Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
73. PTWY 73 # Meminta Dilepaskan



Tiba di rumah, Kinan dan Wira turun dari mobilnya. Mereka berdua berjalan secepatnya kemudian masuk ke dalam rumah. Seketika saja, arah mata mereka menatap Aidan dan Arum yang duduk di sofa, serta tampak dijamu oleh pembantu. "Selamat datang, Tuan, Nyonya." Pembantu menunduk sedikit dan menyambut kedatangan majikan mereka. Sontak saja, Kinan dan Wira mematung tatkala wanita yang duduk di sebelah Aidan menengok ke belakang.


Wajah itu mirip Hana, namun tatapannya yang lembut itu jelas adalah putri kedua mereka.


"Qila...." Kinan mendekat perlahan, kemudian duduk di sebelah Qila. Menatapnya tanpa berkedip dan segera memeluknya dengan penuh kerinduan dan syukur.


"Alhamdulillah, Mama senang lihat kau pulang dan masih hidup, Nak." Tangis Kinan seketika pecah di bahu Qila. Qila sedikit menunduk, merasa sedih karena tak begitu ingat pada Kinan. Tetapi pelukannya membuat Qila merasakan tak asing. Ia pun balas memeluk Kinan dan melihat Wira di sana memeluk Aiko. "Maaf, Mama." Balas Qila sangat erat.


"Oh ya Tante, maaf soal Hana yang sekarang ini sedang ditahan pihak kepolisian," ucap Aidan sedikit bersalah.


"Tak apa-apa, Aidan. Justru Om mau berterimakasih padamu karena dengan cara ini Om berharap Hana sungguh-sungguh dapat mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik," ucap Wira dan tampak capek dengan sikap putrinya itu. Akan tetapi, Hana yang dipenjara sekarang, justru semakin menjengkelkan sebab kadang mengajak teman satu selnya bertengkar, sampai-sampai polisi hampir kehabisan kesabaran. Oleh karena itu, Hana ditahan ke dalam sel penjara sendirian. Sifatnya yang telah rusak tampak sulit diubah.


"Apa lihat-lihat? Mau dipukul juga?!" Bahkan Hana sering menggertak salah satu anggota polisi, tetapi pria itu tampak hanya tersenyum kecut setiap kali datang menjenguknya.


Kabar berita tentang Qila pun akhirnya diketahui oleh penggemarnya. Tak hanya mereka, Hana dan Raiqa pun juga terkejut mendengar itu. Raiqa tersenyum melihat Aidan memberikan pernyataan itu di depan publik. Bersamaan Rayden berhasil memenjarakan musuhnya dengan membuat bukti yang berkaitan dengan kecelakaan Qila lima tahun lalu.


"Akhh!" kesal Hana mengetahui itu.


"Hei, kau tak senang dengan berita adikmu?" tanya pria itu datang menjenguknya lagi.


"Puff, aku tak sangka, gadis yang dulunya berbakat di sekolah kini berakhir di penjara. Daripada bikin muka jutek seperti itu, bagaimana kalau bermain game bersama ku?" ajaknya.


"Dih, sok kenal banget. Sana pergi, aku tak mengenalmu." Hana mengusirnya lagi. Pria itu cemberut karena ucapan itu.


"Memang sebelum bermain game, perlu perkenalan dulu?" ucapnya mengeluarkan satu hape dan memberinya ke Hana.


"Nih, coba ambil dan main game bersamaku, mumpung aku lagi gabut dan gak ada kerjaan di sini." Pria itu mendesaknya dan kemudian tersenyum melihat Hana mengambilnya. Ia pikir Hana akan meladeninya, namun ternyata wanita itu menelpon Kinan. Menangis dan memintanya untuk dilepaskan.


"Mama, tolong Hana, Hana tidak mau di sini. Di sini bau, kotor, jelek dan Hana takut, tiba-tiba didekatin sama orang aneh," mohon Hana dan melirik anggota kepolisian itu yang semakin cemberut dianggap aneh.


"Udah ganteng, berpendidikan, berjiwa sosial eh dianggap aneh. Sifat mu memang dari dulu sangat menjengkelkan. Padahal barusan aku berniat ingin membantu mu lepas dari kasus ini karena kau tak sepenuhnya salah, tapi melihat mu begini, aku harus memikirkannya 1000 kali dulu." Pria itu berdiri dan meninggalkan Hana yang mengernyit heran melihatnya ngambek. Tapi Hana tak peduli, ia kembali memohon kepada Kinan.


"Mama, bantu Hana." Dalam tangisnya yang pilu, Hana merasa menyesal tak mengakui kesalahannya dari awal.


.


Makanya, gak boleh jahat🤭😇