Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
36. PTWY 36 # Semakin Membesar



Hari demi hari berlalu, perut Qila sudah semakin membesar dan bulan ini waktunya Arum bersiap-siap pergi memenuhi segala kebutuhan cucu ketiganya itu. Mempersiapkan pakaian dan hal-hal yang lainnya.


Di tengah persiapan, Qila di dalam kamarnya, tampak sedang melakukan Vlog spesial kepada penggemarnya. Mereka dengan antusias memberi ucapan dan doa terbaik untuk kelancaran persalinan Qila yang semakin dekat. Mereka juga bahagia disapa oleh si kembar. Akibat ulah kelucuan Aiko dan Aila, ketenaran mereka berdua pada akhirnya melebihi Qila. Cinta dari mereka melambung tinggi untuk si kembar.


"Ck, apaan sih, norak banget." Hana yang tak sengaja menonton vlog Livestream Like's Qila yang lewat di berandanya, tak begitu menyukai tingkah mereka. Hana menekuk wajah dan menopang dagu. Memikirkan sesuatu dan jelas dari sudut bibirnya yang tiba-tiba terangkat itu.


"Oh ya, Qila 'kan sekarang lagi berhenti, kalau aku lamar pekerjaan di perusahaan tempat Qila bekerja, mungkin aku bisa terkenal seperti dia!"


"Toh, dulu, aku lebih populer dari Qila. Ya... pastinya aku bisa mendongkrak ketenaran Qila dan menarik mereka semua untuk pindah haluan kepada ku," seringai Hana tersenyum licik. Tiba-tiba —”


"Hana," panggil Kinan di luar kamar.


"Kenapa, Ma?" tanya Hana setelah membuka pintu.


"Kamu mau ikut Mama belanja? Hari ini Arum mengajak kita berbelanja untuk kebutuhan Rafka, kalau kamu mau, kita harus segera menyusul mereka."


"Nggak deh, Ma. Hana ada urusan," tolak Hana kemudian menutup pintu begitu saja.


Melihat Hana, Kinan merasa rindu pada Hana yang dulu. Yang suka bikin onar, selalu ikut keluar bersamanya dan tak mengurung dirinya seperti sekarang. Dengan berat hati, Kinan hanya bisa pergi sendirian. Sementara Raiqa sibuk di markas Aidan.


Kini, di rumah Rayden. Arum datang ke kamar Qila. Menyuruh menantunya itu berhenti melakukan Vlog dan mengajak Qila keluar jalan-jalan. Agar tak suntuk di rumah terus.


"Baik, Ma." Qila mengangguk paham. Arum pun pergi mencari Rayden dan menyuruh suaminya, memerintahkan anak buahnya mengawasi mereka dari jauh.


"Momi, ajak Unti Keyla juga!" pinta Aila.


"Pelgih sama Om Laika juga, Momi!" rengek Aiko di kaki Ibunya dan memeluk perut Ibunya yang membuncit.


"Baiklah, kalian berdua pergi dulu ke kamar Tante Keyra,"


"Yeahh, asik! Isokey, Momi!" riang kedua anak kembar tersebut dan bergegas cepat ke kamar Keyra. Baru saja ingin menghubungi Raiqa, tiba-tiba Aidan masuk ke kamar.


"Aidan, pas sekali kamu baru pulang!"


"Hm, ada apa?" tanya Aidan, menghampiri istrinya itu. Tak lupa, mengecup kening Qila dengan lembut.


"Kamu dan Raiqa ada waktu kosong hari ini?" tanya Qila.


"Ada dong, waktu untuk bersamamu lebih berharga daripada pekerjaan ku di luar sana," jawab Aidan menggoda.


"Kalau begitu—"


"Sebentar!"


"Kenapa?" tanya Qila.


"Hm, sepertinya Raiqa hari ini sibuk dan tak punya waktu. Memangnya, ada apa kamu tanyakan itu?" tutur Aidan bertanya.


"Astaghfirullah, aku hampir lupa!" Tampol Aidan pada jidatnya sendiri.


"Ih, gimana sih, setiap malam kamu selalu tidur di samping ku, masa itu saja kamu lupa," cetus Qila cemberut dan melipat kedua tangan di dada.


"Hehe, maaf-maaf." Gara-gara sibuk memikirkan mesin waktu di markasnya, Aidan nyaris melupakan usia kehamilan istrinya.


"Yuk, sekarang kita ke mobil, Mama pasti sudah menunggu kita di sana," ajak Aidan tetapi Qila tak bergerak.


"Kenapa?" tanyanya heran.


"Aku nggak bisa jalan cepat," kata Qila lemas, dan sulit bergerak akibat berat badannya juga naik drastis, alias gendut.


"Oh ya, istri chubby saya lagi hamil, kalau begitu, sini saya gendong yang mulia ratu," rayu Aidan dan juga meledek istrinya.


"Ihh, percuma, aku tak bisa digendong. Lihat nih, perut ku besar. Kamu mau bayi kita sesak nafas di dalam?" tolak Qila takut anaknya terhimpit.


"Ya Tuhan, aku tak percaya, istri yang dulunya polos dan lugu, sekarang cerewetnya minta ampun," ejek Aidan.


"Hmm, berhenti ledek aku." Kesal Qila memukul-mukul lengan Aidan dengan manja.


Aidan tertawa, "Baiklah, sini aku pegang kamu." Meraih tangan kanan Qila dan menggenggam dengan hangat.


"Gitu dong, dari tadi." Qila ikut tertawa dan berjalan perlahan di sebelah Aidan. Rasanya ingin menangis karena di kehamilan pertamanya, tak pernah merasakan kebahagiaan ini. "Oh ya, apa aku boleh undang Pak Brian?" tanya Qila mendadak, ingin mengajak Bram datang ke rumah mereka.


Aidan diam, permintaan istrinya sangat mengejutkannya.


Bukan keluarga atau kerabat, istrinya tiba-tiba mengundang orang lain seperti Dosennya itu.


'Ck, kenapa harus si dia?' gerutu Aidan dalam hati. Mau menolak, tapi—


.


Hm, kalau Bram bertemu Rayden, bisa nih penyamarannya terbongkar👀apalagi Rayden punya insting tajam dan cepat mengenali musuhnya😆gimana tuh jawaban Aidan?


Udah dekat hari kematian Qila nih


Tinggal menunggu kelahiran Rafka🌚


Like ya❤️


Biar Author semangat nulisnya😇


—Terima kasih—