Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
49. PTWY 49 # Rayden Curiga



Dengan modal cahaya dari rembulan, Hana masih mencari-cari keberadaan Bram dan Aiko, hingga pada akhirnya, Wira, Raiqa, Kinan, Arum dan Rayden menemukannya.


"Hana, kenapa kau ada di sini?" tanya mereka, kecuali Rayden dengan tatapan curiga.


"Ah itu, tadi aku lihat Aiko di sini, Ma, Pa, tapi tiba-tiba hilang."


"Kau tidak menyembunyikannya 'kan, Hana?" curiga Rayden.


"Tidak, Om! Justru saya sedang mencarinya!" bantah Hana dan dalam hati sedikit kesal dianggap jahat.


Kini Bram berjongkok di depan Aiko. "Aiko, kamu ke sana, terus jangan bilang-bilang soal Dadi ya," mohon Bram.


"Hm, telus, Dadi mawu kemana?" tanya Aiko sangat polos. Kalau saja Aila di posisinya, Bram sudah tertangkap basah.


"Aiko, Dadi punya tugas, dan sekarang tugas Dadi harus dikerjakan. Tapi ingat baik-baik, Aiko harus selalu di samping Momi dan ingat lagi, setelah Momi melahirkan, Aiko harus larang Momi pakai mobil hitam milik punya Kakek. Suruh Momi duduk bersama Nenek, paham, Nak?" pesan Bram.


"Paham, Dadi." Aiko mengangguk kecil.


"Ya sudah, Aiko ke sana." Bram mencium tangan putra kecilnya itu dan mengecup keningnya dengan lembut.


"Dadah, Dadi!" lambai Aiko, kemudian berlari ke sana. Bram menghapus air mata di pelupuk matanya. "Aiko, Dadi harap kamu tetap hidup di masa depan." Bram pun memakai wajah palsunya dan pergi, sebelum keberadaannya ditemukan Rayden. Ia masuk ke dalam dan tak sengaja melewati Bik Ida. Asisten itu tersentak, merasakan hal aneh pada Bram.


"Apa itu tadi? Kenapa rasanya tidak asing?" gumam Bik Ida dan menoleh, tetapi Bram sudah tidak terlihat.


"Hm, mungkin perasaan saja." Bik Ida lanjut mengerjakan tugasnya. Bram yang bersembunyi di balik tembok, mengelus dada kemudian terkejut saat bahunya ditepuk oleh manager Wira.


"Hei, kau dari mana saja?" tanya wanita itu. Bram langsung menarik pergelangan tangan wanita itu.


"Diamlah, aku punya tugas penting untukmu! Dan ini juga yang sangat kau harapkan dariku!" kata Bram menatap tajam kepada wanita itu, alias mantan Ilmuwan Rayden yang mengincar mesin waktu lamanya.


"Tugas apa?" tanya mantan Ilmuwan itu agak takut, karena pria sewaannya itu ternyata punya niat lain datang ke acara putri atasannya.


"Setelah aku memukul Aidan dan membuatnya pingsan, aku mau kau membawanya pergi dari sini, sebelum orang-orang melihat kita. Kau boleh tanyakan dan paksa dia katakan di mana mesin waktunya, tapi jangan pernah kau berniat membunuhnya. Kalau sampai kau berani melakukan sesuatu padanya, kau akan berakhir tragis, dan lagi, kau boleh melepaskannya setelah kau mendapat perintah dariku,"


"Hah? Kau sudah gila ya? Ini namanya cari mati! Bukan cari mesin waktu! Terus, kau tak punya hak mengancam ku seperti itu!" kata Ilmuwan itu lalu ketakutan karena dipelototi Bram. Auranya terasa mengerikan, seperti mau membunuhnya.


"Kau berani menolak perintah ku?"


"Ba-baik, maafkan saya." Ilmuwan itu terpaksa menurut. 'Ya Tuhan, kenapa aku bisa sebodoh ini bertemu dengan orang gila seperti dia?' Wanita itu terus mencoba tenang, tetapi gagal setelah Bram benar-benar mengeluarkan balok besar dan memukul kepala Aidan yang tidak sengaja lewat hingga pingsan. Bram sudah menduga hingga ia berhasil menumbangkan Aidan tanpa susah payah. Ia melakukan itu karena punya alasan sendiri dan juga atas dasar cemburu. Tentu saja, 10 tahun kesepian, membuatnya seperti orang yang begitu menyedihkan.


"Ya Tuhan, orang ini sudah gila sungguhan!" Wanita itu menggerutu kesal pada Bram.


.


Definisi jadi penjahat sendiri wkwk


Btw, Black apa kabar ya hihihi


Jangan lupa like❤️🥰


Aiko Baby😘