
Hari-hari berlalu, di pagi yang cerah, seperti biasa, Qila dan Aidan pergi ke kampus. Namun kali ini tanpa Keyra, karena wanita hamil itu berada di vilanya menunggu Black atau suaminya itu bangun. Keyra berharap bisa membujuknya nanti untuk meminta maaf kepada Aidan dan Qila, dan juga memberi tahu kabar bahagia tentang kehamilannya.
Perlahan, Black yang terbaring lemah di tempat tidur mulai membuka matanya. Ia merasa pusing dan bingung. Setelah beberapa detik, Black menyadari bahwa dia berada di rumah yang aneh.
"Sialan, Aidan ba—jingan, karena kau, aku terlempar ke tempat ini," umpat Black lalu berdiri.
Tiba-tiba ia terkejut melihat pantulan dirinya di cermin memakai baju yang berbeda, bukan hoodie miliknya.
"Eh, di mana pakaianku? Dan di mana aku?" Black memegang kepalanya yang sakit. "Ck, aku harus keluar dari sini." Ia keluar dari kamar dan terkejut menemukan dirinya berada di sebuah vila besar. Ia turun tangga dan mencari seseorang, namun tidak ada seorang pun di sekitar.
Karena cemas, Black menuju ke dapur dan dengan cepat bersembunyi di belakang dinding ketika ia melihat Keyra di dalam sana, sedang berbicara di telepon.
Tanpa berpikir lagi, ia perlahan mendekati Keyra dari belakang dan diam-diam mengambil sebilah pisau dari meja. Kebencian dan kemarahan yang ia rasakan dari Aidan membuatnya ingin membalas dendam pada Keyra juga. Namun, Black terdiam ketika ia mendengar pembicaraan Keyra dengan Bik Ida, yang tidak bisa lagi menyimpan rahasia kehamilan anak majikannya itu.
"Bik, tolong jangan beri tahu Papa bahwa aku hamil. Jika ia tahu, ia pasti akan memburu Evan dan tidak akan menerima anak kita. Bibi, jangan khawatir, setelah aku meyakinkan Evan, kita akan jujur pada Mama dan Papa," ucap Keyra memohon.
Black mundur dengan perasaan yang bercampur aduk. "Anak kita? Keyra hamil anakku? Jadi, aku berhasil waktu itu? Tapi, mengapa anak kami tidak ada di masa depan? Ck, apa jangan-jangan Aidan sudah mengubah masa lalu?" Evan bertanya-tanya sambil mundur. Ia ingin meninggalkan dapur, namun tiba-tiba seseorang menarik tangannya.
"Evan, kau mau ke mana?" Keyra bertanya setelah mengakhiri panggilannya. Black menepis tangan Keyra dan membuang muka.
Black mendorong tes kehamilan itu dan menjawab dengan sombong, "Buang itu, aku bukan ayah anak itu."
Mendengar itu, air mata muncul di mata Keyra. "Mengapa, mengapa kau begitu kejam padaku? Aku sudah mulai mencintaimu dan telah memaafkan mu. Di mana janjimu itu, Evan!" Keyra berteriak marah dan menarik pakaian Black. Black mendorongnya dan meraih dagunya, menatapnya dengan senyum sinis. "Tidakkah kau melihat? Aku buta di satu mata, sedangkan suamimu tidak buta. Kau salah orang!" Black berkata tegas.
"Tidak, aku mengenalmu, aku mengenalmu sangat baik! Suaramu, wajahmu, rambutmu, dan tinggimu semuanya sama dengan suamiku," Keyra membantah.
"Aku mohon, berhenti berbohong lagi padaku, Evan!"
Keyra menjerit, menunduk, dan menangis tersedu-sedu.
"Seandainya dulu ada yang mau menikahi aku, mungkin aku tidak akan menerima lamaran mu. Namun karena aku anak dari keluarga Mafia di kota ini, tidak ada yang berani menikahi aku, dan hanya kau yang pertama kali melirikku. Melihatmu melamarku di depan umum, aku mulai jatuh cinta dengan keberanian mu, Evan. Saat itu, kaulah cinta pertamaku," ujar Keyra semakin menunduk.
Setelah mendengar ungkapan hati Keyra, Black menarik dagunya dan menatap kedua mata biru Keyra yang sembab. Keyra pun sontak diam setelah menerima pelukan dari pria berambut blonde itu. Pelukan itu sangat erat dan menenangkan. Sekali lagi, tangis Keyra pecah di dalam pelukan itu karena merasa tulus dari pelukan sebelumnya.
"Evan, aku mencintaimu. Apapun yang terjadi, aku hanya ingin bersamamu," ungkap Keyra sekali lagi dan berharap kali ini suaminya dapat mengerti. Karena tidak tahan mendengar tangisnya, Black menarik tengkuk leher Keyra dan membungkamnya dengan ciuman.