahan walau ujung-ujungnya tetap pada jalur yang sama.


“Hmm, apa ini?” Raiqa yang mau offline dari Lane game karena sudah mengantuk, ia terkejut ada pemain baru tiba-tiba mengambil posisi kedua.


“Wah amjir, ini cheater!” Raiqa membuka akun di bawahnya.


“Heh, enak banget nih bocah langsung naik puncak, gue nggak akan biarkan lu rebut posisi gue.” Raiqa mengirim permintaan teman. Hanya beberapa detik, keduanya sudah saling mengikuti.


“Woah, gila, dia langsung terima gue, emang udah nggak benar nih bocah!” Raiqa pikir Bram akan menolaknya, tetapi tanpa embel-embel kesombongan, saingannya itu menerima dirinya.


“Yosh, waktunya interogasi nih bocah.” Raiqa mengira pemilik akun tersebut adalah anak-anak yang suka main instan.


Bram tentu senang meladeni Raiqa. Berbasa-basi dan mengelabui Raiqa bahwa dirinya tidak memakai cheat. Itu adalah keberhasilannya seharian bermain di game itu, tetapi aslinya, Bram memakai otak cheaternya.


Untuk membuktikannya, Bram menantang Raiqa. Dari tantangan itupun, Raiqa memahami jika permainan Bram memang tidak terlihat ada kecurangan. Membuatnya tertarik ingin bertemu, tetapi Bram menolak.


“Yaelah, bilang saja kau takut, kan?!” Mengirim satu pesan kepada Bram yang sok mencurigakan.


“Tidak, aku tidak takut padamu, hanya saja seorang pemain sepertiku tidak perlu menunjukkan dirinya, bukan?” Balas Bram dari awal tidak berniat serius ke tahap itu.


“Hmm, okeh, yang kau katakan memang benar. Tetapi tunggu saja, aku akan membongkar jati dirimu.” Raiqa membalasnya dengan stiker hip-hop. Bram yang tertawa membacanya, ia pun mengirim stiker juga. Setelah itu, mereka sama-sama mengakhiri game dan Raiqa tampak puas mendapat teman baru yang menarik. Cara bertarung Bram cukup mengesankan dan terlihat pro player.


Kini Bram rebahan di tempat tidur. Sebelum memejamkan mata, pria bermata biru itu mengambil foto Qila dari dalam dompetnya yang berhasil terbawa ke masa sekarang. Cuma dompet itu sampai saat ini yang selalu menemani jejak perjalanan waktunya.


Sontak, Bram terkejut saat sadar angka tanggal sekarang. “Ahhhh, sial, aku ingat sekali, malam ini adalah malam dia memberiku suprise itu!” Pipi Bram tiba-tiba memerah. Dia menarik selimut dan berusaha tidur agar tidak mengingat memori indahnya. Karena itu membuatnya tidak bisa tidur. Tetapi itulah yang terjadi pada Aidan sekarang yang ditindih oleh Qila yang merayap di atasnya.


“Sekarang turun dari atas tubuh ku, terus pakai baju mu.” Menunjuk pakaian istrinya yang berserakan di lantai. Tetapi Qila menggeleng tidak mau dan malah bersandar di dada Aidan yang masih berdebar-debar hebat itu.


“Huft, Qila, sebenarnya kenapa kau tiba-tiba menginginkan ini? Ka—kau tidak biasanya begitu,” ucap Aidan yang merasakan dua buah dada montok istrinya menempel begitu jelas di bajunya. Ia cepat-cepat menghentikan Qila yang mau melepaskan semua kancing jasnya, tetapi Aidan sudah dibuat telan—jang dada dan kini tangan Qila melingkar di lehernya, ditambah dua kaki istrinya sengaja mencekal dirinya bergerak.


“Baiklah, aku memang tidak bisa bohong, karena ini juga yang aku inginkan, tapi bagaimana kalau kita melakukan ini di kamar lain?” usul Aidan tetapi Qila tidak mau melepaskannya dan malah memonyongkan mulutnya. Memperlihatkan wajah imut menggodanya.


“Aidan ... umh... ciyum aku,” mohon Qila manja.


Dag—dig—dug—serr!


Aidan ngeblus lagi. Merahnya melebihi kepiting rebus sekarang. Bagaimana tidak, tadi pagi Qila enggan menciumnya, dan sekarang meminta dicium?


“Serius, mau dicium nih? Kau nggak marah nanti, kan?” tanya Aidan belum sadar istrinya sedang dalam pengaruh obat. Bukannya dijawab, Qila langsung menyambar bibir Aidan, membuatnya terbelalak sempurna menerima benda lembut dan empuk yang manis itu. Entah kenapa bau mulut Qila tercium wangi mint stroberi segar, itu membuat Aidan membalas cum—buan dadakan itu yang terasa nikmat. Ini lebih enak daripada 10x sarapan pagi.


“Tu—tunggu, ini sudah tidak baik, Qila.” Aidan mendorong Qila agar menghentikan luma—tannya karena tangannya sempat menepuk titik master Lion yang perlahan-lahan bangkit. Ada yang tegak, tapi bukan keadilan!


“Kita hentikan ini sebelum anak-anak bangun.” Aidan bukannya menolak kesempatan ini, tetapi ia takut ada maksud lain dari yang dinginkan Qila. Berpikir kalau setelah malam ini berlalu, istrinya meminta cerai atau hal lain yang menyakitkan.


“Sekarang pakai baju mu, dan tidurlah duluan.” Aidan memungut pakaian di lantai, memberikannya pada Qila yang terbaring lemas dan bergairah di atas ranjang. Aidan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan pikirannya, namun tiba-tiba, pria tanpa busana itu terlonjat kaget melihat Qila masuk ke kamar mandi dengan keringat bercucuran di seluruh tubuhnya.


“Qila, ngapain masuk ke sini? Ke—luarlah,” usir Aidan ngeblus. Tetapi Qila menutup pintu dan maju memeluknya. Menyatukan kulit polos mereka.


“Umh... jangan kabur, puaskan aku sekarang, Aidan,” mohon Qila sambil mengelus master Lion polos di bawah.


“Ukh, kau ini benar-benar...” Aidan yang terang—sang, ia menyambar bibir Qila yang selalu memohon itu. Memojokkan istrinya ke tembok, kemudian mengangkat kedua bokongnya sedikit. Merasakan sensasi 10x lipat kenikmatan jilid 1 hubungan mereka. Hawa kamar mandi yang awalnya dingin, berubah terbalik menjadi hangat menggairahkan. Keduanya saling melu—mat penuh cinta.


Master Lion yang sudah tertidur 100 tahun kini akhirnya tegak dan siap menerkam target. Aidan yang disulut hasratnya, ia membalikkan posisi Qila, membuat istrinya menung—ging dan membuka bo—kongnya selebar-lebarnya. Dengan satu hentakan lembut, Qila spontan mengeluarkan desa—hannya, meraung kesetanan saat Aidan dengan gilanya mengguncang terus gunung kembar empuknya itu sampai keringat leng—ket menghujam tubuh mereka.


“Umh... ah—ah,” de—sah Qila menerima serangan bru—tal Aidan yang sudah lama ditahan. Suara ceplak-ceplok indah yang ganas mengisi kamar mandi itu. Sama-sama mende—sah kenikmatan yang manis. “Oh shi—it, ini belum cukup, baby.” Aidan melakukan pengubahan posisi, mencari nikmat dari sensasi yang berbeda. Begitupun Qila hanya terlihat menikmati semburan ratusan telur dari Master Lion yang meluncur bebas dan hangat ke dalam rahimnya. Menuntaskannya sepuas mungkin malam ini. Melanjutkan beberapa ronde tidak—lah masalah, bukan?


Sementara Evan, sedang menggerutu di sebelah Keyra. Ia pun melirik body istrinya, tetapi tetap saja na—fsunya lebih menginginkan tubuh Qila. Untuk malam ini memang gagal, tetapi di lain waktu, Evan yakin bisa menggagahi iparnya itu.


...—...


Ciee, jadi gak tuh dede Rafka hhh


Hehe... sorry, kalau ada sedikit hotnya🙈



^^^Like, komen, share♥️^^^


^^^Biar Author semangat nulisnya!^^^


^^^Next to Chapter!^^^


^^^Thank's you😍^^^