Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
56. PTWY 56 # Hanya Diperalat



Tiba di rumah sakit, Rayden mendengarkan semua perkataan Aidan dan setelah percaya, Rayden menghubungi sekretarisnya untuk mengecek cctv. Sekitar sepuluh menit menunggu, sekretaris memberi kabar bahwa cctv yang terpasang di rumahnya memang telah disabotase dan itu tindakan sang mantan Dosen tersebut.


"Tunggu, Pa. Itu artinya, dialah yang memukul aku?" Aidan menunjuk dirinya.


"Sepertinya memang begitu," kata Rayden.


"Ka-kalau begitu, Qila dan anak-anak ku di rumah baik-baik saja, kan, Pa?" tanya Aidan khawatir.


"Tenang saja, mereka aman di rumah," jawab Rayden.


"Lalu, apa tujuan dia, Pa?" tanya Aidan lagi, masih belum bisa berpikir banyak karena rasa sakit di kepalanya belum hilang.


"Mungkin saja, dia mencari sesuatu yang berhubungan dengan mesin waktu Papa, tapi karena dia tidak menukan apa-pun, dia segera meninggalkan rumah kita," jelas Rayden menjawab.


'Hm, apa ini karena mesin waktu kami?' pikir Aidan.


'Tapi, kalau memang alasannya adalah mesin waktu, Pak Brian bisa menyuruh ku mengambil alat yang dia inginkan, dan tak perlu bertidak sejauh ini sampai memukul ku,'


'Jangan-jangan, dia punya rencana rahasia?'


Aidan terdiam sesaat dan melihat Rayden keluar ingin menghubungi sekretarisnya untuk mengetahui sejauh mana laporan yang mereka gali dari sang manager. Tapi tetap saja wanita itu mengaku tidak berhubungan dengan Bram dan lebih mengakui dirinya hanya diperalat.


"Sial, seharusnya aku selidiki dulu orang ini sampai tuntas!" Aidan memukul kasur, merasa kesal pada diri sendiri yang sudah bekerjasama dengannya. Di tengah kekesalannya, ia mengeluarkan ponsel dari saku, kemudian diam-diam menghubungi Raiqa. Ia menyuruh Raiqa melihat kamera pengintai di laboratorium mereka untuk melihat mesin waktu mereka aman atau tidak.


"Aman," ucap Raiqa melihatnya dari layar laptopnya, kemudian menyingkirkan laptopnya.


"Serius, aman?" tanya Aidan lagi.


"Serius lah, kalau kau tak percaya juga, aku langsung ke sana dan memotretnya untuk mu," kata Raiqa sambil menonton tv sendirian.


"Nggak usah, Rai. Untuk bulan ini, lebih baik kita berhenti dulu mengurus mesin waktu itu," tolak Aidan.


"Hm, kenapa?" tanya Raiqa.


"Ayah ku sedang menyelidiki Pak Brian dan kalau sampai dia mengetahui kita pernah bekerjasama dengan pria itu, mesin waktu kita yang dibuat susah payah itu bisa disita olehnya," tutur Aidan cemas.


"Rai, aku akan memberitahu mu, tapi kau harus janji jangan bocorkan ini pada siapa pun,"


"Baiklah, kau tenang saja, aku bisa kok jaga rahasia," kata Raiqa dengan sangat penasaran. Aidan pun menceriakan kekhawatirannya tentang rencana terselubung mantan Dosen mereka.


"Jadi, dia datang ke acara kemarin hanya untuk itu?"


"Ya Rai, dia pasti menyamar sebagai aku untuk mencari alat yang bisa menyempurnakan mesin waktu kita, tapi aku juga belum yakin dan masih heran, kenapa dia sendiri yang melakukan ini? Padahal dia bisa saja menyuruhku, kan?"


"Hm, aku merasa mungkin yang dia cari adalah rongsokan mesin waktu ayahmu, Aidan," kata Raiqa menebak.


"Mungkin bisa saja, tapi sepertinya dia gagal."


"Gagal? Kenapa?" tanya Raiqa.


"Raiqa, yang aku tahu, mesin waktu itu masih terkubur dengan aman di tempatnya," jawab Aidan.


"Kalau begitu, syukurlah, semua aman terkendali, dia tak akan bisa menyalah gunakan benda itu," ucap Raiqa mengelus dada, merasa lega.


"Kita beruntung tidak memberitahukan soal mesin waktu ayah mu kepada Pak Brian dan mungkin sekarang, dia sedang bersusah payah mencari tempat persembunyian dari kejaran anak buah ayah kita."


"Hm, benar. Ku harap saja, setelah dia tertangkap, Pak Brian tidak membocorkan mesin ciptakan kita," kata Aidan, lalu menghembus lega. Keduanya pun sepakat untuk berhenti bekerjasama dengan Pak Brian, serta memutuskan tidak mendatangi markas mereka sementara, sampai Qila lahiran. Aidan dan Raiqa, merasa laboratorium mereka akan selalu aman, karena kunci pintu markas ada pada mereka.


Kini, Aidan bersiap untuk pulang dan tidak bisa berlama-lama jauh dari sisi istrinya. Sedangkan di sisi lain, Bram tiba di depan apartemennya. Sebelum masuk, Bram pergi ke apartemen di sebelahnya. Ia pun kaget dan baru tahu sang manager selama ini bertetangga dengannya.


"Ck, aku pikir rumahnya cuma di alamat itu, tapi ternyata dia pernah tinggal di sini. Kenapa aku baru menyadarinya?"


"Sudahlah, ini tak penting lagi, sekarang aku harus masuk dan mengawasi Qila dari sini saja. Aku juga tak bisa keluar bebas sekarang. Papa dan Om Wira pasti sedang menggerakkan seluruh bawahannya mencari ku." Bram masuk ke apartemennya. Melepaskan topi dan jaketnya. Setelah itu masuk ke dalam kamar mandi yang sempit untuk membasuh muka. Namun, saat mau menggosok gigi, Bram tersentak kaget melihat sisa odolnya sudah setengah, yang artinya ada yang baru saja memakai kamar mandinya.


Bram bergegas keluar dan menuju ke kamarnya, ia pun membuka pintu, namun kamarnya kosong.


"Kemana dia?" Bram yang tak melihat Black di tempat tidur. Secepatnya berbalik badan dan seketika saja berhadapan dengan adik iparnya itu yang kini memegang senjata.