
"Astaga!" Wira dan Rayden segera menuju ke tempat awal mereka berada, disusul yang lain di belakang, kecuali Hana masih stay di ruang tamu sambil main hape. Tetapi karena keributan dari mereka yang mencari Aiko, membuat konsentrasi Hana cukup terganggu.
"Ishh, apa-apaan sih mereka? Apa tidak bisa tenang? Mau di rumah atau di sini, tetap saja sama! Sama-sama bikin telinga sakit." Hana berdiri, ingin keluar dari rumah tetapi mereka menghentikan Hana.
"Hana! Tunggu!" Semuanya menghampiri Hana, terutama Bik Ida yang ikut mencari, berada di barisan anak dan dua majikannya itu.
"Kenapa, Pa, Ma?" tanya Hana pada Kinan dan Wira.
"Hana, dari tadi kamu main hape terus di sini, apa tadi kamu lihat Aiko jalan ke sini?" tanya Kinan, dan yang lain menunggu Hana menjawab.
"Tidak, aku tidak lihat dia, memang kenapa kalian mencarinya?" tanya Hana begitu santai sekali. Tidak seperti Aidan masih kesal karena lengan putrinya yang dicengkeram Hana masih memerah.
Wira pun menjelaskan, saat sedang bersama Rayden sambil membujuk Aiko mau pilih posisi yang mana, tiba-tiba perhatian mereka terlihat setelah Aiko menolak semua tawaran dua kakeknya itu, membuat Wira dan Rayden saling menyalahkan, sehingga mereka tidak sadar Aiko pergi entah kemana bocah itu bersembunyi.
'Sial, aku pikir cuma satu saja yang bodoh, ternyata dua-duanya tetap saja tidak berguna,' batin Hana mencaci dalam hati. Tetapi, melihat ekspresi kesal Hana, Aidan dan Qila sadar kalau wanita itu pasti sedang mengumpati anak mereka.
"Apa yang kau pikirkan, Hana?" tanya Aidan di sebelah Raiqa yang tampak sedang mencari-cari keberadaan Keyra juga.
"Tidak ada kok, aku cuma khawatir di mana keponakan aku itu berada," timpal Hana mengelak.
"Sudah, daripada berdiri saja di sini, lebih baik kita kembali mencari Aiko," kata Wira.
Tiba-tiba, di tengah pencarian mereka, Aila teriak.
"Akhhh, Atok!" Memanggil Rayden dengan nada terkejut. Semuanya segera menghampiri bocah berpopok itu yang sudah memakai baju, tapi tidak dengan celana.
"Ada apa, Aila? Kenapa teriak, sayang?" tanya Arum dan Kinan.
"Nenek, Omah, ntuh na Ayiko!" Tunjuk Aila ke vas bunga besar yang berdiri di dekat tembok.
"Hah?" Semua orang tercengang dan gagal paham.
"Aila, itu cuma vas bunga, Nak." Kata Qila.
"Butan, di dalam sana ntuh ada Ayiko, Momi," ucap Aila segera lari mendekati vas bunga. Mereka yang kurang percaya, perlahan-lahan mendekat. Sontak saja, mereka terbelalak melihat Aiko benar-benar ada di dalam vas itu sambil ketiduran.
"Astaghfirullah, ternyata di sini dia bersembunyi." Bik Ida, Qila, Arum, Kinan tertawa geli melihat kelakuan Aiko yang kabur dari perdebatan dua kakeknya. Memang cara ampuh ialah menghindar dan lebih baik tidur.
"Pa, sebelum menempatkan Aiko di posisi yang kalian mau, lebih baik pertimbangkan dulu. Aiko itu belum fasih bela diri, dan kemampuannya masih perlu di asah. Sebaiknya kita biarkan dia berkembang dulu, Pa," ucap Aidan, tapi dalam hatinya, lebih sependapat dengan Wira daripada Aiko jadi Mafia di masa depan. Ia tidak mau anak-anaknya bergabung ke dunia yang penuh bahaya itu. Tapi untuk sekarang, Aidan menahan keinginannya karena jika dia berada dipihak Wira, Rayden mungkin bisa mengusirnya dari rumah ini seorang diri seperti tahun-tahun lalu.
"Baiklah." Wira dan Rayden pun terpaksa memahami kondisi Aiko yang masih kecil.
"Nah, sekarang semua sudah berkumpul nih, bagaimana kalau hari ini kita bicara tentang pesta syukuran untuk kehamilan kedua Qila ini. Kita harus pilih tempat yang cocok untuk kabar bahagia ini!" Kata Arum dengan semangat.
"Hm, memang itu tujuan kami datang ke sini," ucap Wira dan Kinan. Sedangkan Rayden, cuman bisa cemberut mendengar obrolan canda tawa istrinya dengan Kinan dan Wira yang memutuskan pesta dirayakan di Puncak, sambil merayakan tahun baru bulan depan.
"Ma, aku pulang duluan nih, ada tugas mau dikerjakan hari ini." Hana berdiri dan pamit kepada Ibunya. Tidak mau lama-lama di sana karena hanya membuatnya sakit hati, sebab tidak tahan mendengar mereka membahas Qila terus.
Setelah Hana pergi, Raiqa berdiri, tidak tahan juga berada di tengah-tengah orang tuanya. Pria muda itu naik ke atas dan menuju ke kamar Aidan.
"Hm, Kak Raiqa? Kenapa datang ke sini?" tanya Qila yang baru selesai menidurkan si kembar.
"Hm, Aidan kemana ya, Qila?" tanya Raiqa ingin membicarakan tentang kehamilan Keyra pada Aidan.
"Oh, itu, barusan ke ruang belajarnya," jawab Qila.
"Ya sudah, aku ke sana dulu." Raiqa membelai kepala Qila kemudian pergi mendatangi Aidan.
"Hm, dari raut Kak Raiqa, seperti ada yang mau dibicarakan, tapi apa ya? Hm, tau ah, lebih baik aku urus anak-anak dulu." Qila menutup kamar, kembali menidurkan si kembar.
Raiqa yang tiba di depan pintu, ia pun membukanya dan melihat Aidan sedang membaca ulang buku Bram. Raiqa mendekati Aidan dan cukup deg-degan karena merasa bimbang mengatakan kehamilan Keyra yang disembunyikan oleh wanita itu.
Dari apa yang sudah terjadi di sini, inilah mengapa Aila tidak begitu menyukai Hana dan menolak pernikahan ayahnya dengan Hana di masa depan. Demikian juga, inilah awal Aidan\Bram mengetahui Keyra hamil. Seperti yang sudah pernah dirasakan oleh Bram sebelumnya, Aidan sekarang kecewa pada Keyra yang seharusnya tidak memberi harapan kepada Evan lagi.
"Aidan, apa kau tahu di mana Keyra sekarang?" tanya Raiqa pada Aidan yang berusaha mengatur emosinya yang sedang meledak-ledak setelah mengetahui adiknya hamil anak dari pria busuk seperti Evan.
.
Selamat Hari Raya Idul Fitri! Mohon maaf lahir dan batin. Semoga hari raya ini menjadi moment yang penuh kebahagiaan dan kedamaian bagi Anda dan keluarga. Mohon maaf atas segala kesalahan yang pernah terjadi dan mari kita jalin silaturahmi dengan penuh kasih sayang. Taqabbalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faizin🙏😇
Salam toleransi dan maaf baru update🙏😅
Kondisi author belum pulih total🤗hehe...